Latest Posts

Empat Tahap Dasar Dalam Perbuatan Menurut Mead

No comments:

George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi menyebutkan bahwa sosiologi terbagi atas dua periodisasi. Pertama, sosiologi klasik yang membahas tentang latar belakang munculnya sosiologi beserta lima tokoh pemrakarsanya, yaitu Comte, Durkheim, Weber, Marx, dan Simmel. Kedua, sosiologi modern dan postmodern yang terbagi atas beberapa teori fundamentalnya, seperti fungsionalosme strukturalisme, interaksionisme simbolik, teori kritis, dan lain sebagainya.

Jika di era sosiologi klasik, kelima tokoh memiliki beberapa teori yang berbeda beda. Maka di era sosiologi modern, masing-masing tokohnya akan diklasifilasi berdasarkan teori yang dianutnya. Hal ini tidak terkecuali dengan tokoh-tokoh yang menganut interaksionisme simbolik. Di dalam aliran ini ada Mead, Blummer, Cooley, dan Goofman yang sama-sama mengulik perihal interaksionisme simbolik, namun dengan penjabaran yang berbeda.

Pada dasarnya, interaksionisme simbolik memuat interaksi atau hubungan antara individu satu dengan yang lainnya. Selain itu, dalam interaksi juga memuat simbol guna menarik suatu respon dari lawan aktor. Simbol dalam interaksi bukan hanya verbal, melainkan nonverbal.

Namun, ada hal unik dari salah satu tokoh interaksionisme simbolik yang terkenal akan psikologi sosialnya. Ia adalah George Hebert Mead. Sosiolog kelahiran Massachusetts ini berusaha mengkaji interaksi masyarakat dari sudut pandang psikologi.

Jika dalam psikologi, terutama psikologi Freud, maka diri individu adalah dasar dalam kajiannya. Namun, Mead menyatakan bahwa masyarakatlah yang mendahului interaksi maupun segala bentuk tindakan individu. Dalam hal ini masyarakat adalah kunci interaksi, bukan individu.

Lebih jelasnya, kita perlu mengupas unit paling inti dari teori Mead, yaitu perbuatan. Menurut Mead, perbuatan sangat erat kaitannya dengan respon yang ada dalam interaksi. Maka dari itu, dalam memahami perbuatan, perlu lebih dulu mengenal empat tahapannya, yaitu implus, persepsi, manipulasi, dan konsumasi.

Implus adalah tahap pertama dalam perbuatan. Ia diibaratkan seperti keinginan untuk melakukan sesuatu. Misalnya, rasa lapar adalah implus. Aktor akan merespon implus itu tanpa perlu berpikir rasa apakah yang ia alami. Menurut Mead, hal ini terjadi karena individu telah berkaca pada masyarakat umumnya bahwa ini adalah rasa lapar.

Jika kita telaah lebih lanjut, implus yang dimalsudkan Mead hampir sama dengan apa yang dimalsud Freud tentang id. Mereka, baik implus atau id, sama-sama memiliki maksud "keinginan atau nafsu". Bedanya, jika id berasal dari individu, maka implus diketahui dari diri individu yang berkaca dari masyarakat.

Tahap kedua adalah persepsi. Di tahap ini aktor berusaha mencari cara untuk memuaskan keinginan (implus). Jika pada psikologi Freud, tahapan ini dinamakan dengan ego. Namun, yang membedakan keduanya adalah sumbernya, yaitu individu dan masyarakat.

Tahap ketiga adalah manipulasi. Tahapan yang mana aktor akan menimbang-nimbang persepsi yang cocok atas beberapa pilihan. Sehingga, tahapan ini juga disebut dengan fase jeda. Artinya, aktor akan mempertimbangkan respon atau tindakan apa yang sesuai dengan keinginannya.

Tahap terakhir adalah konsumasi. Tahapan ini aktor telah mengambil putusan yang menurutnya tepat untuk memenuhi keinginannya. Kalau menurut Freud, tahap manipulasi dan konsumasi bisa dijadikan satu dengan istilah superego. Namun, Mead lebih memilih untuk memisah tahapan itu ke dalam dua tahapan.

Secara general, antara -id, ego, superego- Freud dengan -implus, persepsi, manipulasi, dan konsumasi- Mead memiliki makna yang sama. Hanya saja, Freud lebih condong pada konsep diri yang akrab dikenal dengan sebutan psikologi. Sedangkan, Mead lebih condong pada tindakan individu yang didapatkan dari masyarakat, psikologi sosial.

Read More

Kisah Ibrahim, Hajar dan Ismail: Tentang Cinta, Keikhlasan dan Pengorbanan

2 comments:

by. Ziada Hilmi Hanifah

Bermula dari kisah Ibrahim alaihissalam meninggalkan Hajar dan Ismail alaihissalam ditengah lautan padang pasir Makkah yang panas. Angin yang begitu kencang menerpa, terik panas matahari dan debu-debu berterbangan seolah menjadi bumbu perjalanan mereka yang menyejarah.

Semua kepedihan tak mampu lagi dirasa. Karena bagi mereka, cukuplah Allah yang akan menemani dan melindungi setiap langkah kaki, mencukupi udara yang mereka hirup, dan menjaga detak jantung mereka. 

Rasa cemas dan sedih dalam hati Hajar kian menyeruak ketika Ibrahim akan meninggalkan mereka di Makkah sendirian, untuk kembali ke Palestina. Kembali kepada Sarah dan Ishak alayhissalam di Palestina. Dipegangnya erat-erat baju Ibrahim, agar tak meninggalkannya. Ibrahim, dengan kelembutan hatinya, kefasihan lidahnya dan kuat azzamnya, mengatakan kepada Hajar yang ia cintai

Bertawakallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah aku membawa kamu ke sini dan dialah yang akan melindungi kamu dan menyertai kamu di tempat yang sunyi ini. Sungguh kalau bukan perintah dan wahyu-Nya, tidak sekalipun aku tega meninggalkan kamu di sini seorang diri bersama puteraku yang sangat aku cintai ini. Percayalah wahai hajar bahwa Allah yang Maha kuasa tidak akan menelantarkan kamu.”

Seketika hati Hajar meleleh mendengar nasihat dan perkataan lelaki yang ia cintai. Ia melepaskan genggaman tangannya dari baju Ibrahim. Hajar paham, bahwa suatu saat semua manusia bisa saja meninggalkan dirinya seorang diri, tapi tidak dengan Allah.

Saat kesendirian, justru Hajar semakin meyakini bahwa Rahmat Allah sangatlah luas dan Allah selalu membersamai dan mencintai orang-orang yang mencintai-Nya. Lebih dari apapun.

Ibrahim melangkah pergi, meninggalkan jejak di kota Makkah. Jejak yang akan menyejarah dan menjadi pelajaran bagi umat muslim yang kelak ditinggalkan. Keberatan hatinya untuk meninggalkan Hajar, apalah guna, jika ada Allah yang senantiasa melindungi dan tak akan menelantarkan Hajar beserta anak tercintanya, Ismail alaihissalam. Dalam perjalanan pulang, Ibrahim tak henti berdoa kepada Allah, untuk kebaikan Hajar dan Ismail.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturuanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

Ibrahim telah pergi. Tangisan Ismail memecah kesunyian padang pasir, sementara Hajar kebingungan karena persediaan air sudah habis. Hajar rela berlari bolak-balik tujuh kali dari safa ke marwa.

Sungguh, Hajar sudah dalam keadaan kecewa dan pasrah, jika tanpa rahmat dan pertolongan dari-Nya. Kemudian, Hajar bertemu dengan malaikat Jibril. Hajar mengikuti langkah Jibril, hingga tiba disuatu tempat. Pijakan kaki Jibril yang kuat mengeluarkan air yang begitu jernih. “Zamzam…” berkumpullah, begitu ucap Jibril.

Air jernih keluar dan terus mengalir hingga mengundang kedatangan burung-burung, dan juga orang-orang suku juhtum. Hingga, mereka menetap di sekitar sumber air zamzam. Hajar kembali senang, karena Ismail tidak kehausan dan banyak orang-orang membersamainya di padang pasir yang begitu luas itu.

Setelah sekian lama Ibrahim meninggalkan Ismail, begitu hebat rasa rindu yang menyeruak dalam dada Ibrahim. Akhirnya Ibrahim kembali mengunjungi tempat dimana ia meninggalkan istri dan anaknya, yaitu Makkah. Ujian cinta dan keikhlasan yang menghampiri Ibrahim, tidak selesai pada kisah itu saja. Sampai pada puncak heroik, yaitu ketika Ibrahim bermimpi untuk menyembelih anaknya.

Bagaimana mungkin, anak yang begitu ia cintai, sekian lama ia nantikan kedatangannya, dan sekian lama ia tinggalkan ditempat yang asing, kemudian bertemu kembali, lalu disuruh untuk menyembelihnya? Tentu perasaan sedih dan bingung begitu menyeruak dalam hati seorang Ibrahim.

Dengan mantap Ismail berkata pada Ibrahim:

Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu agar ayah mengikatku kuat kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan Ayah, kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkan darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku ketika ibuku melihatnya, ketiga tajamkanlah pedangmu dan percepatlah pelaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaaan dan rasa pendihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya.

Begitu hebat ketaatan remaja Ismail kepada Allah subhanahuwata’ala. Seolah berpesan kepada kita bahwa sesulit, sepedih dan seberat apapun ujian yang diberikan Allah, tetap harus dilaksanakan. Karena tak ada lagi perintah yang dinomor satukan, selain perintah langsung dari Allah. Syahdan, Ibrahim segera melaksanakan perintah Allah tersebut.

Perlahan Ibrahim membaringkan tubuh kecil Ismail yang dicintainya. Diikatnya kedua tangan dan kaki Ismail. Diasah parang yang akan digunakan untuk menyembelih. Nanar tatapan Ibrahim kepada Ismail. Air mata menggenangi kelopak matanya.

Rasa cinta Ibrahim kepada Ismail hendak dikorbankan demi rasa cintanya kepada Allah. Ibrahim tak kuasa menahan perasaannya. Semakin ia tatap wajah Ismail, semakin ia tak mau untuk menyembelihnya. 

Kemudian Ismail berkata, “Ayah, telungkupkanlah badanku, agar wajahku tak terlihat, sehingga tak menambah kepedihanmu menyembelihku.” Ibrahim kemudian menelungkupkan tubuh Ismail. Dan kemudian Allah menurunkan firman-Nya, dan menggantikan Ismail dengan hewan sembelihan kurban.

Sungguh dari kisah keluarga Ibrahim alaihissalam lah, kita pertama kali diajarkan tentang cinta, keihlasan dan pengorbanan yang sebenarnya. Cinta Ibrahim yang diuji dengan perjalanan jauh, berpisah dengan istri dan anaknya yang ia cintai.

Keikhlasan Hajar yang ditinggalkan Ibrahim di tempat asing. Serta pengorbanan yang luar biasa Ismail yang taat dan patuh kepada perintah Allah dan sang ayah untuk disembelih. Dari mereka, kita belajar makna ketaatan luar biasa seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Menjadikan rasa cinta kepada Allah melebih rasa cinta kepada apapun dan siapapun. Keikhlasan yang menemani perjalanan Hajar dalam menjemput rahmat dan keridhoan Allah. Dan pengorbanan yang luar biasa telah ditunjukkan oleh Ibrahim dan Ismail. Pengorbanan terhadap orang yang ia cintai, agar cintanya tak melebihi perintah sang Illahi. 

Dari kisah mereka kita belajar, bahwa cinta, keikhlasan dan pengorbanan yang sejati adalah hanya untuk ketaatan kepada Allah subhanahuwata’ala. Dan saat ini kita akan diuji dalam hal cinta, keikhlasan dan pengorbanan dengan melaksanakan ibadah Kurban. Selamat berkurban, selamat Idul Adha 1441 H. Semoga ibadah kurban kita hanya kita persembahkan kepada Allah subhanahuwata’ala.

Read More

Makhluk Bumi, Berhati Langit

No comments:

“Siapkan ruang kekecewaan dalam diri” begitu katanya, “karena, pahamilah, kita hidup di dunia sebagai manusia, pun berhadapan dengan manusia juga. Maka ingatlah satu kepastian ini; masing-masing dari manusia memiliki potensi kesalahan yang sama”

Seringkali kita tidak sadar, entah karena enggan sadar atau terbuai dengan fantasi dari apa yang kita lihat di media sosial atau sekadar bacaan, bahwa segalanya akan baik-baik saja dan pasti berakhir indah.

Memang, kita diminta untuk mengakhiri perjalanan hidup di dunia dengan akhir yang paling indah, ya atau diminta untuk terlihat baik-baik saja. Namun, jangan menggunakan alasan itu untuk menutupi bahwa ada yang sakit tapi tak berdarah, ada yang bengkak tapi tak terlihat, ada yang bernanah tapi tak tercium busuknya, ya hati kita.

Berapa banyak yang berbicara soal hati, tapi hanya didasari soal kepuasan tentang mencintai seseorang. Jika mencintai namun tak memiliki, dibilang tak perlulah harus memiliki untuk mencintai kalau memang begitu takdirnya.

Maka hadirlah manusia yang akal pikirannya dipenuhi halusinasi, dan jika mencintai lalu memiliki akan menjadi perbincangan paling hangat dua puluh empat jam, di kamar-kamar offline dan online kita hari ini.

Lalu bagaimana dengan kekecewaan? adakah ia pernah hangat untuk kita bahas bersama secangkir teh hangat dan udara segar di pagi hari? atau ia memang harus dipendam di tengah gulitanya malam, hingga waktunya tiba, ia membesar dan berujung tuduhan karena sakit yang terlalu ditahan.

Sadarilah, kita makhluk bumi. Diberi nama manusia. Dan kita tidak sendiri. Ada beratus, berjuta, bahkan bermiliar di dunia ini yang juga disebut manusia. Maka, jangan pernah merasa seakan, kitalah manusia paling sakit, lalu melimpahkan rasa sakit itu dengan menunjuk manusia lain sebagai penyebabnya, bisa jadi kitalah juga sumber rasa sakit itu.

Maka, wahai makhluk bumi yang disebut manusia. Hiduplah sebagai makhluk bumi yang berhati langit.

Saat bumi memang hakikatnya sebagai tempat yang dipijak, kadang ditindas, kadang dihinakan, kadang tidak dihargai, kadang dirusak begitu mudahnya, maka jadikan hati kita sebagai langit.

Luas, merdeka, bebas, dengan sabar tak bertepi, dengan maaf tak berujung, dengan harap yang meninggi naik ke atas. Kita serahkan urusan dengan makhluk bumi yang bernama manusia, kepada pemiliknya langsung, cukup buat kita, hidup menunduk patuh, dan mengharap pasrah.

Read More

Mengenal Robert K. Merton dari Pemikirannya

No comments:


Mahasiswa Sosiologi pastinya tidak asing lagi dengan salah satu fungsionalis strukturalis ini, Robert K. Merton. Ia adalah salah satu mahasiswa dari fungsionalis strukturalis terkemuka, sebut saja Talcott Parson. Sama halnya dengan dosennya, ia juga tertarik terhadap kajian sosial terutama fungsionalis struktural, namun lebih condong ke haluan kiri. (George Ritzer, Teori Sosiologi, h. 268)

Merton lahir dengan nama asli Meyer Robert Schkolnick dan mashur dengan nama Robert King Merton. Ia adalah sosiolog berkelahiran Philadelphia, Amerika Serikat pada 4 Juli 1910. Selama perjalanan keilmuannya, ia mendapatkan pengaruh dari berbagai sosiolog, seperti Parson, Weber, Marx, dan sosiolog modern lainnya.

Dengan ini, Merton melahirkan beberapa pemikiran kritisnya sendiri. Pertama, kritiknya terhadap tiga postulat dari antropolog, Malinowksi dan Radcliffe-Brown. Inilah mengapa Merton disebut berhaluan kiri, karena ia tidak selalu berpihak kepada fungsionalisme strukturalisme dan malah menganggap ada kejanggalan darinya. Oleh karena itu, ia mencoba untuk mengkritisi fungsi dan struktur dalam postulat yang diutarakan oleh antropolog ternama itu.

Postulat pertama adalah kesatuan fungsional masyarakat. Pada postulat ini menyatakan bahwa segala praktik sosial budaya yang dilakukan masyarakat pasti bersifat fungsional. Maksudnya, dalam praktik sosial budaya akan selalu memberikan integrasi yang kuat dalam masyarakat kecil. Karena dalam masyarakat yang sedikit orangnya ini akan memudahkan sistem untuk menjalankan fungsinya.

Namun, Merton menyangkalnya dengan menyebut bahwa pernyataan itu tidak dapat dijadikan acuan lagi. Integrasi masyarakat tidak bisa dilihat dari banya sedikitnya orang yang tergabung dalam masyarakat. Bagi Merton, kualitas dari sistem sosial lebih penting, dalam artian sistem yang tertata, dari pada kuantitas dari masyarakatnya.

Sebagai contoh adalah masyarakat kecil desa dengan masyarakat besar kota. Jika dikaji dengan postulat tersebut, jelas integrasi di desa lebih kuat dari di kota. Namun, Merton pasti akan menjawab bahwa belum tentu di desa memiliki sistem yang lebih tertata dari pada di kota, pun sebaliknya. Jadi, integrasi masyarakat, baik desa maupun kota akan terlihat kuat jika memang memiliki sistem yang tertata.

Postulat kedua adalah fungsionalisme universal. Postulat ini menyatakan bahwa segala bentuk dan struktur sosial budaya memiliki nilai positif bagi masyarakat. Tentunya Merton menyangkal postulat tersebut dengan mengatakan bahwa postulat itu sama sekali tidak relevan. Mana mungkin semua budaya dalam masyarakat bisa dinilai positif.

Seiring berjalannya waktu budaya akan bergeser dan digantikan dengan budaya baru. Dan kemungkinan akan ada budaya yang benar-benar ditinggalkan karena memang memberikan risiko bagi masyarakat. Atau budaya akan ditinggalkan karena melihat tidak begitu besar kontribusinya dalam masyarakat.

Misalnya, sebagian besar masyarakat Indonesia dulu lebih suka menggunakan kebaya bagi perempuan. Karena kebaya dinilai mencerminkan citra perempuan Indonesia yang memang ruang geraknya terbatas di domestik saja. 

Sedangkan sekarang ini, perempuan memiliki banyak aktivitas yang dapat dilakoni. Tentunya dengan mengenakan kebaya perempuan akan sulit beraktifitas yang memungkinkan untuk bergerak lincah dan kerja ekstra.

Postulat yang ketiga adalah indispensabilitas. Postulat ini menyebutkan bahwa struktur atau sistem dalam masyarakat tidak hanya baik, namun juga saling bersangkutan. Baginya, tidak ada sistem buruk yang dibentuk oleh masyarakat.

Di postulat ini, Merton tidak sepenuhnya menyangkal. Tapi, sama seperti Parson, ia menyarankan adanya alternatif pada sistem. Masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada satu sistem yang mutlak. Misalnya, apakah masyarakat akan tetap mempertahankan sistem yang parasit? Lambat laun sistem ini akan tumbang dan ada sistem pengganti yang lebih mutualis tentunya.

Kedua, analisis Merton terkait fungsi dalam sistem atau struktur yang terbagi menjadi tiga kategori, yaitu fungsi, disfungsi, dan nonfungsi. Suatu sistem dapat dikatakan fungsi jika ia mampu memberikan kontribusi atau hal-hal positif pada masyarakat. Misal dengan adanya subsidi untuk masyarakat tidak mampu dari pemerintah. Hal ini akan meminimalisir beban masyarakat.

Dan sistem yang dapat dikatakan disfungsi adalah jika ia memberikan kontribusi pada masyarakat dan komplit dengan risikonya. Dengan ini, meskipun ada subsidi yang dapat meringankan beban masyarakat tidak mampu, tetapi subsidi juga akan membuat masyarakat mengalami ketergantungan terhadapnya. Bahkan, subsidi itu dapat disalahgunakan oleh pemerintah itu sendiri.

Sedangkan nonfungsi adalah sistem yang tidak berdampak apa pun atau tidak memiliki kontribusi terhadap masyarakat, juga tidak memberikan risiko. Suatu misal, pemerintah memberikan subsidi kepada masyarakat demi meringankan bebannya.

Namun, subsidi yang diberikan salah sasaran atau diterima oleh golongan yang mampu. Di sini jelas sekali bahwa pemberian subsidi akan mengalami nonfungsi atau tidak berguna.

Terakhir, Merton menawarkan konsep fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes adalah fungsi yang dikehendaki. Sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang tidak diharapkan atau tidak dikehendaki.

Ritzer memberikan contoh kedua fungsi ini dengan menyebut orang kulit putih yang lebih unggul dari orang kulit hitam. Kulit putih menduduki fungsi manifes yang tentunya dengan sadar dikehendaki dan akan memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri.

Sedangkan, fungsi laten diduduki oleh orang kulit hitam yang sama sekali tidak menghendaki posisinya sebagai orang yang dijajah dan dieksploitasi oleh orang kulit putih.

Jika ditelaah, kedua fungsi yang ditawarkan oleh Merton ini memiliki kesamaan dengan konsep alienasi yang diusung oleh sosiolog klasik, Karl Marx. Alienasi Marx ini sama halnya dengan fungsi laten yang dimiliki oleh proletar.

Proletar terasing dari objek yang mereka ciptakan karena adanya kesadaran palsu. Hal ini tentunya tidak dikehendaki oleh proletar, namun mereka tetap menjalaninya demi kebutuhan hidup.

Sedangkan fungsi manifes tentu ada dalam diri borjuis. Fungsi ini memang memberikan nilai positif, namun hanya untuk golongan yang beruntung saja. Dalam hal ini adalah borjuis yang dengan sadar menghendaki diri untuk meraup keuntungan maksimal dengan modal seminimal mungkin.

Dari ketiga pemikiran itu rasanya cukup untuk mengenal Merton. Ia memang bukan sosok yang fenomenal seperti dosennya, Parson. Namun pemikirannya cukup memberikan kontribusi terhadap fungsionalis strukturalis. 

Darinya, kita mendapatkan dua sisi dari fungsional struktural, yaitu baik dan buruknya. Meskipun nanti ia akan mendapat kritik dari pemikir-pemikir setelahnya.
Read More

Teori Konflik: Wajah Baru dari Teori Fungsionalisme Strukturalisme

4 comments:



Setelah tokoh-tokoh sosiologi klasik, seperti Auguste Comte, Karl Marx, Emile Durkheim, Max Weber, Georg Simmel, dan lain sebagainya meninggal, bukan berarti teori-teorinya ikut mati pula. Sosiolog selanjutnya malah menjadikan teori-teori sosiolog klasik sebagai acuan dalam mengembangkan pemikirannya. Bahkan mereka mengembangkan sosiologi menjadi ilmu yang semakin kaya akan teori.

Itu dibuktikan dengan berkembang pesatnya sosiologi di Amerika. Di Chicago misalnya, telah melahirkan teori fenomenalnya, yaitu interaksionalisme simbolik. Namun, keberadaannya tidak lama karena muncul berbagai kritik terhadapnya. Kemudian disusul pula di Harvard dengan melahirkan fungsionalisme strukturalisme.

Sama halnya dengan interaksionalisme simbolik, fungsionalisme strukturalisme juga mendapatkan serangan bertubi-tubi dari berbagai teori baru. Kritik yang paling gencar terhadapnya muncul dari teori konflik. Namun, banyak anggapan bahwa teori konflik bukan mengkritik fungsionalis tetapi malah menjadi wajah baru darinya.

Ujaran ini bukan terlontar tanpa alasan. Tetapi memang ada kesamaan antara keduanya. Seperti orientasi pembahasan keduanya, yaitu sama-sama perihal struktur sosial. Namun, fungsionalis lebih menganggap struktur sebagai sesuatu yang positif dan berperan besar, sedangkan konflik menganggap sebaliknya.

Hal lainnya misal, jika fungsionalis menganggap masyarakat sebagai sesuatu yang statis, maka konflik sebaliknya, yaitu menganggap masyarakat sebagai sesuatu yang dinamis dan selalu berubah-ubah. Fungsionalis menganggap bahwa masyarakat akan melahirkan keteraturan, maka konflik menganggap masyarakat akan selalu bertentangan. Selain itu, fungsionalis selalu optimis bahwa masyarakat akan selalu stabil, namun konflik menganggap masyarakat akan melahirkan disintegrasi.

Semua pernyataan itu dipertegas oleh tokoh terkemuka dari teori konflik, yaitu Ralf Dahrendolf. Menurutnya, teori konflik adalah antitesis dari fungsionalis. Karena mengang konflik ini berakar dari teori Marxian dan Georg Simmel, yang mana lebih menekankan pada perubahan dari pada stagnan. Lebih jelasnya, kita perlu menengok pada pemikirannya, yaitu otoritas.

Dahrendolf menyebut bahwa otoritas terletak pada posisi, bukan pada diri individu. Seseorang yang memiliki posisi yang lebih tinggi bisa mengendalikan individu yang berada di posisi bawah. Dengan ini, akan muncul adanya kepentingan yang bisa memunculkan konflik.

Sebagai misal, Si A adalah ketua. Ia memiliki otoritas karena memang ia adalah ketua, bukan karena ia adalah Si A. Selain itu, ia memegang kendali terhadap semua bawahannya. Dan konflik akan muncul karena ada kepentingan di dalamnya.

Sedangkan dari perspektif fungsionalis, tentu aktor akan bekerja bersama-sama tanpa melihat kepentingan. Mereka hanya percaya bahwa semua akan baik-baik saja sesuai dengan fungsinya. Tidak ada disintegrasi, karena memang di dalam fungsionalis semuanya akan stabil dengan sendirinya.

Contohnya dalam suatu organisasi. Baik ketua maupun staf di bawahnya bekerja bersama-sama sesuai dengan fungsinya. mereka tidak berpikir tentang kepentingan individu, tetapi percaya akan fungsinya masing-masing demi sebuah keteraturan.

Lain halnya dengan Dahrendolf, sosiolog konflik ini, Randall Collins, mengutarakan bahwa stratifikasi sosiallah yang memicu konflik. Yang mana kelas dominan lebih memiliki andil dalam masyarakat dari pada kelas subordinat. Selain itu, kelompok dominan dapat dengan mudah memaksakan kehendak kepada kelompok subordinat.

Dari penjelasan di atas kiranya sangat jelas bahwa teori konflik adalah wajah baru dengan badan yang sama dari fungsionalis. Bedanya, fungsionalis lebih optimis pada keteraturan dan stabilitas. Sedangkan, konflik cenderung memandang segala hal sebagai pertentangan. Padahal, dalam masyarakat tidak melulu perihal keteraturan maupun pertentangan. Keduanya adalah hal-hal kecil dalam masyarakat.
Read More

Kampanyekan Pendidikan Seks, Bukan Ketabuan Seks!

No comments:



Apa yang pertama kali terpikir ketika mendengar kata seks? Film pornografi, senggama, alat reproduksi, atau hal 'memalukan' tentangnya? Kalau iya, berarti kalian belum pernah belajar tentang pendidikan seks atau kemungkinan besar menganggapnya sebagai ketabuan. 

Di negara kita ini memang belum banyak orang yang mengenal pendidikan seks. Karena yang ada dalam benak mereka hanyalah hal-hal negatif tentang pendidikan seks, seperti penyakit seks, pelecehan seksual, seks bebas, dan lain sebagainya.

Padahal, pendidikan seks bukan hanya sebatas alat reproduksi dan tindakannya, tetapi cara merawat, menjaga, dan meminimalisir tindak kekerasan seksual. 

Kalau sudah terkonstruk tentang hal-hal negatifnya seperti itu, lantas siapa yang harus bertanggungjawab? Pendidikan seks bukan hanya tanggung jawab personal, lho.

Semua orang memiliki peran terhadapnya. Baik pemerintah, pendidik, masyarakat, keluarga, dan anak-anak juga harus ikut andil dalam mengkampanyekan pendidikan seks. Lantas bagaimana caranya? 

Pertama, keluarga adalah tempat segala jenis pendidikan, termasuk pendidikan seks untuk yang pertama kalinya bagi anak. Jika dirasa anak sudah mulai mengerti, ajak dia untuk mengenali organ pada tubuhnya. Tentunya dengan metode yang menyenangkan seperti bernyanyi atau menggunakan gerakan aktif supaya Si Anak nyaman dalam belajar. 

Tahu sendirikan, kalau anak kecil mudah bosan? Oleh karena itu, orangtua perlu membuatnya merasa bahagia dan nyaman dalam pelajaran perihal seks untuk pertama kalinya. Gunakan berbagai macam cara agar anak paham dalam mengenal organ tubuhnya. 

Kedua, dalam pendidikan formal di sekolah maupun kuliah, pendidikan seks telah disisipkan di mata pelajaran seperti biologi. Tentu saja pelajarannya akan semakin kompleks seiring dengan tingginya tingkat.

Namun, bukan berarti peran keluarga, terutama orangtua sudah selesai ketika anak sudah masuk pendidikan formal, ya? Orangtua tetap mengawasi dan memberikan arahan yang sesuai kebutuhan Si Anak. 

Karena menginjak masa-masa di pendidikan formal ini biasanya Si Anak memiliki ego yang tinggi.

Mereka suka mencoba hal-hal baru dan cenderung sulit diprediksi kemauannya. Ya, mau gak mau, orangtua harus ekstra hati-hati dalam memberikan arahan. Jangan sampai anak dan orang tua malah sama-sama terpancing emosi. Jadi tambah runyam nanti masalahnya. 

Ketiga, belajar tentang pendidikan seks dengan ahlinya. Kalau ini memang wajib dilakukan, ya, kawan. Baik anak-anak maupun orangtua, kalau tidak tahu perihal penanganan seks, ya, bilang saja tidak tahu.

Jangan mengada-ada atau memberi jawaban yang "halu". Atau lebih baik menanyakannya kepada ahlinya. Kalau tidak, bisa panjang nanti urusannya. 

Tapi, biasanya orangtua kebanyakan gengsi untuk bilang tidak tahu. Alasannya klasik, takut dikira orangtua, kok, nggak tahu apa-apa. Padahal orangtua juga manusia, juga ada yang tidak diketahuinya. Jadi katakan terus terang saja, tidak usah gengsi. 

Keempat, belajar dari buku tentang pendidikan seks atau melihat video sex education di channel youtube. Kan, sekarang lebih keren, nih. Belajar tidak melulu harus menemui ahlinya.

Kita bisa beli buku atau menonton secara gratis di laman youtube-nya dokter, misal. Beginikan terkesan lebih efektif, ya kan? 

Namun, kalau ada istilah atau kurang paham dari penjelasan di buku atau video, tetap harus menanyakannya pada ahlinya, lho, ya. Jangan menafsirkan sendiri maksudnya. Bisa-bisa malah salah kaprah lagi. 

Oh, iya, bagi orangtua, tetap dampingi dan bimbing anak-anak dalam pendidikan seks, ya. Dan anak-anak pun juga begitu, mintalah orangtuamu untuk mendampingi selama proses belajar. Jangan sampai salah belajar dan mengaplikasikannya. 

Terakhir, ajarkan keadilan seks. Percuma, dong, kalau belajar ini itu tentang seks tetapi tetap ada diskriminasi di dalamnya. Kalau di pendidikan seks pastinya sepalet dengan organ, kesehatan, perawatan, dan pencegahan. Namun, belum lengkap jika tidak memasukkan materi yang serumpun dengannya, keadilan seks. 

Kenapa ada banyak pelecehan seksual yang terjadi di masyarakat? Kenapa banyak seks bebas di kalangan pelajar? Dan kenapa pula selalu ada pihak yang termarginalkan dalam kasus-kasus kejahatan seks? 

Semua itu dapat diminimalisir dengan adanya pemahaman tentang keadilan seks. Menurut kalian bagaiman mungkin seorang pelajar yang notabenenya adalah seorang yang mengerti pendidikan seks, tapi malah terjerumus seks bebas?

Ya, karena mereka salah mengaplikasikan pendidikan seks dan tidak paham keadilan seks. 

Oleh karena itu, pendidikan seks adalah kebutuhan semua orang. Hal ini dikarena semua orang berpotensi mengalami kejahatan seksual. Dengan adanya pengetahuan tentang seks, semua orang akan berpatisipasi untuk saling melindungi. 

See, mengkampanyekan pendidikan seks itu lebih penting dari pada koar-koar masalah ketabuannya. Saya rasa, justru ketabuanlah yang memicu tindak kejahatan seksual.

Singkatnya, mereka yang menganggap tabu akan semakin tidak tahu. Ketidaktahuan akan menciptakan rasa keingintahuan. Hingga akhirnya salah dalam teori pun dalam pengaplikasiaannya. 

Jadi, mulailah ubah cara pandangmu tentang tabu-tabu perihal seksualitas. Karena tabu terhadapnya adalah kebodohan.
Read More

Corona: Tempatkan Sapiens pada Posisinya

No comments:



Tahun ini dunia digegerkan dengan isu serentak, Corona Virus (Covid-19). Semua memang bermula dari penyakit yang hanya bertengger di Wuhan, China. Namun, lambat laun virus ini mulai menggerogoti dunia. 

Sontak saja covid-19 ini membuat panik warga dunia. Pasalnya, virus ini telah menelan banyak korban dalam hitungan jam. Apalagi bagi mereka yang memiliki penyakit dalam, seperti jantung misalnya, akan mudah saja meninggal saat itu juga. 

Selain itu, akibat dari virus ini adalah akses kegiatan yang semakin dibatasi. Pemerintah Indonesia misalnya, menetepkan kebijakan untuk work from home (WFH), kegiatan belajar mengajar di rumah, larangan untuk mudik, dan tidak boleh keluar rumah kecuali memang mendesak. 

Semua wacana di atas hampir sama dengan yang ditulis oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya, Sapiens (2018). Ia menyebut bahwa Sapiens telah mengalami beberapa revolusi dalam hidupnya. Harari mencatat sekiranya ada tiga tahapan yang dilalui Sapiens, yaitu revolusi kognitif, revolusi pertanian, dan revolusi sains. 

Pertama, revolusi kognitif yang identik dengan perkembangan bahasa dan komunikasi. Pada revolusi ini Sapiens mulai berkomunikasi dengan menciptakan bahasa ataupun kode yang hanya bisa dimengerti oleh kelompoknya saja.

Hal ini semakin berkembang dengan munculnya kebiasaan Sapiens mengobrol satu sama lain, atau Harari menyebut ini dengan bergosip. 

Mengingat hal tersebut, sebenarnya sebelum pandemi pun manusia telah gemar bergosip. Namun, gosip ini semakin marak saja semenjak pandemi ini muncul. Inilah salah satu faktor yang memicu tersebar luasnya wacana pandemik di masyarakat, bahkan mereka yang terbelakang sekali pun. 

Kedua, revolusi pertanian adalah masa yang gemilang setelah revolusi kognitif. Revolusi ini ditandai dengan keinginan manusia untuk menetap dan menghidupi dirinya sendiri dengan hasil bercocok tanam. Dengan ini Sapiens tidak perlu lagi berpindah-pindah tempat tinggal dan berburu makanan. 

Hal ini serupa dengan apa yang sedang kita alami di tengah-tengah pandemi ini. pergerakan masyarakat sedang dibatasi. Mereka hanya dapat melakukan aktivitas di rumah saja. Selain itu, beberapa petani juga tidak dapat mendistribusikan hasil pertanian di luar daerahnya.

Jadi, mereka hanya dapat memakan sendiri hasil pertaniannya atau paling tidak hanya dapat menjualnya di daerah masing-masing. 

Ketiga, revolusi sains yang ditandai dengan munculnya teknologi canggih. Hal ini tidak saja membantu meringankan pekerjaan manusia, tetapi juga menggantikan manusia itu sendiri. Pasalnya, jika manusia tidak dapat memanfaatkannya dengan bijak, mereka akan diperbudak oleh objek ciptaannya sendiri. 

Bukankah hal ini juga telah dialami manusia sebelum atau bahkan selama masa pandemi ini? Beberapa dari mereka justru asik menghabiskan waktunya dengan memainkan handphone untuk bermain game, membaca artikel yang belum tentu kebenarannya, atau bahkan gemar membagikan artikel hoax. Namun, tidak jarang dari mereka juga dapat memanfaatkan waktu untuk bekerja lewat online. 

Berdasarkan pemaparan di atas, Corona telah memberi warna bagi masyarakat dunia. Ia tidak hanya memberikan dampak negatif tetapi juga sepaket dengan dampak positifnya.

Paling tidak, dengan ini manusia disadarkan dengan posisinya seperti yang diungkapkan Harari dalam Buku Sapiensnya itu. 

Selama pandemi tersebut, manusia telah menempati posisi yang sebelumnya hanya dinikmati oleh Sapiens pada masanya. Manusia yang katanya telah melampaui revolusi industri ini, nyatanya masih suka tradisi masa lalu.

Namun, yang terpenting adalah tetap saling menjaga satu sama lain dan saling menghormati di mana pun posisinya.
Read More

MENYIMAK PERJALANAN TAARE ZAMEEN PAR

No comments:



Karena mereka bisa melihat dunia dengan cara yang berbeda. Cara berpikir yang unik, dan tidak semua orang mengerti cara mereka. Mereka menentang. Namun mereka muncul sebagai pemenang, dan dunia takjub dibuatnya. 

Ishaan Nandkishore Awasthi, anak laki-laki berumur 9 tahun. Anak yang sering dianggap sebagai anak nakal, bodoh, idiot, tidak bisa diam, dsb. Berasal dari keluarga yang mampu dan utuh, mungkin membuat siapapun melihat bahwa dia tidak kekurangan apapun.

Namun, ternyata ada hal yang tidak bisa ia dapatkan saat itu. Keadaannya berbanding terbalik dengan Yohan, kakaknya yang menjadi pelajar sukses dalam studi maupun bidang olahraga. Ayahnya yang berkepribadian keras, bahkan tak pernah sekalipun melihat sisi baik dari Ishaan. Namun, Ibu Ishaan selalu sabar mengajarkan banyak hal padanya.

Dia bahkan mengorbankan karir demi memiliki banyak waktu untuk membimbing putranya, berharap mereka dapat menjadi sosok yang sukses suatu saat. 

Duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, Ishaan masih saja belum bisa membaca dan menulis dengan baik dan benar. Dialah satu-satunya anak yang tidak bisa membedakan antara huruf-huruf atau bahkan kata yang hampir sama---b dengan d, f dengan t, top dengan pot, soil dengan soiled.

Dialah satu-satunya yang membayangkan akan membawa planet bumi ke planet pluto untuk dihancurkan, itulah cara dia menjawab soal matematika dari hasil perkalian 3x9. Imajinasi yang begitu kuat, namun dari sanalah ia mendapatkan masalah. Dia juga tak pernah benar-benar paham akan perintah yang disampaikan gurunya.

“I said, open page 38 paragraph 3! Read the first sentence and mantion the adjective” perintah gurunya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ya, Ishaan hanya terdiam.

Justru ia menjelaskan bahwa huruf demi huruf yang berbaris di halaman buku tampak menari, dan ia tak bisa membacanya. Hal itu membuat guru di kelas menjadi marah, dan menghukumnya untuk keluar dari kelas sembari menunggu pembelajarannya selesai. 

Beberapa kali, hingga tak ada hari tanpa keluar kelas. Membuat anak itu---Ishaan sedih dan merasa tak ada gunanya ia duduk di kelas. Pun, dia memilih untuk meninggalkan kelas dan mengelilingi kota seorang diri (bolos). Berfikir bahwa dengan begitu ia akan lebih tenang.

Mengamati banyak hal dengan bebas dan tak seorang pun akan mengomelinya hanya karena ia tak bisa membaca dengan benar. Dia mulai berjalan seorang diri, menyusuri setiap jalan yang ia temui, hingga menaiki bus agar sampai ke sekolah tepat saat waktu pulang sekolah. Sampai di rumah, semua terlihat baik-baik saja. Hingga saat malam tiba, ia mulai gelisah.

Takut jika ia nanti akan mendapat omelan dari sang Ayah. Meminta bantuan pada kakaknya menjadi pilihan terakhirnya, agar menuliskan surat ketidakhadirannya hari ini. Karena sangat menyayangi adiknya, ia pun menuliskannya walau sempat menolak permohonan Ishaan. 

Beberapa hari berlalu, hingga ayah Ishaan pulang dari perjalanan kantornya dari Mumbai. Seperti biasa ia akan duduk di ruang keluarga dan memulai membaca koran saat hari libur. Tanpa sadar, ia menemukan sebuah surat saat akan mengambil surat kabar dari tempatnya. Surat yang berisikan ketidakhadiran Ishaan di kelas karena demam, yang pada kenyataannya tentu tidak benar.

Kalian bisa bayangkan, saat itu juga Ishaan dimarahi besar-besaran. Ia menangis tersedu-tersedu, dan ia hanya bisa diam. Namun, kejujuran selalu ada di pelupuk matanya. Berbicara apa adanya---sebagaimana anak seusianya atas apa yang ia lakukan kemarin, kemudian berlari ke kamar dan membisu. 

Tidak disangka, pihak sekolah menelepon kedua orang tua Ishaan beberapa hari setelah kejadian bolos itu. Kepala sekolah memberitahukan segalanya, termasuk kemampuan Ishaan yang dianggap tidak dapat ditoleransi lagi untuk bisa naik kelas. Hal ini tentu memperburuk keadaan, membuat Ishaan akhirnya dipindahkan ke sekolah asrama. Pada awalnya ia memberontak, tak ingin jauh dari Ibu maupun kakaknya.

Tetapi, keputusan yang sudah bulat itu tak dapat dirubah kembali. Di pihak lain, Ishaan menganggap bahwa sekolah di asrama merupakan hukuman orang tua terhadap anak yang nakal dan tidak mau menurut. Anggapan ini tampak lebih jelas dengan gaya dan sikap mengajar guru di sekolah tersebut yang cenderung lebih keras dengan dalih untuk menegakkan kedisiplinan. 

Suasana kelas dan asrama yang tidak menyenangkan membuat Ishaan semakin frustasi, semua guru menyebutnya bodoh dan seringkali menghukumnya dengan keras. Keadaan ini membuatnya semakin tertekan dan menjadi pendiam dan selalu menyendiri.

Selain itu, Ishaan menjadi takut ketika bertemu dengan guru bahkan tidak bersemangat saat pelajaran melukis berlangsung. Keadaan ini terus berlangsung hingga seorang guru pendatang tiba di sekolah asrama tersebut. 

Dialah Ram Shankar Nikumbh, guru kesenian yang diperankan oleh Amir Khan. Dia berperan sebagai sosok guru yang begitu unik, dan memiliki kepribadian kuat. Berbeda dengan guru-guru lain yang sangat disiplin dan kaku, ia justru memperkenalkan dirinya dengan kostum badut dan bernyanyi saat memasuki kelas.

Menghidupkan kelas dengan canda dan tawa, juga lirik lagu disertai tarian yang menyenangkan. Melihat semua muridnya tersenyum, membuat tuan Ram ikut bahagia. Namun disisi lain, ia menemukan salah satu dari sekian murid di kelasnya yang terdiam dan hanya menunduk hingga nyanyiannya usai.

Ya, dialah Ishaan kita. Keanehan inilah yang menggugah hati Tuan Ram untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Ishaan. Hingga suatu ketika, ia mencari semua buku tulis Ishaan dan mencoba mencari kesalahan apa yang dilakukannya hingga para guru menyebutnya bodoh. Dengan penuh rasa penasaran, akhirnya ia mendapatkan kesimpulan. 

Itu adalah penyakit Disleksia, gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan, dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat, sebagaimana yang dialami oleh Ishaan.

Walaupun seorang anak mengalami gangguan ini, itu tidak berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan mereka. Seperti halnya Ishaan, yang sebenarnya memiliki kecerdasan yang tinggi dan bakat melukis yang luar biasa. 

Oleh sebab itu, Tuan Ram mulai meyakinkan semua guru bahkan kedua orang tua Ishaan tentang keadaannya. Ia bukanlah anak idiot atau abnormal, tetapi anak spesial dengan bakat alami yang membutuhkan perhatian dan cara pengajaran khusus.

Dengan waktu, kesabaran dan keyakinan yang besar, Nikumbh berhasil mendorong tingkat kepercayaan Ishaan. Ia membantu Ishaan dalam mengatasi masalah yang selama ini menakuti dirinya. Ishaan mulai percaya pada dirinya, mulai berani bicara dan menjawab, sekaligus mulai melukis kembali. Ia mulai bisa membaca, menulis, berhitung, tanpa harus khawatir dengan imajinasi yang tak terkendali. 

Film ini diakhiri dengan dengan lomba melukis yang diadakan Tuan Ram Nikumbh untuk seluruh murid juga guru yang ada di sekolah tersebut. Semua mengikuti tanpa ada perbedaan, mereka menikmati suasana lomba tanpa merasa terkekang oleh batasan imajinasi.

Ishaan akhirnya membuktikan bahwa dia pantas diakui keberadaannya dengan memenangkan peringkat pertama dalam lomba ini. Dengan statement bahwa muridlah yang mengalahkan guru, lukisan Ishaan pun menjadi sampul buku tahunan sekolah. Dengan lukisan Tuan Ram Nikumbh di baliknya, yang merupakan lukisan wajah Ishaan, yang membuat buku itu menjadi begitu berarti saat orang tua Ishaan menerimanya.

Kata yang bisa terucap hanyalah terimakasih, yang mereka tunjukkan pada guru terbaik putranya yaitu Tuan Ram. Penyesalan karena seringkali mengabaikan sisi baik Ishaan telah tertancap dalam benak mereka. 

Film dengan judul Taare Zameen Par ini mengajarkan kita bahwa setiap anak adalah spesial dengan keunikan dan impian mereka masing-masing. Oleh sebab itu, jangan pernah memaksa harus seperti apa mereka, atau harus menjadi apa mereka suatu saat nanti.

Ijinkan mereka untuk hidup sebagai diri mereka sendiri dengan potensi dan keunikannya, serta hargailah apapun usaha yang mereka lakukan. Maka meraka akan tumbuh dan berkembang dengan menjadi anak yang cerdas dan luar biasa versi mereka. Sebegai orang tua, bukan tugas kita untuk terus menekan kekurangan yang dimiliki seorang anak.

Melainkan meyakinkan anak bahwa ia memiliki kelebihan yang dikaruniakan Tuhan padanya, untuk menyambut masa depan miliknya. Orang tua juga tidak boleh membanding-bandingkan kemampuan seorang anak dengan anak yang lain sebagaimana yang dilakukan ayah Ishaan.

Mewujudkan cinta orang tua pada anak adalah dengan memantau tumbuh kembangnya, selalu meyakinkan dia akan kemampuan yang dimilikinya, memberikan reward padanya saat ia berhasil, dan selalu ada untuknya di saat apapun. Hal ini adalah beberapa dari apa yang bisa orang dewasa lakukan. 
Read More

Benarkah Agama Sebagai Solusi?

1 comment:
Dalam sejarah Islam, kita mengambil banyak hikmah. Tak hanya sekadar menikmati kehebatan masa lalu, tapi juga untuk belajar dari musibah di zaman dulu agar tak terulang lagi di zaman kita.

Apalagi dalam bab bencana, ternyata Ulama kita banyak menulis buku-buku tentang treatment menghadapi bencana.

Dr. Ali Muhammad Audah menghimpun 24 kitab sepanjang zaman yang mengisahkan bagaimana Umat mengalami bencana —dalam hal ini wabah penyakit— dan bagaimana pemerintah mereka melakukan penanggulangannya.

Salah satu pelajaran penting yang perlu kita garis bawahi adalah kisah yang ditulis Imam Ibnu Hajar Al Asqalani.
Apa itu?

Dalam kitabnya, 'Badl Al Maun fi Fadhli At Tha'un', Imam Ibnu Hajar mengisahkan bahwa tahun 749 Hijriah atau sekitar tahun 1348 Masehi, terjadi wabah penyakit menyerang Kota Damaskus. Banyak Ulama memberi arahan agar manusia tidak berkumpul dan agar menjauhi keramaian.

Namun apa yang terjadi?

Orang-orang malah tak mendengarkan, "kemudian manusia keluar menuju lapangan luas, disertai para sesepuh. Mereka berdoa dan meminta pertolongan Allah secara beramai-ramai. Tapi wabah itu malah makin besar, padahal sebelum mereka berkumpul, korbannya hanya sedikit." 

Imam Ibnu Hajar pun mengisahkan apa yang terjadi di eranya, "pernah juga terjadi di zaman kita ketika sebuah wabah menjangkiti Kairo. Pada tanggal 27 Rabiul Akhir tahun 833 Hijriah (tahun 1430 Masehi).

Awalnya korban meninggal kurang dari 40 orang. Namun kemudian orang-orang keluar ke tanah lapang pada 4 Jumadil Ula setelah sebelumnya melakukan puasa 3 hari sebagaimana yang mereka lakukan ketika akan Shalat Istisqa. Mereka berkumpul untuk berdoa kemudian pulang ke rumah masing-masing.

"Imam Ibnu Hajar melanjutkan, "tak sampai sebulan setelah mereka berkumpul, jumlah korban malah meningkat menjadi 1000 orang perhari dan terus bertambah." 

Beberapa orang waktu itu asal memberi fatwa bahwa berkumpul untuk berdoa itu perlu karena beranggapan “umumnya begitu”, dan ada juga yang menerangkan legenda mitos bahwa dulu di zaman seorang raja bernama Al Muayyad hal itu terjadi dan wabah bisa hilang.

“Jama’ah dari Ulama kala itu memberi fatwa bahwa tidak berkumpul adalah hal yang utama untuk menghindari fitnah penyakit.”

Sahabat, di saat-saat genting seperti ini, sangat penting kita ikut arahan ulama dan ahli medis. Jika hanya bermodal semangat tanpa ilmu, maka akan lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki.

Kita hanya takut pada Allah, tak takut pada korona. Betul. Sangat betul. Namun justru karena takut pada Allah maka laksanakanlah sunnatullah yang perlu diikhtiarkan.

Dr. Majdi Al Hilali menulis dalam Kitabnya “Innahu al Qur’an Sirru Nahdhatina”, bahwa sebuah umat yang menyepelekan ikhtiar manusiawi artinya sudah mengkhianati Allah.

Sebab Allah memberikan pada manusia hukum sebab-akibat, dan yang tak peduli dengan itu tandanya tidak mensyukuri nikmat Allah.

Ikhtiar manusiawi itu bisa dalam bentuk physical distancing, di rumah aja. Dengarkan fatwa Ulama tentang menghindari keramaian, termasuk himbauan untuk sementara waktu tidak shalat Jum'at dulu di masjid. 

Keputusan itu semuanya dengan dalil dan dengan musyawarah yang panjang. Bukan dengan ego dan kepentingan pribadi.

Sebab nyawa seorang manusia itu mahal harganya. Umar bin Khattab imannya tinggi, tapi ketika diberi pilihan suatu hari untuk datang ke daerah wabah atau kembali ke Madinah, Umar memilih untuk pulang ke Madinah. Kalimatnya terkenal,

“kita pergi dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain.”

Maka ambillah pelajaran dari sejarah ini. Agar kita mawas dan tak jatuh dua kali. Agar kelak ketika wabah selesai, masjid kembali ramai dengan kamu. Agar kajian bisa kembali penuh dengan kamu. Semuanya bermula dari jaga dirimu dan ikuti arahan orang-orang berilmu.
Read More

Berkaca Dari Gerwani: Perempuan Memang Perlu Kiri

2 comments:



Kata siapa perempuan Indonesia pasif? Kata siapa perempuan Indonesia tidak pernah melakukan perlawanan? Dan kata siapa pula perempuan Indonesia tidak mampu bertindak kiri?

Introgasi semacam itu memang acap kali dilontarkan oleh masyarakat luas. Selain itu kebanyakan intelektual akan menjawabnya dengan ujaran terkait feminisme dari Barat. Namun, feminisme yang seperti apa yang telah ada di Indonesia?

Indonesia sendiri telah memiliki tokoh-tokoh feminisme. Tokoh-tokoh tersebut adalah Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Christina Martha Tiahahu, Kartini, Siti Soendari, dan lain sebagainya.

Bukan hanya itu, bahkan Indonesia harusnya bangga dengan adanya organisasi perempuan yang bukan hanya tranformatif, tetapi lebih condong ke arah kiri, yaitu Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang telah berdiri sejak tahun 1951.

Gerwani mungkin terdengar asing dan tidak banyak yang tahu tentangnya. Hal ini disebabkan karena memang keberadaannya tidak selanggeng organisasi lainnya. Selain itu, organisasinya dianggap terlalu kiri dan membahayakan kedudukan pemerintahan saat itu. Sehingga cepat saja gerakan ini ditumbangkan oleh golongan atas.

Singkatnya, menurut Nur Sayyid Santoso Kristeva dalam bukunya Manivesto Wacana Kiri, ia menyebut bahwa Gerwani ini dulunya bernama Gerakan Wanita Istri Sedar (Gerwis).

Karena adanya ketidakpuasan dalam gerakan ini, seperti yang hanya dapat bergerak sebatas keperempuanan, maka digantilah dengan nama Gerwani.

Sehingga gerakan ini menjadi lebih leluasa dengan berbagai pergerakan revolusioner atau antiimperialisme, serta merambah pula di ranah sosial, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Namun, ketika Gerwani mulai mengepakkan sayapnya demi keadilan masyarakat, organisasi ini diberangus oleh pemerintah. Hal ini terjadi ketika rezin Soeharto telah menganggap Gerwani sebagai organisasi terlarang.

Bukan hanya itu, Soeharto menyebut Gerwani sebagai organisasi yang tidak mencerminkan organisasi perempuan Indonesia yang yang lemah lembut, berbudi baik, dan anggotanya malah syarat akan pelacur. Oleh karenanya, Gerwani dibubarkan secara paksa oleh rezim Soeharto.

Dan demi mencegah munculnya kembali gerakan-gerakan serupa, Soeharto dan pasukan militernya melalui propaganda media, mengaburkan sejarah tentang Gerwani. Seperti Gerwani yang terlibat dalam pembunuhan Jendral pada peristiwa G30SPKI, melakukan tarian seks, dan melakukan penyiksaan. Padahal kenyataannya mereka sedang melakukan pelatihan penggayangan Malaysia.

Dari sini terlihat jelas bukan, bahwa gerakan perempuan Indonesia nyatanya telah ada sejak dulu. Dan tuntutannya pun jelas, bukan semerta-merta hanya menginginkan kesetaraan yang omong kosong.

Justru mereka yang masih mempertanyakan “kesetaraan yang bagaimana, sih, yang diinginkan perempuan itu?” adalah mereka yang sebenarnya telah cacat akan sejarah pergerakan perempuan. Sorry, but I'm not sorry.

Dan hal yang perlu digaris bawahi adalah perempuan Indonesia tidak pernah pasif atau bahkan tunduk begitu saja pada rezim yang tidak berakhlak mulia. Selalu ada perlawanan yang mereka lakukan. Namun, tetap saja ada golongan berkuasa yang merasa terancam terhadap keberadaannya.

Nah, dari sini, kita bisa berkaca dari Gerwani bahwa perempuan memang perlu kiri. Bukan karena mereka ingin dilihat keberadaannya oleh dunia. Apalagi ingin terlihat berkuasa. Namun, memang ketidakadilan harus segera dimusnahkan.

And see, mereka yang yang berjuang sekeras itu saja mampu ditumbangkan oleh rezin tiranik. Apalagi kita yang hanya diam dan tetap merasa seolah diri kita sedang baik-baik saja. Kita harus melawan ketidakadilan dan angan mau di-ninabobo-kan oleh segala bentuk penindasan.

Dan untuk kalian yang masih suka koar-koar tentang kesetaraan apa yang diinginkan perempuan, coba jejali otak kalian dengan amunisi keilmuan yang berbobot. Cobalah bersama-sama untuk mencapai keadilan. Karena keadilan adalah pekerjaan bersama yang dilakukan seumur hidup.
Read More