Latest Posts

Showing posts sorted by relevance for query Miftakul Ulum. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Miftakul Ulum. Sort by date Show all posts

Sosiologi ala Feminis

No comments:


Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Sosiologi dan feminis merupakan dua term berbeda. Jika sosiologi mengarah pada studi tentang kemasyarakatan, maka feminis adalah orang yang mengkaji feminisme. Namun, dalam buku Teori Sosiologi karya George Ritzer, keduanya dapat dijadikan sebuah teori, yaitu Sosiologi Feminis.

Sebenarnya, tidak ada istilah pakem untuk mendefinisikan sosiologi feminis. Dari dua kata itu, kita bisa menyimpulkan bahwa sosiologi feminis adalah suatu teori sosiologi yang dikaji dalam perspektif feminis. Singkatnya, segala hal yang berhubungan dengan masyarakat akan dikulik berdasarkan perspektif feminis.

Seperti yang kita tahu, dari babakan klasik hingga modern, belum ada sosiolog yang menyentil perihal keadilan bagi perempuan. Semuanya hanya berputar-putar di dunia masyarakat, baik mikro ataupun makro. Meskipun Marx pernah menyentil babakan keadilan perempuan, namun hanya sebatas buruh perempuan. Ia belum menyentuh detail terkait perempuan, seperti beban ganda yang dialami perempuan di ranah domestik dan publik sekaligus. Maka dari itu, Ritzer mencantumkan sosiologi ala feminis di bukunya.

Menurut Ritzer, akar dari sosiologi feminis adalah ketimpangan dalam mengkaji perempuan dalam masyarakat. Kebanyakan sosiolog hanya menonjolkan peran laki-laki dalam masyarakat. Selain itu, hampir semua teori-teori yang disumbangkan untuk sosiologi merupakan perspektif laki-laki. Hal ini tentu saja semakin menyudutkan perempuan, yang mana mereka terlihat sama sekali tidak memiliki kontribusi dalam keilmuan, khususnya dalam ranah sosial. Padahal perempuan memiliki andil yang sama pentingnya dengan laki-laki dalam masyarakat.

"Para perempuan hadir di sebagian besar situasi kritis. Ketika mereka tidak hadir, itu semua bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan atau minat, tetapi karena telah terdapat upaya secara seksama untuk mengesampingkan mereka. Ketika mereka hadir, perempuan memainkan peran yang sangat berbeda dari konsepsi populer tentang mereka." (Ritzer, h. 488)

Untuk lebih jelasnya, kita perlu mengidentifikasi ciri-ciri teori sosiologi feminis. Pertama, sosiologi dengan pengetahuan feminis. Jika teori sosiologi klasik atau bahkan sampai sekarang didominasi perspektif laki-laki, maka Ritzer menyebut bahwa ada beberapa teori sosiologi dengan perspektif feminis. Artinya, dalam teori sosiologi memuat pengetahuan feminis.

Teori sosiologi dengan pengetahuan feminis ini tidak akan jauh-jauh pembahasan seputar keadilan peran dalam masyarakat. Ciri lainnya adalah pemaparan kasus dari aktor yang tersubordinasi, penjelasan tentang maayarakat secara objektif, baik laki-laki maupun perempuan, bukan hanya mampu menggambarkan aktor sosial, melainkan waktu dan tempatnya juga, serta hal-hal lain yang bersifat emansipatoris lainnya.

Kedua, tatanan makro sosial. Pembahasan makro bertalian erat dengan dunia kerja. Menurut Ritzer, feminis mengecam keras penalaran tokoh fungsionalis yang mengganggap masyarakat sebagai sistem. Jelas saja, feminis tidak ingin melihat manusia sebagai objek yang digerakkan. Bagaimana pun, manusia adalah subjek dalam masyarakat.

Selain itu, dalam dunia kerja, sosiolog sering menggaungkan nama dominasi dan subordinasi. Premis ini mengacu pada tindakan pemilik modal yang memiliki hak atas kehidupan buruh. Padahal, baik pemilik modal maupun buruh itu sama-sama aktor dalam masyarakat. Mereka berhak atas kehidupannya masing-masing. Perbedaannya hanya terletak pada cara posisi kerjanya.

Oleh sebab itu, feminis menginginkan keadilan dalam masyarakat, tak terkecuali dalam dunia kerja. Seperti yang dilakukan oleh Patricia Hill Collins, seorang sosiolog feminis yang gencar sekali menyuarakan keadilan dalam dunia kerja. Ia bahkan sampai turut andil untuk menyuarakan keadilan untuk perempuan kulit hitam (dulu dianggap kasta paling rendah di Barat) untuk bebas bekerja di mana pun mereka mampu.

Ketiga, tatanan mikro sosial. Tatanan ini berkaitan dengan psikis perempuan ataupun laki-laki. Jika konstruk menyebut perempuan untuk tunduk dan patuh pada laki-laki, maka feminis menyangkal akan hal itu. Perempuan bebas untuk melakukan apapun yang mereka kehendaki dengan tidak menimbulkan kerugian, setidaknya untuk dirinya sendiri atau masyarakat.

Pun halnya dengan laki-laki. Konstruk menginginkan laki-laki untuk kuat dan bisa dalam segala hal terutama dalam urusan publik. Feminis tentu saja menolak untuk itu. Laki-laki berhak atas dirinya sendiri dan bebas melakukan apa pun, selama mereka tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Sungguh, baik laki-laki maupun perempuan, mereka punya otoritas dalam dirinya sendiri. Demi apa pun, konstruk tidak perlu repot-repot mendikte mereka untuk melakukan hal-hal yang membebani mereka.

Serupa dengan yang dialami oleh Dorothy E. Smith. Ia adalah perempuan yang hidupnya dikelilingi oleh stigma tentang janda. Smith kemudia mampu speak up dan mengajak orang lain untuk berani memiliki otoritas dalam dirinya. Lantas mengapa jika ia janda? Ia hidup dengan nyaman dengan statusnya dan bahkan ia mampu menciptakan karya dengan begitu gemilang di tengah-tengah masyarakat. Ialah bukti dari kebanggaan atas hidupnya sendiri.

Keempat, subjektifitas dalam pengalaman sosial. Sosiolog feminis melihat beberapa masyarakat yang kehilangan subjektifitas akan dirinya. Mereka cenderung melihat dirinya dari sudut pandang orang lain. Oleh sebab itu, harapan sosiolog feminis ini adalah mengembalikan subjektivitas diri dengan respect pada diri dan berhenti mendengarkan standarisasi orang lain terhadap dirinya.

Terakhir, integrasi dalam sosial. Jika masyarakat terlihat menganut atruktur patriarki, maka keinginan sosiolog feminis adalah emansipasi. Dengan ini masyarakat berhenti untuk terus melihat stratifikasi dan mulai untuk berintegrasi.

Dari beberapa hal di atas, saya kira masyarakat akan mampu hidup dengan lebih baik dengan adanya keadilan seperti yang diungkapkan sosiolog feminis. Namun, keadilan tidak akan mampu dicapai jika hanya perempuan yang bergerak. Semua lapisan masyarakat perlu ikut andil demi terwujudnya keadilan. Dengan ini masyarakat berkeadilan akan terealisasi dan bukan hanya dalam narasi saja.

Read More

Etnometodologi: Peduli Praktik Sepele

No comments:

 


Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Belajar tentang sosiologi pastinya tidak akan jauh-jauh dengan masalah mikro-makro. Namun, tidak semua yang dibahas di dalamnya melulu tentang itu. Ada yang lebih memfokuskan perhatiannya pada praktik sepele dari masyarakat dari pada sibuk dengan urusan mikro-makro, sebut saja Etnometodologi.

Menurut George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi (terj., 2017) menyebut bahwa etnometodologi adalah pengetahuan, prosedur, dan pertimbangan masyarakat untuk memahami, menyelami, dan bertindak dalam situasi yang sedang mereka hadapi. Singkatnya, studi yang dipublikasikan oleh Harold Garfinkel ini mencoba untuk menunjukkan praktik sepele dalam masyarakat. Hal ini terlepas dari apapun bentuk organisasi masyarakat, baginya yang terpenting adalah praktik yang sedang dilakukan oleh anggota masyarakat.

Premis tersebut bukan hadir begitu saja. Sama seperti teori-teori sosiologi lainnya, etnometodologi Garfinkel dipengaruhi oleh fakta sosial Emile Durkheim. Jika fakta sosial Durkheim lebih memandang aktor sebagai sesuatu yang mudah dinilai. Maka etnometodologi lebih menganggap fakta sosial sebagai produk yang dibuat anggota. Artinya, etnometodologi memandang fakta sosial sebagai praktik-praktik yang dibentuk oleh anggota masyarakat dan tidak semua orang dapat mengetahui praktik sebenarnya, kecuali anggota yang terlibat dalam praktik tersebut. Hal ini terlihat lebih sepele dari pada apa yang diungkapkan oleh Durkheim.

Oleh sebab itu, kita perlu tahu ragam etnometodologi untuk melihat praktik-praktik sepele di dalamnya. Menurut Ritzer, ada dua ragam fundamental yang diusung Garfinkel dalam ragam etnometodologinya. Pertama, studi terhadap setting institusional yang di dalamnya terdapat praktik formal dan masyarakat perlu tahu itu. Kedua, analisis percakapan yang memuat interaksi dan komunikasi masyarakat sehari-hari dan tidak ada hal formal di dalamnya.

Dalam studi terhadap setting institusional tentunya berbeda dengan hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat di kesehariannya. Dalam institusi tentunya memuat hal-hal formal yang cenderung to the point. Hal ini semata-mata demi keefektifan dan meminimalisir kejadian di luar kontrol. Oleh sebab itu, Ritzer menuliskan beberapa contoh praktik dalam institusi, seperti wawancara kerja, negosiasi eksekutif, panggilan ke pusat gawat darurat, dan penyelesaian perselisihan lewat mediasi dengar pendapat.

Pertama, dalam wawancara kerja tidak mungkin ada percakapan yang terlontar begitu saja. Pastinya terdapat setting di dalamnya. Berbeda dengan percakapan sehari-hari yang terkesan spontan, dalam wawancara kerja terdapat pertanyaan yang telah disusun guna mendapatkan jawaban yang tepat, sesuai tujuan.

Kedua, negosiasi eksekutif juga demikian. Segalanya dilakukan secara matang, terukur, dan masuk akal. Seperti istilahnya, dalam negosiasi hanya bertujuan untuk mencapai kesepakatan final dan meminimalisir adanya perdebatan yan tidak logis yang membuang-buang waktu, tenaga, uang serta pikiran.

Ketiga, panggilan ke pusat gawat darurat yang berbeda dengan panggilan pada umumnya. Jika biasanya kita melakukan panggilan dngan mengawalinya dengan salam, menambahkan guyonan, dan memancing emosi, maka di panggilan darurat hanya ada ujaran serius yang to the point. Hal ini disebabkan karena panggilan darurat hanya berfungsi untuk mereka yang benar-benar dalam keadaan genting, seperti panggilan kepada ambulans ketika ada kecelakaan.

Keempat, penyelesaian perselisihan lewat mediasi dengan pendapat. Jika dalam keseharian kita terdapat cekcok yang begitu panjangnya, maka dalam mediasi akan mereduksi hal-hal semacam itu. Di sini mediator yang memiliki kendali penuh untuk mengatur perbedaan pendapat. Hal ini semata-mata guna meminimalisir percakapan yang sama sekali tidak perlu dan menyelesaian perdebatan secara final.

Berbeda dengan institusi, dalam analisis percakapan sehari-hari lebih menonjolkan sisi spontan. Pratik-praktik yang dilakukan anggota masyarakat tidak begitu terstruktur dan formal. Dengan ini Ritzer memberikan contohnya, seperti percakapan di telepon, memancing gelak tawa, mengundang tepuk tangan, cemooh, cerita, formulasi, integrasi berbicara dan aktivitas nonvokal, serta mengungkapkan rasa malu dan percaya diri.

Pertama, percakapan di telepon berbeda dengan percakapan secara langsung. Oleh sebab itu, percakapan di telepon akan menambahkan kata-kata dalam praktiknya, seperti ucapan salam, perkenalan, guyonan, dan penutup. Selain itu, seseorang yang menelepon tidak akan tahu bagaimana ekspresi dari lawan bicaranya seperti dalam percakapan secara langsung. 

Kedua, memancing gelak tawa adalah peristiwa yang bebas dalam percakapan atau interaksi. Namun, etnometodologi melihat bahwa dalam gelaktawa selalu melibatkan pengorganisasian di dalamnya. Meskipun gelak tawa muncul secara spontan, namun pembuat lelucon secara tidak langsung telah memikirkan sesuatu untuk bahan guyonan.

Ketiga, mengundang tepuk tangan. Hal ini adalah praktik sepele yang sering diabaikan oleh orang lain. Namun, etnometodologi melihat bahwa dalam tepuk tangan ada sesuatu yang ingin ditonjolkan. Hal ini seperti bentuk penegasan atas suatu percakapan. Misalnya, ketika seseorang telah memberi jalan keluar atas masalah, secara spontan beberapa dari kalian akan bertepuk tangan sebagai apresiasi, ungkapan terima kasih, atau bahkan penegasan atas kebenaran ucapan tersebut.

Keempat, cemooh adalah lawan sikap dari tepuk tangan. Jika dalam tepuk tangan berarti kamu menyetujui ungkapan, maka dalam cemooh kamu tidak sependapat untuk itu. Atau bisa jadi kamu kecewa atas ungkapan yang diberikan oleh lawan bicaramu.

Kelima, cerita akan muncul dalam beberapa percakapan. Etnometodologi mengamati beberapa orang dalam berinteraksi, kemudian ia mendapatkan beberapa hal termasuk cerita di dalam interaksi tersebut. Hal inilah yang nantinya akan mengundang percakapan akan terus mengalir dengan respon dari lawan bicara.

Keenam, formulasi adalah bentuk percakapan yang mana lawan bicara dapat menyimpulkan maksud dari pembicara. Artinya, pembicara mencoba untuk memahamkan lawan bicaranya. Dengan ini, lawan bicara akan menanggapinya dengan pemahaman yang mereka dapat dari apa yang dibicarakan.

Ketujuh, integrasi berbicara dan aktivitas nonvokal. Jika dalam percakapan memusatkan perhatiannya pada pembicaraan, maka dalam etnometodologi menambahkan fokus tersebut dengan aktivitas nonvokal, seperti gestur. Dengan ini, tidak hanya pembicaraannya yang dapat dipahami, melainkan dengan gestur kita akan lebih paham maksud dari percakapan tersebut. 

Kedelapan, mengungkapkan rasa malu dan percaya diri. Etnometodolog begitu yakin bahwa dalam percakapan kedua rasa itu selalu ada. Kita akan cenderung diam dan menghindari topik-topik percakapan ketika kita merasa malu. Sebaliknya, kita akan terus memancing lawan bicara kita dengan topik-topik tertentu ketika kita percaya diri dengan itu.

Dari beberapa contoh yang disebutkan oleh Ritzer, jelas sekali bahwa etnometodologi berbeda dengan fokus sosiologi klasik sebelumnya. Etnometodologi begitu tertarik terhadap praktik-praktik sepele yang dilakukan oleh anggota masyarakat. Namun, dengan ini etnometodologi membuktikan bahwa dirinya telah tumbuh menjadi tak terbatas dan kehilangan spesifikasi atas dirinya.

Read More

Erving Goffman: Peran Diri dari Konsep Dramaturgi

No comments:



“Seluruh dunia ini bukan panggung -sama sekali bukanlah teater.” (Erving Goffman, Frame analysis, 1974)
Ujaran tentang “jadi diri sendiri” telah marak bermunculan diberbagai kalangan masyarakat. Pasalnya sebagian dari mereka terlalu asyik mendalami peran orang lain. Hingga mereka lupa atau bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. Hal ini sangat disayangkan, bagaimana kita bisa menghargai diri sendiri jika kita sendiri tidak tahu atau mengenal diri kita sendiri?

Premis tersebut rupanya telah menjadi problematika masyarakat sejak dulu. Bahkan Erving Goffman, sosiolog kelahiran Kanada, 11 Juni 1922 itu tertarik untuk menelitinya. Ia membuat konsep tentang diri yang diberi nama “Dramaturgi”.

Dramaturgi adalah gambaran dari laku diri. Artinya, ada peran yang dilakukan oleh aktor dalam dua sisi, yang sebenarnya dan yang ditampilkannya. Singkatnya, diri ini memiliki dua sisi yang perlu untuk ditunjukkan kepada audiens (masyarakat) dan sisi yang harus disembunyikan dari audiens. 

Sedangkan Goffman menyebutnya sebagai peran di atas panggung dan peran di balik layar. Keduanya akan selalu melekat pada diri manusia dan tidak terelakkan. Oleh sebab itu, kita perlu mengenali diri sebelum terjebak dalam salah peran.

Pertama, peran diri di atas panggung atau sisi dari diri kita yang perlu ditampilkan pada audiens. Manusia tidak mungkin menunjukkan sisi buruknya di depan masyarakat, kecuali kalian memang ingin melakukannya. Dan tentu saja hal buruk yang kalian tampilkan akan menciptakan stigma kepada masyarakat.

Inilah yang oleh Goffman diringkas dalam lima fakta di atas panggung. Hal tersebut meliputi, kesenangan diri sendiri yang ditekan, kesalahan diri yang ditutupi, menyembunyikan proses atau hanya menunjukkan hasil, menyembunyikan kecurangan atau kerja kotor, dan menyembunyikan standar diri. Jelasnya, aktor akan menyembunyikan berbagai fakta pada dirinya di depan audiens.

Kedua, peran diri di balik layar atau sisi yang tidak diketahui audiens. Dari sisi ini seharusya kita bisa menjadi “benar-benar” subjek untuk diri kita. Pasalnya, inilah sisi kebenaran yang hanya diri kita yang tahu. Tidak mungkin diri kita mampu menipu diri sendiri, kecuali memang menghendaki yang demikian.

Dari sisi ini jelas sekali bahwa kita memiliki kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Tidak ada seorang pun yang tahu betul bagaimana diri ini kecuali diri kalian sendiri. Sesempurna apapun seseorang mendikte bagaimana diri kalian, mereka tidak akan pernah paham betul diri kalian.

Namun, memang banyak diantara kita yang tidak mengenal bagaimana dirinya sendiri. Ada banyak faktor yang salah satunya adalah “terlampau senang” menjadi diri “yang digemari” banya orang. Hingga mereka lupa bahwa menjadi diri sendiri adalah hal yang amat menyenagkan, sekalipun tidak banyak yang menyukai. Kesenangan diri itu adalah hak, selama tidak merugikan orang lain. Lagi pula, siapa yang peduli bagaimana kehendak audiens yang bertolak belakang dengan diri kita -seharusnya.

Sederhananya, omong kosong jika seseorang tidak tahu dirinya sendiri. Ia adalah aktor yang bebas mengekspresikan diri tanpa pusing tuntutan dari audiens. Dengan ini ia akan bertindak natural dan menjadi subjek untuk dirinya sendiri.
Read More

Kemerdekaan (Bukan) Hanya Milik "Agustus"

No comments:



Tepat di tahun 2020 Indonesia telah 75 tahun merdeka. Artinya, selama 75 tahun pula tidak ada penjajahan atau penindasan yang diderita masyarakat Indonesia. Dan selama itu pula, masyarakat telah terjamin kemerdekaannya.

Namun, benarkah pernyataan tersebut? Apakah Indonesia telah menjamin kemerdekaan setiap masyarakatnya? Apakah mereka benar-benar telah merdeka tanpa embel-embel penjajahan dan penindasan?

Well, kalau yang dimaksud merdeka hanyalah ucapan proklamasi dan tidak ada penjajahan negara lain seperti halnya 75 tahun silam, ya, Indonesia saat ini begitu. Tapi, kalau merdeka yang dimaksud telah bebas dari segala bentuk penindasan, saya kira itu belum. Pasalnya, masih ada saja orang berkecukupan yang merengek meminta belas kasihan. Ada pula mereka yang benar-benar kekurangan yang tidak lagi ditengok untuk diberikan bantuan. Mengenaskan.

Kalau begini ceritanya, apakah Indonesia yang katanya merdeka itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang berkecukupan, tidak dibungkam, apalagi tertindas dan dirampas haknya? Apa kemerdekaan hanya sebatas upacara bendera? Apa kemerdekaan hanya milik Agustus saja? Apa iya?

Duh, kalau berujar merdeka saja semangatnya sampai ke ubun-ubun. Giliran ada masyarakat yang mati kelaparan saja pura-pura buta, tuli, dan belagak prihatin. Lah, gimana merdeka bukan hanya milik golongan? Kalau, toh, kemerdekaan tidak pernah dirasakan bersamaan.

Dan apa ini, kemerdekaan hanya sebatas upacara di atas rumput lapangan. Macam mana pula ini negara? Disuruh upacara tapi bodo amat sama situasi sekitar. Yang ditanamkan hanya menghormati perjuangan pahlawan, tapi abaikan penderitaan masyarakat yang kurang berkecukupan. Ini maksudnya asal negara bahagia, masyarakat tak apa menderita gitu, ya? Sedih.

Upacara bendera dengan embel-embel menghormati perjuangan pahlawan yang telah memberikan kemerdekaan pada Indonesia -atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa-. Rasa syukurnya itu baik, asal bukan buat gegayaan biar dikira "wah" saja. Akan lebih baik lagi kalau mau peduli ke sesama masyarakat, ya, kan? Jadi rasa kebangsaannya ada, rasa kemanusiaannya berfungsi, dan akal kritisnya dipakai. Bukan belagunya yang ditonjolkan.

Mirisnya lagi, kenapa, sih, selalu di Agustus saja semangat kemerdekaannya. Dalam setahun ada dua belas bulan, lo. Apa kemerdekaan hanya milik Agustus?

Kalau kata @rahung dalam laman sosial medianya menyebut bahwa rasa kebangsaan ereksi setiap bulan Agustus. Pasalnya, rasa kemanusiaan mampus setiap harinya. Sayang banget, ya, hidup kok cuma jadi batang pinang, itu pun setahun sekali.

Sudah 75 tahun, loh, ini. Masyarakat Indonesia gak mau hidup malmur sejahtera gitu? Masyarakat gak mau hidup berdampingan dengan selimut kemerdekaan gitu? Beneran gak mau hidup dengan tanpa penindasan, nih? Beneran gak mau?

Sekali lagi, satu tahun ada dua belas bulan, loh. Yakin kemerdekaan hanya milik Agustus? Yakin gak mau merdeka setiap harinya? Yakin gak mau?

Bukan bermaksud untuk memprofokasi, tapi ayolah merdeka bersama. Jangan mau menindas atau tertindas. Jangan mau bungkam. Taukan kalau semua manusia memiliki hak yang sama? Maka dari itu ayo merdeka bersama dengan peduli dengan sesama.

Kalau kalian masih merasa sedih dan tidak terima terhadap penindasan, kalian masih manusia.
Kalau kalian masih peduli terhadap kemanusiaan, kalian humanis.
Dirgahayu untuk 75 tahun Indonesia. Semoga hanya hal-hal baik yang tak akan binasa.
Read More

Teori Kritis: Produk Neo-Marxis Jerman untuk Marxian

2 comments:

Nama Karl Marx pasti sudah tidak asing lagi bagi para intelektual. Tokoh yang digadang-gadang sebagai ayah kandung komunis ini mashur dengan beberapa teorinya yang dianggap kontroversional. Namun, justru dengan pemikiran kontroversionalnya inilah Marx memiliki banyak pengikut yang kelak menamai dirinya sebagai Marxian. Jadi, tidak heran jika namanya acap kali disandingkan dengan hal-hal yang berbau "kiri".

Berbicara tentang kiri, sebenarnya bukan klaim negatif yang anti pemerintahan. Namun, kiri ini lebih condong pada sikap kritis yang tidak melulu mengikuti aturan pemerintah. Lagi pula, Marx tidak pernah menamai dirinya sebagai kiri. Itu hanyalah premis yang disandangkan oleh lawannya yang menganggap seolah-olah Marx anti terhadap pemerintahan.

Selain kesan politik yang "anti-pemerintahan", Marx juga memiliki pemikiran-pemikiran fantastis di bidang ekonomi, sosial, dan agama. Dan tentu saja pemikirannya ini dipengaruhi oleh Hegel, Feurbach, dan sahabatnya, Engels. Bahkan setelah kematiannya, pemikiran atau karya-karya Marx akan diterjemahkan oleh Engels untuk Marxian lainnya.

Namun, tidak ada seorang pun yang mampu mengerti secara detail apa yang dimalsudkan Marx. Seperti yang ditulis oleh Magnis Suseno dalam bukunya yang berjudul Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme menyatakan bahwa tidak ada yang mampu mengerti maksud pemikiran Marx, termasuk Engels. Sehingga, ada beberapa kerancuan Marxian dalam menelaah pemikiran Marx.

Premis tersebut sama dengan yang dilontarkan oleh golongan Neo-Marxis Jerman. Golongan yang menamai diri mereka sebagai Mazhab Frankfurt, Jerman ini menyebut bahwa Marxian telah mereduksi pemikiran Marx. Sehingga Marxian telah salah karah dalam mengimplementasikan pemikiran Marx. Dari interpretasi pemikiran saja sudah salah, apalagi dalam implementasinya.

Maka dari itu, Mazhab Frankfurt ini bermaksud untuk meluuskan kembali pemikiran-pemikiran Marx. Salah satu caranya adalah dengan membentuk suatu teori baru yang akrab dengan sebutan teori kritis. Seperti yang ditulis oleh George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi menyebut bahwa di dalam teori kritis memuat berbagai kritik terhadap Marxian, seperti kritik atas teori Marxian, positivismenya, sosiologinya, masyarakat modernnya, bahkan perihal kebudayaan.

Pertama, kritik atas teori Marxian. Mereka, para Neo-Marxian menyebut bahwa Marxian terlalu condong pada determinisme ekonomi. Yang mana seolah-olah hanya ekonomi yang dapat menopang segala sektor. Marxian tidak berpikir bahwa antara sektor satu dengan sektor yang lainnya saling tergantung. Menurut Neo-Marxian, seharusnya para Marxian memperhatikan sektor lain demi memperbaiki kesenjangan.

Kedua, kritik atas positivisme. Para positivis menganggap bahwa ilmu sains adalah standar ketepatan untuk seluruh disiplin ilmu, termasuk pembahasan terkait masyarakat. Jadi masyarakat dalam perspektif positivis dianggap pasif. Sehingga, peran teori kritis di sini adalah mengembalikan posisi manusia sebagai subjek yang aktif.

Ketiga, kritik terhadap sosiologi. Sosiologi dalam perspektif kritis dianggap terlalu santisme, yang mana segalanya harus serba ilmiah. Di sini, para Neo-Marxian bermaksud untuk menghindarkan masyarakat dari sesuatu yang ilmiah menjadi seauatu yang lebih fleksibel.

Keempat, terhadap masyarakat modern. Menurut Neo-Marxis, masyarakat modern terlalu memfokuskan diri untuk memperbaiki ekonomi ala Marxian. Dengan ekonomi pula, teknologi dapat dikendalikan dengan mudah. Dalam hal ini, salah satu Neo-Marxis, Marcuse, menyebut bahwa masyarakat modern yang demikian sama halnya dengan makhluk satu dimensi. Mereka telah kehilangan nalar kritisnya karena hanya memfokuskan diri pada ekonomi semata.

Terakhir, kritik terhadap kebudayaan. Para Neo-Marxian mengkhawatirkan adanya birokratis yang terlalu ikut campur perihal urusan masyarakat. Dari yang awalnya ekonomi yang dimonopoli, sekarang merambah pada budaya media massa yang dimanipulasi. Teoritisi Kritis menginginkan agar budaya yang sekarang ini tidak lepas kaitannya dengan media massa, seharusnya lebih mampu untuk menyerukan pengetahuan dari pada penyiaran tentang politik manipulatif dari birokrat.

Semua kritik yang dilontarkan Neo-Marxis kepada Marxian secara general memang menyerang determinisme ekonominya. Namun, dalam teori kritisnya, Neo-Marxis malah mengabaikan ekonomi. Mereka seolah-olah enggan menyentuh ranah ekonomi. Padahal, dalam beberapa pemikiran Marx juga memuat masalah ekonomi. Jadi, saya kira, baik Marxis maupun Neo-Marxis, mereka sama-sama telah mereduksi pemikiran Marx.

Read More

Empat Tahap Dasar Dalam Perbuatan Menurut Mead

No comments:

George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi menyebutkan bahwa sosiologi terbagi atas dua periodisasi. Pertama, sosiologi klasik yang membahas tentang latar belakang munculnya sosiologi beserta lima tokoh pemrakarsanya, yaitu Comte, Durkheim, Weber, Marx, dan Simmel. Kedua, sosiologi modern dan postmodern yang terbagi atas beberapa teori fundamentalnya, seperti fungsionalosme strukturalisme, interaksionisme simbolik, teori kritis, dan lain sebagainya.

Jika di era sosiologi klasik, kelima tokoh memiliki beberapa teori yang berbeda beda. Maka di era sosiologi modern, masing-masing tokohnya akan diklasifilasi berdasarkan teori yang dianutnya. Hal ini tidak terkecuali dengan tokoh-tokoh yang menganut interaksionisme simbolik. Di dalam aliran ini ada Mead, Blummer, Cooley, dan Goofman yang sama-sama mengulik perihal interaksionisme simbolik, namun dengan penjabaran yang berbeda.

Pada dasarnya, interaksionisme simbolik memuat interaksi atau hubungan antara individu satu dengan yang lainnya. Selain itu, dalam interaksi juga memuat simbol guna menarik suatu respon dari lawan aktor. Simbol dalam interaksi bukan hanya verbal, melainkan nonverbal.

Namun, ada hal unik dari salah satu tokoh interaksionisme simbolik yang terkenal akan psikologi sosialnya. Ia adalah George Hebert Mead. Sosiolog kelahiran Massachusetts ini berusaha mengkaji interaksi masyarakat dari sudut pandang psikologi.

Jika dalam psikologi, terutama psikologi Freud, maka diri individu adalah dasar dalam kajiannya. Namun, Mead menyatakan bahwa masyarakatlah yang mendahului interaksi maupun segala bentuk tindakan individu. Dalam hal ini masyarakat adalah kunci interaksi, bukan individu.

Lebih jelasnya, kita perlu mengupas unit paling inti dari teori Mead, yaitu perbuatan. Menurut Mead, perbuatan sangat erat kaitannya dengan respon yang ada dalam interaksi. Maka dari itu, dalam memahami perbuatan, perlu lebih dulu mengenal empat tahapannya, yaitu implus, persepsi, manipulasi, dan konsumasi.

Implus adalah tahap pertama dalam perbuatan. Ia diibaratkan seperti keinginan untuk melakukan sesuatu. Misalnya, rasa lapar adalah implus. Aktor akan merespon implus itu tanpa perlu berpikir rasa apakah yang ia alami. Menurut Mead, hal ini terjadi karena individu telah berkaca pada masyarakat umumnya bahwa ini adalah rasa lapar.

Jika kita telaah lebih lanjut, implus yang dimalsudkan Mead hampir sama dengan apa yang dimalsud Freud tentang id. Mereka, baik implus atau id, sama-sama memiliki maksud "keinginan atau nafsu". Bedanya, jika id berasal dari individu, maka implus diketahui dari diri individu yang berkaca dari masyarakat.

Tahap kedua adalah persepsi. Di tahap ini aktor berusaha mencari cara untuk memuaskan keinginan (implus). Jika pada psikologi Freud, tahapan ini dinamakan dengan ego. Namun, yang membedakan keduanya adalah sumbernya, yaitu individu dan masyarakat.

Tahap ketiga adalah manipulasi. Tahapan yang mana aktor akan menimbang-nimbang persepsi yang cocok atas beberapa pilihan. Sehingga, tahapan ini juga disebut dengan fase jeda. Artinya, aktor akan mempertimbangkan respon atau tindakan apa yang sesuai dengan keinginannya.

Tahap terakhir adalah konsumasi. Tahapan ini aktor telah mengambil putusan yang menurutnya tepat untuk memenuhi keinginannya. Kalau menurut Freud, tahap manipulasi dan konsumasi bisa dijadikan satu dengan istilah superego. Namun, Mead lebih memilih untuk memisah tahapan itu ke dalam dua tahapan.

Secara general, antara -id, ego, superego- Freud dengan -implus, persepsi, manipulasi, dan konsumasi- Mead memiliki makna yang sama. Hanya saja, Freud lebih condong pada konsep diri yang akrab dikenal dengan sebutan psikologi. Sedangkan, Mead lebih condong pada tindakan individu yang didapatkan dari masyarakat, psikologi sosial.

Read More

Mengenal Robert K. Merton dari Pemikirannya

No comments:


Mahasiswa Sosiologi pastinya tidak asing lagi dengan salah satu fungsionalis strukturalis ini, Robert K. Merton. Ia adalah salah satu mahasiswa dari fungsionalis strukturalis terkemuka, sebut saja Talcott Parson. Sama halnya dengan dosennya, ia juga tertarik terhadap kajian sosial terutama fungsionalis struktural, namun lebih condong ke haluan kiri. (George Ritzer, Teori Sosiologi, h. 268)

Merton lahir dengan nama asli Meyer Robert Schkolnick dan mashur dengan nama Robert King Merton. Ia adalah sosiolog berkelahiran Philadelphia, Amerika Serikat pada 4 Juli 1910. Selama perjalanan keilmuannya, ia mendapatkan pengaruh dari berbagai sosiolog, seperti Parson, Weber, Marx, dan sosiolog modern lainnya.

Dengan ini, Merton melahirkan beberapa pemikiran kritisnya sendiri. Pertama, kritiknya terhadap tiga postulat dari antropolog, Malinowksi dan Radcliffe-Brown. Inilah mengapa Merton disebut berhaluan kiri, karena ia tidak selalu berpihak kepada fungsionalisme strukturalisme dan malah menganggap ada kejanggalan darinya. Oleh karena itu, ia mencoba untuk mengkritisi fungsi dan struktur dalam postulat yang diutarakan oleh antropolog ternama itu.

Postulat pertama adalah kesatuan fungsional masyarakat. Pada postulat ini menyatakan bahwa segala praktik sosial budaya yang dilakukan masyarakat pasti bersifat fungsional. Maksudnya, dalam praktik sosial budaya akan selalu memberikan integrasi yang kuat dalam masyarakat kecil. Karena dalam masyarakat yang sedikit orangnya ini akan memudahkan sistem untuk menjalankan fungsinya.

Namun, Merton menyangkalnya dengan menyebut bahwa pernyataan itu tidak dapat dijadikan acuan lagi. Integrasi masyarakat tidak bisa dilihat dari banya sedikitnya orang yang tergabung dalam masyarakat. Bagi Merton, kualitas dari sistem sosial lebih penting, dalam artian sistem yang tertata, dari pada kuantitas dari masyarakatnya.

Sebagai contoh adalah masyarakat kecil desa dengan masyarakat besar kota. Jika dikaji dengan postulat tersebut, jelas integrasi di desa lebih kuat dari di kota. Namun, Merton pasti akan menjawab bahwa belum tentu di desa memiliki sistem yang lebih tertata dari pada di kota, pun sebaliknya. Jadi, integrasi masyarakat, baik desa maupun kota akan terlihat kuat jika memang memiliki sistem yang tertata.

Postulat kedua adalah fungsionalisme universal. Postulat ini menyatakan bahwa segala bentuk dan struktur sosial budaya memiliki nilai positif bagi masyarakat. Tentunya Merton menyangkal postulat tersebut dengan mengatakan bahwa postulat itu sama sekali tidak relevan. Mana mungkin semua budaya dalam masyarakat bisa dinilai positif.

Seiring berjalannya waktu budaya akan bergeser dan digantikan dengan budaya baru. Dan kemungkinan akan ada budaya yang benar-benar ditinggalkan karena memang memberikan risiko bagi masyarakat. Atau budaya akan ditinggalkan karena melihat tidak begitu besar kontribusinya dalam masyarakat.

Misalnya, sebagian besar masyarakat Indonesia dulu lebih suka menggunakan kebaya bagi perempuan. Karena kebaya dinilai mencerminkan citra perempuan Indonesia yang memang ruang geraknya terbatas di domestik saja. 

Sedangkan sekarang ini, perempuan memiliki banyak aktivitas yang dapat dilakoni. Tentunya dengan mengenakan kebaya perempuan akan sulit beraktifitas yang memungkinkan untuk bergerak lincah dan kerja ekstra.

Postulat yang ketiga adalah indispensabilitas. Postulat ini menyebutkan bahwa struktur atau sistem dalam masyarakat tidak hanya baik, namun juga saling bersangkutan. Baginya, tidak ada sistem buruk yang dibentuk oleh masyarakat.

Di postulat ini, Merton tidak sepenuhnya menyangkal. Tapi, sama seperti Parson, ia menyarankan adanya alternatif pada sistem. Masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada satu sistem yang mutlak. Misalnya, apakah masyarakat akan tetap mempertahankan sistem yang parasit? Lambat laun sistem ini akan tumbang dan ada sistem pengganti yang lebih mutualis tentunya.

Kedua, analisis Merton terkait fungsi dalam sistem atau struktur yang terbagi menjadi tiga kategori, yaitu fungsi, disfungsi, dan nonfungsi. Suatu sistem dapat dikatakan fungsi jika ia mampu memberikan kontribusi atau hal-hal positif pada masyarakat. Misal dengan adanya subsidi untuk masyarakat tidak mampu dari pemerintah. Hal ini akan meminimalisir beban masyarakat.

Dan sistem yang dapat dikatakan disfungsi adalah jika ia memberikan kontribusi pada masyarakat dan komplit dengan risikonya. Dengan ini, meskipun ada subsidi yang dapat meringankan beban masyarakat tidak mampu, tetapi subsidi juga akan membuat masyarakat mengalami ketergantungan terhadapnya. Bahkan, subsidi itu dapat disalahgunakan oleh pemerintah itu sendiri.

Sedangkan nonfungsi adalah sistem yang tidak berdampak apa pun atau tidak memiliki kontribusi terhadap masyarakat, juga tidak memberikan risiko. Suatu misal, pemerintah memberikan subsidi kepada masyarakat demi meringankan bebannya.

Namun, subsidi yang diberikan salah sasaran atau diterima oleh golongan yang mampu. Di sini jelas sekali bahwa pemberian subsidi akan mengalami nonfungsi atau tidak berguna.

Terakhir, Merton menawarkan konsep fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes adalah fungsi yang dikehendaki. Sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang tidak diharapkan atau tidak dikehendaki.

Ritzer memberikan contoh kedua fungsi ini dengan menyebut orang kulit putih yang lebih unggul dari orang kulit hitam. Kulit putih menduduki fungsi manifes yang tentunya dengan sadar dikehendaki dan akan memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri.

Sedangkan, fungsi laten diduduki oleh orang kulit hitam yang sama sekali tidak menghendaki posisinya sebagai orang yang dijajah dan dieksploitasi oleh orang kulit putih.

Jika ditelaah, kedua fungsi yang ditawarkan oleh Merton ini memiliki kesamaan dengan konsep alienasi yang diusung oleh sosiolog klasik, Karl Marx. Alienasi Marx ini sama halnya dengan fungsi laten yang dimiliki oleh proletar.

Proletar terasing dari objek yang mereka ciptakan karena adanya kesadaran palsu. Hal ini tentunya tidak dikehendaki oleh proletar, namun mereka tetap menjalaninya demi kebutuhan hidup.

Sedangkan fungsi manifes tentu ada dalam diri borjuis. Fungsi ini memang memberikan nilai positif, namun hanya untuk golongan yang beruntung saja. Dalam hal ini adalah borjuis yang dengan sadar menghendaki diri untuk meraup keuntungan maksimal dengan modal seminimal mungkin.

Dari ketiga pemikiran itu rasanya cukup untuk mengenal Merton. Ia memang bukan sosok yang fenomenal seperti dosennya, Parson. Namun pemikirannya cukup memberikan kontribusi terhadap fungsionalis strukturalis. 

Darinya, kita mendapatkan dua sisi dari fungsional struktural, yaitu baik dan buruknya. Meskipun nanti ia akan mendapat kritik dari pemikir-pemikir setelahnya.
Read More

Teori Konflik: Wajah Baru dari Teori Fungsionalisme Strukturalisme

4 comments:



Setelah tokoh-tokoh sosiologi klasik, seperti Auguste Comte, Karl Marx, Emile Durkheim, Max Weber, Georg Simmel, dan lain sebagainya meninggal, bukan berarti teori-teorinya ikut mati pula. Sosiolog selanjutnya malah menjadikan teori-teori sosiolog klasik sebagai acuan dalam mengembangkan pemikirannya. Bahkan mereka mengembangkan sosiologi menjadi ilmu yang semakin kaya akan teori.

Itu dibuktikan dengan berkembang pesatnya sosiologi di Amerika. Di Chicago misalnya, telah melahirkan teori fenomenalnya, yaitu interaksionalisme simbolik. Namun, keberadaannya tidak lama karena muncul berbagai kritik terhadapnya. Kemudian disusul pula di Harvard dengan melahirkan fungsionalisme strukturalisme.

Sama halnya dengan interaksionalisme simbolik, fungsionalisme strukturalisme juga mendapatkan serangan bertubi-tubi dari berbagai teori baru. Kritik yang paling gencar terhadapnya muncul dari teori konflik. Namun, banyak anggapan bahwa teori konflik bukan mengkritik fungsionalis tetapi malah menjadi wajah baru darinya.

Ujaran ini bukan terlontar tanpa alasan. Tetapi memang ada kesamaan antara keduanya. Seperti orientasi pembahasan keduanya, yaitu sama-sama perihal struktur sosial. Namun, fungsionalis lebih menganggap struktur sebagai sesuatu yang positif dan berperan besar, sedangkan konflik menganggap sebaliknya.

Hal lainnya misal, jika fungsionalis menganggap masyarakat sebagai sesuatu yang statis, maka konflik sebaliknya, yaitu menganggap masyarakat sebagai sesuatu yang dinamis dan selalu berubah-ubah. Fungsionalis menganggap bahwa masyarakat akan melahirkan keteraturan, maka konflik menganggap masyarakat akan selalu bertentangan. Selain itu, fungsionalis selalu optimis bahwa masyarakat akan selalu stabil, namun konflik menganggap masyarakat akan melahirkan disintegrasi.

Semua pernyataan itu dipertegas oleh tokoh terkemuka dari teori konflik, yaitu Ralf Dahrendolf. Menurutnya, teori konflik adalah antitesis dari fungsionalis. Karena mengang konflik ini berakar dari teori Marxian dan Georg Simmel, yang mana lebih menekankan pada perubahan dari pada stagnan. Lebih jelasnya, kita perlu menengok pada pemikirannya, yaitu otoritas.

Dahrendolf menyebut bahwa otoritas terletak pada posisi, bukan pada diri individu. Seseorang yang memiliki posisi yang lebih tinggi bisa mengendalikan individu yang berada di posisi bawah. Dengan ini, akan muncul adanya kepentingan yang bisa memunculkan konflik.

Sebagai misal, Si A adalah ketua. Ia memiliki otoritas karena memang ia adalah ketua, bukan karena ia adalah Si A. Selain itu, ia memegang kendali terhadap semua bawahannya. Dan konflik akan muncul karena ada kepentingan di dalamnya.

Sedangkan dari perspektif fungsionalis, tentu aktor akan bekerja bersama-sama tanpa melihat kepentingan. Mereka hanya percaya bahwa semua akan baik-baik saja sesuai dengan fungsinya. Tidak ada disintegrasi, karena memang di dalam fungsionalis semuanya akan stabil dengan sendirinya.

Contohnya dalam suatu organisasi. Baik ketua maupun staf di bawahnya bekerja bersama-sama sesuai dengan fungsinya. mereka tidak berpikir tentang kepentingan individu, tetapi percaya akan fungsinya masing-masing demi sebuah keteraturan.

Lain halnya dengan Dahrendolf, sosiolog konflik ini, Randall Collins, mengutarakan bahwa stratifikasi sosiallah yang memicu konflik. Yang mana kelas dominan lebih memiliki andil dalam masyarakat dari pada kelas subordinat. Selain itu, kelompok dominan dapat dengan mudah memaksakan kehendak kepada kelompok subordinat.

Dari penjelasan di atas kiranya sangat jelas bahwa teori konflik adalah wajah baru dengan badan yang sama dari fungsionalis. Bedanya, fungsionalis lebih optimis pada keteraturan dan stabilitas. Sedangkan, konflik cenderung memandang segala hal sebagai pertentangan. Padahal, dalam masyarakat tidak melulu perihal keteraturan maupun pertentangan. Keduanya adalah hal-hal kecil dalam masyarakat.
Read More

Kampanyekan Pendidikan Seks, Bukan Ketabuan Seks!

No comments:



Apa yang pertama kali terpikir ketika mendengar kata seks? Film pornografi, senggama, alat reproduksi, atau hal 'memalukan' tentangnya? Kalau iya, berarti kalian belum pernah belajar tentang pendidikan seks atau kemungkinan besar menganggapnya sebagai ketabuan. 

Di negara kita ini memang belum banyak orang yang mengenal pendidikan seks. Karena yang ada dalam benak mereka hanyalah hal-hal negatif tentang pendidikan seks, seperti penyakit seks, pelecehan seksual, seks bebas, dan lain sebagainya.

Padahal, pendidikan seks bukan hanya sebatas alat reproduksi dan tindakannya, tetapi cara merawat, menjaga, dan meminimalisir tindak kekerasan seksual. 

Kalau sudah terkonstruk tentang hal-hal negatifnya seperti itu, lantas siapa yang harus bertanggungjawab? Pendidikan seks bukan hanya tanggung jawab personal, lho.

Semua orang memiliki peran terhadapnya. Baik pemerintah, pendidik, masyarakat, keluarga, dan anak-anak juga harus ikut andil dalam mengkampanyekan pendidikan seks. Lantas bagaimana caranya? 

Pertama, keluarga adalah tempat segala jenis pendidikan, termasuk pendidikan seks untuk yang pertama kalinya bagi anak. Jika dirasa anak sudah mulai mengerti, ajak dia untuk mengenali organ pada tubuhnya. Tentunya dengan metode yang menyenangkan seperti bernyanyi atau menggunakan gerakan aktif supaya Si Anak nyaman dalam belajar. 

Tahu sendirikan, kalau anak kecil mudah bosan? Oleh karena itu, orangtua perlu membuatnya merasa bahagia dan nyaman dalam pelajaran perihal seks untuk pertama kalinya. Gunakan berbagai macam cara agar anak paham dalam mengenal organ tubuhnya. 

Kedua, dalam pendidikan formal di sekolah maupun kuliah, pendidikan seks telah disisipkan di mata pelajaran seperti biologi. Tentu saja pelajarannya akan semakin kompleks seiring dengan tingginya tingkat.

Namun, bukan berarti peran keluarga, terutama orangtua sudah selesai ketika anak sudah masuk pendidikan formal, ya? Orangtua tetap mengawasi dan memberikan arahan yang sesuai kebutuhan Si Anak. 

Karena menginjak masa-masa di pendidikan formal ini biasanya Si Anak memiliki ego yang tinggi.

Mereka suka mencoba hal-hal baru dan cenderung sulit diprediksi kemauannya. Ya, mau gak mau, orangtua harus ekstra hati-hati dalam memberikan arahan. Jangan sampai anak dan orang tua malah sama-sama terpancing emosi. Jadi tambah runyam nanti masalahnya. 

Ketiga, belajar tentang pendidikan seks dengan ahlinya. Kalau ini memang wajib dilakukan, ya, kawan. Baik anak-anak maupun orangtua, kalau tidak tahu perihal penanganan seks, ya, bilang saja tidak tahu.

Jangan mengada-ada atau memberi jawaban yang "halu". Atau lebih baik menanyakannya kepada ahlinya. Kalau tidak, bisa panjang nanti urusannya. 

Tapi, biasanya orangtua kebanyakan gengsi untuk bilang tidak tahu. Alasannya klasik, takut dikira orangtua, kok, nggak tahu apa-apa. Padahal orangtua juga manusia, juga ada yang tidak diketahuinya. Jadi katakan terus terang saja, tidak usah gengsi. 

Keempat, belajar dari buku tentang pendidikan seks atau melihat video sex education di channel youtube. Kan, sekarang lebih keren, nih. Belajar tidak melulu harus menemui ahlinya.

Kita bisa beli buku atau menonton secara gratis di laman youtube-nya dokter, misal. Beginikan terkesan lebih efektif, ya kan? 

Namun, kalau ada istilah atau kurang paham dari penjelasan di buku atau video, tetap harus menanyakannya pada ahlinya, lho, ya. Jangan menafsirkan sendiri maksudnya. Bisa-bisa malah salah kaprah lagi. 

Oh, iya, bagi orangtua, tetap dampingi dan bimbing anak-anak dalam pendidikan seks, ya. Dan anak-anak pun juga begitu, mintalah orangtuamu untuk mendampingi selama proses belajar. Jangan sampai salah belajar dan mengaplikasikannya. 

Terakhir, ajarkan keadilan seks. Percuma, dong, kalau belajar ini itu tentang seks tetapi tetap ada diskriminasi di dalamnya. Kalau di pendidikan seks pastinya sepalet dengan organ, kesehatan, perawatan, dan pencegahan. Namun, belum lengkap jika tidak memasukkan materi yang serumpun dengannya, keadilan seks. 

Kenapa ada banyak pelecehan seksual yang terjadi di masyarakat? Kenapa banyak seks bebas di kalangan pelajar? Dan kenapa pula selalu ada pihak yang termarginalkan dalam kasus-kasus kejahatan seks? 

Semua itu dapat diminimalisir dengan adanya pemahaman tentang keadilan seks. Menurut kalian bagaiman mungkin seorang pelajar yang notabenenya adalah seorang yang mengerti pendidikan seks, tapi malah terjerumus seks bebas?

Ya, karena mereka salah mengaplikasikan pendidikan seks dan tidak paham keadilan seks. 

Oleh karena itu, pendidikan seks adalah kebutuhan semua orang. Hal ini dikarena semua orang berpotensi mengalami kejahatan seksual. Dengan adanya pengetahuan tentang seks, semua orang akan berpatisipasi untuk saling melindungi. 

See, mengkampanyekan pendidikan seks itu lebih penting dari pada koar-koar masalah ketabuannya. Saya rasa, justru ketabuanlah yang memicu tindak kejahatan seksual.

Singkatnya, mereka yang menganggap tabu akan semakin tidak tahu. Ketidaktahuan akan menciptakan rasa keingintahuan. Hingga akhirnya salah dalam teori pun dalam pengaplikasiaannya. 

Jadi, mulailah ubah cara pandangmu tentang tabu-tabu perihal seksualitas. Karena tabu terhadapnya adalah kebodohan.
Read More

Corona: Tempatkan Sapiens pada Posisinya

No comments:



Tahun ini dunia digegerkan dengan isu serentak, Corona Virus (Covid-19). Semua memang bermula dari penyakit yang hanya bertengger di Wuhan, China. Namun, lambat laun virus ini mulai menggerogoti dunia. 

Sontak saja covid-19 ini membuat panik warga dunia. Pasalnya, virus ini telah menelan banyak korban dalam hitungan jam. Apalagi bagi mereka yang memiliki penyakit dalam, seperti jantung misalnya, akan mudah saja meninggal saat itu juga. 

Selain itu, akibat dari virus ini adalah akses kegiatan yang semakin dibatasi. Pemerintah Indonesia misalnya, menetepkan kebijakan untuk work from home (WFH), kegiatan belajar mengajar di rumah, larangan untuk mudik, dan tidak boleh keluar rumah kecuali memang mendesak. 

Semua wacana di atas hampir sama dengan yang ditulis oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya, Sapiens (2018). Ia menyebut bahwa Sapiens telah mengalami beberapa revolusi dalam hidupnya. Harari mencatat sekiranya ada tiga tahapan yang dilalui Sapiens, yaitu revolusi kognitif, revolusi pertanian, dan revolusi sains. 

Pertama, revolusi kognitif yang identik dengan perkembangan bahasa dan komunikasi. Pada revolusi ini Sapiens mulai berkomunikasi dengan menciptakan bahasa ataupun kode yang hanya bisa dimengerti oleh kelompoknya saja.

Hal ini semakin berkembang dengan munculnya kebiasaan Sapiens mengobrol satu sama lain, atau Harari menyebut ini dengan bergosip. 

Mengingat hal tersebut, sebenarnya sebelum pandemi pun manusia telah gemar bergosip. Namun, gosip ini semakin marak saja semenjak pandemi ini muncul. Inilah salah satu faktor yang memicu tersebar luasnya wacana pandemik di masyarakat, bahkan mereka yang terbelakang sekali pun. 

Kedua, revolusi pertanian adalah masa yang gemilang setelah revolusi kognitif. Revolusi ini ditandai dengan keinginan manusia untuk menetap dan menghidupi dirinya sendiri dengan hasil bercocok tanam. Dengan ini Sapiens tidak perlu lagi berpindah-pindah tempat tinggal dan berburu makanan. 

Hal ini serupa dengan apa yang sedang kita alami di tengah-tengah pandemi ini. pergerakan masyarakat sedang dibatasi. Mereka hanya dapat melakukan aktivitas di rumah saja. Selain itu, beberapa petani juga tidak dapat mendistribusikan hasil pertanian di luar daerahnya.

Jadi, mereka hanya dapat memakan sendiri hasil pertaniannya atau paling tidak hanya dapat menjualnya di daerah masing-masing. 

Ketiga, revolusi sains yang ditandai dengan munculnya teknologi canggih. Hal ini tidak saja membantu meringankan pekerjaan manusia, tetapi juga menggantikan manusia itu sendiri. Pasalnya, jika manusia tidak dapat memanfaatkannya dengan bijak, mereka akan diperbudak oleh objek ciptaannya sendiri. 

Bukankah hal ini juga telah dialami manusia sebelum atau bahkan selama masa pandemi ini? Beberapa dari mereka justru asik menghabiskan waktunya dengan memainkan handphone untuk bermain game, membaca artikel yang belum tentu kebenarannya, atau bahkan gemar membagikan artikel hoax. Namun, tidak jarang dari mereka juga dapat memanfaatkan waktu untuk bekerja lewat online. 

Berdasarkan pemaparan di atas, Corona telah memberi warna bagi masyarakat dunia. Ia tidak hanya memberikan dampak negatif tetapi juga sepaket dengan dampak positifnya.

Paling tidak, dengan ini manusia disadarkan dengan posisinya seperti yang diungkapkan Harari dalam Buku Sapiensnya itu. 

Selama pandemi tersebut, manusia telah menempati posisi yang sebelumnya hanya dinikmati oleh Sapiens pada masanya. Manusia yang katanya telah melampaui revolusi industri ini, nyatanya masih suka tradisi masa lalu.

Namun, yang terpenting adalah tetap saling menjaga satu sama lain dan saling menghormati di mana pun posisinya.
Read More

Berkaca Dari Gerwani: Perempuan Memang Perlu Kiri

2 comments:



Kata siapa perempuan Indonesia pasif? Kata siapa perempuan Indonesia tidak pernah melakukan perlawanan? Dan kata siapa pula perempuan Indonesia tidak mampu bertindak kiri?

Introgasi semacam itu memang acap kali dilontarkan oleh masyarakat luas. Selain itu kebanyakan intelektual akan menjawabnya dengan ujaran terkait feminisme dari Barat. Namun, feminisme yang seperti apa yang telah ada di Indonesia?

Indonesia sendiri telah memiliki tokoh-tokoh feminisme. Tokoh-tokoh tersebut adalah Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Christina Martha Tiahahu, Kartini, Siti Soendari, dan lain sebagainya.

Bukan hanya itu, bahkan Indonesia harusnya bangga dengan adanya organisasi perempuan yang bukan hanya tranformatif, tetapi lebih condong ke arah kiri, yaitu Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang telah berdiri sejak tahun 1951.

Gerwani mungkin terdengar asing dan tidak banyak yang tahu tentangnya. Hal ini disebabkan karena memang keberadaannya tidak selanggeng organisasi lainnya. Selain itu, organisasinya dianggap terlalu kiri dan membahayakan kedudukan pemerintahan saat itu. Sehingga cepat saja gerakan ini ditumbangkan oleh golongan atas.

Singkatnya, menurut Nur Sayyid Santoso Kristeva dalam bukunya Manivesto Wacana Kiri, ia menyebut bahwa Gerwani ini dulunya bernama Gerakan Wanita Istri Sedar (Gerwis).

Karena adanya ketidakpuasan dalam gerakan ini, seperti yang hanya dapat bergerak sebatas keperempuanan, maka digantilah dengan nama Gerwani.

Sehingga gerakan ini menjadi lebih leluasa dengan berbagai pergerakan revolusioner atau antiimperialisme, serta merambah pula di ranah sosial, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Namun, ketika Gerwani mulai mengepakkan sayapnya demi keadilan masyarakat, organisasi ini diberangus oleh pemerintah. Hal ini terjadi ketika rezin Soeharto telah menganggap Gerwani sebagai organisasi terlarang.

Bukan hanya itu, Soeharto menyebut Gerwani sebagai organisasi yang tidak mencerminkan organisasi perempuan Indonesia yang yang lemah lembut, berbudi baik, dan anggotanya malah syarat akan pelacur. Oleh karenanya, Gerwani dibubarkan secara paksa oleh rezim Soeharto.

Dan demi mencegah munculnya kembali gerakan-gerakan serupa, Soeharto dan pasukan militernya melalui propaganda media, mengaburkan sejarah tentang Gerwani. Seperti Gerwani yang terlibat dalam pembunuhan Jendral pada peristiwa G30SPKI, melakukan tarian seks, dan melakukan penyiksaan. Padahal kenyataannya mereka sedang melakukan pelatihan penggayangan Malaysia.

Dari sini terlihat jelas bukan, bahwa gerakan perempuan Indonesia nyatanya telah ada sejak dulu. Dan tuntutannya pun jelas, bukan semerta-merta hanya menginginkan kesetaraan yang omong kosong.

Justru mereka yang masih mempertanyakan “kesetaraan yang bagaimana, sih, yang diinginkan perempuan itu?” adalah mereka yang sebenarnya telah cacat akan sejarah pergerakan perempuan. Sorry, but I'm not sorry.

Dan hal yang perlu digaris bawahi adalah perempuan Indonesia tidak pernah pasif atau bahkan tunduk begitu saja pada rezim yang tidak berakhlak mulia. Selalu ada perlawanan yang mereka lakukan. Namun, tetap saja ada golongan berkuasa yang merasa terancam terhadap keberadaannya.

Nah, dari sini, kita bisa berkaca dari Gerwani bahwa perempuan memang perlu kiri. Bukan karena mereka ingin dilihat keberadaannya oleh dunia. Apalagi ingin terlihat berkuasa. Namun, memang ketidakadilan harus segera dimusnahkan.

And see, mereka yang yang berjuang sekeras itu saja mampu ditumbangkan oleh rezin tiranik. Apalagi kita yang hanya diam dan tetap merasa seolah diri kita sedang baik-baik saja. Kita harus melawan ketidakadilan dan angan mau di-ninabobo-kan oleh segala bentuk penindasan.

Dan untuk kalian yang masih suka koar-koar tentang kesetaraan apa yang diinginkan perempuan, coba jejali otak kalian dengan amunisi keilmuan yang berbobot. Cobalah bersama-sama untuk mencapai keadilan. Karena keadilan adalah pekerjaan bersama yang dilakukan seumur hidup.
Read More