Latest Posts

Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

LEMBAYUNG

No comments:

Simbol di ufuk magrib tak terperikan
Mercusuar pembias antara benderang dan kegelapan
Meliput jari-jemari bayang dalam kesirnaan
Sementara sang senja pengiring kebermulaan

Misrah menatap tajam di seberang jalan, sembari memantra mengais-ngais serpih gerutu dalam angan
Seolah-olah bingkisan sedang ia persembahkan
Entah itu sopan pun mungkin keterlaluan, 
Yang terbersit dalam benaknya hanya sedikit permintaan

Baginya, semua itu hanya secuil keinginan dibanding kehendak para tuan
Berbeda halnya dengan amerta kegilaan para cukong nan kian tak tertahan
Sekurang-kurangnya idaman, daripada permintaan mereka-mereka yang kerap merampok Tuhan dalam kesunyian.

Misrah sadar betul tentang apa yang harus ia  lakukan
Meski diam-diam harus memproklamirkan diri sebagai petualang harapan 
Pandir sejati, pendekap pengabdian
Dan semua bergelayut dalam kepasrahan
Semoga Kun fayakun adalah firman Tuhan

Dimana pun,
Kapan pun,
Pun sedang ada,
Seraya memikul beban kehidupan, ia berlapang dada bermurah senyuman
Walau perutnya acapkali lebih banyak menabuh syair-syair kehampaan

Namun, 
Cawan jiwanya terus menganga, meronta-ronta akan marunnya anggur kebebasan
Dahaga itu terlalu besar untuk diruntuhkan
Terlebih lagi, barang sesaat tak ada daya tuk mengabaikan

Sore itu, persis di bahu jalan.
Gemuruh cibiran, pun kegirangan tetangga membuatnya berkali-kali celingukan 
Mencari-cari kebenaran perihal santunan
Obor kesanksian pun ia sumatkan
Benaknya terperangkap dalam seutas pertanyaan, 'kemanakah daku harus mengejar kepastian?'

Nuraninya mendikte menyusuri relung pintu kemungkinan
Mengetuk-ngetuk daun pintu kediaman Pastor di jalan Pahlawan
Sayangnya, tak ada sahutan sebagai tanda kehidupan

Dikayuhnya sepeda jadul menuju Selatan
Hingga sampailah ia di jalan Veteran
Kebetulan, Pendeta sedang menyiangi rerumput halaman 
Na'as, patahan katanya tak begitu cukup memuaskan

Bergegaslah ia ngayuhkan kaki dengan sedikit ngos-ngosan
Wihara pertapaan Biksu itulah sebagai tujuan
Tak dapat dipercaya, cetusnya tidak sama sekali membulatkan keyakinan

Akhirnya, sekonyong-konyong ia menuju mesjid menahan diri hampir pingsan
Takmir dengan sigap membopongnya ke pelataran
Pak Kiyai memberondongnya dengan petuah-petuah kedamaian

Tukasnya; celakalah dikau menaruh harapan lebih dalam ketergantungan
Melarat memang tidak lepas dari nafas panjang kehidupan
Tatap dalam, dikau hanya terpenjara dalam bangsa kebarbaran

Misrah mematung, untai nasihat itu menyembelih jiwa miskinnya yang membabi buta
Dalam benaknya hanya bergeming; 'kenapa harus lupa, kalau daku hanya si papa yang bukan saudara pun atau kerabat pemegang kuasa'.
Lantas, mana mungkin santunan pandemi Covid-19 itu menjadi takdir Tuhan untuknya

Khalayak mungkin lupa, jikalau rakyat jelata hidup dengan ambisi yang membara
Sementara para tuan sibuk hidup dengan membesarkan perutnya.

Tertanda si pandir yang papa.
__Ciamis, 21 Mei 2020

Penulis
Pegiat Literasi
Read More

BEBERAPA AWAL SETELAHNYA

No comments:

Kita berawal dari kalimat yang entah apa
Di bumbui oleh perhatian juga tegur sapa
Setelahnya… aku sering menepi di salah satu jendela
Memastikan kedatangan dari keberangkatanmu baik-baik saja
Syukur di sana aku masih menemukan senyum dari bibir manis penuh asa

Tiba dhuha
Aku berdiam dibalik kaca
Menantimu berjalan dari utara, seraya menundukan kepala
Semoga kala itu kau sedang berdoa, serta ada namaku diantara kalimat doa yang kau tiupkan

Usainya… aku lekas membalas untaian doa dengan pinta kepada Tuhan
Dari awal hingga kesekian
Mencintaimu masih menjadi hal yang menyenangkan
Meskipun kini hadirmu tinggal bayangan
Kau hilang begitu saja seolah tak terjadi apa-apa
Alih-alih pesan untuk pamitan
Nomorku saja kau blokir tanpa penjelasan

Namun perlu kau ketahui
Hati dan segala bentuk rupanya
Terus berputar seriangnya
Seolah kau menjadi pusat semesta
Segala kerinduan dan bentuk lainya
Masih mengorbit pada satu manusia; Dayita

"Sajak dari sudut pojok kamar ramu kata"

__Kediri, 10 Maret 2020

Penulis:
Penulis dan Pemalas


loading...
Read More

AKU TAK PERNAH TAU DAYITA

No comments:

Beberapa jengkal lagi aku mau sampai
Di tebal hitam rambutmu aku memanjat
Mau kutempuh ia dengan sekali kilat
Ku bisikan kalimat “cinta yang tak pernah usai”

Aku tak pernah tau seberapa keras angin di pantai
Bertiupnya memangil melambai-lambai
Dingin yang kentara sebab tipisnya kaos yang kupakai
Yang pasti aku tau, dekapan tanganmu adalah rumah dari sekian resah

Aku tak pernah tau seberapa nyaring suara
Membaur ia di udara dan masuk ke telingga
Acap kali ia tak membawa berita gembira
Bahkan sialnya ia mau lebih lama disana
Demi angin yang menidurkan, aku tau kau pantas di perjuangkan

Aku tak pernah tau kemana air sungai mengalir
Hanyut dibawanya berbagai hal yang hadir
Terombang ambing berebut takdir
Namun aku bersyukur
Sebab kau adalah muara dari segala yang ada

Aku tak pernah tau seberapa rindang pohon
Menjulur rantingnya keperaduan
Mendalam akarnya kepedalaman
Yang jelas pohon cintaku tetap hidup
Sebab pupuk kasih sayangmu yang lebih dari cukup


"Dari simpang garis bujur sunyi bumi"
__Kediri, 09 Maret 2020

Penulis:
Penulis dan Pemalas

Read More

MENYAPA RINDU


Kamu tanpa aku adalah sahaja
Aku tanpa kamu adalah ketidak-berartian
Tanpa kita adalah redup bak kosong tak bercahaya
Tanpa kita pula adalah tak bersua saling sapa

Dan tak saling melebur rindu yang mendera
Rentetan kata yang tersusun menjadi kalimat adalah upayaku menyapamu lewat intuisi"

Kekasihku yang telah melaju terlebih dulu
Kehadiran yang tidak semestinya diadakan
Kekacauan yang beranjak datang perlahan

Menyisakan pilu dalam ingatan
Yang kian kemari tak dapat ku simpulkan

Bagaimana peran dalam kepercayaan
Mengangkat sejuta tawa dan tangis untuk kuredupkan

Semua awalan dan akhiran dalam sepekan
Ketidak-berdayaan untuk meneruskan, perjalanan pulang

~Layang sendu, syair nestapa~
Kediri, 27 February 2020


Penulis:
Redaktur Phenomenon
Read More

NAPAS PUISI DAYITA


Ibadah puisi dimulai
Pelan tapi pasti aku mulai mengisi
Huruf demi huruf kalimat tersusun
Sampai pada tipisnya embun

Dayita... bacalah
Bahwa aku ingin mencintaimu


Lebih banyak dari debar
Lebih sering dari dering
Lebih besar dari sabar
Lebih lama dari selamanya


Lebih mesra dari dansa
Lebih kuat dari erat

Lebih alim dari salim
Dan aku ingin mencintaimu lebih dari apa-apa

Dayita... dengarlah
Mantraku, dari ritus doa-doa
Meminta, membaur diudara
Menyelami nafasmu dalam, hingga dada

Dayita... rasalah
Lalu menjadi gembira
Melompat senang amat riang


Sebab perihal peduli
Aku terus tanpa henti

__Bernapas di Bumi Kediri
Jum'at 21 Februari, di simpang susun kasur tua


Penulis:
Penulis dan Pemalas

Read More

BUMIKU MERINDUKAN TANAH


Kantong-kantong mereka terisi penuh, jabatan dan nama baik selalu disandingkan di belakang nama, setiap program-program “bak” pahlawan dibanggakan. Masyarakat terbelalak berdecak kagum akan ada nasib baik apa untuknya.

Menunggu sambil harap-harap cemas, terbayang di kepalanya akan keluarga kecilnya. Rumah berisi tumpukan jerami menemani tidur mereka, lantai tanah, dinding anyaman bamboo. Lampu semprong dan lilin tak pernah jenuh menemani putra putrinya membalikkan lembar-lembar buku.

Ia tersadar, segera beranjak mengayuh sepeda. Di desa ia beritakan pada tetangga, hasil pertemuannya dengan pria berdasi merah. Si dasi merah berkata bahwa anak-anak mereka akan sekolah, tak perlu takut akan seragam sekolah, buku dan fasilitasnya.

Semua mata terpana senyum merekah, mereka berfikir, inilah pendidikan sebenarnya, keadilan sesungguhnya, kesejahteraan akan segera menyapa. Tahun demi tahun dilihatnya satu-satu pemuda-pemudi putih abu-abu. Mengapa bibit anak mereka belum tumbuh juga?

Pagi hari, ayah ibunya bersusah payah bekerja, mereka menenteng tas mewah, hp mewah dijemput teman laki-lakinya. Sang ibu yang tak pernah sekolah hanya bergumam, owh, mungkin seperti itu ia dididik untuk mendapatkan ilmu. Sang ibu siang hari harus kembali mengurus rumah dan adik-adiknya, si putih abu-abu mengadakan pesta "konvoi" kelulusannya, ia bangga karena dapat pula ia merayu perangkat sekolah.

Betapa tidak dikabulkan, keinginan dari peraih juara kelas, orator dan OSIS, yang tanpa prestasi, nama baik sekolah tak terangkat, belum lagi jika ditolak, ia siap mengerahkan massa mendemo hingga tersebar koran berita.

Si putih abu-abu sangat hafal teori cinta, sinetron dan drama perpisahan sekolah pun mengisahkan pangeran dan putri raja. Para guru pun senyum-senyum mengingat masa mudanya, tak lupa mereka bertepuk tangan, berfoto ria.

Sementara di balik lumbung padi, sang Ibu terdiam lesu, bagaimana akan menghadapi musim paceklik tanpa adanya diesel pemompa airnya, seluruh uangnya digunakan belanja anaknya.

Masyarakatnya juga tak jauh berbeda, mereka hanya mengandalkan singkong tanpa bisa mengolah, penyakit menjangkiti tubuh peternak sapi hingga tampak dekil tanpa perhatian dokter mudanya. Di desa tak pernah ada keributan lantaran berbeda Qunut atau tidak Qunut, karena pintu masjid tidak pernah lagi terbuka. 

Si putih abu-abu pun lulus kuliah bergelar sarjana dan mendapat kerja, di depan laptop di kursi mewah dalam kantor pemerintah. Bukan pula setumpuk surat yang diperlukan masyarakat yang ia kerjakan di depan laptop-nya, hanya puluhan game saja.  Belum lagi teman sebayanya, yang telah sukses melangkah buana. Pulang pergi mengadakan seminar ke penjuru dunia, namun kehidupan di desanya tak pernah terjamah.

Ada yang menikmati kursi sutradara, larisnya hiburan jadi tujuan utama, tontonan tidak mendidik menjadi tuntunan. Guru-guru kita dipelosok negeri hanya menjadi tontonan, dipublikasikan dan tepuk tangan, tak pernah ia berniat mengikuti pengabdian.

Bumiku merindukan tanah, Ilmu merindukan ruhnya. Sekolahku merindukan Ilmu, karena Banyak yang bersekolah tapi tidak berilmu. Ilmu itu cahaya Tuhan, menanamkan keikhlasan, memperbesar amal, meninggikan cita-cita, memanusiakan manusia.

Duniaku semakin punya banyak sekolah, gelar sarjana dan bermacam model pendidikannya, namun mengapa keikhlasan untuk memperbaiki kondisi masyarakat Tanah kelahirannya tak pernah ada? Mengapa cita-cita manusianya hanya gaji bulanan saja?

Mengapa kemanusiaannya menjadikan ia tidak mengenal tuhannya? Mengapa ia samakan antara gelar dan ilmu? Mengapa lebih memilih baju daripada buku? Mengapa lebih memilih kisah cinta, dibanding perjuangan ulama dan guru bangsa?

Bumiku merindukan tanah, karena ia telah dijajah manusia serakah. Manusiaku merindukan ilmu, karena ilmu tidak mereka dapatkan di sekolah.
Read More

CINTAI DULU: WALAU DIA BUKAN SEGALANYA


by. Zidna Nabilah

Bel penanda waktu sholat masih terdiam seribu bahasa, angin pun masih hilir mudik mengisi keheningan pagi, bahkan ayam mungkin masih terlelap dalam mimpi.

Kring.. kring.. kring.. (alarm berbunyi) Jam menunjukkan pukul 03.00 pagi, tanpa sadar tanganku bangkit dan menekan alarm yang kuatur semalam. “Cepat sekali, ternyata sudah saatnya bangun. Jika di rumah, tentu saja Aku masih terlelap dalam mimpi indah”, kataku dalam hati sambil bangun dari tempat tidur.

Ketika nyawa benar-benar kembali dalam raga, akhirnya Aku pun membangunkan beberapa teman sekamarku dan segera menuju kamar mandi. Bukan hal aneh jika siswa baru dengan label santriwati sepertiku bangun sebelum bel berbunyi, berharap agar tidak akan terlambat dalam hal apapun.

Bel yang Aku maksudkan adalah bel yang Kami-para santriwati sebut sebagai jaros. Bel itulah yang akan mengingatkan atau memberitahukan kami waktu sholat, makan, belajar, bahkan waktu tidur kami. Sekali bel berbunyi, semua santriwati akan berhamburam keluar kamar.

Jika itu waktu sholat, maka kami akan langsung menuju masjid. Jika itu adalah bel makan, sudah bisa dipastikan bahwa kami akan langsung menuju dapur dengan wajah kelaparan dan memelas.

Hal lainnya yang aku dapatkan di pesantren adalah pelajaran hidup tentang mengantri. Tentu saja itu tak terlupakan, tiada hari tanpa mengantri. Segala hal yang kita lakukan, selalu ada waktu dimana kita harus menanti giliran.

Teng klonteng.. teng klonteng.. (jaros berbunyi, tanda bahwa kami harus segera menuju ke masjid). “Karena sudah bersiap sebelum bel berbunyi, aku bisa langsung menuju ke masjid” kataku dalam hati. “Inara, wait me.” panggil Hana. “Why?” jawabku spontan, kemudian berpaling. “Nothing”, jawabnya dengan tawa kecilnya. “Dasar Hana”, fikirku dalam hati dan tersenyum.

Hana memang sudah menjadi teman dekat bahkan sahabatku sejak awal masuk pesantren, Walaupun kami berasal dari daerah dan asal sekolah yang berbeda, itu bukanlah hambatan bagi kami. Dia lulusan pondok salafiyah, berbeda denganku yang menjadi lulusan Sekolah Menengah Pertama Negeri di daerah tempat tinggalku.

Dengan corak budaya dan latar pendidikan yang berbeda, justru membuat kami menjadi semakin kompak. Dia yang seringkali mengajarkanku bahasa arab, dan aku yang sering kali berbagi banyak hal tentang bahasa inggris padanya.

Tepat pukul 5 pagi sholat subuh berjama’ah telah usai, kini waktunya kami bersiap-siap untuk pergi ke sekolah termasuk sarapan bersama, tentu dengan peringatan dari jaros kami.

Jika membahas mengenai bahasa terutama inggris, sepertinya harus kuterima kenyataan bahwa hingga masuk ke pesantren ini Aku tetap belum bisa mencintainya, atau bahkan menyukai. Padahal, untuk bisa menguasai sesuatu sebaiknya kita harus mencintainya lebih dulu. Dengan begitu, melakukan apapun yang berhubungan dengannya tentu akan menyenangkan dan tidak terasa berat atau bahkan menjadi beban.

Fakta bahwa pesantrenku adalah pesantren modern, membuatku takut namun penasaran dengan apa itu “bahasa” bagi seorang santri. Pertama kali melihat kakak kelasku yang begitu mahir berbicara menggunakan dua bahasa, serasa aku akan masuk ke dunia lain yang entah aku bisa bertahan hidup atau tidak.

Hari demi hari kulewati dengan penuh rasa curiga, khawatir jika pengurus akan mengawasiku ketika tidak sengaja mengucapkan sepatah kata yang keliru alias bahasa Indonesia. Walaupun saat itu masih ditoleransi, tetap saja jantungku serasa tidak bisa berdenyut dengan tenang dan akan siap meledak sewaktu-waktu jika tertangkap basah berbahasa Indonesia.

Hari itu adalah hari jum’at, dimana sekolah libur dan diganti dengan kegiatan olahraga dan juga pembelajaran bahasa berdasarkan kelas ataupun angkatan.

Harry up!”, teriak pengurus bagian bahasa kepada kami. “Ayo Han, kita harus cepat”, bisikku kepada Hani yang sudah berada disampingku. “Iya, Aku tahu”, jawabnya meyakinkan dengan nadanya yang tak kalah lirihnya. Setelah lelah berlari dari asrama ke sekolah, kami pun akhirnya mencari tempat duduk sembari menunggu semua santri berkumpul.

Pembelajaran pun dimulai dengan begitu tertib, semua santri memperhatikan dengan baik apa yang diterangkan oleh pengurus. Setelah satu jam berlalu, aku mengajak Hana untuk menemui salah satu ustadzah kami untuk menanyakan sesuatu karna jiwa penasaranku sudah meronta-ronta.

“Assalamu’alaikum, permisi ustadzah. Adakah ustadzah Aisyah?”, kataku tepat di depan kamar Ustadzah. “Wa’alaikumussalam, ada. Tunggu sebentar ya”, terdengar jawaban dari dalam. “Baik Ustadzah”, jawab kami spontan. Setelah keluar, tanpa basi-basi aku pun bertanya kepada guruku satu ini.

“Ustadzah, sebenarnya kenapa kita harus belajar bahasa inggris dan bahasa arab dengan begitu keras? Kami dituntut untuk terus belajar setiap hari, bahkan setiap jam dan detik.” (bentuk protesku yang mungkin sedikit berlebihan).

Dengan lembut, guru sekaligus waliku di pesantren menjawab, “Kau tahu, tidak ada hidup di dunia ini yang tidak memerlukan bahasa. Tanpa kau mengucapkan sesuatu pun, itu adalah bahasa. Mungkin bahasa bukanlah segalanya, namun dengan bahasa hidupmu akan lebih hidup dan bermakna.

Dimana dengan belajar bahasa, maka dunia akan berada di tanganmu. Kau bisa mengetahui banyak hal ketika menguasai bahasa, karena memang dialah gerbangnya ilmu. Di dunia yang digambarkan sebagai gudangnya ilmu ini, kau bisa membukanya dengan bahasa. Walaupun itu adalah bahasa Indonesia, jika kau tak bisa memahami tentu hal itu tidak bisa disebut sebagai pengetahuan.”

Seketika itu aku terdiam dan merenung, mulai mengerti bahwa sudah seharusnya aku menyesal karena telah membenci bahasa. Padahal dia adalah salah satu perkakas yang harus dimiliki jika aku akan membuat sesuatu.

Mungkin sejak SMP aku sudah mempelajarinya, terutama bahasa inggris. Namun, setelah tahu makna bahasa itu sendiri. Harusnya sudah sejak lama aku menyukai, bahkan mencintainya dengan tulus. Karena dengan itulah, aku bisa menggenggam dunia di tanganku.
Read More

MASA DEPAN KITA YANG TENTUKAN, DAN BUKAN APA YANG ORANG LAIN PIKIRKAN


Hari pertama masuk kuliah sudah terburu waktu, hampir telat namun secepat kilat aku mengambil seat paling depan pinggir kanan.  Jam biru membalut pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul 07.03 WIB. Saat itulah pria tambun nan gagah yang berdiri di depan kami  melihatku lalu tersenyum. Serta  35 pasang mata juga berhambur melirikku dengan spontan, karena kegaduhan suara cassual shoes-ku. Jujur aku merasa gagal hari ini.

kok telat sih za, kukira kamu datang awal “ tanya Reka. “Iya, hari ini lagi ada general cleaning di asrama, ga bisa dateng awal” kataku sembari membenarkan posisi duduk.

Seketika suasana kelas mulai kondusif, pria di depan kami pun sepertinya sedang melanjutkan permbicaraannya tadi yang sempat terpotong karenaku. Lalu beberapa menit kemudian tibalah 3 orang mahasiswa baru yang sedang berebut alasan di balik pintu, suaranya terdengar berisik sampai akhirnya kena teguran si pria tambun yang bisa disebut dosen perdanaku, logat bahasa Indonesia-nya kurang enak didengar namun kata – katanya dalam bentuk bahasa Indonesia cukup untuk membuat kami paham.

silahkan masuk dan ambil kursi ternyaman anda” ungkap Bapak Dosen dengan gesturnya mempersilahkan duduk.

wah, terimakasih pakmaaf kami telat karena saya bingung tata ruangan gedung ini” jelas salah satu mahasiswa meyakinkan dosen tersebut.

Abdul Rahman Hamadoun, adalah dosen kewarganegaraan asli Syiria, dosen tetap kelas program internasional, sementara sekarang kebetulan mendapat jam di mata kuliah bahasa arab ibtidaiyah di kelas ku.

Suaranya yang halus nan pelan membuat semua mahasiswa berusaha menelaah maksud dari setiap perkataan yang ia lontarkan, karena sempat tenggelam oleh suara kegaduhan sebelah kelas kami juga proyek pengerjaan bangunan gedung fakultas lain.

Menurut kalian seberapa penting peranan bahasa untuk hidup dan bertahan di tengah masyarakat yang semakin canggih seperti apa yang kita ketahui selama ini?”, tanyanya kepada seluruh mahasiswa sembari menatap mahasiswanya dari ujung ke ujung.


Menurut saya bahasa itu suatu media perekat manusia, karena dengan bahasa kita bisa menyelami suatu negara dan memahami bagaimana keadaan suatu negara dari segi manapun”. Jawabku meyakinkannya.


bagus, kemudian siapa yang mau menambahkan lagi, silahkan, speak up saja anak-anak saya akan menghargai apapun  pendapat kalian semua”. Katanya meyakinkan kami.


Beberapa mahasiswa dikelas kami pun akhirnya antusias mengutarakan pendapatnya. Kelas hari itu pun berakhir pukul 08.40 tepat, dan untuk hari perdanaku semua terasa baik – baik saja, syukur alhamdulillah, setelah beberapa hari yang lalu merasa tak enak badan karena padatnya prosesi pekan perkenalan Universitas. Kesan baik banyak aku dapatkan dari beberapa dosen dan rekan – rekan mahasiswa baru.

Hari – hari selanjutnya berjalan dengan sebagaimana mestinya mahasiswa baru, berkenalan dengan para dosen disetiap mata kuliah pun dengan sesama mahasiswa lainnya. Bertukar ceria, pengalaman semasa SMA, bahkan yang menjadi topik pembicaraan selama satu pekan kuliah perdana di kampus kami, adalah perihal ditolak diberbagai Perguruan Tinggi Negeri atau PTN di Indonesia.

Jadi, kampus yang sekarang menjadi pijakan untuk meneruskan studi S1 ku ini adalah salah satu Perguruan Tinggi yang berstatus swasta atau privat school. Mungkin menjadi suatu hal yang tidak asing lagi apabila setiap tahun masuk mahasiswa baru topik pembicaraan antar mahasiswa yaitu sebab dan akibat mengapa mereka menjadikan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menjadi pilihan kedua bahkan tujuan terakhir seorang siswa dalam memilih Perguruan Tinggi.

Alasannya cukup beragam mulai dari kehendak orang tua, kerabat, teman dan lagi – lagi alasan yang memiliki prosentase tinggi adalah tidak diterimanya menjadi bagian dari Universitas unggulan negeri, dan ada juga yang memiliki niat sedari awal ingin mengenyam pendidikan di PTS itu pun hanya sedikit  dan merekalah yang rata- rata menyadari akan keunggulan PTS. Kalau kalian bertanya bagaimana denganku?, maka aku berada di tengah – tengah mereka.

Pada tahun 2018, aku resmi melepas gelar siswa MA (Madrasah Aliyah). Berhubung aku mendapat amanah menjadi seorang pengajar, mau tidak mau aku harus tetap melaksanakannya karena motivasi keluarga. Niat lillah pun muncul seiring berjalannya waktu, niat yang menggebu – gebu untuk ikut serta bersama kawan mendaftar ke PTN kuurungkan, pikirku mungkin tahun depan adalah waktu yang tepat.

Sampai sekarang aku masih tidak tau apa motivasi terbesarku sampai begitu kuatnya memiliki keinginan untuk masuk PTN dan tidak mempertimbangkannya dengan PTS, padahal faktanya PTS tidak seburuk yang aku dan mungkin sebagian besar orang – orang diluar sana bayangkan.

Di penghujung tahun 2018, tepatnya bulan November Allah SWT. menjawab do’a – do’aku. Sebuah peluang beasiswa full study terbatas untuk 27 orang dibuka untuk lulusan Madrasah Aliyah/ MAN ditawarkan oleh salah satu PTS terbaik di Indonesia, entah apa yang aku fikirkan saat itu aku memulai untuk mengetahui segala hal berkaitan dengan tawaran tersebut mulai dari info masuk, pengumpulan berkas, tes tulis, dan tes lisan semua prosedur benar – benar aku update.

Hari demi hari di masa pengabdianku mulai aku isi dengan belajar dan membaca buku, motivasi untuk segera menyelesaikan kegiatan mengajar perlahan mulai tumbuh, tekad untuk mengejar beasiswa itu telah membuatku lupa akan presepsi diri mengenai PTS, aku rasa Allah telah menunjukkan titik terang dari semua perkiraan masa depanku yang setiap malam sebelum tidur aku pikirkan dan aku rencanakan kini sudah tidak abu – abu lagi.

Masa susah payah, pulang pergi luar kota untuk menjalani rentetan proses masuk seleksi berlalu, dan lagi – lagi do’a orang tua yang nun jauh disana begitu membantu langkah kaki ini serasa tak pernah menemui kesulitan disetiap prosesnya.

Tanggal 22 Mei 2019 merupakan hari yang mana aku ingin sedikit lebih menyibukkan diri, entah hanya berjalan keluar masuk kantor guru, berkeliling kelas – kelas hanya untuk sekedar melihat suasana ujian yang sedang berlangsung, atau membantu panitia ujian untuk mensortir lembar jawaban.

Hal ini aku lakukan tak lain untuk mengurangi rasa gugupku menanti pengumuman seleksi beasiswa lewat snapgram. Tepat pukul 12.27 WIB ponselku berdering seorang telah memberiku file yang bertuliskan SK (Surat Keterangan) Rektor, dan ketika aku baca mulutku tak berhenti bergumam merapalkan do’a dan tasbih, dan seketika menuju lembar kedua sebelum akhir aku melihat, mengenali betul nama ku “Uun Zahrotunnisa/ Program Pendidikan Hukum Islam” tertulis di urutan nomor sembilan dari sebelas pendaftar gelombang pertama.

ALHAMDULILLAH YA RABB”. Pekikku dengan suara bergetar sembari menuju Masjid Pondok dan tidak memperdulikan siapapun yang melihatku, dengan bersimpuh selepas sujud syukur linangan air mata berjatuhan melewati dinding pipiku, tak terasa namun rongga dadaku yang sedari pagi sesak kini jauh membaik.

Alhamdulillah sampai akhirnya dari ratusan pendaftar kini hanya tersisa 27 orang dan termasuk aku yang memiliki gelar “Mahasiswa Unggulan Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia”, sebuah gelar yang juga merupakan motivasi bagi seorang mahasiswa yang harus memiliki kompetensi yang lebih dibandingkan mahasiswa- mahasiswa lain.

Beberapa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) aku ikuti dengan antusias, rata – rata berkaitan dengan bidang Essay & Presentasi Bahasa Inggris, Debat, dan Jurnalistik. Beberapa kali aku ditunjuk sebagai LO atau Laisson Officer dalam beberapa program Joint Student & Collaboration dengan Universitas se-ASEAN, Peserta Sekolah Aktivis 2019, dan sekarang ini sedang menulis paper presentation mengikuti seminar kebahasaan (LSP-Pacslrf 2020) di Universiti Tenologi Malaysia pada 1-2 Juli 2020 tepatnya di Kuala Lumpur, Malaysia.

Semua pencapaian ini adalah karena berkat dukungan dan do’a orang tua, kerabat dan teman – teman karena merekalah dalam masa semester satu ini aku berkesempatan untuk memberikan kontribusi untuk Universitas.

Dari sinilah aku menyadari bahwa tidak semua hal yang orang anggap baik, akan baik juga untuk diri kita pribadi, mengikuti presepsi orang lain entah itu baik sekalipun belum tentu baik juga bagi diri sendiri. Langkah untuk menentukan masa depan pun juga bukan tergantung pada penilaian orang lain terhadap apa yang akan kita ambil ataupun kita putuskan, semua adalah tergantung pada diri dan niat.

Bisa jadi kita akan ditempatkan oleh Allah SWT. dimana kita dapat memberikan manfaat dan berkontribusi didalamnya. Jangan pernah bangga karena dapat mengenyam pendidikan di kampus yang kita idam – idamkan, tapi jadilah orang yang dibanggakan karena kampus dapat memiliki kita yang dapat memberikan kontribusi lebih terhadap kampus.
Read More

VERSI BENAR YANG BERBEDA SUDUT PANDANG



”Ternyata sudut pandang seseorang di lihat bukan hanya dari satu sisi, tetapi dari berbagai sisi yang tak sama dan mempunyai versi benar yang berbeda beda”

Langit sudah gelap, pengunjung pameran sudah mulai berdatangan, suara musik yang sudah terdengar di gendang telinga, tamu tamu sudah di persilahkan duduk untuk mengawali pembukaan pameran.

Malam ini aku sedang menjadi panitia di acara pameran yang di selenggarakan satu tahun sekali di jurusanku, aku masih duduk di semester tiga, acara ini di bawahi oleh mahasiswa semester lima. Mahasiswa semester tiga bisa mendaftar dan bisa memilih di bagian mana yang di inginkan, tujuannya agar nanti pameran tahun depan kita sudah sedikit berpengalaman tentang konsep pamerannya.

Sebut saja ini pameran nasional, yang mana karya-karya yang di pamerankan bukan hanya dari seniman dan mahasiswa di kampus ku, tetapi semua mahasiswa dan seniman yang berada di Indonesia boleh mengirimkan karyanya, yang akan di seleksi oleh seniman-seniman Semarang lalu di pamerkan bersama dengan karya yang lainnya.

Yah, akhirnya pameran ini terlaksana, dengan berbagai krikil yang harus di lewati, dengan ombak yang harus di terjang, banyak sekali proses yang harus di hadapi bersama, tepat hari ini pembukaan pameran yang berbulan bulan kami diskusikan terlaksana dengan baik, rapat sampai tengah malam, masih banyak lagi hal hal yang tak perlu aku keluh kesahkan di sini.

Setelah acara pembukaan selesai, gedung pameran ini sudah mulai sepi, aku dan teman teman sedang duduk di teras gedung pameran itu, tuk..tuk..tuk suara sepatu itu terdengar begitu jelas di telingaku, ada seseorang yang sedang berjalan lewat di depan ku dengan sepatu boots nya berwarna coklat.

Aku hanya tersenyum tipis melihat ke arah beliau, beliau membalas dengan senyuman juga, beliau berhenti, tepat kakinya berada di depan mata ku, beliau duduk menghadap ke arah kita, agak sedikit takut awalnya, jarang sekali aku melihat sosok beliau di acara acara seperti ini, atau mungkin aku baru pertama kali mengikuti acara seperti ini?

Tetapi seingatku nama beliau sering sekali di bicara oleh kakak tingkat semester lima, dan yang ku tau beliau selalu memberi energi positif dari belakang tanpa ingin di kenali banyak orang, tulus sekali.

Beliau duduk dengan melipatkan kakinya ke depan, menyenderkan sedikit punggungnya ke tembok sambil memegang sebatang rokok, aku melihat wajahnya seperti ada yang beliau ingin bicarakan, waktu itu benar benar lelah, benar saja saat itu beliau tiba tiba bertanya tentang teman ku yang menurut beliau dia mempunyai potensi lebih di seni rupa.

Ingin pergi tapi jika aku pergi berarti tidak menghargai adanya beliau di depan ku, ingin bermain hp rasanya aku tidak mempunyai etika sama sekali, aku bosan saat itu, rasanya ingin segera pulang ke kost-an karena sudah sangat larut malam, (ngomongnya gak selesai selesai sih, udah tau udah malem banget) aku menggerutu dalam hati.

Di tempat itu bukan hanya aku dan beliau, tetapi banyak teman teman panitia di acara pameran tersebut, banyak juga anak anak dari Universitas lainnya yang sedang mengunjungi pameran, memang begitu jika ada pameran yang diadakan di Universitas manapun, kita sudah seperti saudara, untuk mengunjungi, mengapresiasi karya karya yang ada di pameran itu, bahkan sampai menginap beberapa hari, bagiku tidak masalah, mereka sudah seperti saudara yang di pertemukan di Seni Rupa.

“namanya siapa?” beliau bertanya sambil menatap mata ku.
(Udah ngomong banyak baru nanya nama) lagi lagi aku bicara dalam hati.

Kiya mas jawab ku dengan nada pelan dan menatap mata beliau, ada rasa takut sebenarnya, takut jika beliau bisa memandang cara fikirku dengan hanya melihat sorot mata ku hehe, aku tak mengerti apa yang di fikiran beliau saat bertanya satu persatu teman teman yang di samping ku semester berapa kamu ya?” beliau bertanya lagi dengan nada yang sangat halus, “semester tiga ini mas” jawab ku, aku masih takut untuk melihat sorot matanya.

Saat itu beliau banyak bercerita tentang pameran, tentang seni rupa kontemporer, tentang seniman seniman muda indonesia yang berhasil dengan karya karyanya, pengetahuan beliau begitu luas tentang seni rupa, beliau menerangkan dengan telaten kepada kami semua yang berada di dekat nya, apalagi dengan pengetahuan ku yang nisa dibandingkan satu debu tidak bisa terlihat dan beliau seperti sudah menjadi gundukan pasir.

Di tengah percakapan tersebut beliau bertanya lagi di semester ini, apa yang sudah kalian dapatkan” beliau menatap ku karena aku yang berada di tengah di antara mereka, mataku menunduk, deg (di semester ini aku belum mendapatkan apa apa) ungkapku dalam hati, beliau kembali bercerita tentang masa masa beliau ketika kuliah, tentang cara metode pembelajaran yang dosen sampaikan kepada mahasiswanya.

mumpung masih muda, ayolah tunjukan karyanya, tunjukan potensi yang kalian punya, jangan hanya berkarya ketika tugas kuliah” beliau berbicara dengan nada pelan sambil menatap kita satu per satu.

aku menyadari di satu tahun menjadi anak seni rupa memang aku belum menghasilkan karya yang luar biasa, pernah ada saat itu pameran perdana di awal semester, itu pun menurutku karya yang masih belum layak di tampilkan, hanya saja saat itu pameran angkatan , jadi semua karya harus di pamerkan, tidak ada yang terkecuali, tidak melalui tahap seleksi, aku yakin jika di seleksi karya ku di tolak karena belum layak di pamerkan. Walaupun aku mengerti, devisini karya bagus menurut orang berbeda beda.

Jam sudah menunjukan pukul setengah satu, pengunjung pameran sudah semakin sepi, hanya saja masih ada orang orang yang sedang minum merayakan pesta pameran, ada yang sedang tidur di samping gedung karena terlalu banyak minum, ada yang sedang mengobati teman temannya karena muntah kebanyakan minum, ada juga yang sedang bermain dengan ponselnya.

Sudah terbiasa aku dengan keadaan seperti ini, tetapi bukan berarti aku melakukan minum seperti mereka, banyak juga mereka yang tidak melakukan hal itu,  yang melakukan itu bukan berarti mereka orang tidak baik, dan orang yang tidak melakukannya pun belum tentu di anggap baik, tidak semua yang sini melakukan hal hal yang mereka lakukan, jangan pernah melihat satu sisi dalam nilai negatifnya.

Hening, suara orang muntah dan omongan mereka yang sedang mabuk semakin keras rasanya, aku hanya diam, beliau pun sama sama terdiam sambil melihat orang orang di sekitarnya, mungkin dalam hati beliau berbicara, aku tak mengerti apa yang sedang beliau fikirkan saat kondisi seperti ini, aku yakin beliau sudah terbiasa dengan acara pameran seperti ini, jelas beliau lebih berpengalaman dari pada aku.

Setelah bercengkrama ngalor ngidul tiba tiba beliau bertanya menurut mu display pameran ini ada yang kurang pas nggak penempatannya?” bukan hanya aku yang terdiam, semua orang di sekeliling ku pun terdiam, aku membayangkan sekitar ruangan galeri yang tadi aku masuki, (perasaan penempatannya udah pas semua deh) aku menggerutu di dalam hati, beliau masih menunggu jawaban kita, sesekali aku lihat layar di ponsel ku, mengalihkan rasa canggung ku.

“kaya gak ada deh mas” akhirnya aku beranikan diri ngeluarkan pendapat
“coba di inget lagi, masa nggak ada sih?” kata beliau dengan arah menatap ku
“ada mas, karya di ruangan pertama, paling depan warnanya item, yang ada sepatu menonjol” jawab ku dengan takut takut tapi ku berani kan diri saja untuk berpendapat
“apa yang salah menurut mu ya? Kamu sudah tau itu karya siapa? Apa judulnya? Kenapa di letakan di depan?” beliau sambil tertawa.

Sudah berpendapat tiba-tiba serasa diremehkan, itu perasaan ku ketika melihat beliau tertawa. Aku menjawab semua pertanyaan beliau, karya itu milik mahasiswa semester akhir yang sedang menempuh kuliahnya di Bali, aku kenal dengan seseorang yang membuat karya tersebut.

“semua letak karya di sini sudah di display dengan ahlinya, jika ada beberapa letak karya yang kurang pas, itu sengaja agar ada yang bisa membekas di ingatan pengunjung setelah melihat pameran ini” kata beliau dengan nada bicara pelan sekali, aku terdiam saat itu, ada rasa canggung di tambah dengan rasa malu sudah berpendapat tanpa berfikir lama.

(lha, tadi suruh ngejawab, tapi malah kaya pertanyaan ngjebak) ucapku dalam hati
“iya itu namanya belajar, kita jadi tau bagaimana letak kesalahan yang harus di benahi” kata beliau, seakan akan beliau mendengar apa yang aku katakan dalam hati.

Ada rasa kesal saat itu, jika beliau sudah mengerti kenapa harus bertanya dengan pertanyaan yang menjebak? Tapi benar jika beliau tidak bertanya seperti itu mungkin tak ada pelajaran yang ku dapat selama berbincang bincang dengan beliau sampai larut malam.

Versi benar setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda beda, sama seperti hal nya seni, dari berbagai banyak nya seni, mereka mempunyai nilai bagus di mata orang yang berbeda beda.
Read More