Latest Posts

Showing posts with label Rembuk. Show all posts
Showing posts with label Rembuk. Show all posts

Kemerdekaan (Bukan) Hanya Milik "Agustus"

No comments:



Tepat di tahun 2020 Indonesia telah 75 tahun merdeka. Artinya, selama 75 tahun pula tidak ada penjajahan atau penindasan yang diderita masyarakat Indonesia. Dan selama itu pula, masyarakat telah terjamin kemerdekaannya.

Namun, benarkah pernyataan tersebut? Apakah Indonesia telah menjamin kemerdekaan setiap masyarakatnya? Apakah mereka benar-benar telah merdeka tanpa embel-embel penjajahan dan penindasan?

Well, kalau yang dimaksud merdeka hanyalah ucapan proklamasi dan tidak ada penjajahan negara lain seperti halnya 75 tahun silam, ya, Indonesia saat ini begitu. Tapi, kalau merdeka yang dimaksud telah bebas dari segala bentuk penindasan, saya kira itu belum. Pasalnya, masih ada saja orang berkecukupan yang merengek meminta belas kasihan. Ada pula mereka yang benar-benar kekurangan yang tidak lagi ditengok untuk diberikan bantuan. Mengenaskan.

Kalau begini ceritanya, apakah Indonesia yang katanya merdeka itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang berkecukupan, tidak dibungkam, apalagi tertindas dan dirampas haknya? Apa kemerdekaan hanya sebatas upacara bendera? Apa kemerdekaan hanya milik Agustus saja? Apa iya?

Duh, kalau berujar merdeka saja semangatnya sampai ke ubun-ubun. Giliran ada masyarakat yang mati kelaparan saja pura-pura buta, tuli, dan belagak prihatin. Lah, gimana merdeka bukan hanya milik golongan? Kalau, toh, kemerdekaan tidak pernah dirasakan bersamaan.

Dan apa ini, kemerdekaan hanya sebatas upacara di atas rumput lapangan. Macam mana pula ini negara? Disuruh upacara tapi bodo amat sama situasi sekitar. Yang ditanamkan hanya menghormati perjuangan pahlawan, tapi abaikan penderitaan masyarakat yang kurang berkecukupan. Ini maksudnya asal negara bahagia, masyarakat tak apa menderita gitu, ya? Sedih.

Upacara bendera dengan embel-embel menghormati perjuangan pahlawan yang telah memberikan kemerdekaan pada Indonesia -atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa-. Rasa syukurnya itu baik, asal bukan buat gegayaan biar dikira "wah" saja. Akan lebih baik lagi kalau mau peduli ke sesama masyarakat, ya, kan? Jadi rasa kebangsaannya ada, rasa kemanusiaannya berfungsi, dan akal kritisnya dipakai. Bukan belagunya yang ditonjolkan.

Mirisnya lagi, kenapa, sih, selalu di Agustus saja semangat kemerdekaannya. Dalam setahun ada dua belas bulan, lo. Apa kemerdekaan hanya milik Agustus?

Kalau kata @rahung dalam laman sosial medianya menyebut bahwa rasa kebangsaan ereksi setiap bulan Agustus. Pasalnya, rasa kemanusiaan mampus setiap harinya. Sayang banget, ya, hidup kok cuma jadi batang pinang, itu pun setahun sekali.

Sudah 75 tahun, loh, ini. Masyarakat Indonesia gak mau hidup malmur sejahtera gitu? Masyarakat gak mau hidup berdampingan dengan selimut kemerdekaan gitu? Beneran gak mau hidup dengan tanpa penindasan, nih? Beneran gak mau?

Sekali lagi, satu tahun ada dua belas bulan, loh. Yakin kemerdekaan hanya milik Agustus? Yakin gak mau merdeka setiap harinya? Yakin gak mau?

Bukan bermaksud untuk memprofokasi, tapi ayolah merdeka bersama. Jangan mau menindas atau tertindas. Jangan mau bungkam. Taukan kalau semua manusia memiliki hak yang sama? Maka dari itu ayo merdeka bersama dengan peduli dengan sesama.

Kalau kalian masih merasa sedih dan tidak terima terhadap penindasan, kalian masih manusia.
Kalau kalian masih peduli terhadap kemanusiaan, kalian humanis.
Dirgahayu untuk 75 tahun Indonesia. Semoga hanya hal-hal baik yang tak akan binasa.
Read More

Tetap Sebut Kemenangan Di Masa Pandemi Covid-19

No comments:

by. Ira Risdiana Dewi 

“Selama banteng-banteng indonesia, masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka jangan mengharap bangsa Indonesia akan menyerah”

-Bung Tomo.

Berkiprah terhadap sejarah tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia, termasuk dalam kehidupan kita. Sejarah dapat berupa apa saja, pengalaman atau peristiwa yang sedang terjadi pada masa lampau pun merupakan bentuk sejarah. Dan salah satu peristiwa penting yang perlu diketahui adalah sejarah kemerdekaan Indonesia. Indonesia memiliki banyak sekali sejarah penting yang terlahir dari pahlawan-pahlawan besar yang telah memerdekakan bangsa Indonesia itu sendiri. Pada tanggal 17 Agustus 1945 menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia dengan dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan oleh sang proklamator Ir. Soekarno.

Pada masa sebelum Indonesia merdeka, para proklamator beserta rakyat Indonesia telah melalui fase yang sangat panjang untuk memerdekaan bangsa Indoneisa. Tepat pada tanggal 18 Agustus 1945, akhirnya PPKI mengambil keputusan untuk mengesahkan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dengan begitu, Indonesia telah resmi ditetapkan sebagai negara merdeka serta kedaulatan berada ditangan rakyat. Dari peristiwa tersebut, tentu kita sebagai bangsa Indonesia paham dan turut merasakan betapa beratnya perjuangan yang telah  ditempuh para pejuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Hingga tanpa disadari kita telah memasuki bulan agustus yang bertepatan pada hari lahirnya kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 2020 yang ke-75 ini. Setiap tahun warga negara Indonesia selalu antusias memperingati tradisi dan momentum tersebut, entah dengan menggelar upacara bendera, membuat berbagai macam lomba, maupun dengan mengadakan do’a bersama di daerah atau wilayah  masing-masing. Akan tetapi, ada yang membedakan tahun ini dengan tahun sebelumnya. Apakah itu? Perbedaan adalah peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang tidak seramai dahulu.

Peringatan hari kemerdekaan Indonesia tahun 2020 ini justru hanya digelar di beberapa tempat saja, bahkan dengan mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dan tentunya menjaga jarak dengan orang lain. Selaku Menteri Sekretaris Negara, beliau mengeluarkan kebijakan untuk membatasi jumlah peserta upacara secara terbatas dan menghimbau masyarakat agar tetap berpartisipasi di lingkungan masing-masing. Pembatasan tersebut tidak lain bertujuan untuk meminimalisir penularan covid-19 yang masih dikhawatirkan akan terus terjadi penularan. 

Beri aku 1000 orang tua niscaya akan ku cabut gunung semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia

- Ir.Soekarno.

Ungkapan Ir.Soekarno diatas, sudah menjadi kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia (terutama generasi muda penerus bangsa) untuk menanamkan karakter yang kuat dalam diri, dedikasi yang tinggi serta semangat nasionalisme yang membara, juga memperkokoh jiwa persatuan dan kesatuan bangsa. Harapan saya selaku pemuda Indonesia, adalah ikut serta menegakkan kesadaran serta mencintai keberagaman antar sesama, tidak mengikutsertkan perbudakan kerangka egosentris yang dimiliki. __Sekian__

Read More

Refleksi 75 Tahun Ibu Pertiwi

No comments:

by. Ziada Hilmi Hanifah

Di tengah bulan Ramadhan lalu, saya sempat melintas di sebuah gang kecil di daerah Bandar , Mojoroto, Kediri. Tersebab kala itu adalah pertama kalinya bagi saya memasuki area gang tersebut, maka saya belum mengetahui sesuatu pun yang ada di sana.

Ketika saya baru akan memasuki mulut gang, saya sudah disambut oleh sebuah mural ‘twin color’ hitam-putih yang vulgar terpampang di muka dinding gang tersebut. Nah, yang membuat saya bersedia untuk terus mengingatnya hingga sekarang adalah satu kalimat yang dicantumkan oleh sang pelukisnya di permukaan dinding tersebut. Kalimat itu adalah, “Merdeka Jiwa Dan Raga”.

Saya merasa tergelitik oleh kalimat itu. Sebuah kalimat pendek yang disampingnya terdapat lukisan siluet seorang pria yang mengangkat tinju kanannya keatas. Kalimat ini berhasil mencuatkan tanya bagi saya, ‘Sudahkah kita merdeka?’

Konteks merdeka yang tak hanya secara fisik, tapi juga secara jiwa. Jika selama ini fisik tanah air diasumsikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kebebasan dari perang, warga sipil atau rakyat, dsb. Maka jiwa tanah air adalah segala hal yang berkaitan dengan pendidikan, mindset, pendidikan, pola hidup, mentalitas masyarakat.

Serta berbagai ideologi yang berkaitan dengan landasan kenegaraan. Maka, jika kita kembali pada pertanyaan awal tadi, kita akan sedikit merenung bahwa kemerdekaan jiwa belum seutuhnya kita proklamasikan.

Jika pada 17 Agustus 75 tahun silam Ir. Soekarno berorasi tentang proklamasi kemerdekaan, maka itu adalah bentuk implementasi kemerdekaan secara fisik. Namun jika ranah pembahasan kita alihkan menjadi seputar pendidikan, mental warga negara, kepemudaan, pola hidup, dan pancasila maka akan begitu banyak PR yang perlu kita rampungkan sebagai kemerdekaan jiwa Indonesia.

Sebagai contoh kecil adalah seperti banyaknya orang yang belajar dan dididik tetapi belum mampu menunjukkan sikap seorang yang terpelajar dan terdidik dengan rendahnya moralitas mereka. Seolah-olah menciptakan kesenjangan antara keilmuan yang tinggi dengan etika yang degradasi.

Atau ideologi pancasila kita, sebagai suatu landasan yang sifatnya sudah absolut, belum banyak yang sudah mengaplikasikannya dalam kehidupan sebagai warga negara. Seperti dengan terjadinya kasus-kasus yang menginduk pada pola rasisme antar etnis. Kemudian dengan adanya perlakuan diskriminatif dari kelompok yang mayoritas terhadap yang minoritas.

Atau yang lebih dominan terjadi akhir-akhir ini adalah adanya superioritas terhadap yang inferior, seperti dalam sebuah tajuk yang menyebut bahwa hukum di Indonesia yang ‘baru’ adalah tajam ke bawah, tumpul keatas.

Yang demikianlah yang justru bertentangan dengan nilai toleransi dan keadilan yang tersemat pada sila ke-3 dan ke-5, serta Bhineka Tunggal Ika. Atau sifat-sifat korup yang tak sesuai dengan sila ke-2. Atau para wakil rakyat yang tiba-tiba melupa dari mana asal mereka setelah duduk di bangku dewan dengan bayaran yang jauh melampaui kata kurang, sehingga seolah-olah mereka sudah melucuti sila yang ke-4.

Namun jika kita mampu sadar lebih jauh lagi, maka tak hanya PR yang akan kita temukan, tapi juga potensi-potensi besar anak bangsa yang memerlukan apresiasi lebih yang nantinya berpeluang menjadi solusi prestisius atas ‘tugas-tugas’ tadi.

Mulai dari para game developer yang mulai menjamur, atau banyaknya usaha start-up di ranah industri kreatif, dan banyak prestasi-prestasi lainnya yang berpeluang besar membangun kembali dan menjadi manifestasi dari proklamasi kemerdekaan Indonesia secara jiwa.

Hingga akhirnya, kita perlu sadar juga bahwa kitalah para aktor yang akan menjadi motor utama penentu nasib kemerdekaan ibu pertiwi kita dan mempertahankan esensinya hingga umur yang entah kapan. Subjektivitas dan mentalitas positif kita dibutuhkan untuk mewujudkan Ibu Pertiwi yang gemah ripah loh jinawi.

Dirgahayu Indonesia!

Read More

Kisah Ibrahim, Hajar dan Ismail: Tentang Cinta, Keikhlasan dan Pengorbanan

2 comments:

by. Ziada Hilmi Hanifah

Bermula dari kisah Ibrahim alaihissalam meninggalkan Hajar dan Ismail alaihissalam ditengah lautan padang pasir Makkah yang panas. Angin yang begitu kencang menerpa, terik panas matahari dan debu-debu berterbangan seolah menjadi bumbu perjalanan mereka yang menyejarah.

Semua kepedihan tak mampu lagi dirasa. Karena bagi mereka, cukuplah Allah yang akan menemani dan melindungi setiap langkah kaki, mencukupi udara yang mereka hirup, dan menjaga detak jantung mereka. 

Rasa cemas dan sedih dalam hati Hajar kian menyeruak ketika Ibrahim akan meninggalkan mereka di Makkah sendirian, untuk kembali ke Palestina. Kembali kepada Sarah dan Ishak alayhissalam di Palestina. Dipegangnya erat-erat baju Ibrahim, agar tak meninggalkannya. Ibrahim, dengan kelembutan hatinya, kefasihan lidahnya dan kuat azzamnya, mengatakan kepada Hajar yang ia cintai

Bertawakallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah aku membawa kamu ke sini dan dialah yang akan melindungi kamu dan menyertai kamu di tempat yang sunyi ini. Sungguh kalau bukan perintah dan wahyu-Nya, tidak sekalipun aku tega meninggalkan kamu di sini seorang diri bersama puteraku yang sangat aku cintai ini. Percayalah wahai hajar bahwa Allah yang Maha kuasa tidak akan menelantarkan kamu.”

Seketika hati Hajar meleleh mendengar nasihat dan perkataan lelaki yang ia cintai. Ia melepaskan genggaman tangannya dari baju Ibrahim. Hajar paham, bahwa suatu saat semua manusia bisa saja meninggalkan dirinya seorang diri, tapi tidak dengan Allah.

Saat kesendirian, justru Hajar semakin meyakini bahwa Rahmat Allah sangatlah luas dan Allah selalu membersamai dan mencintai orang-orang yang mencintai-Nya. Lebih dari apapun.

Ibrahim melangkah pergi, meninggalkan jejak di kota Makkah. Jejak yang akan menyejarah dan menjadi pelajaran bagi umat muslim yang kelak ditinggalkan. Keberatan hatinya untuk meninggalkan Hajar, apalah guna, jika ada Allah yang senantiasa melindungi dan tak akan menelantarkan Hajar beserta anak tercintanya, Ismail alaihissalam. Dalam perjalanan pulang, Ibrahim tak henti berdoa kepada Allah, untuk kebaikan Hajar dan Ismail.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturuanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

Ibrahim telah pergi. Tangisan Ismail memecah kesunyian padang pasir, sementara Hajar kebingungan karena persediaan air sudah habis. Hajar rela berlari bolak-balik tujuh kali dari safa ke marwa.

Sungguh, Hajar sudah dalam keadaan kecewa dan pasrah, jika tanpa rahmat dan pertolongan dari-Nya. Kemudian, Hajar bertemu dengan malaikat Jibril. Hajar mengikuti langkah Jibril, hingga tiba disuatu tempat. Pijakan kaki Jibril yang kuat mengeluarkan air yang begitu jernih. “Zamzam…” berkumpullah, begitu ucap Jibril.

Air jernih keluar dan terus mengalir hingga mengundang kedatangan burung-burung, dan juga orang-orang suku juhtum. Hingga, mereka menetap di sekitar sumber air zamzam. Hajar kembali senang, karena Ismail tidak kehausan dan banyak orang-orang membersamainya di padang pasir yang begitu luas itu.

Setelah sekian lama Ibrahim meninggalkan Ismail, begitu hebat rasa rindu yang menyeruak dalam dada Ibrahim. Akhirnya Ibrahim kembali mengunjungi tempat dimana ia meninggalkan istri dan anaknya, yaitu Makkah. Ujian cinta dan keikhlasan yang menghampiri Ibrahim, tidak selesai pada kisah itu saja. Sampai pada puncak heroik, yaitu ketika Ibrahim bermimpi untuk menyembelih anaknya.

Bagaimana mungkin, anak yang begitu ia cintai, sekian lama ia nantikan kedatangannya, dan sekian lama ia tinggalkan ditempat yang asing, kemudian bertemu kembali, lalu disuruh untuk menyembelihnya? Tentu perasaan sedih dan bingung begitu menyeruak dalam hati seorang Ibrahim.

Dengan mantap Ismail berkata pada Ibrahim:

Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu agar ayah mengikatku kuat kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan Ayah, kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkan darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku ketika ibuku melihatnya, ketiga tajamkanlah pedangmu dan percepatlah pelaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaaan dan rasa pendihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya.

Begitu hebat ketaatan remaja Ismail kepada Allah subhanahuwata’ala. Seolah berpesan kepada kita bahwa sesulit, sepedih dan seberat apapun ujian yang diberikan Allah, tetap harus dilaksanakan. Karena tak ada lagi perintah yang dinomor satukan, selain perintah langsung dari Allah. Syahdan, Ibrahim segera melaksanakan perintah Allah tersebut.

Perlahan Ibrahim membaringkan tubuh kecil Ismail yang dicintainya. Diikatnya kedua tangan dan kaki Ismail. Diasah parang yang akan digunakan untuk menyembelih. Nanar tatapan Ibrahim kepada Ismail. Air mata menggenangi kelopak matanya.

Rasa cinta Ibrahim kepada Ismail hendak dikorbankan demi rasa cintanya kepada Allah. Ibrahim tak kuasa menahan perasaannya. Semakin ia tatap wajah Ismail, semakin ia tak mau untuk menyembelihnya. 

Kemudian Ismail berkata, “Ayah, telungkupkanlah badanku, agar wajahku tak terlihat, sehingga tak menambah kepedihanmu menyembelihku.” Ibrahim kemudian menelungkupkan tubuh Ismail. Dan kemudian Allah menurunkan firman-Nya, dan menggantikan Ismail dengan hewan sembelihan kurban.

Sungguh dari kisah keluarga Ibrahim alaihissalam lah, kita pertama kali diajarkan tentang cinta, keihlasan dan pengorbanan yang sebenarnya. Cinta Ibrahim yang diuji dengan perjalanan jauh, berpisah dengan istri dan anaknya yang ia cintai.

Keikhlasan Hajar yang ditinggalkan Ibrahim di tempat asing. Serta pengorbanan yang luar biasa Ismail yang taat dan patuh kepada perintah Allah dan sang ayah untuk disembelih. Dari mereka, kita belajar makna ketaatan luar biasa seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Menjadikan rasa cinta kepada Allah melebih rasa cinta kepada apapun dan siapapun. Keikhlasan yang menemani perjalanan Hajar dalam menjemput rahmat dan keridhoan Allah. Dan pengorbanan yang luar biasa telah ditunjukkan oleh Ibrahim dan Ismail. Pengorbanan terhadap orang yang ia cintai, agar cintanya tak melebihi perintah sang Illahi. 

Dari kisah mereka kita belajar, bahwa cinta, keikhlasan dan pengorbanan yang sejati adalah hanya untuk ketaatan kepada Allah subhanahuwata’ala. Dan saat ini kita akan diuji dalam hal cinta, keikhlasan dan pengorbanan dengan melaksanakan ibadah Kurban. Selamat berkurban, selamat Idul Adha 1441 H. Semoga ibadah kurban kita hanya kita persembahkan kepada Allah subhanahuwata’ala.

Read More

Makhluk Bumi, Berhati Langit

No comments:

“Siapkan ruang kekecewaan dalam diri” begitu katanya, “karena, pahamilah, kita hidup di dunia sebagai manusia, pun berhadapan dengan manusia juga. Maka ingatlah satu kepastian ini; masing-masing dari manusia memiliki potensi kesalahan yang sama”

Seringkali kita tidak sadar, entah karena enggan sadar atau terbuai dengan fantasi dari apa yang kita lihat di media sosial atau sekadar bacaan, bahwa segalanya akan baik-baik saja dan pasti berakhir indah.

Memang, kita diminta untuk mengakhiri perjalanan hidup di dunia dengan akhir yang paling indah, ya atau diminta untuk terlihat baik-baik saja. Namun, jangan menggunakan alasan itu untuk menutupi bahwa ada yang sakit tapi tak berdarah, ada yang bengkak tapi tak terlihat, ada yang bernanah tapi tak tercium busuknya, ya hati kita.

Berapa banyak yang berbicara soal hati, tapi hanya didasari soal kepuasan tentang mencintai seseorang. Jika mencintai namun tak memiliki, dibilang tak perlulah harus memiliki untuk mencintai kalau memang begitu takdirnya.

Maka hadirlah manusia yang akal pikirannya dipenuhi halusinasi, dan jika mencintai lalu memiliki akan menjadi perbincangan paling hangat dua puluh empat jam, di kamar-kamar offline dan online kita hari ini.

Lalu bagaimana dengan kekecewaan? adakah ia pernah hangat untuk kita bahas bersama secangkir teh hangat dan udara segar di pagi hari? atau ia memang harus dipendam di tengah gulitanya malam, hingga waktunya tiba, ia membesar dan berujung tuduhan karena sakit yang terlalu ditahan.

Sadarilah, kita makhluk bumi. Diberi nama manusia. Dan kita tidak sendiri. Ada beratus, berjuta, bahkan bermiliar di dunia ini yang juga disebut manusia. Maka, jangan pernah merasa seakan, kitalah manusia paling sakit, lalu melimpahkan rasa sakit itu dengan menunjuk manusia lain sebagai penyebabnya, bisa jadi kitalah juga sumber rasa sakit itu.

Maka, wahai makhluk bumi yang disebut manusia. Hiduplah sebagai makhluk bumi yang berhati langit.

Saat bumi memang hakikatnya sebagai tempat yang dipijak, kadang ditindas, kadang dihinakan, kadang tidak dihargai, kadang dirusak begitu mudahnya, maka jadikan hati kita sebagai langit.

Luas, merdeka, bebas, dengan sabar tak bertepi, dengan maaf tak berujung, dengan harap yang meninggi naik ke atas. Kita serahkan urusan dengan makhluk bumi yang bernama manusia, kepada pemiliknya langsung, cukup buat kita, hidup menunduk patuh, dan mengharap pasrah.

Read More

Benarkah Agama Sebagai Solusi?

1 comment:
Dalam sejarah Islam, kita mengambil banyak hikmah. Tak hanya sekadar menikmati kehebatan masa lalu, tapi juga untuk belajar dari musibah di zaman dulu agar tak terulang lagi di zaman kita.

Apalagi dalam bab bencana, ternyata Ulama kita banyak menulis buku-buku tentang treatment menghadapi bencana.

Dr. Ali Muhammad Audah menghimpun 24 kitab sepanjang zaman yang mengisahkan bagaimana Umat mengalami bencana —dalam hal ini wabah penyakit— dan bagaimana pemerintah mereka melakukan penanggulangannya.

Salah satu pelajaran penting yang perlu kita garis bawahi adalah kisah yang ditulis Imam Ibnu Hajar Al Asqalani.
Apa itu?

Dalam kitabnya, 'Badl Al Maun fi Fadhli At Tha'un', Imam Ibnu Hajar mengisahkan bahwa tahun 749 Hijriah atau sekitar tahun 1348 Masehi, terjadi wabah penyakit menyerang Kota Damaskus. Banyak Ulama memberi arahan agar manusia tidak berkumpul dan agar menjauhi keramaian.

Namun apa yang terjadi?

Orang-orang malah tak mendengarkan, "kemudian manusia keluar menuju lapangan luas, disertai para sesepuh. Mereka berdoa dan meminta pertolongan Allah secara beramai-ramai. Tapi wabah itu malah makin besar, padahal sebelum mereka berkumpul, korbannya hanya sedikit." 

Imam Ibnu Hajar pun mengisahkan apa yang terjadi di eranya, "pernah juga terjadi di zaman kita ketika sebuah wabah menjangkiti Kairo. Pada tanggal 27 Rabiul Akhir tahun 833 Hijriah (tahun 1430 Masehi).

Awalnya korban meninggal kurang dari 40 orang. Namun kemudian orang-orang keluar ke tanah lapang pada 4 Jumadil Ula setelah sebelumnya melakukan puasa 3 hari sebagaimana yang mereka lakukan ketika akan Shalat Istisqa. Mereka berkumpul untuk berdoa kemudian pulang ke rumah masing-masing.

"Imam Ibnu Hajar melanjutkan, "tak sampai sebulan setelah mereka berkumpul, jumlah korban malah meningkat menjadi 1000 orang perhari dan terus bertambah." 

Beberapa orang waktu itu asal memberi fatwa bahwa berkumpul untuk berdoa itu perlu karena beranggapan “umumnya begitu”, dan ada juga yang menerangkan legenda mitos bahwa dulu di zaman seorang raja bernama Al Muayyad hal itu terjadi dan wabah bisa hilang.

“Jama’ah dari Ulama kala itu memberi fatwa bahwa tidak berkumpul adalah hal yang utama untuk menghindari fitnah penyakit.”

Sahabat, di saat-saat genting seperti ini, sangat penting kita ikut arahan ulama dan ahli medis. Jika hanya bermodal semangat tanpa ilmu, maka akan lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki.

Kita hanya takut pada Allah, tak takut pada korona. Betul. Sangat betul. Namun justru karena takut pada Allah maka laksanakanlah sunnatullah yang perlu diikhtiarkan.

Dr. Majdi Al Hilali menulis dalam Kitabnya “Innahu al Qur’an Sirru Nahdhatina”, bahwa sebuah umat yang menyepelekan ikhtiar manusiawi artinya sudah mengkhianati Allah.

Sebab Allah memberikan pada manusia hukum sebab-akibat, dan yang tak peduli dengan itu tandanya tidak mensyukuri nikmat Allah.

Ikhtiar manusiawi itu bisa dalam bentuk physical distancing, di rumah aja. Dengarkan fatwa Ulama tentang menghindari keramaian, termasuk himbauan untuk sementara waktu tidak shalat Jum'at dulu di masjid. 

Keputusan itu semuanya dengan dalil dan dengan musyawarah yang panjang. Bukan dengan ego dan kepentingan pribadi.

Sebab nyawa seorang manusia itu mahal harganya. Umar bin Khattab imannya tinggi, tapi ketika diberi pilihan suatu hari untuk datang ke daerah wabah atau kembali ke Madinah, Umar memilih untuk pulang ke Madinah. Kalimatnya terkenal,

“kita pergi dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain.”

Maka ambillah pelajaran dari sejarah ini. Agar kita mawas dan tak jatuh dua kali. Agar kelak ketika wabah selesai, masjid kembali ramai dengan kamu. Agar kajian bisa kembali penuh dengan kamu. Semuanya bermula dari jaga dirimu dan ikuti arahan orang-orang berilmu.
Read More

KESADARAN DIRI UNTUK PENERIMAAN DIRI

No comments:

Sudah tidak jarang lagi kita sebagai umat manusia masih enggan menerima seseorang manusia lainnya sebagai kerabat dikarenakan keburukannya atau perbedaan entah apa itu. Bukankah begitu? Ini hanyalah pandangan manusia pada umumnya saja tentang penerimaan diri sebagai manusia seutuhnya dan sebagai mahluk sosial. Tentu, dalam ruang lingkup masyarakat pada umumnya masih menjadi persoalan hati masing-masing, mari kita coba cermati diri sendiri dulu.

Pertanyaan mendasarnya tentang problematika ini adalah, “Apakah ada manusia yang sempurna di dunia yang sering kita sebut fana ini?” Bukankah dunia hanyalah ombang-ambing gelombang perasaan dan sikap yang tidak menentu bagi manusia. Lagi dan lagi ini persoalan pilihan manusia mengenai harapan dan jalan mana yang akan mereka pilih.

Di dunia ini tidak ada manusia yang benar-benar bersih dari dosa, setiap manusia pernah melakukan perbuatan dosa, baik dosa kecil maupun besar. Akan tetapi setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Menyesali apa saja yang telah diperbuat dan meminta ampunan kepada Allah SWT yang sangatlah luas kemurahan hatinya. Merupakan cara terbaik untuk mengakui diri beserta kelemahan diri secara mendalam, sehingga kesombongan dan keangkuhan diri tidak akan menguasai lelaku manusia.

Dengan begitu cobalah lihat perbedaan antara manusia satu dengan manusia lainnya, masih adakah yang berbeda? Jika masih ada cobalah lihat diri sendiri sekali lagi ketika di hadapan Allah SWT. yang pada dasarnya kita semua diciptakan dalam keadaan telanjang, tanpa busana harta, tahta, suku, bangsa, dan budaya. Semua bersih tanpa ada satu pun yang melekat pada diri manusia. Dari sini, semua mahluk ciptaan Allah SWT pada dasarnya adalah mulia.

Sering kali kita mendengar, berbagai versi atas persepsi seseorang yang hanya terpaut pada sisi penilaian luar (sebut saja: cover). Sesuatu yang terlihat itulah yang kemudian tersimpulkan dari kepribadiannya. Kemampuan indera sangatlah terbatas, dan tidak jarang kita terkecoh dengan sudut pandang negatif, yang membawa kita kepada suatu perkara mawas diri, yaitu kurangnya kesadaran diri.

Dalam hal ini akan melahirkan sebuah kebencian, fitnah dan perpecahan antar manusia. Justru dengan cara menjustifikasi sebuah permasalahan orang lain yang bukan menjadi hak kita juga bukan perkara yang baik. Apalagi sampai merasa diri yang paling benar, diri yang paling hebat sehingga menjadikan diri terjebak dalam kesombongan dan keangkuhan yang kian menggerogoti hati.

Manusia merupakan makhluk dinamis tidak statis. Terlihat sholeh dan alim tidak selamanya demikian, sebaliknya yang terlihat buruk, urakan, dan nampak hina itu pula tidak selamanya demikian. Berdasarkan kehendak masing-masing atas ridho-Nya dalam prosesnya menapaki kehidupan, manusia bisa saja berubah dan menjadi mahluk yang mungkin kita sendiri tidak pernah menduganya. Kejadian seperti ini sudah banyak terjadi di lingkungan sekitar kita.

Allah Swt dengan firman-Nya didalam Al-Qur’an surat Az-Zumar Ayat 53 yang artinya: "Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”.

Mengaca pada salah satu tokoh sufi, "Jalaluddin Rumi" Beliau mengisyaratkan bahwa berprasangkan baik kepada Allah SWT adalah modal utama untuk datang dan mendekat kepada-Nya. Mengapa demikian? Sebab Allah SWT menciptakan manusia dengan cinta dan bagaimana jika manusia berprasangka baik kepada-Nya, juga sekaligus memahami bahwa setiap peristiwa itu dipenuhi sejuta hikmah, maka derita hidup tiada rasa.

Oleh karena itulah, siapa saja yang belum mampu berlari untuk memenuhi upaya menemui ampunan-Nya, maka dengan cara merangkak untuk melakukan sebuah pertaubatan. Allah tidak melihat bagaimana umat-Nya berlari cepat sampai terbirit-birit melainkan Allah melihat bagaimana ia membangun komitmennya untuk memenuhi panggilan-Nya dan kembali kepada-Nya.

Mengambil hikmah dari peristiwa perbuatan dosa dan bermaksiat kepada-Nya adalah perihal yang pasti pernah dilakukan oleh setiap manusia. Dan sebaik-baik manusia adalah mereka yang mau mentas dan bertaubat, terus-menerus berharap ampunan-Nya. 
loading...
Read More

HISTORY INSIGHT; MENGHADAPI BENCANA TANPA ILMU, BERUJUNG BERTAMBAHNYA PETAKA

No comments:




Dalam sejarah Islam, kita mengambil banyak hikmah. Tak hanya sekadar menikmati kehebatan masa lalu, tapi juga untuk belajar dari musibah di zaman dulu agar tak terulang lagi di zaman kita. Apalagi dalam bab bencana, ternyata Ulama kita banyak menulis buku-buku tentang treatment menghadapi bencana.

Dr. Ali Muhammad Audah, menghimpun 24 kitab sepanjang zaman yang mengisahkan bagaimana Umat mengalami bencana —dalam hal ini wabah penyakit— dan bagaimana pemerintah mereka melakukan penanggulangannya. Salah satu pelajaran penting yang perlu kita garis bawahi adalah kisah yang ditulis Imam Ibnu Hajar Al Asqalani.

Dalam kitabnya, 'Badl Al Maun fi Fadhli At Tha'un', Imam Ibnu Hajar mengisahkan bahwa tahun 749 Hijriah atau sekitar tahun 1348 Masehi, terjadi wabah penyakit menyerang Kota Damaskus. Banyak Ulama memberi arahan agar manusia tidak berkumpul dan agar menjauhi keramaian.

Namun apa yang terjadi? Orang-orang malah tak mendengarkan, "kemudian manusia keluar menuju lapangan luas, disertai para sesepuh. Mereka berdoa dan meminta pertolongan Allah secara beramai-ramai. Tapi wabah itu malah makin besar, padahal sebelum mereka berkumpul, korbannya hanya sedikit." (hal. 329)

Imam Ibnu Hajar pun mengisahkan apa yang terjadi di eranya, pernah juga terjadi di zaman kita ketika sebuah wabah menjangkiti Kairo. Pada tanggal 27 Rabiul Akhir tahun 833 Hijriah (tahun 1430 Masehi).

"Awalnya korban meninggal kurang dari 40 orang. Namun kemudian orang-orang keluar ke tanah lapang pada 4 Jumadil Ula setelah sebelumnya melakukan puasa 3 hari sebagaimana yang mereka lakukan ketika akan Shalat Istisqa. Mereka berkumpul untuk berdoa kemudian pulang ke rumah masing-masing."

Imam Ibnu Hajar melanjutkan, "tak sampai sebulan setelah mereka berkumpul, jumlah korban malah meningkat menjadi 1000 orang perhari dan terus bertambah." (hal. 329)

Beberapa orang waktu itu asal memberi fatwa bahwa berkumpul untuk berdoa itu perlu karena beranggapan “umumnya begitu”, dan ada juga yang menerangkan legenda mitos bahwa dulu di zaman seorang raja bernama Al Muayyad hal itu terjadi dan wabah bisa hilang.

Jama’ah dari Ulama kala itu memberi fatwa bahwa tidak berkumpul adalah hal yang utama untuk menghindari fitnah penyakit.

Sahabat, di saat-saat genting seperti ini, sangat penting kita ikut arahan ulama dan ahli medis. Jika hanya bermodal semangat tanpa ilmu, maka akan lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki. Kita hanya takut pada Allah, tak takut pada corona.

Betul. Sangat betul. Namun justru karena takut pada Allah maka laksanakanlah sunnatullah yang perlu diikhtiarkan.

Dr Majdi Al Hilali, menulis dalam Kitabnya “Innahu al Qur’an Sirru Nahdhatina”, bahwa sebuah umat yang menyepelekan ikhtiar manusiawi artinya sudah mengkhianati Allah. Sebab Allah memberikan pada manusia hukum sebab-akibat, dan yang tak peduli dengan itu tandanya tidak mensyukuri nikmat Allah.

Ikhtiar manusiawi itu bisa dalam bentuk physical distancing, di rumah aja. Dengarkan fatwa Ulama tentang menghindari keramaian, termasuk himbauan untuk sementara waktu tidak shalat Jum'at dulu di masjid. Keputusan itu semuanya dengan dalil dan dengan musyawarah yang panjang. Bukan dengan ego dan kepentingan pribadi. Sebab, "nyawa seorang manusia itu mahal harganya".

Umar bin Khattab imannya tinggi, tapi ketika diberi pilihan suatu hari untuk datang ke daerah wabah atau kembali ke Madinah, Umar memilih untuk pulang ke Madinah. Kalimatnya terkenal,kita pergi dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain.”

Maka ambillah pelajaran dari sejarah ini. Agar kita mawas dan tak jatuh dua kali. Agar kelak ketika wabah selesai, masjid kembali ramai dengan kamu. Agar kajian bisa kembali penuh dengan kamu. Semuanya bermula dari jaga dirimu dan ikuti arahan orang-orang berilmu.
loading...
Read More

MENYAYANGI DIRI: UPAYA MENYEHATKAN MENTAL

No comments:








Akhir-akhir ini, berbagai media acap kali menampilkan wacana tentang mental. Wacana yang diberitakan cukup membuat para netizen merinding sendiri. Lantaran banyak wacana mengenai masalah negatif tentang mental yang dialami oleh sejumlah orang. Misalnya saja kematian artis karena diduga depresi, korban meninggal karena sebelumnya di-bully, salah seorang warga yang gantung diri karena tertekan, dan lain sebagainya.

Mengenai hal tersebut, tidak menampik kemungkinan bahwa kita juga mengalami masalah mental. Hanya saja, kita mendapat masalah yang terkadang dapat kita tangani. Tetapi kita tetap perlu memperhatikan masalah mental kita dan mencoba untuk menguranginya dengan menyayangi diri sendiri.

Masalah seperti halnya di atas tidak hanya terjadi pada modern ini saja. Bahkan sebelumnya, sekitar abad 19, masalah mental juga marak diperbincangkan oleh masyarakat. Hal inilah yang menarik perhatian seorang intelektual kelahiran Freiburg untuk mempelajari masalah ini, Sigmund Freud.

Sigmund Freud adalah penggagas aliran psikoanalisis dalam bidang psikologi. Ia lahir dengan nama lengkap Sigismund Freud Schlomo pada 6 Mei 1856. Ia terinspirasi oleh pemikiran Darwin mengenai evolusi manusia. Hingga ia sendiri mampu mengungkapkan pemikirannya dan mengambil fokus pada mental atau kejiwaan. Bahkan, Freud dapat menjabarkan bahwa kejiwaan manusia terdiri dari id, ego, superego.

Id adalah naluri manusia yang menginginkan kenikmatan, kepuasan, dan kesenangan. Misalnya saja ketika manusia lapar. Mereka menginginkan berbagai macam makanan untuk memenuhi rasa laparnya. Mereka akan memikirkan makanan apa yang sekiranya enak dan mengenyangkan.

Ego adalah reaksi dari id. Ketika lapar, maka ego manusia akan melakukan tindak. Mereka bisa saja segera mencari makan atau mencari cara untuk menunda rasa lapar itu. Jadi, mereka bukan hanya mampu bertindak, tetapi berpikir logis untuk menangani masalahnya.

Superego adalah tindakan yang lebih ke arah menekan kenikmatan, kepuasan, dan kesenangan karena pengaruh norma atau aturan yang berlaku di masyarakat. Jika kamu lapar dan menginginkan makan daging, sedangkan keluargamu atau masyarakat sekitarmu merupakan kalangan vegetarian. Maka hal yang superego lakukan adalah menekan keinginanmu untuk tidak makan daging dan memilih makanan lain selain itu.

Mengenai ketiga hal ini, Freud mengungkapkan bahwa mental atau jiwa yang sehat berarti mampu merasakan kenikmatan, kepuasan, dan kesenangan pada dirinya dengan tindakan yang sesuai atau tidak melanggar norma di masyarakat. Hal ini tentu saja sulit dilakukan, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Hanya perlu merealisasikan hal tersebut dan tidak membuatnya menjadi idealis saja.

Serupa dengan pernyataan di atas, dilansir dari Tempo.co pada 11 Desember 2019 lalu, tertulis bahwa untuk menyehatkan mental perlu melakukan beberapa hal. Yang dimaksudkan adalah berdamai dengan diri atau menyayangi diri. Mengenai hal ini, penulis memberikan solusi, yaitu dengan belajar dari kesalahan, fokus pada emosi, berikan jeda pada diri, memberikan saran pada diri, ucapkan dan akui kesalahan, sadar pola pikir negatif, hentikan pola pikir negatif, dan mencari cara untuk memperbaiki kesalahan.

Oleh karena itu, mulailah menyehatkan mental dengan mencoba menyayangi diri sendiri dulu. Lakukan hal-hal positif yang mengurangi beban dengan melakukan sesuatu yang kalian sukai. Selain itu, buka pintu selebar-lebarnya untuk membiarkan sesuatu yang menyenangkan dan menyedihkan masuk. Sehingga kalian bisa menikmati keduanya dengan tidak terlalu ambil pusing untuk menekannya sebagai beban.
loading...
Read More

BINCANG TENTANG DISKRIMINASI

No comments:


"Manusia tidak setara secara biologis, namun jika mereka percaya kesetaraan maka akan tercipta pula kesejahteraan." (Harari, Sapiens)

Sejak dulu, gema-gema kesetaraan telah menggelegar. Perbincangan tentangnnya tidak akan pernah tuntas hanya sebatas materi. Bahkan Harari menyebut bahwa mereka yang percaya kesetaraan maka akan sejahtera. Namun, cukupkah hanya percaya? Cukupkah hanya satu pihak saja yang mempercayai kesetaraan?

Tentu saja semuanya tidak akan cukup dengan percaya. Apalagi hanya satu pihak yang menerapkan kesetaraan, sedangkan pihak yang lain tidak. Hal ini justru akan menimbulkan bias dan berakhir pada diskriminasi.

Pasalnya, pemikiran yang tidak sejalan saja akan menimbulkan konflik. Apalagi ini perihal kesetaraan yang mana baik laki-laki atau pun perempuan perlu untuk bertindak saling menghargai hak masing-masing. Namun di era yang katanya telah memiliki hukum tertulis ini masih saja terdapat diskriminasi.

Menurut Tjut Zakia Anshari, Founder Pena Ananda, mengungkapkan dalam diskusi di warung kopi lalu (12/03/2020), bahwa diskriminasi sama halnya dengan membedakan kelompok lain dan membuat kelompok yang dibedakan itu kehilangan haknya. Hal ini sering terjadi dalam masyarakat dan Tjut menyontohkannya dalam tulisan. Ia menyebut diksi "wanita" adalah suatu bentuk diskriminasi, yang mana memiliki akronim wani ditata.

Sedangkan menurut Zulfa, salah satu dosen di Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum (Fasih) IAIN Tulungagung bahwa perihal diskriminasi telah diatur secara hukum tertulis. Hal ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita. Singkat kata, diskriminasi adalah suatu bentuk pembatasan dan pembeda-bedaan terhadap hak seseorang.

Namun, tidak semua masyarakat tahu dan paham terkait aturan tersebut. Zulfa mengatakan bahwa yang dapat mengakses undang-undang (UU) itu hanya aktivis. Dan seharusnya aturan itu disebarluaskan dan dibumikan bahasanya. Karena memang definisi dalam UU itu tidak sederhana, serta berikan contoh penerapannya kepada masyarakat agar lebih mudah dimengerti.

Selain itu, masih banyak lagi faktor yang melanggengkan diskriminasi. Faktor ini antara lain, yaitu kultur patriarki yang bias gender, ketidaksadaran masyarakat, minimnya pengetahuan, tafsir agama yang konservatif, dan stigma. Tjut juga menyatakan bahwa ketakutan dari dalam diri korban diskriminasi juga menjadi faktornya.

Pertama, kultur patriarki yang bias gender tidak bisa dielakkan. Hal ini terlihat dalam keseharian masyarakat yang masih mengganggap bahwa laki-laki harus di publik, sedangkan perempuan cocok di domestik saja. Bayangkan, betapa terkukungnya laki-laki jika harus sibuk di luar saja. Pun perempuan yang ingin mengembangkan bakatnya di publik. Mereka yang terkukung dalam kultur patriarki sudah kehilangan hak akan kebebasannya dan ini sudah termasuk diskriminasi.

Kedua, ketidaksadaran masyarakat akan bias gender. Hal ini secara tidak langsung akan menciptakan diskriminasi juga. Masyarakat secara tidak sadar mengamini setiap aturan yang berlaku di lingkungannya. Mereka hanya mengikuti tanpa tahu bahwa tidak semua aturan itu baik, bisa saja ada bias gender didalamnya. Padahal, baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam lingkungan masyarakat.

Ketiga, minimnya pengetahuan tentang gender. Kalau masalah ini memang cukup sulit. Namun, sudah menjadi kewajiban bagi mereka yang telah melek gender untuk memberitahu mereka yang minim pengetahuan tentang gender. Beritahu secara perlahan dengan memberikan contoh yang dapat dimengerti oleh masyarakat.

Keempat, tafsir agama yang konservatif. Ini yang bisa dibilang berat. Karena tidak semua masyarakat paham tafsir. Mereka cenderung mengikuti apa yang telah diajarkan tokoh agama. Kecenderungan akan tafsir buta ini yang perlu diluruskan. Siapa tahu mereka malah termakan oleh tafsir yang bias gender. Sekali lagi, sudah menjadi kewajiban semua orang untuk saling memberitahu kebaikan.

Kelima, stigma masyarakat pada sesuatu yang berbeda. Misalnya saja di masyarakat laki-laki terbiasa untuk bekerja. Seandainya tugas ini diambil alih oleh perempuan, masyarakat akan secara spontan melontarkan stigma pada mereka. Stigma inilah yang menimbulkan diskriminasi dan perbuatan itu dianggap menyimpang.

Memang perjuangan melawan stigma sudah dilakukan sedemikian rupa, namun perlawanan untuk mempertahankan status quo, banyaknya tantangan dan kurangnya dukungan membuat banyak orang menyerah. Semua ini hanya karena stigma masyarakat. Hal inilah yang seharusnya lebih-lebih untuk diperhatikan.

Terakhir, ketakutan dari dalam diri korban diskriminasi. Hal ini juga dapat melanggengkan diskriminasi di masyarakat. Yang mana seharusnya korban itu mendapat perlindungan dari keluarga dan masyarakat. Namun, kenyataannya korban selalu mendapatkan cibiran dan perlakuan yang merendahkannya. Hal inilah yang menyebabkan korban menjadi takut untuk speak up dan pelaku diskriminasi tetap aman-aman saja. Semua masyarakat harusnya mampu untuk memberikan support kepada korban diskriminasi dan bantu dia untuk speak up. Untuk korban, perlu juga untuk menanamkan perspektif bahwa kamu itu baik.

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang mengakibatkan diskriminasi. Namun, bagian terpentingnya adalah mencegahnya bukan membiarkannya begitu saja. Mulai terapkan itu pada diri sendiri, ajarkan pada orang terdekat atau keluarga misal, dan terus lakukan keadilan gender pada siapa pun.

Read More