Latest Posts

Showing posts with label Rekam. Show all posts
Showing posts with label Rekam. Show all posts

TRADISI NGALAP BERKAH DI MAKAM GUNUNG KEMUKUS

1 comment:



Indonesia memiliki banyak obyek wisata yang menarik perhatian wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dengan berbagai wisata yang beraneka ragam, menjadikan negeri ini kaya dengan tradisi dan kebudayaan.

Salah satu objek wisata yang diminati oleh wisatawan ialah gunung Kemukus. Gunung ini terletak di desa Pendem, kecamatan Sumberlawang, kabupaten Sragen. 

Di komplek gunung ini, terdapat makam pangeran Samudera. Konon, makam ini dikeramatkan oleh penduduk sekitar, hingga menarik para wisatawan untuk berbondong-bondong datang berziarah. Bila ditelisik dari segi historis, ada banyak versi mengenai asal-usul pangeran Samudera.

Mitos pertama, pangeran Samudera merupakan salah satu anak dari Raja Majapahit yang berguru ke Demak, kemudian disuruh menyebarkan Islam di daerah Sumberlawang, sekitar daerah gunung Kemukus. Tidak lama berdakwah, ia meninggal karena sakit. 

Pangeran Samudra memerintahkan salah satu abdinya untuk mengabarkan kondisinya kepada Sultan di Demak. Seusai mendengar amanat Sultan, abdi tersebut diperintahkan untuk segera kembali. Dan ketika abdi tersebut kembali ke tempat di mana Pangeran beristirahat, pangeran Samudera telah meninggal.

Selanjutnya sesuai dengan petunjuk Sultan, jasad Pangeran Samudera dimakamkan di perbukitan di sebelah barat dukuh tersebut (baca: http://pariwisata.sragenkab.go.id).

Mitos kedua, Pangeran Samudera merupakan putra Raja Majapahit yang dikisahkan berselingkuh dengan ibu tirinya (Dewi Ontrowulan). Karena ketahuan, Raja mengusirnya dari istana. Di perjalanan, ia jatuh sakit, kemudian abdinya melaporkan kejadian tersebut kepada ayahnya.

Dengan hati yang masih terluka, ayahnya tidak mau menjenguknya, sehingga ia memerintahkan Dewi Ontrowulan untuk menjenguknya.

Sampai dipuncak gunung kemukus, pangeran sudah wafat. Melihat kejadian ini, sang Dewi tak kuasa membendung kesedihannya, kemudian jatuh sakit dan meninggal di tempat itu.

Menurut kabar yang beredar, makam pangeran Samudera satu liang lahat dengan Dewi Ontrowulan (baca: Moh. Soehada: 2013)

Masyarakat Jawa memiliki asumsi bila makam merupakan benda yang disakralkan. Mereka mempercayai, bila arwah orang shalih pada hakikatnya masih berada dalam makam. Ada hubungan kontak bathin antara arwah dan peziyarah. Sehingga, makam orang shalih digunakan sebagai wasilah untuk mendapatkan keberkahan.

Biasanya, peziarah berbondong-bondong ke makam gunung Kemukus pada hari selasa pon atau malam jum’at pon. Mereka meyakini mitos yang beredar, bila siapa saja yang mendatangi makam pangeran Samudera dalam keadaan niatan suci, kemantapan hati, dan konsentrasi, maka, pangeran Samudera akan mengabulkannya. Hal ini sesuai yang disampaikan oleh warga sekitar, 

Ada anggapan dari mitos masyarakat, arwah pangeran Samudera pernah mendatangi ulama’ setempat, yakni Haji Muhtadad dan Haji Mujahid, dan mengatakan bila siapa saja yang datang kepadaku (berziarah) dengan niatan bersih, layaknya seperti keinginannya kepada seorang kekasih, maka ia akan mengabulkan permintaannya." (Moh. Soehadha: 2013)

Berbagai ritual dilakukan oleh warga sekitar di area makam pangeran Samudera (komplek gunung Kemukus). Biasanya, mereka mengadakan upacara di hari-hari besar Islam, diantaranya pada bulan muharam (suronan).

Ritual yang digelar ialah larap slambu dan wayang kulit. Larap slambu merupakan ritual membersihkan kain pembungkus makam. Kain yang kotor akan diganti dengan yang baru. Ritual ini dengan maksud ta’dhiman wa kiraman kepada pangeran Samudera, karena jasa-jasanya telah menyebarkan Islam, khususnya di sekitar gunung Kemukus.

Selanjutnya, penutupan bulan muharam (suronan) diakahiri dengan pertunjukan wayang, bisanya dilaksanakan bertepatan dengan malam jum’at pon atau kliwon, yakni bertepatan dengan meninggalnya pangeran Samudera. 

Prosesi ritual yang dilakukan oleh peziarah di makam pangeran Samudera sebetulnya hampir sama dengan pemakaman para auliya (makam walisongo). Untuk memasuki area makam, peziarah cukup membayar 4.000 rupiah untuk hari biasa, dan 5.000 rupiah untuk hari khusus (kamis malam jum’at pon atau kliwon).

Biasanya, bila mengikuti protokol dari juru kunci sebelum masuk area makam, seyogyanya terlebih dahulu untuk mensucikan diri di sendang Ontrowulan dengan membawa bunga, kemenyan, dan botol (untuk tempat air minum).

Proses penyucian diri di sendang merupakan bentuk ucapan permisi atau penghormatan kepada nyai Ontrowulan. Menurut mitos yang beredar, sebelum menemui pangeran Samudera di puncak gunung Kemukus, nyai Ontrowulan pernah mandi di Sendang. 

“Sebelum menjenguk sang pengeran, nyai Ontrowulan menyempatkan diri untuk mandi di sendang. Kala itu, ia mengibas-ngibaskan rambutnya sampai bagian dari bunga yang menempel dalam rambut tersebut terjatuh. Sehingga, bunga yang terjatuh tumbuh menjadi pepohononan. Hingga saat ini, masyarakat menamai pohon itu dengan ‘nogosari’. Sedangkan, sendang itu dinamakan ‘sendang ontrowulan’." (Moh. Soehada: 2013)

Prosesi selanjutnya, peziarah ke puncak makam gunung Kemukus untuk berdo’a, sesuai dengan maksud dan tujuan. Biasanya, juru kunci menanyakan kepada peziarah untuk mengutarakan keinginannya dalam berziarah.

Sebagai wasilah dalam prosesi ngalap berkah, juru kunci membantu mendo’akan para peziarah sesuai dengan keinginannya. Setelah itu, peziarah bebas melantunkan aneka dzikir sesuai dengan thariqahnya masing-masing. 

Dalam prosesi ngalap berkah di gunung Kemukus, mereka menggunakan media trilogi simbol dalam rangka mengekspresikan wujud dan pengabdiannya terhadap Allah Swt.

Dalam tradisi Jawa, simbol memiliki makna yang mendalam sebagai bentuk pengejawentahan pengejawentahan penghayatan yang mendalam dalam memahami suatu realitas yang tak terjangkau, sehingga bisa dijangkau.

Dengan kata lain, simbol digunakan untuk mengekspresikan hubungan kedekatan antara manusia dan Allah SWT, bila keduanya tidak bisa terpisahkan antara satu sama lain. 

Simbol dalam tradisi Jawa berasal dari fikiran manusia dan proses interaksi sosial yang digunakan untuk menafsirkan dan memediasi masyarakat dimana kita hidup.

Simbol sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, sehingga antara masyarakat dan simbol tidak bisa dipisahkan. Sebab, simbol dapat membentuk konstruksi realitas sosial masyarakat bagi siapa saja yang terlibat didalamnya.

Simbol dalam tradisi Jawa sebagai pembentukan identitas, pelestarian tradisi dan budaya lokal, lambang warisan leluhur, dan penyemangat kegiatan sosial. 

Interpretasi trilogi simbol makna bunga, kemenyan, dan air sendang dalam tradisi ritual ngalap berkah diantaranya, pertama, bunga mengandung unsur budi pekerti, kasih sayang, kewibawaan, karismatik, kejernihan hati, ketulusan, dan keharmonisan.

Bila unsur-unsur demikian ditanamkan, proses menjalankan kehidupan senantiasa akan lurus, senyampang manusia menjalankan protokol kehidupan sesuai ajaran baginda Nabi Saw.

Kedua, kemenyan memiliki simbol aura pelaku. Tujuannya, untuk meningkatkan rasa percaya diri. Dalam kehidupan, kunci dari kesuksesan ialah menanamkan rasa percaya diri.

Ketiga, air sendang memiliki simbol kebersihan atau kesucian. Proses mendekatkan diri kepada Allah membutuhkan jiwa yang bersih. Bila hati kita bersih, dalam menjalankan hidup akan senantiasa dimudahkan oleh-Nya. 

Ritual ngalap berkah di gunung Kemukus memang multitafsir. Sebagian peziarah menafsirkan ritual ini sebagai jalan pintas untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Setiap manusia memiliki perbedaan kapasitas jarak dan kedekatannya dengan Allah.  Maka dari itu salah satu cara yang efektif dalam mendekatkan diri dengan-Nya, yakni dengan wasilah orang yang shalih.

Di Jawa, masyarakat mempercayai bila para auliya' sebagai penyembung hubungannya dengan Allah. Sayangnya, sebagian masyarakat menyalahgunakan ritual ini untuk kebutuhan hedonis dan materialis. 

Dewasa ini, situs ziarah ngalap berkah di makam pangeran Samudera semakin banyak dan beraneka ragam. Mayoritas orang, situs ini dijadikan sebagai usaha komersial dan praktik mencari pendapatan dengan membonceng para peziarah lokal.

Semakin banyak pengunjung, maka omzet yang didapat akan semakin besar. Omzet dari peziarah memberikan nafkah kepada lajnah mudabir makam, masyarakat sekitar, pembangunan makam, dan mengisi kas APBD daerah sekitar. 

Prosesi ngalap berkah di pemakaman merupakan tradisi yang berakar panjang dari pra-Islam sampai pasca-Islam. Dalam konteks ini, fenomena ziarah ngalap berkah di makam pangeran Samudera tidak hanya memiliki satu wajah, bahkan memiliki banyak wajah. 

Ada yang menganggap tradisi ini erat menjadi satu antara kesalehan, penonjolan identitas ke-Islaman, atau ada yang menjadikan sebagai dimensi komersial yang seringkali membonceng dalam tradisi ziarah.
Read More

CEGAH CORONA, WARGA BLITAR MENGADAKAN TRADISI BARITAN

No comments:


Tradisi merupakan bagian dari warisan nenek moyang yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat. Mereka menggunakan tradisi sebagai kegiatan penting dan terus-menerus, sehingga menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.

Hal ini tidak jauh dari segi historis, Islam datang ke Jawa tidak disebarkan secara puritan, melainkan memadukan antara Islam dan Budaya tanpa menghilangkan kecacatan Islam sendiri. Sehingga Islam secara step by step mulai berbaur dan melebur kepelosok wilayah Jawa. 

Setiap wilayah memiliki cara hidup dan kebudayaan yang berbeda dengan yang lain, tak terkecuali di Jawa. Hal ini tidak menjadikan perpecahan antar kedua belah pihak, justru memperlihatkan keanekaragaman kekayaan tradisi dan budaya. Adat yang diterapkan oleh masyarakat Jawa bukan semata-mata untuk menonjolkan warisan, melainkan untuk menciptakan kehidupan yang sosialis, humanis, dan harmonis. 

Tradisi merupakan perwujudan keselarasan hubungan antar manusia dengan sesamanya, alam semesta dengan alam seisinya, serta manusia dengan Sang Khalik. Tradisi dalam masyarakat Jawa merupakan bentuk keyakinan dan kepasrahan, bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan setingan dari-Nya.

Bentuk perwujudan permohonan manusia kepada-Nya, mereka menggunakan simbol dalam bingkai rantai sesaji, yang terdiri dari sajian bunga, dan bermacam-macam aneka olahan makanan, dengan kandungan makna dan tujuan tertentu. 

Tradisi yang secara turun-temurun masih eksis diterapkan oleh masyarakat Jawa, khususnya Blitar ialah baritan. Adat ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terkait dengan alam.

Kegiatan ini tidak hanya digunakan untuk sedekah Bumi, tetapi juga digunakan ketika mendapatkan semacam musibah. Di Blitar, kegiatan baritan digunakan untuk mencegah wabah pandemi corona yang semakin hari menyerang banyak korban.

Warga desa Kemlaka, Nglegok, Kabupaten Blitar, melakukan kegiatan baritan di sekitar lingkungannya. Untuk mengadakan ritual ini, warga membawa ambeng dengan aneka masakan.

Dengan pakaian sopan, warga dengan khusuk mengikuti ritual yang dipimpin oleh tokoh agama sekitar. Mereka berharap, dengan wasilah ritual baritan, musim pagebluk yang menyerang warga Indonesia, khususnya Blitar bisa cepat lenyap. 

Kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan warga sekitar. Ritual baritan sama seperti slametan. Tradisi ini merupakan bentuk aktivitas sosial berwujud upacara yang dilakukan secara tradisional. Hal terpenting dalam ritual baritan adalah kepercayaan.

Menurut penuturan Pak Khanafi (62), selaku tokoh agama sekitar berpendapat bila maksud dan tujuan diadakannya kegiatan ini tidak lain untuk mencari keselamatan, ketentraman, dan menjaga lingkungan agar tetap lestari. Seperti pernyataan yang dituturkan, 

“Kenduri atau baritan tolak bala ini sebagai tradisi para pendahulu kita. Tujuannya, agar warga terhindar dari berbagai macam penyakit. Salah satunya harapan kita agar Corona segera diangkat dari muka bumi ini,” (dikutip dari news.detik.com/berita jawatimur)

Meskipun ritual ini dilakukan secara bersama, baik dari golongan muda, dewasa, hingga tua, mereka tetap menaati protokol pemerintah. Dengan tetap konsisten memakai masker dan menjaga jarak antar satu dengan yang lainnya. Walaupun sebagian besar tidak terkena wabah, paling tidak selain do’a juga diimbangi dengan ikhtiar, guna mengantisipasi menularnya wabah pandemi. 

Kegiatan baritan merupakan ritual ambeng yang disantab bersama, pasca prosesi ritual dengan penutup do’a. kegiatan ini, biasanya dilaksanakan pada malam hari yang secara mayoritas dilaksanakan oleh kaum adam, walaupun secara minoritas kaum hawa juga mengikuti ritual ini.

Mereka menikmati sajian di atas lembaran daun pisang yang ditata secara rapi dengan aneka makanan dari ambeng yang sudah dibagi-bagikan oleh panitia secara merata. Makanan yang telah dibagikan biasanya disebut dengan berkat.

"Dalam kamus al-Munawwir, berkat merupakan serapan dari bahasa Arab ke Indonesia, berasal dari kata barakah (nikmat)" (lihat: A.W.Munawwir:1984)

Hal ini mengisyaratkan, bila berkat merupakan nikmat dan karunia Allah yang diberikan oleh-Nya melalui hamba-NyA, kelak dalam kehidupan yang dijalaninya senantiasa diberi keselamatan di dunia dan akhirat. 

Menurut Khanafi, (62), kegiatan ritual ini merupakan tradisi yang sudah ada sejak turun-temurun. Dulu, kegiatan ini digunakan untuk mengusir mara bahaya yang menimpa masyarakat.

Namun, kegiatan ritual ini dilaksanakan pada momen era wabah pandemi corona. Ritual ini difungsikan untuk meminta pertolongan kepada Sang Pencipta untuk melenyapkan wabah ini. 

"…...Kegiatan baritan ini sudah menjadi tradisi turun temurun di desa ini. Kami sebagai warga yang tinggal di lereng Gunung Kelud mempercayai baritan dan doa bersama dapat mengusir virus Corona," (dikutip dari news.detik.com/beritajawatimur)

Tradisi baritan merupakan hasil sentuhan akulturasi yang dilakukan oleh walisongo. Agama diinterpretasikan dalam bentuk membumikan ajaran Islam melalui perwujudan tradisi dan budaya. Bila dilihat dari segi bahasa, ada yang mengatakan baritan berasal dari bahasa arab bar’ian, dari tasrifan bara’a-yubarri’u-bara’atan/bari’an, yang bermakna bebas. 

Makna bebas disini memiliki beberapa penafsiran. Diantaranya, kata bebas merupakan bentuk ikhtiar dan do’a manusia kepada Allah SWT, bila kegiatan baritan memiliki harapan supaya terbebas dari segala marabahaya, wabah penyakit, malapetaka. Hanya saja, karena lahjah (gaya bahasa) orang Jawa kurang begitu fasih, mayoritas orang Jawa lebih masyhur menggunakan kata baritan. 

Baritan atau bari’an merupakan tradisi Jawa yang dilakukan suatu penduduk desa sebagai bentuk upaya melakukan tolak balak (menghindarkan berbagai marabahaya), agar hidup mereka terhindar dari berbagai bencana yang merugikan seperti datangnya kekeringan, bencana alam (banjir, longsor), kelaparan, wabah penyakit baik yang menyangkut manusia, tanaman ataupun ternak mereka (Ensiklopedia Islam Nusantara: 2018).” 

Kegiatan yang dilakukan oleh Warga Blitar merupakan bentuk kearifan lokal yang patut kita lestarikan. Tradisi baritan merupakan produk budaya lokal, namun dalam perjalanan sejarah dakwah Islam di Nusantara, khususnya Jawa telah menjadikan budaya bagian dari ajaran keagamaan. Dari keterangan di atas, eksistensi baritan, Islam sama sekali tidak menolak budaya yang berkembang di masyarakat.

Selama tradisi ini tidak bertentangan dengan Islam, kegiatan ini perlu dijaga, dilestarikan, dikembangkan, dan dieksiskan. Adanya budaya, Islam semakin kelihatan rahmatal lil alamin, eksis dimanapun dan kapanpun. Sebaliknya, bila bertentangan dengan Islam, alangkah baiknya ditinggalkan dan tidak diamalkan.
Read More

TRADISI PRAKTIK ZIARAH KEBUDAYAAN DI INDONESIA


by. M.F. Hamka

Di Indonesia, sebagian besar masyarakat dari berbagai kalangan kelas maupun dari berbagai agama terutama muslim melakukan ziaran kubur dengan berbagai macam motivasi. Di antaranya, mereka aktif berziarah kubur ke makam orang tua, setiap hari tertentu untuk berkirim do’a, ada juga pada bulan-bulan tertentu secara rombongan berziarah ke makam para wali dan kiai dengan tujuan bertabarruk, dan lain sebagainya.

Bagi Masyarakat Indonesia, ziarah kubur merupakan perilaku umum masyarakat yang bisa kita saksikan, terutama saat mau memasuki bulan ramadhan, kita akan menemukan hampir di seluruh tempat pemakaman penuh sesak para peziarah kubur yang mengunjungi keluarga mereka yang telah wafat. Nyekar, begitu istilahnya pada budaya masyarakat Jawa. Ritus ini, bukan hanya budaya tetapi juga memiliki dimensi agama.

Di daerah tertentu ada budaya dimana setiap hari Jumat Kliwon, atau di sore hari Kamis sebelum Jumat Kliwon masyarakat menziarahi makam orang tuanya. Ini dilakukan sebagai tanda bakti seorang anak bagi orang tuanya. Meski mendo’akan orang tua bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja namun dengan menziarahi kuburnya di waktu tertentu diharapkan akan menjadikan si anak akan selalu ingat dan tidak dengan mudah melupakan akan jasa orang tua.

Dalam Pandangan Geertz, 
Meskipun kematian dipandang sebagai perpisahan, tetapi yang hidup masih bisa membangun hubungan yang harmonis dengan yang meninggal dengan senantiasa berdoa dan berziarah ke makamnya dengan menyiramkan air atau menabur bunga di makamnya. Hal ini dilakukan pada setiap hari ulang tahun kematiannya (haul), pada hari menjelang bulan ramadhan, atau jika ada keluarganya yang sakit, mau menikah, atau mimpi bertemu dengan mayit. (Geertz, 1989: 96-97). 

Selain Itu H.C. Loir menegaskan, 
kultus orang-orang suci bagi kaum muslimin merupakan kultus kuburan suci Muslim. Orang suci, berarti seorang individu yang karena kelahiran, bakat, melalui latihan rohani, diberkati dengan kekuatan supranatural. (2006: 249-250) 

Kekuatan-kekuatan ini di konsentrasikan keberadaannya dan sekarang terletak di kuburannya. Itulah sebabnya, kultus orang suci dilaksanakan di kuburannya. Orang tidak berdoa bagi orang suci di rumah, atau di tempat lain dimana ia dapat dihadirkan dengan satu jenis simbol. Orang harus mengadakan perjalanan ke kuburan, demi sungguh hadirnya orang suci itu.

Kebanyakan peziarah yang datang ke kuburan suci tersebut dari berbagai daerah dan berbagai negara. Semua orang menyatu di sana tanpa ada kebanggaan status sosial. Pejabat, rakyat, pelajar, ulama, ilmuwan, pengusaha, masyarakat awam, kaya, miskin, kulit hitam atau putih, bangsa Barat atau Timur, semuanya lebur dalam nuansa spiritualitas yang hadir di kompleks kuburan tersebut. 

Di kuburan-kuburan itu juga memiliki “juru kunci” yang mengurus kuburan tersebut dan menjadi fasilitator para peziarah. Mereka menjadi penyedia “air keramat”, doa yang berkat, hingga penyalur jimat. 

Bagi para peziarah seperti “Umat Islam“ mengkultuskan orang suci dan kuburan suci para wali, ulama, atau pemimpin, bukan saja sebagai adat dan budaya, tetapi anjuran agama karena manusia-manusia itu dipercaya, bukan hanya hidup di dunia ini, tetapi juga di alam gaib. Karena mereka hidup, maka mereka dapat menjadi perantara (wasilah) manusia untuk berkomunikasi dengan alam gaib (Tuhan). Melalui mereka doa dikabulkan, serta melalui mereka rahmat dan nikmat Tuhan dibagikan.

Tidak ada beda antara hidup dan matinya mereka. Sekalipun meninggal, mereka tetap bisa berkomunikasi dengan alam dunia dan menyaksikan perbuatan-perbuatan manusia. Karena itu, tempat mereka di kuburkan menjadi tempat yang diberkati, dan karenanya berziarah ke makamnya adalah salah satu tujuan utama.

Dalam Islam terdapat aturan yang mesti dilakukan terhadap orang-orang yang meninggal yakni memandikannya, mengafaninya, menyalatkannya, dan menguburkannya. 

Karena hal itu adalah kewajiban orang yang hidup kepada orang yang meninggal. Setelah itu, Islam menganjurkan kepada para penganutnya untuk mendoakan dan berziarah secara berkala kepada yang telah meninggal. Ini adalah komunikasi yang intensif antara yang hidup dan yang mati.

Hal itu sebagai pemicu agar manusia sadar bahwa dirinya juga akan mengalami kematian sehingga harus mempersiapkan diri menghadapinya. Mungkin bagi sebagian orang, keyakinan masyarakat ini menyimpang atau dipengaruhi oleh keyakinan primitif. Tidak jarang hal ini dianggap ekstrim, sesat bahkan dikafirkan oleh sekelompok orang lainnya karena dianggap berlebihan memuja tokoh mereka.

Bagi antropolog, konsep-konsep antropologi seperti sakral (kudus), pemujaan tempat, benda atau manusia suci (kultus), serta upacara suci (ritus), sangat kental terlihat dan hidup di tengah-tengah masyarakat kapan pun, di mana pun dan dalam agama apa pun.

Untuk itu, memperhatikan praktek dan aktivitas masyarakat dalam berziarah kubur secara keseluruhan di kompleks kuburan suci, tidak hanya memfokuskan pada ritus ziarah secara periodik yang dilakukan di sana, tetapi juga pada pengamatan aktivitas harian yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di sekitarnya. Begitu pula, kita tidak hanya mengamati ritus ziarahnya saja, tetapi akan mengamati fungsi kuburan tersebut bagi masyarakat yang tinggal di sana.

Dengan begitu, potensi kuburan sebagai pusat kebudayaan dan spiritualitas yang tidak hanya memberikan aroma mistis, tetapi juga berusaha menangkap aroma ilmiah, politik dan tentunya pendidikan yang ada di sana. Sehingga, akan terlihat pula hubungan harmoni yang indah antara manusia yang hidup dengan yang telah mati, dimana yang hidup dan yang mati masih dapat “hidup berdampingan” secara alami.
Read More

MEMAKNAI KEBERAGAMAN DI PONDOK PESANTREN ASWAJA NUSANTARA YOGYAKARTA




Secara historis keberadaan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia, pesantren jika disandingkan dengan lembaga pendidikan yang lainnya merupakan sistem pendidikan tertua yang dianggap sebagai produk budaya indonesia yang indigenous.

Pendidikan ini semula merupakan pendidikan agama Islam yang dimulai sejak munculnya masyarakat Islam di nusantara sekitar abad ke-13. Sebagian literatur menyebutkan perkembangan pesantren khususnya dijawa, sudah lama dikenal masyarakat lebih dari 500 tahun silam.

Ketika Syekh Maulana Malik Ibrahim memperkenalkan pondok pesantren di daerah Gresik. Namun demikian keberadaan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan belum banyak diketahui secara mendalam, meskipun kini telah tumbuh besar ditengah-tengah masyarakat indonesia. Beberapa abad kemudian, penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur dengan munculnya tempat-tempat pengajian (panggon ngaji).

Pengertian Pesantren menurut Dhofier berkaitan dengan santri yang mendapat awalan Pe dan An, yang berarti tempat tinggal santri, sedangkan kata santri sendiri menurut C.C Berg berasal dari kata Shastri yang diambil dari bahasa India yang bermakna  orang-orang yang mengetahui kitab-kitab suci agama hindu atau seseorang sarjana ahli kitab-kitab suci Hindu.

Dalam arti sempit santri bermakna, seorang pelajar sekolah agama yang bermukim disuatu tempat yang disebut pondok pesantren. Sedang dalam arti yang lebih luas dan lebih umum kata santri mengacu identitas seseorang  sebagi bagian dari varian komunitas penduduk jawa yang menganut Islam secara konsekuen, yang sembahyang dan pergi ke masjid hari jumat dan ibadah ritual lainnya.

Perspektif historis menempatkan pesantren pada posisi yang cukup istimewa dalam khazanah perkembangan sosial budaya masyarakat indonesia. Abdurahman Wahid (Gus Dur) menempatkan pesantren sebagai subkultur tersendiri dalam masyarakat indonesia. menurutnya, terdapat kurang lebih lima ribu pondok pesantren yang tersebar di 68.000 (Enam Puluh Delapan Ribu) Desa merupakan bukti tersendiri untuk menyatakan sebagai sebuah subkultur.

Bertolak dari pandangan Gus Dur tersebut, tidak terlalu berlebihan jika pesantren diposisikan sebagai satu elemen determinan dalam struktur piramida sosial masyarakat Indonesia. Adanya posisi penting yang disandang pesantren menuntutnya untuk memainkan peran penting dalam setiap proses-proses pembangunan sosial, baik melalui potensi pendidikan maupun potensi pengembangan masyarakat yang dimilikinya.

Seperti dimaklumi, pesantren yang selama ini dikenal dengan fungsinya sebagai lembaga pendidikan yang memiliki misi untuk membebaskan peserta didiknya (santri) dari belenggu kebodohan yang selama ini menjadi musuh dari dunia pendidikan secara umum. Pada tataran berikutnya, keberdayaan para santri dalam menguasai ilmu pengetahuan dan keagamaan akan menjadi bekal meraka dalam berperan serta dalam proses pembangunan yang pada intinya tiada lain adalah perubahan sosial menuju terciptanya tatanan masyarakat yang lebih sempurna.

Beberapa peneliti barat telah menyinggung masalah pesantren seperti Geertz (1963) melihat pesantren sebagai bagian dari proses modernisasi masyarakat Islam.

Penelitian Geertz (160,1981) lebih mengamati tentang pesantren sebagai sumber terbentuknya varian santri dengan segala nilai-nilainya didalam masyarakat jawa. Adapun Adapun ciri utama pesantren sebagai lembaga yang bertujuan mencetak kader-kader muslim agar supaya menguasai ilmu agama (tafaqquh fi al-din) secara mendalam, mampu menghayati dan mengamalkan ilmunya semata-mata karena Allah SWT dan dilakukan dengan penuh keiklasan.

Keindentikan pesantren yang padat dengan kegiatan ngaji, dan telaah ilmu-ilmu agama membuat kesan pesantren yang ekslusif terhadap persoalan hidup.

Seolah ingin mendobrak gaya santri klasik, Pondok Pesantren Aswaja Nusantra yang di pimpin oleh Kiai Mustahfid, tidak hanya menanamkan nilai-nilai religius, tapi keterbukaan pondok dengan komunitas lain juga ditanamkan sejak dini. Maraknya faham radikalisme yang meracuni anak muda telah menjadi fokus tersendiri bagi pesantren ini dalam memahami keberagaman.

Krisis moral yang melanda umat beragama di Indonesia akhir-akhir ini memberikan isyarat bahwa menurunnya kualitas pemahaman tentang agama dan memahami agama yang terkesan  tekstual tanpa memahami kultur ke Indonesiaan yang plural. Pesantren aswaja nusantra berusaha mengakomodir kebaharuan zaman dengan membekali santri melalui berbagai pelatihan yang menunjang shof skill. Selain dibekali dengan berbagai pelatihan seluruh santri juga digembleng dan diharuskan melek  dengan wawasan kekinian, budaya membaca, diskusi secara akademik dan tetep mempertahankan budaya klasik ngaji bandongan dengan makno utawi iki iku tentu hal ini yang membuat berbeda dari pondok-pondok lainya.

Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik seperti Demokrasi, Pluralisme, HAM, Gender dan segala macam keilmuan yang lain. Karena membangun peradaban yang besar dipondok pesantren tidak bisa dilakukan secara instan.

Maraknya tawaran dan diskusi seputar pengembangan pesantren dalam rangka mengembangkan kualitas sumber daya manusia (human resources) merupakan isu aktual dalam arus perbincangan kepesantrenan saat ini. Tentu hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari realitas empirik keberadaan pesantren yang terkesan ndeso, kolot serta kurang mampu mengoptimalisasikan potensi yang dimilikinya.

Menurut (Saefudin Zuhri yang dikutip Marzuki Wahid) setidaknya terdapat dua potensi besar yang dimiliki pesantren yaitu potensi pendidikan dan potensi pengembangan masyarakat.

Dalam rangka menjawab pernyataan di atas, sistem pesantren asuhan Kyai Mustafid ini terus mengoptimalkan potensi santri dengan berbagai kegiatan yang terus mengasah jiwa kemandirian serta mampu beradabtasi dengan keadaan jaman, pada kesempatan ngaji subuh penulis ingat betul pesan beliau,

“Santri itu jangan hanya pinter ngaji saja shof skill yang lain harus juga dikembangkan, era milenial menuntut setiap individu untuk kreatif, inovatif  tangguh dan berjiwa pemimpin jika masih bertahan dengan gaya lama yang serba santai pasti akan lenyap dan terpinggirkan”.

Seperti yang telah disinggung di atas, Pondok Pesantren Aswaja Nusantra memahami toleransi bukan hanya membiarkan keyakinan agama lain untuk hidup melainkan juga bersikap akomodatif terhadap aspek kultural. Dengan demikian, keberadaan pesantren mampu diterima oleh masyarakat sekitar karna mampu membuka ruang-ruang dialog dengan kebudayaan masyarakat lokal. Akulturasi dan asimilasi terhadap budaya lokal sangat diprioritaskan oleh pesantren demi terjaganya keutuhan tradisi tanpa menghilangkan semangat dari nilai-nilai ke-Islaman. Keberadaan Pondok Pesantren Aswaja Nusantara adalah bukti kelanggengan Islam nusantara sebagai karakter tersendiri perkembangan Islam diindonesia.

Menurut Azumardi Azra yang dikutip dari penelitan Zainal Arifin dan Yu’timaalahuyatazaka, Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigensasi dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di indonesia.

Masih dalam penelitian Zainal Arifin dan Yu’timaalahuyatazaka Pesantren Aswaja memandang pluralisme bukanlah pluralisme yang dimaknai secara teologis-metafisik, melainkan pluralisme yang dimaknai secara sosiologis, yakni dengan mengakui keberadaan agama lain di luar agamanya sendiri. Namun, sekali lagi Pesantren Aswaja masih tetap kokoh dengan memegang teguh prinsip bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang paling benar.

Dengan demikian bahwa Pesantren Aswaja Nusantara tetap eksis dengan semangat pluralisme dan menjaga kerukunan antar pemeluk agama lain sebagai gambaran bahwa keberagaman diindonesia adalah hal yang patut untuk dijaga demi terbentuknya tatanan baldatul toyyibatub warobbun ghofur.
Read More

FLEKSIBEL DAN PENUH TOLERANSI CARA DAKWAH SUNAN KALIJAGA

Penyebaran Islam di Jawa tidak lepas dari usaha Walisongo yang secara tahap demi tahap mengenalkan ajaran Islam dengan pendekatan Kultural. Lewat proses asimilisasi dan sinkretisasi adat kebudayaan, serta tradisi keagamaan menjadikan Islam begitu mudah diterima, dan berbaur dengan tradisi budaya yang berkembang pada saat itu.

Islam yang ditawarkan oleh Walisongo tidak sekedar dipahami secara tekstual, akan tetapi menyesuaikan dengan zaman. Walisongo tahu apabila kondisi peradaban di Jawa sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dalam bidang agama/kepercayaan, masyarakat sudah mengenal ajaran tauhid ala Jawa yang terkenal dengan kapitayan. Anehnya, ajaran tersebut disalahpahami oleh sejarawan Barat sebagai penganut animisme-dinamisme. Selain itu, unsur-unsur ajaran hindu-budha juga sudah mulai merambah dan mengakar di berbagai kerajaan di Nusantara, khususnya Jawa. Di bidang politik, masyarakat sudah mengenal hukum perpolitikan, salah satu kitab yang dijadikan rujukan adalah ‘Negarakertagama’ karya Mpu Prapanca. Di bidang sosial, masyarakat sudah mengenal hukum sosial, salah satu kitab yang dijadikan rujukan adalah ‘Sutasoma’ karya Mpu Tantular.

Dengan majunya peradaban, kebudayaan hindu-budha, dan kapitayan yang sulit untuk dileburkan, perlunya strategi khusus menghadapi masyarakat di Nusantara, khususnya jawa yang kental dengan nuansa-nuansa mistiknya. Salah satu strategi yang ditawarkan oleh Walisongo yaitu  dengan mempromosikan Islam dengan mengadopsi kebudayaan dan tradisi lokal. Golongan Walisongo yang paling dominan dalam menyebarkan Islam melalui proses adopsi adalah Sunan Kalijaga.

“Dalam Atlas Walisongo, Sunan Kalijaga termasuk Wali yang memiliki cakrawala pengetahuan yang sangat luas dalam bidang dakwah dibanding dengan Walisongo lainnya. Pengaruhnya di kalangan masyarakat sangatlah besar (Sunyoto: 2018).”

Proses penyebaran Islam yang dilakukan Sunan Kalijaga pada dasarnya ditentang oleh Sunan Giri, yang menganggap ajaran tersebut mengandung unsur mencampuradukkan antara ajaran Islam dengan adat dan budaya lama. Sehingga, ajaran tersebut takutnya disalahpahami oleh masyarakat setempat. Sunan Kalijaga menghargai pendapat yang ditawarkan-nya. Sebab, setiap Walisongo memiliki strategi dan metode sendiri dalam menyebarkan Islam. Sunan Kalijaga memiliki pertimbangan lain dengan sistem dakwah yang ditawarkannya. Ia membiarkan dulu adat-adat yang sukar untuk dirubah, apalagi dengan kekerasan dan paksaan, justru menjadikan Islam terkesan memaksa dan radikal. Adat yang sekiranya bertentangan dengan Islam secara sedikit demi sedikit dileburkan dengan memasukkan unsur-unsur ajaran Islam. Cara ini terkesan membutuhkan waktu yang lama, paling tidak ajaran-ajaran Islam yang masuk dalam sendi-sendi masyarakat bisa mengakar kuat. Ia paham betul, apabila Islam yang disebarkannya  belum sempurna, pasti suatu saat ada yang menyempurnakannya.

“Dalam Jurnal Kontekstualita, Sunan Kalijaga merupakan salah satu Wali yang memiliki peranan yang sangat besar dalam mengembangkan agama Islam di Nusantara, khususnya Jawa (Santosa dan Yudi: 2013) .”

Dakwah yang ditawarkan Sunan Kalijaga terkesan fleksibel, dalam artian menyesuaikan budaya setempat dengan memasukkan nilai-nilai Islami. Bentuk toleransi Sunan Kalijaga terhadap ajaran pribumi adalah memperkenalkan Islam dengan media wayang. Hal ini merupakan strategi untuk menarik masyarakat agar tertarik dengan ajaran Islam. Jika ditelisik dari segi historis, wayang merupakan media yang disakralkan pada masa majapahit. Wayang digunakan untuk upacara ritual yang mengacu pada nilai-nilai   budaya agraris yang menyatu dengan budaya keagamaan hindu-budha. Seni pertunjukan wayang dalam terminologi bahasa Jawa kuno dinamakan dengan wayang Wwang. Pertunjukan wayang Wwang dikaitkan dengan upacara spiritual ruwatan, yang bertujuan agar orang yang diruwat terhindar dari bencana-bencana gaib.



“Dalam Atlas Walisongo, pertunjukan wayang sudah muncul sejak pra-hindu dengan istillah nama wayang Wwang. Bagi orang jawa, wayang memiliki hubungan yang sangat erat dengan unsur-unsur animistis. Karena pertunjukan wayang bersifat spiritualis. Adapun kedudukan dalang diposisikan setara dengan orang suci atau pendeta, bahkan Dewa-dewa".(Sunyoto: 2018)

Dalam proses pagelaran wayang pra-Islam, ada beberapa ritual yang harus dilakukan sebelum kegiatan di mulai, antara lain: 1) Membutuhkan tempat yang sakral, 2) Pemain wayang dalam keadaan suci, 3) Pemain wayang menggunakan busana khusus, 4) Dalam acara pagelaran wayang diutamakan murni untuk tujuan spiritual, bukan yang lain, 5) Hari dan waktu pagelaran wayang juga harus ditentukan secara tepat (hari-hari sakral), dan 6) Diadakan sesajen untuk menambah kesakralan kegiatan tersebut.

Strategi Dakwah dengan wayang merupakan sebuah solusi yang tentunya difikirkan secara matang-matang oleh Sunan Kalijaga. Walaupun solusi yang ditawarkannya menimbulkan masalah yang besar bagi Islam, ia memiliki prinsip tersendiri terhadap suksesnya misi dakwah yang disebarkannya, yakni ‘al-muhafadzatu ala qadimi as-shalih wa al-akhdzu bi  al-jadidi al-ashlah’ (mempertahankan tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang relevan). Hal inilah yang menjadikan Islam bisa eksis di setiap penjuru Nusantara, khususnya Jawa.

Hal yang menarik mengenai sistem dakwah yang dihidangkan oleh Sunan Kalijaga ialah melakukan reformasi wayang yang sebelumnya berbentuk bayang-bayang manusia menjadi bentuk gambar dekoratif tidak menyerupai manusia. Tidak hanya itu, tema yang dihidangkan dalam pagelaran wayang juga dirubah, dalam epos cerita mahabarata, seorang tokoh Drupadi yang asalnya melakukan praktik poliandri, yakni menikahi pandawa lima dirubah dengan melakukan praktik monogami, dimana tokoh Drupadi hanya menikahi salah satu dari pandawa lima, yakni Yudistira.

“Dikisahkan, dalam proses Islamisasi kisah Mahabarata, Drupadi ditokohkan sebagai perempuan utama yang hanya menjadi permaisuri Yudistira, saudara tertua pandawa, Raja Amarta. Modifikasi dari kisah Mahabarata yang asli merupakan upaya perombakan setting budaya dan tradisi yang sesuai dengan ajaran Islam (Agus Sunyoto: 2018).”

Dakwah melalui pewayangan merupakan metode yang efektif, dan sesuai dengan konsumsi masyarakat pada saat itu. Keberhasilan Sunan Kalijaga menyebarkan Islam merupakan upaya yang sesuai dengan prinsip dan ajaran yang diterapkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW.  Ia mengetahui situasi dan kondisi masyarakat pada saat itu. Bentuk penyajian  dakwah yang disampaikannya bisa di rekonstruksi dari tidak menarik menjadi menarik. Pendekatan yang dilakukannya tidak hanya menyentuh lubuk hati, akan tetapi mampu mengubah mindset yang didakwahi. Tidak hanya itu, ia mampu menghadirkan Islam tanpa adanya kekerasan. Menghadapi kelompok seperti kapitayan, hindu, dan budha, ia tetap berpegang teguh pada etika dakwah sesuai dengan yang digariskan oleh Allah swt. Dalam firman-Nya,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”(Qs. an-Nah: 125)

Berdasarkan ayat di atas, ada tiga etika yang harus dipahami setiap pendakwah dalam menyebarkan Islam, antara lain: pertama, menyerukan dengan cara hikmah (bijaksana), mauidhah al-hasanah (suri tauladan yang baik), dan mujadalah (penyampaian dan bantahan argumen dengan etika yang baik). Seyogyanya, cara penyampaian dengan paksaan harus dihindari, supaya tidak menimbulkan permusuhan dan percekcokan antar golongan. Justru, emosionalitas dan rasionalitas yang didakwahi perlu disentuh dengan kasih sayang, agar penerimaan dan pemahaman Islam yang dihidangkan bisa ditelan dengan enak, tanpa unsur paksaan.

Sunan Kalijaga sangat bijak terhadap dakwah yang disampaikan kepada umatnya. Ia sangat menghargai budaya dan tradisi masyarakat setempat. Prinsip ajaran yang disampaikannya tidak mendahulukan nahi munkar (melarang kemungkaran), akan tetapi mendahulukan amar ma’ruf (menyuruh kebaikan). Jika ajaran nahi munkar didahulukan, tentunya kurang manusiawi, jusru akan mengusik budaya dan tradisi masyarakat setempat. Dengan sistem dakwah yang ditawarkan-nya, akan muncul persepsi dari masyarakat apabila pola yang diterapkan-nya sangatlah manusiawi, dihargai dan dihormati. Sehingga, mereka akan meyakini apabila prinsip yang diajarkannya tidak menyinggung komunitas yang didakwahi.

Ajaran-ajaran Islam yang dihidangkan oleh Sunan Kalijaga alangkah baiknya perlu dijadikan referensi oleh para da’i dan majlis dakwah lainnya. Pemahaman lingkungan sosial dan latar belakang komunitas yang didakwahi harus betul-betul dicermati dan dipahami. Setiap tradisi, keadaan, kebiasaan dan kebudayaan yang didakwahi belum tentu sesuai dengan kondisi yang sedang kita alami. Prinsip ajaran Islam yang ditawarkan olen Sunan Kalijaga tidaklah menyinggung komunitas di sekitar, melainkan mampu berbaur dan saling melengkapi satu sama lain. Dakwah yang santun, etis, dan humanis merupakan hidangan yang empuk bagi penikmat ajaran Islam, terutama bagi yang belum mengenalnya. Darinya, kita bisa belajar memahami Islam dengan pendekatan Fenomenologi, Sosiologi dan Psikologi . Selain itu, pendekatan persuasif, edukatif, dan efektif sangatlah dibutuhkan. 
Read More

STRATEGI KIAI SHOLEH DARAT MELAWAN REZIM KOLONIAL


Peranan Kiai dalam merebut NKRI dari penjajah tidak bisa dilupakan begitu saja. Merekalah yang memberikan spirit, semangat, dan motivasi kepada penduduk Indonesia yang harga dirinya sedang diinjak-injak oleh penjajah demi menjaga NKRI. Suka atau tidak, kemerdekaan yang sudah kita rengguk selama ini merupakan hasil dari perjuangan tokoh dari Pesantren.

Pada masa penjajahan Belanda, banyak Kiai-Kiai dari Pesantren terpanggil untuk menjadi tonggak penting dalam mengikis perlawanan terhadap penjajah. Sebagai contoh misalnya Syekh Sholeh bin Umar al-Samarani atau dikenal dengan nama KH. Sholeh Darat. Ia merupakan pujangga, pejuang, dan sekaligus maha guru ulama’ nusantara yang paling diawasi oleh kolonial belanda, karena pengaruhnya begitu besar terhadap santri dan masyarakat sekitar.

“Menurut Taufiqul Hakim, kala KH. Sholeh Darat tiba di Semarang, menghadapi kolonial dengan senjata merupakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Sebab, Pada abad ke-19 merupakan pasca kekalahan pangeran Diponegoro. Sehingga, proses perlawanan fisik tidak ada-dan baru muncul pada abad ke-20 yakni pada tahun 1945 (Taufiqul Hakim: 2016).”

Di era KH. Sholeh Darat, kekuasaan kolonial di Nusantara sudah menyebar dari berbagai pelosok. Sementara itu, penduduk pribumi masih terkungkung dengan kebodohan, pinggiran, dan tergolong stagnan. Sehingga, kala menghadapi perlawanannya sama saja menyerahkan nyawanya secara cuma-cuma. KH. Sholeh Darat memliliki inisiatif baru tentang strateginya menghadapi kolonial tanpa perlawanan fisik. Diantaranya, menggembleng penduduk pribumi melalui pendekatan tasawuf. Selain itu, ia juga menanamkan benih-benih semangat nasionalis dalam basis keagamaan.

“…..Posisi Kiai Sholeh Darat dalam konteks perjuangan kemerdekaan berada diantara gerakan revolusi fisik (era revolusi pangeran Diponegoro tahun 1825-1830) dan revolusi 1945, sehingga sangat tidak mungkin menyerang dengan menggunakan fisik (Taufiqul Hakim: 2016).”

Dalam konteks revolusi fisik era kolonial, KH. Sholeh Darat lebih fokus mempersiapkan generasi-generasi muda NKRI dalam jangka panjang demi menciptakan orator-orator baru untuk mendobrak revolusi yang didirikan oleh rezim kolonial. Kelak, pejuang-pejuang nasionalis yang dipersiapkan menjadi kontributor nomer wahid terhadap kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, diantaranya KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan.

Kondisi yang masih terkungkung dengan cengkeraman rezim kolonial menjadikan pola fikir masyarakat membeku, dan cenderung nrimo ing pandum. KH. Sholeh Darat tidak tinggal diam, langkah awal yang dilakukannya ialah membangun semangat mereka dengan pendekatan tasawuf. Kerangka berfikirnya mendobrak kejumudan mereka begitu cantik. Ia paham betul, semangat kendor disebabkan oleh miskinnya jiwa kerohanian. Mereka sudah mengalah tanpa usaha, jiwanya telah di obrak-abrik oleh perilaku bejat rezim kolonial. Walaupun secara fisik masih hidup, jiwanya mati kelaparan. Kematian yang dimaksud mengarah kepada mati rasa, jiwa, atau hati. Sedangkan kelaparan rohani, mengarah kepada lapar jiwa akibat kurangnya mendalami dan melaksanakan ajaran perintah Tuhan.

Pendekatan yang ditawarkan-nya sangatlah rasional, karena unsur paling penting dalam diri manusia adalah kerohanian. Apabila unsur kerohanian kendor, tentu akan berpengaruh pada unsur jasmaninya. Sebelum kemerdekaan jasmani, langkah awal yang harus dilakukannya ialah memerdekakan unsur kerohanian.

Selain pendekatan tasawuf, cara yang strategis dalam menghadapi rezim kolonial ialah dengan menciptakan karya berbasis Aksara Pegon. Ditengah kekuasaan dan otoriterisme rezim kolonial, salah satu cara untuk mendangkalkan pemahaman masyarakat pribumi tentang Islam, mereka melarang penerjemahan kitab kuning dalam bentuk bahasa latin.

Hal ini disebabkan atas trauma politik yang dialami pihak kolonial dalam menghadapi serangan Pangeran Diponegoro. Perang yang menyebabkan pihak kolonial kocar-kacir, dan sempat dipukul mundur olehnya. Dengan demikaian, bentuk kehati-hatian terhadap kejadian yang menimpanya, kaum kolonial memberikan pertimbangan dan kebijakan politik, ekonomi, dan keagamaan se-intensif mungkin terhadap penduduk pribumi.

Akibat intervensi kolonial penjajah ke dalam ranah Agama yang cenderung keterlaluan, KH.Sholeh Darat langsung mengubah mindset penduduk pribumi untuk mempelajari karya-karya Islami dalam bentuk Aksara Pegon.

Strategi KH. Sholeh Darat dalam menumpas rezim kolonial, yaitu melahirkan karya-karya berbentuk Aksara Pegon, salah satu karya diantaranya ialah Majmu’at al-Sariat al-Kafiyah li al-Awam. Kitab ini secara implisit mengajarkan tentang ketaatan kepada pemerintah sepanjang tidak bertentangan dengan Agama. Sebaliknya, apabila peraturan pemerintah bertentangan dengan agama tidak perlu diikuti (usuluddin) (Abi Malikus: 2012). ”

Melalui pendekatannya, secara tidak langsung berusaha untuk mengubah ideologi rezim kolonial dengan melakukan perlawanan tanpa kekerasan. Singkatnya, perlawanan yang diwujudkanya melalui pendekatan simbolis. Aksara pegon merupakan media yang efektif untuk memasukkan nilai-nilai nasionalisme dalam bentuk idiom-idiom basis keagamaan. Bentuk dogma keagamaan yang didengungkan kepada penduduk pribumi ialah pengharaman menyerupai kaum kolonial.

Bentuk pengharaman terhadap penyerupaan kaum penjajah merupakan upaya mempertahankan tradisi dan budaya di Nusantara. Rezim kolonial telah menguasai sektor politik dan ekonomi, bahkan mulai merombak tradisi dan budaya di Nusantara. KH. Sholeh Darat tidak tinggal diam, jangan sampai tradisi dan budaya juga dikuasai oleh rezim kolonial, apabila tradisi dan budaya sampai dirombak olehnya, masyarakat pribumi akan mudah terombang-ambing. Untuk mengantisipasi hal demikian, mempertahankan tradisi dan budaya merupakan bentuk pencegahan budaya asing menerobos dan menguasai wilayah Nusantara.

Apabila ditinjau pada konteks abad-19, fatwa haram dalam bingkai agama merupakan strategi politik identitas. Artinya, ini merupakan upaya untuk menolak tradisi kaum kolonial yang mulai merambah di Nusantara. Politik identitas tidak hanya persoalan masalah tradisi dan budaya, melainkan kepentingan politik untuk mempengaruhi masyarakat pribumi agar membenci rezim kolonial. Apabila masyarakat sudah terpengaruh dengan politik identitas, maka pembangkangan untuk tunduk dan patuh kepada rezim kolonial semakin mengakar dalam jiwa mereka.

Strategi yang ditawarkan oleh KH. Sholeh Darat berhasil, ia sukses mentransformasikan Islam dengan budaya lokal. Dengan menciptakan sumber-sumber ajaran Islam dalam bentuk Aksara Pegon, masyarakat Pribumi terdogma, dan mencerna nilai-nilai Islam yang terkandung didalamnya. Dengan pendekatan keagamaan dalam basis Aksara Pegon, pihak kolonial tidak akan curiga terhadap santri dan kalangan masyarakat pribumi yang mempelajarinya. Sebab, Kebijakan pihak kolonial hanya tertuju pada pelarangan penerjemahan kitab kuning dalam bahasa latin. Sehingga, KH. Sholeh Darat dengan leluasa menggembleng mereka untuk memahami Islam melalui Aksara Pegon.

Dengan jasa yang ditawarkan oleh-nya, Islam bisa tersebar luas di seluruh pelosok penduduk Pribumi, terutama bagi kalangan pesantren. Strategi KH. Sholeh Darat dalam menghadapi kekangan rezim kolonial mendapatkan hasil yang maksimal. Dakwah yang diterapkan tidak hanya bil hal (berupa praktik dan tindakan), akan tetapi juga bil kitabah (dakwah yang dilakukan dalam bentuk karya tulis).

KH. Sholeh Darat paham betul atas situasi dan kondisi pada saat itu. Tanpa Dakwah bil hal dan kitabah, otoriterisme kolonial penjajah akan leluasa menghabisi jasmani dan rohani penduduk pribumi. Bahkan, ada yang mengatakan jika tanpa hadirnya KH. Sholeh Darat, penduduk pribumi akan sulit memahami ajaran Islam, bahkan tradisi ritual-ritual ajaran Islam akan sulit untuk dijalankan.

KH. Sholeh Darat memilki peran yang sangat penting terhadap kebangkitan penduduk pribumi. Walaupun tidak melakukan perlawanan secara vis a vis terhadap kolonial penjajah, kontribusinya membangun pola pikir, baik dari segi jasmani dan rohani mampu mengubah peradaban pemikiran yang mampu mendobrak aksi anarkis para rezim kolonial penjajah. Darinya, kita bisa belajar membangun strategi dakwah dengan basis penguatan budaya dalam bingkai Aksara Pegon. Kita juga bisa belajar bagaimana mentransformasikan nilai-nilai ajaran agama dalam bingkai tradisi dan budaya. []
Read More