Latest Posts

Showing posts with label Persepsi. Show all posts
Showing posts with label Persepsi. Show all posts

Sosiologi ala Feminis

No comments:


Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Sosiologi dan feminis merupakan dua term berbeda. Jika sosiologi mengarah pada studi tentang kemasyarakatan, maka feminis adalah orang yang mengkaji feminisme. Namun, dalam buku Teori Sosiologi karya George Ritzer, keduanya dapat dijadikan sebuah teori, yaitu Sosiologi Feminis.

Sebenarnya, tidak ada istilah pakem untuk mendefinisikan sosiologi feminis. Dari dua kata itu, kita bisa menyimpulkan bahwa sosiologi feminis adalah suatu teori sosiologi yang dikaji dalam perspektif feminis. Singkatnya, segala hal yang berhubungan dengan masyarakat akan dikulik berdasarkan perspektif feminis.

Seperti yang kita tahu, dari babakan klasik hingga modern, belum ada sosiolog yang menyentil perihal keadilan bagi perempuan. Semuanya hanya berputar-putar di dunia masyarakat, baik mikro ataupun makro. Meskipun Marx pernah menyentil babakan keadilan perempuan, namun hanya sebatas buruh perempuan. Ia belum menyentuh detail terkait perempuan, seperti beban ganda yang dialami perempuan di ranah domestik dan publik sekaligus. Maka dari itu, Ritzer mencantumkan sosiologi ala feminis di bukunya.

Menurut Ritzer, akar dari sosiologi feminis adalah ketimpangan dalam mengkaji perempuan dalam masyarakat. Kebanyakan sosiolog hanya menonjolkan peran laki-laki dalam masyarakat. Selain itu, hampir semua teori-teori yang disumbangkan untuk sosiologi merupakan perspektif laki-laki. Hal ini tentu saja semakin menyudutkan perempuan, yang mana mereka terlihat sama sekali tidak memiliki kontribusi dalam keilmuan, khususnya dalam ranah sosial. Padahal perempuan memiliki andil yang sama pentingnya dengan laki-laki dalam masyarakat.

"Para perempuan hadir di sebagian besar situasi kritis. Ketika mereka tidak hadir, itu semua bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan atau minat, tetapi karena telah terdapat upaya secara seksama untuk mengesampingkan mereka. Ketika mereka hadir, perempuan memainkan peran yang sangat berbeda dari konsepsi populer tentang mereka." (Ritzer, h. 488)

Untuk lebih jelasnya, kita perlu mengidentifikasi ciri-ciri teori sosiologi feminis. Pertama, sosiologi dengan pengetahuan feminis. Jika teori sosiologi klasik atau bahkan sampai sekarang didominasi perspektif laki-laki, maka Ritzer menyebut bahwa ada beberapa teori sosiologi dengan perspektif feminis. Artinya, dalam teori sosiologi memuat pengetahuan feminis.

Teori sosiologi dengan pengetahuan feminis ini tidak akan jauh-jauh pembahasan seputar keadilan peran dalam masyarakat. Ciri lainnya adalah pemaparan kasus dari aktor yang tersubordinasi, penjelasan tentang maayarakat secara objektif, baik laki-laki maupun perempuan, bukan hanya mampu menggambarkan aktor sosial, melainkan waktu dan tempatnya juga, serta hal-hal lain yang bersifat emansipatoris lainnya.

Kedua, tatanan makro sosial. Pembahasan makro bertalian erat dengan dunia kerja. Menurut Ritzer, feminis mengecam keras penalaran tokoh fungsionalis yang mengganggap masyarakat sebagai sistem. Jelas saja, feminis tidak ingin melihat manusia sebagai objek yang digerakkan. Bagaimana pun, manusia adalah subjek dalam masyarakat.

Selain itu, dalam dunia kerja, sosiolog sering menggaungkan nama dominasi dan subordinasi. Premis ini mengacu pada tindakan pemilik modal yang memiliki hak atas kehidupan buruh. Padahal, baik pemilik modal maupun buruh itu sama-sama aktor dalam masyarakat. Mereka berhak atas kehidupannya masing-masing. Perbedaannya hanya terletak pada cara posisi kerjanya.

Oleh sebab itu, feminis menginginkan keadilan dalam masyarakat, tak terkecuali dalam dunia kerja. Seperti yang dilakukan oleh Patricia Hill Collins, seorang sosiolog feminis yang gencar sekali menyuarakan keadilan dalam dunia kerja. Ia bahkan sampai turut andil untuk menyuarakan keadilan untuk perempuan kulit hitam (dulu dianggap kasta paling rendah di Barat) untuk bebas bekerja di mana pun mereka mampu.

Ketiga, tatanan mikro sosial. Tatanan ini berkaitan dengan psikis perempuan ataupun laki-laki. Jika konstruk menyebut perempuan untuk tunduk dan patuh pada laki-laki, maka feminis menyangkal akan hal itu. Perempuan bebas untuk melakukan apapun yang mereka kehendaki dengan tidak menimbulkan kerugian, setidaknya untuk dirinya sendiri atau masyarakat.

Pun halnya dengan laki-laki. Konstruk menginginkan laki-laki untuk kuat dan bisa dalam segala hal terutama dalam urusan publik. Feminis tentu saja menolak untuk itu. Laki-laki berhak atas dirinya sendiri dan bebas melakukan apa pun, selama mereka tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Sungguh, baik laki-laki maupun perempuan, mereka punya otoritas dalam dirinya sendiri. Demi apa pun, konstruk tidak perlu repot-repot mendikte mereka untuk melakukan hal-hal yang membebani mereka.

Serupa dengan yang dialami oleh Dorothy E. Smith. Ia adalah perempuan yang hidupnya dikelilingi oleh stigma tentang janda. Smith kemudia mampu speak up dan mengajak orang lain untuk berani memiliki otoritas dalam dirinya. Lantas mengapa jika ia janda? Ia hidup dengan nyaman dengan statusnya dan bahkan ia mampu menciptakan karya dengan begitu gemilang di tengah-tengah masyarakat. Ialah bukti dari kebanggaan atas hidupnya sendiri.

Keempat, subjektifitas dalam pengalaman sosial. Sosiolog feminis melihat beberapa masyarakat yang kehilangan subjektifitas akan dirinya. Mereka cenderung melihat dirinya dari sudut pandang orang lain. Oleh sebab itu, harapan sosiolog feminis ini adalah mengembalikan subjektivitas diri dengan respect pada diri dan berhenti mendengarkan standarisasi orang lain terhadap dirinya.

Terakhir, integrasi dalam sosial. Jika masyarakat terlihat menganut atruktur patriarki, maka keinginan sosiolog feminis adalah emansipasi. Dengan ini masyarakat berhenti untuk terus melihat stratifikasi dan mulai untuk berintegrasi.

Dari beberapa hal di atas, saya kira masyarakat akan mampu hidup dengan lebih baik dengan adanya keadilan seperti yang diungkapkan sosiolog feminis. Namun, keadilan tidak akan mampu dicapai jika hanya perempuan yang bergerak. Semua lapisan masyarakat perlu ikut andil demi terwujudnya keadilan. Dengan ini masyarakat berkeadilan akan terealisasi dan bukan hanya dalam narasi saja.

Read More

Etnometodologi: Peduli Praktik Sepele

No comments:

 


Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Belajar tentang sosiologi pastinya tidak akan jauh-jauh dengan masalah mikro-makro. Namun, tidak semua yang dibahas di dalamnya melulu tentang itu. Ada yang lebih memfokuskan perhatiannya pada praktik sepele dari masyarakat dari pada sibuk dengan urusan mikro-makro, sebut saja Etnometodologi.

Menurut George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi (terj., 2017) menyebut bahwa etnometodologi adalah pengetahuan, prosedur, dan pertimbangan masyarakat untuk memahami, menyelami, dan bertindak dalam situasi yang sedang mereka hadapi. Singkatnya, studi yang dipublikasikan oleh Harold Garfinkel ini mencoba untuk menunjukkan praktik sepele dalam masyarakat. Hal ini terlepas dari apapun bentuk organisasi masyarakat, baginya yang terpenting adalah praktik yang sedang dilakukan oleh anggota masyarakat.

Premis tersebut bukan hadir begitu saja. Sama seperti teori-teori sosiologi lainnya, etnometodologi Garfinkel dipengaruhi oleh fakta sosial Emile Durkheim. Jika fakta sosial Durkheim lebih memandang aktor sebagai sesuatu yang mudah dinilai. Maka etnometodologi lebih menganggap fakta sosial sebagai produk yang dibuat anggota. Artinya, etnometodologi memandang fakta sosial sebagai praktik-praktik yang dibentuk oleh anggota masyarakat dan tidak semua orang dapat mengetahui praktik sebenarnya, kecuali anggota yang terlibat dalam praktik tersebut. Hal ini terlihat lebih sepele dari pada apa yang diungkapkan oleh Durkheim.

Oleh sebab itu, kita perlu tahu ragam etnometodologi untuk melihat praktik-praktik sepele di dalamnya. Menurut Ritzer, ada dua ragam fundamental yang diusung Garfinkel dalam ragam etnometodologinya. Pertama, studi terhadap setting institusional yang di dalamnya terdapat praktik formal dan masyarakat perlu tahu itu. Kedua, analisis percakapan yang memuat interaksi dan komunikasi masyarakat sehari-hari dan tidak ada hal formal di dalamnya.

Dalam studi terhadap setting institusional tentunya berbeda dengan hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat di kesehariannya. Dalam institusi tentunya memuat hal-hal formal yang cenderung to the point. Hal ini semata-mata demi keefektifan dan meminimalisir kejadian di luar kontrol. Oleh sebab itu, Ritzer menuliskan beberapa contoh praktik dalam institusi, seperti wawancara kerja, negosiasi eksekutif, panggilan ke pusat gawat darurat, dan penyelesaian perselisihan lewat mediasi dengar pendapat.

Pertama, dalam wawancara kerja tidak mungkin ada percakapan yang terlontar begitu saja. Pastinya terdapat setting di dalamnya. Berbeda dengan percakapan sehari-hari yang terkesan spontan, dalam wawancara kerja terdapat pertanyaan yang telah disusun guna mendapatkan jawaban yang tepat, sesuai tujuan.

Kedua, negosiasi eksekutif juga demikian. Segalanya dilakukan secara matang, terukur, dan masuk akal. Seperti istilahnya, dalam negosiasi hanya bertujuan untuk mencapai kesepakatan final dan meminimalisir adanya perdebatan yan tidak logis yang membuang-buang waktu, tenaga, uang serta pikiran.

Ketiga, panggilan ke pusat gawat darurat yang berbeda dengan panggilan pada umumnya. Jika biasanya kita melakukan panggilan dngan mengawalinya dengan salam, menambahkan guyonan, dan memancing emosi, maka di panggilan darurat hanya ada ujaran serius yang to the point. Hal ini disebabkan karena panggilan darurat hanya berfungsi untuk mereka yang benar-benar dalam keadaan genting, seperti panggilan kepada ambulans ketika ada kecelakaan.

Keempat, penyelesaian perselisihan lewat mediasi dengan pendapat. Jika dalam keseharian kita terdapat cekcok yang begitu panjangnya, maka dalam mediasi akan mereduksi hal-hal semacam itu. Di sini mediator yang memiliki kendali penuh untuk mengatur perbedaan pendapat. Hal ini semata-mata guna meminimalisir percakapan yang sama sekali tidak perlu dan menyelesaian perdebatan secara final.

Berbeda dengan institusi, dalam analisis percakapan sehari-hari lebih menonjolkan sisi spontan. Pratik-praktik yang dilakukan anggota masyarakat tidak begitu terstruktur dan formal. Dengan ini Ritzer memberikan contohnya, seperti percakapan di telepon, memancing gelak tawa, mengundang tepuk tangan, cemooh, cerita, formulasi, integrasi berbicara dan aktivitas nonvokal, serta mengungkapkan rasa malu dan percaya diri.

Pertama, percakapan di telepon berbeda dengan percakapan secara langsung. Oleh sebab itu, percakapan di telepon akan menambahkan kata-kata dalam praktiknya, seperti ucapan salam, perkenalan, guyonan, dan penutup. Selain itu, seseorang yang menelepon tidak akan tahu bagaimana ekspresi dari lawan bicaranya seperti dalam percakapan secara langsung. 

Kedua, memancing gelak tawa adalah peristiwa yang bebas dalam percakapan atau interaksi. Namun, etnometodologi melihat bahwa dalam gelaktawa selalu melibatkan pengorganisasian di dalamnya. Meskipun gelak tawa muncul secara spontan, namun pembuat lelucon secara tidak langsung telah memikirkan sesuatu untuk bahan guyonan.

Ketiga, mengundang tepuk tangan. Hal ini adalah praktik sepele yang sering diabaikan oleh orang lain. Namun, etnometodologi melihat bahwa dalam tepuk tangan ada sesuatu yang ingin ditonjolkan. Hal ini seperti bentuk penegasan atas suatu percakapan. Misalnya, ketika seseorang telah memberi jalan keluar atas masalah, secara spontan beberapa dari kalian akan bertepuk tangan sebagai apresiasi, ungkapan terima kasih, atau bahkan penegasan atas kebenaran ucapan tersebut.

Keempat, cemooh adalah lawan sikap dari tepuk tangan. Jika dalam tepuk tangan berarti kamu menyetujui ungkapan, maka dalam cemooh kamu tidak sependapat untuk itu. Atau bisa jadi kamu kecewa atas ungkapan yang diberikan oleh lawan bicaramu.

Kelima, cerita akan muncul dalam beberapa percakapan. Etnometodologi mengamati beberapa orang dalam berinteraksi, kemudian ia mendapatkan beberapa hal termasuk cerita di dalam interaksi tersebut. Hal inilah yang nantinya akan mengundang percakapan akan terus mengalir dengan respon dari lawan bicara.

Keenam, formulasi adalah bentuk percakapan yang mana lawan bicara dapat menyimpulkan maksud dari pembicara. Artinya, pembicara mencoba untuk memahamkan lawan bicaranya. Dengan ini, lawan bicara akan menanggapinya dengan pemahaman yang mereka dapat dari apa yang dibicarakan.

Ketujuh, integrasi berbicara dan aktivitas nonvokal. Jika dalam percakapan memusatkan perhatiannya pada pembicaraan, maka dalam etnometodologi menambahkan fokus tersebut dengan aktivitas nonvokal, seperti gestur. Dengan ini, tidak hanya pembicaraannya yang dapat dipahami, melainkan dengan gestur kita akan lebih paham maksud dari percakapan tersebut. 

Kedelapan, mengungkapkan rasa malu dan percaya diri. Etnometodolog begitu yakin bahwa dalam percakapan kedua rasa itu selalu ada. Kita akan cenderung diam dan menghindari topik-topik percakapan ketika kita merasa malu. Sebaliknya, kita akan terus memancing lawan bicara kita dengan topik-topik tertentu ketika kita percaya diri dengan itu.

Dari beberapa contoh yang disebutkan oleh Ritzer, jelas sekali bahwa etnometodologi berbeda dengan fokus sosiologi klasik sebelumnya. Etnometodologi begitu tertarik terhadap praktik-praktik sepele yang dilakukan oleh anggota masyarakat. Namun, dengan ini etnometodologi membuktikan bahwa dirinya telah tumbuh menjadi tak terbatas dan kehilangan spesifikasi atas dirinya.

Read More

Teori Kritis: Produk Neo-Marxis Jerman untuk Marxian

2 comments:

Nama Karl Marx pasti sudah tidak asing lagi bagi para intelektual. Tokoh yang digadang-gadang sebagai ayah kandung komunis ini mashur dengan beberapa teorinya yang dianggap kontroversional. Namun, justru dengan pemikiran kontroversionalnya inilah Marx memiliki banyak pengikut yang kelak menamai dirinya sebagai Marxian. Jadi, tidak heran jika namanya acap kali disandingkan dengan hal-hal yang berbau "kiri".

Berbicara tentang kiri, sebenarnya bukan klaim negatif yang anti pemerintahan. Namun, kiri ini lebih condong pada sikap kritis yang tidak melulu mengikuti aturan pemerintah. Lagi pula, Marx tidak pernah menamai dirinya sebagai kiri. Itu hanyalah premis yang disandangkan oleh lawannya yang menganggap seolah-olah Marx anti terhadap pemerintahan.

Selain kesan politik yang "anti-pemerintahan", Marx juga memiliki pemikiran-pemikiran fantastis di bidang ekonomi, sosial, dan agama. Dan tentu saja pemikirannya ini dipengaruhi oleh Hegel, Feurbach, dan sahabatnya, Engels. Bahkan setelah kematiannya, pemikiran atau karya-karya Marx akan diterjemahkan oleh Engels untuk Marxian lainnya.

Namun, tidak ada seorang pun yang mampu mengerti secara detail apa yang dimalsudkan Marx. Seperti yang ditulis oleh Magnis Suseno dalam bukunya yang berjudul Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme menyatakan bahwa tidak ada yang mampu mengerti maksud pemikiran Marx, termasuk Engels. Sehingga, ada beberapa kerancuan Marxian dalam menelaah pemikiran Marx.

Premis tersebut sama dengan yang dilontarkan oleh golongan Neo-Marxis Jerman. Golongan yang menamai diri mereka sebagai Mazhab Frankfurt, Jerman ini menyebut bahwa Marxian telah mereduksi pemikiran Marx. Sehingga Marxian telah salah karah dalam mengimplementasikan pemikiran Marx. Dari interpretasi pemikiran saja sudah salah, apalagi dalam implementasinya.

Maka dari itu, Mazhab Frankfurt ini bermaksud untuk meluuskan kembali pemikiran-pemikiran Marx. Salah satu caranya adalah dengan membentuk suatu teori baru yang akrab dengan sebutan teori kritis. Seperti yang ditulis oleh George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi menyebut bahwa di dalam teori kritis memuat berbagai kritik terhadap Marxian, seperti kritik atas teori Marxian, positivismenya, sosiologinya, masyarakat modernnya, bahkan perihal kebudayaan.

Pertama, kritik atas teori Marxian. Mereka, para Neo-Marxian menyebut bahwa Marxian terlalu condong pada determinisme ekonomi. Yang mana seolah-olah hanya ekonomi yang dapat menopang segala sektor. Marxian tidak berpikir bahwa antara sektor satu dengan sektor yang lainnya saling tergantung. Menurut Neo-Marxian, seharusnya para Marxian memperhatikan sektor lain demi memperbaiki kesenjangan.

Kedua, kritik atas positivisme. Para positivis menganggap bahwa ilmu sains adalah standar ketepatan untuk seluruh disiplin ilmu, termasuk pembahasan terkait masyarakat. Jadi masyarakat dalam perspektif positivis dianggap pasif. Sehingga, peran teori kritis di sini adalah mengembalikan posisi manusia sebagai subjek yang aktif.

Ketiga, kritik terhadap sosiologi. Sosiologi dalam perspektif kritis dianggap terlalu santisme, yang mana segalanya harus serba ilmiah. Di sini, para Neo-Marxian bermaksud untuk menghindarkan masyarakat dari sesuatu yang ilmiah menjadi seauatu yang lebih fleksibel.

Keempat, terhadap masyarakat modern. Menurut Neo-Marxis, masyarakat modern terlalu memfokuskan diri untuk memperbaiki ekonomi ala Marxian. Dengan ekonomi pula, teknologi dapat dikendalikan dengan mudah. Dalam hal ini, salah satu Neo-Marxis, Marcuse, menyebut bahwa masyarakat modern yang demikian sama halnya dengan makhluk satu dimensi. Mereka telah kehilangan nalar kritisnya karena hanya memfokuskan diri pada ekonomi semata.

Terakhir, kritik terhadap kebudayaan. Para Neo-Marxian mengkhawatirkan adanya birokratis yang terlalu ikut campur perihal urusan masyarakat. Dari yang awalnya ekonomi yang dimonopoli, sekarang merambah pada budaya media massa yang dimanipulasi. Teoritisi Kritis menginginkan agar budaya yang sekarang ini tidak lepas kaitannya dengan media massa, seharusnya lebih mampu untuk menyerukan pengetahuan dari pada penyiaran tentang politik manipulatif dari birokrat.

Semua kritik yang dilontarkan Neo-Marxis kepada Marxian secara general memang menyerang determinisme ekonominya. Namun, dalam teori kritisnya, Neo-Marxis malah mengabaikan ekonomi. Mereka seolah-olah enggan menyentuh ranah ekonomi. Padahal, dalam beberapa pemikiran Marx juga memuat masalah ekonomi. Jadi, saya kira, baik Marxis maupun Neo-Marxis, mereka sama-sama telah mereduksi pemikiran Marx.

Read More

Teori Konflik: Wajah Baru dari Teori Fungsionalisme Strukturalisme

4 comments:



Setelah tokoh-tokoh sosiologi klasik, seperti Auguste Comte, Karl Marx, Emile Durkheim, Max Weber, Georg Simmel, dan lain sebagainya meninggal, bukan berarti teori-teorinya ikut mati pula. Sosiolog selanjutnya malah menjadikan teori-teori sosiolog klasik sebagai acuan dalam mengembangkan pemikirannya. Bahkan mereka mengembangkan sosiologi menjadi ilmu yang semakin kaya akan teori.

Itu dibuktikan dengan berkembang pesatnya sosiologi di Amerika. Di Chicago misalnya, telah melahirkan teori fenomenalnya, yaitu interaksionalisme simbolik. Namun, keberadaannya tidak lama karena muncul berbagai kritik terhadapnya. Kemudian disusul pula di Harvard dengan melahirkan fungsionalisme strukturalisme.

Sama halnya dengan interaksionalisme simbolik, fungsionalisme strukturalisme juga mendapatkan serangan bertubi-tubi dari berbagai teori baru. Kritik yang paling gencar terhadapnya muncul dari teori konflik. Namun, banyak anggapan bahwa teori konflik bukan mengkritik fungsionalis tetapi malah menjadi wajah baru darinya.

Ujaran ini bukan terlontar tanpa alasan. Tetapi memang ada kesamaan antara keduanya. Seperti orientasi pembahasan keduanya, yaitu sama-sama perihal struktur sosial. Namun, fungsionalis lebih menganggap struktur sebagai sesuatu yang positif dan berperan besar, sedangkan konflik menganggap sebaliknya.

Hal lainnya misal, jika fungsionalis menganggap masyarakat sebagai sesuatu yang statis, maka konflik sebaliknya, yaitu menganggap masyarakat sebagai sesuatu yang dinamis dan selalu berubah-ubah. Fungsionalis menganggap bahwa masyarakat akan melahirkan keteraturan, maka konflik menganggap masyarakat akan selalu bertentangan. Selain itu, fungsionalis selalu optimis bahwa masyarakat akan selalu stabil, namun konflik menganggap masyarakat akan melahirkan disintegrasi.

Semua pernyataan itu dipertegas oleh tokoh terkemuka dari teori konflik, yaitu Ralf Dahrendolf. Menurutnya, teori konflik adalah antitesis dari fungsionalis. Karena mengang konflik ini berakar dari teori Marxian dan Georg Simmel, yang mana lebih menekankan pada perubahan dari pada stagnan. Lebih jelasnya, kita perlu menengok pada pemikirannya, yaitu otoritas.

Dahrendolf menyebut bahwa otoritas terletak pada posisi, bukan pada diri individu. Seseorang yang memiliki posisi yang lebih tinggi bisa mengendalikan individu yang berada di posisi bawah. Dengan ini, akan muncul adanya kepentingan yang bisa memunculkan konflik.

Sebagai misal, Si A adalah ketua. Ia memiliki otoritas karena memang ia adalah ketua, bukan karena ia adalah Si A. Selain itu, ia memegang kendali terhadap semua bawahannya. Dan konflik akan muncul karena ada kepentingan di dalamnya.

Sedangkan dari perspektif fungsionalis, tentu aktor akan bekerja bersama-sama tanpa melihat kepentingan. Mereka hanya percaya bahwa semua akan baik-baik saja sesuai dengan fungsinya. Tidak ada disintegrasi, karena memang di dalam fungsionalis semuanya akan stabil dengan sendirinya.

Contohnya dalam suatu organisasi. Baik ketua maupun staf di bawahnya bekerja bersama-sama sesuai dengan fungsinya. mereka tidak berpikir tentang kepentingan individu, tetapi percaya akan fungsinya masing-masing demi sebuah keteraturan.

Lain halnya dengan Dahrendolf, sosiolog konflik ini, Randall Collins, mengutarakan bahwa stratifikasi sosiallah yang memicu konflik. Yang mana kelas dominan lebih memiliki andil dalam masyarakat dari pada kelas subordinat. Selain itu, kelompok dominan dapat dengan mudah memaksakan kehendak kepada kelompok subordinat.

Dari penjelasan di atas kiranya sangat jelas bahwa teori konflik adalah wajah baru dengan badan yang sama dari fungsionalis. Bedanya, fungsionalis lebih optimis pada keteraturan dan stabilitas. Sedangkan, konflik cenderung memandang segala hal sebagai pertentangan. Padahal, dalam masyarakat tidak melulu perihal keteraturan maupun pertentangan. Keduanya adalah hal-hal kecil dalam masyarakat.
Read More

Kampanyekan Pendidikan Seks, Bukan Ketabuan Seks!

No comments:



Apa yang pertama kali terpikir ketika mendengar kata seks? Film pornografi, senggama, alat reproduksi, atau hal 'memalukan' tentangnya? Kalau iya, berarti kalian belum pernah belajar tentang pendidikan seks atau kemungkinan besar menganggapnya sebagai ketabuan. 

Di negara kita ini memang belum banyak orang yang mengenal pendidikan seks. Karena yang ada dalam benak mereka hanyalah hal-hal negatif tentang pendidikan seks, seperti penyakit seks, pelecehan seksual, seks bebas, dan lain sebagainya.

Padahal, pendidikan seks bukan hanya sebatas alat reproduksi dan tindakannya, tetapi cara merawat, menjaga, dan meminimalisir tindak kekerasan seksual. 

Kalau sudah terkonstruk tentang hal-hal negatifnya seperti itu, lantas siapa yang harus bertanggungjawab? Pendidikan seks bukan hanya tanggung jawab personal, lho.

Semua orang memiliki peran terhadapnya. Baik pemerintah, pendidik, masyarakat, keluarga, dan anak-anak juga harus ikut andil dalam mengkampanyekan pendidikan seks. Lantas bagaimana caranya? 

Pertama, keluarga adalah tempat segala jenis pendidikan, termasuk pendidikan seks untuk yang pertama kalinya bagi anak. Jika dirasa anak sudah mulai mengerti, ajak dia untuk mengenali organ pada tubuhnya. Tentunya dengan metode yang menyenangkan seperti bernyanyi atau menggunakan gerakan aktif supaya Si Anak nyaman dalam belajar. 

Tahu sendirikan, kalau anak kecil mudah bosan? Oleh karena itu, orangtua perlu membuatnya merasa bahagia dan nyaman dalam pelajaran perihal seks untuk pertama kalinya. Gunakan berbagai macam cara agar anak paham dalam mengenal organ tubuhnya. 

Kedua, dalam pendidikan formal di sekolah maupun kuliah, pendidikan seks telah disisipkan di mata pelajaran seperti biologi. Tentu saja pelajarannya akan semakin kompleks seiring dengan tingginya tingkat.

Namun, bukan berarti peran keluarga, terutama orangtua sudah selesai ketika anak sudah masuk pendidikan formal, ya? Orangtua tetap mengawasi dan memberikan arahan yang sesuai kebutuhan Si Anak. 

Karena menginjak masa-masa di pendidikan formal ini biasanya Si Anak memiliki ego yang tinggi.

Mereka suka mencoba hal-hal baru dan cenderung sulit diprediksi kemauannya. Ya, mau gak mau, orangtua harus ekstra hati-hati dalam memberikan arahan. Jangan sampai anak dan orang tua malah sama-sama terpancing emosi. Jadi tambah runyam nanti masalahnya. 

Ketiga, belajar tentang pendidikan seks dengan ahlinya. Kalau ini memang wajib dilakukan, ya, kawan. Baik anak-anak maupun orangtua, kalau tidak tahu perihal penanganan seks, ya, bilang saja tidak tahu.

Jangan mengada-ada atau memberi jawaban yang "halu". Atau lebih baik menanyakannya kepada ahlinya. Kalau tidak, bisa panjang nanti urusannya. 

Tapi, biasanya orangtua kebanyakan gengsi untuk bilang tidak tahu. Alasannya klasik, takut dikira orangtua, kok, nggak tahu apa-apa. Padahal orangtua juga manusia, juga ada yang tidak diketahuinya. Jadi katakan terus terang saja, tidak usah gengsi. 

Keempat, belajar dari buku tentang pendidikan seks atau melihat video sex education di channel youtube. Kan, sekarang lebih keren, nih. Belajar tidak melulu harus menemui ahlinya.

Kita bisa beli buku atau menonton secara gratis di laman youtube-nya dokter, misal. Beginikan terkesan lebih efektif, ya kan? 

Namun, kalau ada istilah atau kurang paham dari penjelasan di buku atau video, tetap harus menanyakannya pada ahlinya, lho, ya. Jangan menafsirkan sendiri maksudnya. Bisa-bisa malah salah kaprah lagi. 

Oh, iya, bagi orangtua, tetap dampingi dan bimbing anak-anak dalam pendidikan seks, ya. Dan anak-anak pun juga begitu, mintalah orangtuamu untuk mendampingi selama proses belajar. Jangan sampai salah belajar dan mengaplikasikannya. 

Terakhir, ajarkan keadilan seks. Percuma, dong, kalau belajar ini itu tentang seks tetapi tetap ada diskriminasi di dalamnya. Kalau di pendidikan seks pastinya sepalet dengan organ, kesehatan, perawatan, dan pencegahan. Namun, belum lengkap jika tidak memasukkan materi yang serumpun dengannya, keadilan seks. 

Kenapa ada banyak pelecehan seksual yang terjadi di masyarakat? Kenapa banyak seks bebas di kalangan pelajar? Dan kenapa pula selalu ada pihak yang termarginalkan dalam kasus-kasus kejahatan seks? 

Semua itu dapat diminimalisir dengan adanya pemahaman tentang keadilan seks. Menurut kalian bagaiman mungkin seorang pelajar yang notabenenya adalah seorang yang mengerti pendidikan seks, tapi malah terjerumus seks bebas?

Ya, karena mereka salah mengaplikasikan pendidikan seks dan tidak paham keadilan seks. 

Oleh karena itu, pendidikan seks adalah kebutuhan semua orang. Hal ini dikarena semua orang berpotensi mengalami kejahatan seksual. Dengan adanya pengetahuan tentang seks, semua orang akan berpatisipasi untuk saling melindungi. 

See, mengkampanyekan pendidikan seks itu lebih penting dari pada koar-koar masalah ketabuannya. Saya rasa, justru ketabuanlah yang memicu tindak kejahatan seksual.

Singkatnya, mereka yang menganggap tabu akan semakin tidak tahu. Ketidaktahuan akan menciptakan rasa keingintahuan. Hingga akhirnya salah dalam teori pun dalam pengaplikasiaannya. 

Jadi, mulailah ubah cara pandangmu tentang tabu-tabu perihal seksualitas. Karena tabu terhadapnya adalah kebodohan.
Read More

Corona: Tempatkan Sapiens pada Posisinya

No comments:



Tahun ini dunia digegerkan dengan isu serentak, Corona Virus (Covid-19). Semua memang bermula dari penyakit yang hanya bertengger di Wuhan, China. Namun, lambat laun virus ini mulai menggerogoti dunia. 

Sontak saja covid-19 ini membuat panik warga dunia. Pasalnya, virus ini telah menelan banyak korban dalam hitungan jam. Apalagi bagi mereka yang memiliki penyakit dalam, seperti jantung misalnya, akan mudah saja meninggal saat itu juga. 

Selain itu, akibat dari virus ini adalah akses kegiatan yang semakin dibatasi. Pemerintah Indonesia misalnya, menetepkan kebijakan untuk work from home (WFH), kegiatan belajar mengajar di rumah, larangan untuk mudik, dan tidak boleh keluar rumah kecuali memang mendesak. 

Semua wacana di atas hampir sama dengan yang ditulis oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya, Sapiens (2018). Ia menyebut bahwa Sapiens telah mengalami beberapa revolusi dalam hidupnya. Harari mencatat sekiranya ada tiga tahapan yang dilalui Sapiens, yaitu revolusi kognitif, revolusi pertanian, dan revolusi sains. 

Pertama, revolusi kognitif yang identik dengan perkembangan bahasa dan komunikasi. Pada revolusi ini Sapiens mulai berkomunikasi dengan menciptakan bahasa ataupun kode yang hanya bisa dimengerti oleh kelompoknya saja.

Hal ini semakin berkembang dengan munculnya kebiasaan Sapiens mengobrol satu sama lain, atau Harari menyebut ini dengan bergosip. 

Mengingat hal tersebut, sebenarnya sebelum pandemi pun manusia telah gemar bergosip. Namun, gosip ini semakin marak saja semenjak pandemi ini muncul. Inilah salah satu faktor yang memicu tersebar luasnya wacana pandemik di masyarakat, bahkan mereka yang terbelakang sekali pun. 

Kedua, revolusi pertanian adalah masa yang gemilang setelah revolusi kognitif. Revolusi ini ditandai dengan keinginan manusia untuk menetap dan menghidupi dirinya sendiri dengan hasil bercocok tanam. Dengan ini Sapiens tidak perlu lagi berpindah-pindah tempat tinggal dan berburu makanan. 

Hal ini serupa dengan apa yang sedang kita alami di tengah-tengah pandemi ini. pergerakan masyarakat sedang dibatasi. Mereka hanya dapat melakukan aktivitas di rumah saja. Selain itu, beberapa petani juga tidak dapat mendistribusikan hasil pertanian di luar daerahnya.

Jadi, mereka hanya dapat memakan sendiri hasil pertaniannya atau paling tidak hanya dapat menjualnya di daerah masing-masing. 

Ketiga, revolusi sains yang ditandai dengan munculnya teknologi canggih. Hal ini tidak saja membantu meringankan pekerjaan manusia, tetapi juga menggantikan manusia itu sendiri. Pasalnya, jika manusia tidak dapat memanfaatkannya dengan bijak, mereka akan diperbudak oleh objek ciptaannya sendiri. 

Bukankah hal ini juga telah dialami manusia sebelum atau bahkan selama masa pandemi ini? Beberapa dari mereka justru asik menghabiskan waktunya dengan memainkan handphone untuk bermain game, membaca artikel yang belum tentu kebenarannya, atau bahkan gemar membagikan artikel hoax. Namun, tidak jarang dari mereka juga dapat memanfaatkan waktu untuk bekerja lewat online. 

Berdasarkan pemaparan di atas, Corona telah memberi warna bagi masyarakat dunia. Ia tidak hanya memberikan dampak negatif tetapi juga sepaket dengan dampak positifnya.

Paling tidak, dengan ini manusia disadarkan dengan posisinya seperti yang diungkapkan Harari dalam Buku Sapiensnya itu. 

Selama pandemi tersebut, manusia telah menempati posisi yang sebelumnya hanya dinikmati oleh Sapiens pada masanya. Manusia yang katanya telah melampaui revolusi industri ini, nyatanya masih suka tradisi masa lalu.

Namun, yang terpenting adalah tetap saling menjaga satu sama lain dan saling menghormati di mana pun posisinya.
Read More

Berkaca Dari Gerwani: Perempuan Memang Perlu Kiri

2 comments:



Kata siapa perempuan Indonesia pasif? Kata siapa perempuan Indonesia tidak pernah melakukan perlawanan? Dan kata siapa pula perempuan Indonesia tidak mampu bertindak kiri?

Introgasi semacam itu memang acap kali dilontarkan oleh masyarakat luas. Selain itu kebanyakan intelektual akan menjawabnya dengan ujaran terkait feminisme dari Barat. Namun, feminisme yang seperti apa yang telah ada di Indonesia?

Indonesia sendiri telah memiliki tokoh-tokoh feminisme. Tokoh-tokoh tersebut adalah Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Christina Martha Tiahahu, Kartini, Siti Soendari, dan lain sebagainya.

Bukan hanya itu, bahkan Indonesia harusnya bangga dengan adanya organisasi perempuan yang bukan hanya tranformatif, tetapi lebih condong ke arah kiri, yaitu Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang telah berdiri sejak tahun 1951.

Gerwani mungkin terdengar asing dan tidak banyak yang tahu tentangnya. Hal ini disebabkan karena memang keberadaannya tidak selanggeng organisasi lainnya. Selain itu, organisasinya dianggap terlalu kiri dan membahayakan kedudukan pemerintahan saat itu. Sehingga cepat saja gerakan ini ditumbangkan oleh golongan atas.

Singkatnya, menurut Nur Sayyid Santoso Kristeva dalam bukunya Manivesto Wacana Kiri, ia menyebut bahwa Gerwani ini dulunya bernama Gerakan Wanita Istri Sedar (Gerwis).

Karena adanya ketidakpuasan dalam gerakan ini, seperti yang hanya dapat bergerak sebatas keperempuanan, maka digantilah dengan nama Gerwani.

Sehingga gerakan ini menjadi lebih leluasa dengan berbagai pergerakan revolusioner atau antiimperialisme, serta merambah pula di ranah sosial, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Namun, ketika Gerwani mulai mengepakkan sayapnya demi keadilan masyarakat, organisasi ini diberangus oleh pemerintah. Hal ini terjadi ketika rezin Soeharto telah menganggap Gerwani sebagai organisasi terlarang.

Bukan hanya itu, Soeharto menyebut Gerwani sebagai organisasi yang tidak mencerminkan organisasi perempuan Indonesia yang yang lemah lembut, berbudi baik, dan anggotanya malah syarat akan pelacur. Oleh karenanya, Gerwani dibubarkan secara paksa oleh rezim Soeharto.

Dan demi mencegah munculnya kembali gerakan-gerakan serupa, Soeharto dan pasukan militernya melalui propaganda media, mengaburkan sejarah tentang Gerwani. Seperti Gerwani yang terlibat dalam pembunuhan Jendral pada peristiwa G30SPKI, melakukan tarian seks, dan melakukan penyiksaan. Padahal kenyataannya mereka sedang melakukan pelatihan penggayangan Malaysia.

Dari sini terlihat jelas bukan, bahwa gerakan perempuan Indonesia nyatanya telah ada sejak dulu. Dan tuntutannya pun jelas, bukan semerta-merta hanya menginginkan kesetaraan yang omong kosong.

Justru mereka yang masih mempertanyakan “kesetaraan yang bagaimana, sih, yang diinginkan perempuan itu?” adalah mereka yang sebenarnya telah cacat akan sejarah pergerakan perempuan. Sorry, but I'm not sorry.

Dan hal yang perlu digaris bawahi adalah perempuan Indonesia tidak pernah pasif atau bahkan tunduk begitu saja pada rezim yang tidak berakhlak mulia. Selalu ada perlawanan yang mereka lakukan. Namun, tetap saja ada golongan berkuasa yang merasa terancam terhadap keberadaannya.

Nah, dari sini, kita bisa berkaca dari Gerwani bahwa perempuan memang perlu kiri. Bukan karena mereka ingin dilihat keberadaannya oleh dunia. Apalagi ingin terlihat berkuasa. Namun, memang ketidakadilan harus segera dimusnahkan.

And see, mereka yang yang berjuang sekeras itu saja mampu ditumbangkan oleh rezin tiranik. Apalagi kita yang hanya diam dan tetap merasa seolah diri kita sedang baik-baik saja. Kita harus melawan ketidakadilan dan angan mau di-ninabobo-kan oleh segala bentuk penindasan.

Dan untuk kalian yang masih suka koar-koar tentang kesetaraan apa yang diinginkan perempuan, coba jejali otak kalian dengan amunisi keilmuan yang berbobot. Cobalah bersama-sama untuk mencapai keadilan. Karena keadilan adalah pekerjaan bersama yang dilakukan seumur hidup.
Read More

Semua Organisasi Butuh "AGIL"

No comments:



Adakah makhluk-makhluk Tuhan di sini yang tidak pernah berkecimpung di organisasi? Atau pernah masuk tapi keluar karena sistem keorganisasian yang minus? Minimal pernah tahu organisasilah, ya?

Sekumpulan orang yang bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan yang sama itulah yang disebut organisasi. Tentunya setiap organisasi punya tujuannya masing-masing, dong. Nah, untuk mencapai itu ada banyak jalan dan cara yang perlu ditempuh.

Oleh sebab itulah, banyak anggota organisasi yang terkadang kontra satu sama lain. Di sini peran antaranggota dan sistem perlu diperhatikan. Apakah ada problematika antaranggota? Atau jangan-jangan malah sistemnya yang bobrok?

Menurut sosiolog strukturalis fungsionalis berkelahiran Colorado, Amerika Serikat, Talcott Parson, sebuah sistem atau struktur organisasi memang harus berjalan sesuai dengan fungsinya agar dapat berjalan baik satu dengan yang lainnya. Lantas bagaimana caranya?

George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi (terj.) menyebutkan bahwa Parson menyatakan organisasi itu perlu menerapkan sistem AGIL atau Adaptation (adaptasi), Goal attainment (pencapaian tujuan), Integration (integrasi), dan Latency (pemeliharaan pola).

Pertama, adaptation (adaptasi) adalah sistem yang dapat mengatasi kebutuhan situasional yang datang dari luar organisasi. Maksudnya, anggota organisasi harus mampu beradaptasi dengan lingkungan di luar organisasi. Mereka tidak mungkin berdiri sendiri tanpa adanya bantuan dari luar sebagai relasinya.

Dengan ini, setiap ada agenda di dalam organisasi misalnya, mereka dapat meminta bantuan kepada relasinya. Bantuan tidak semata-mata berupa uang, bukan? Relasi dapat membantu berupa tenaga, promosi, menyemarakkan agenda organisasi, dan lain sebagainya. Itulah mengapa, beradaptasi dengan lingkungan luar sangat penting.

Kedua, goal attainment (pencapaian tujuan) adalah organisasi harus memiliki sistem yang mendorong untuk mencapai tujuan. Di sini, tidak mungkin suatu organisasi berdiri dengan kosong tanpa tujuan. Akan selalu ada tujuan yang hendak dicapai. Itulah yang dinamakan goal attainment atau tujuan dalam organisasilah singkatnya.

Nah, yang sering dianggap tujuan oleh anggota organisasi itu hampir semua yang dianggapnya pencapaian yang terkesan "wah". Seperti keinginan untuk menjadi organisasi terbaiklah, organisasi famous-lah, atau organisasi yang inilah itulah. Padahal, setiap agenda yang telah selesai itu adalah satu tingkat tangga yang telah diselesaikan, bukan tujuan organisasi.

Mengapa demikian? Sudah selayaknya menempatkan tujuan itu di akhir. Supaya anggota-anggota organisasi ini tidak mudah besar kepala dan merasa puas atas pencapaiaannya. Padahal masih ada hal besar lagi yang harus digapai.

Ketiga, integration (integrasi) adalah organisasi harus memiliki sistem yang mengatur hubungan antarbagian supaya menjadi komponen yang utuh. Sistem inilah yang mengikat satu dengan yang lain, yaitu A, G, dan L. Tanpa integration, organisasi akan menjadi bagian yang berjalan sendiri-sendiri.

Singkatnya, integration itu adalah berbaur. Semacam sesama anggota organisasi perlu untuk saling mengayomi. Hal ini tentunya tidak luput dari adanya komunikasi yang baik antaranggota.

Terakhir, latency (pemeliharaan pola) adalah organisasi harus memiliki sistem yang melengkapi, memelihara, dan memperbarui motivasi anggota organisasi. Sebelum masuk organisasi pastinya punya keinginan, dong. 

Misalnya, saya masuk organisasi A agar bisa mengembangkat bakat. Ya, inilah latency, adanya pemeliharaan keinginan atau alasan untuk tetap berorganisasi.

Saya rasa itu semua sudah gamblang. Betapa butuhnya AGIL dalam organisasi. Dan masuk organisasi bukan hanya untuk eksis saja, tetapi upgrate diri.

Selamat berorganisasi dan tetap bijak dalam hidup.
Read More

GENESIS GERAKAN MAHASISWA INDONESIA

No comments:


Indonesia semakin berkembang saja. Entah dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun pendidikannya. Namun, siapa sangka bahwa perkembangan Indonesia tidak luput dari peran serta golongan muda, gerakan mahasiswa. 

Menurut Nur Sayyid Santoso Kristeva dalam bukunya Manifesto Wacana Kiri (2015), Soewarsono telah menyebut bahwa sejarah awal Indonesia modern dipelopori oleh gerakan mahasiswa. Ia menyebut bahwa sekurang-kurangnya ada empat gerakan mahasiswa besar, yaitu angkatan 1908, angkatan 1928, angkatan 1945, dan angkatan 1966. Baru setelah itu muncullah angkatan 1998 yang melahirkan munculnya gerakan-gerakan mahasiswa hingga saat ini. 

Pertama, Angkatan 1908 dianggap sebagai gerakan mahasiswa yang mampu membidani lahirnya Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada 1908. Gerakan mahasiswa pertama di Jawa ini memang masih bersifat kesukuan, namun mereka telah memiliki cita-cita untuk merdeka. 

Kedua, Angkatan 1928 telah mengurangi sifat kesukuannya. Pada masa ini, gerakan mahasiswa telah mengikrarkan sumpah pemuda sebagai wujud persatuan bangsa, bukan lagi kesukuan. Meskipun sebelumnya, pada tahun 1922 telah ada gerakan mahasiswa yang dipelopori oleh Mohammad Hatta dengan gerakannya, yaitu Perhimpoenan Indonesia, namun ini hanya berkembang di Belanda dan belum memberikan pengaruh yang besar terhadap Indonesia. 

Ketiga, Angkatan 1945 adalah angkatan muda yang berhasil membuat Indonesia memprokamasikan kemerdekaannya. Angkatan ini mulanya telah menculik Soekarno dan Hatta agar tidak terpengaruh oleh hasutan Jepang kala itu (peristiwa Rengasdengklok). Hingga mereka berhasil memaksa Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. 

Keempat, Angkatan 1966 menurut Santoso Kristeva adalah angkatan yang mendasari perubahan kekuasaan dari Orde Lama (Soekarno) ke Orde Baru (Soeharto). Selain itu, angkatan ini dinilai telah berhasil mengangkat isu bahwa Komunis adalah bahaya negara. Angkatan '66 berhasil meyakinkan masyarakat untuk mendukung mahasiswa dalam menentang Komunis yang diusung oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Pergerakan mahasiswa belum berhenti. Gerakan Mahasiswa semakin kristis dalam urusan politik negara. Yang mana pada Orde Baru telah banyak mengalami penyelewengan, seperti adanya pembungkaman kebebasan berpendapat, maraknya korupsi, kolusi, dan nepotise (KKN), dan puncaknya adalah krisis moneter. Hal inilah yang memicu lahirnya gerakan mahasiswa angkatan 1998. 

Angkatan 1998 jelas dibuat geram oleh kepemimpinan Soeharto. Bagaimana tidak, seakan-akan pergerakan mahasiswa dibatasi hanya wilayah kampus. Selain itu, segala bentuk kritik terhadap pemerintah telah dianggap salah dan harus dipenjarakan. 

Oleh sebab itu, pada tahun 1998 banyak sekali aksi represif mahasiswa dalam menanggapi Orde Baru, seperti yaitu peristiwa gejayan, tragedi semanggi I dan II, serta puncaknya adalah ditembaknya empat mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998. Angkatan ini semakin berkobar dan mendapat dukungan dari rakyat pula, hingga berhasil mepengserkan Soeharto tepat pada 21 Mei 1998. 

Perjuangan mahasiswa tidak akan pernah berhenti. Selama masih ada ketidakadilan yang diterima rakyat, pergerakan mahasiswa tidak akan pernah berhenti. Dan selama pemerintahan masih menyeleweng, selama itu pula perjuangan mahasiswa tidak akan pernah mati. 

Siapa bilang perjuangan mahasiswa hanya sebatas turun ke jalan untuk berdemonstrasi? Mahasiswa bisa berjuang dengan berpikir kritis, mampu untuk speak up, dan aktif dalam penegakan keadilan. Jika semua itu tidak dapat dilakukan, setidaknya biarkan pena yang berbicara.
Read More

BUKU APA YANG MENEMANIMU DI MASA PANDEMI?

No comments:


Masa pandemi membuat kita semua, hampir semuanya menghabiskan waktu di rumah saja. Jika biasanya, kita dibuat sibuk dengan beragam aktivitas yang membuat kita memerankan rumah hanya sebagai tempat singgah dan istirahat sekejab, maka tidak untuk kali ini.

Work from home (WFH) menjadi salah satu anjuran dari pemerintah untuk memutuskan rantai penularan pandemi dan hal itu otomatis membuat kita yang biasanya melalangbuana dari pagi hingga petang, kali ini akhirnya menjadi penghuni tetap di rumah. Rumah kembali mendapatkan momentumnya untuk menjadi rumah yang sebenarnya.

Dalam masa seperti ini, saya cenderung seseorang yang mudah bosan jika tidak mendapati hal baru dalam setiap harinya. Karena kebosanan itu akan berujung dengan hal yang tidak baik, misal merengek-rengek kepada suami untuk diajak ke sana ke mari dan hal itu cukup membahayakan, maka saya mulai menengok rak buku. Ada beberapa buku yang sudah saya beli dan belum sempat dibaca. Maka, mengapa tidak menghabiskan waktu dengan melahapnya satu demi satu?

Buku pertama yang saya ambil adalah buku Fundamentals of English Grammar karangan Betty S. Azar dan Stacy A. Hagen. Buku itu memberikan banyak sekali materi grammar sekaligus latihan. Saya memafhumi bahwa saya masih belum tajam dalam bidang ini, meski saya lulusan magister Tadris Bahasa Inggris.

Jika kelak menginginkan kemahiran dalam tes TOEFL atau IELTS dengan hasil yang memuaskan, maka saat ini adalah momentumnya. Ada beberapa buku yang memang khusus saya beli untuk mengasah ketajaman IELTS, karya Barron. Hanya saja, memang saat ini saya ingin merampungkan terlebih dahulu buku Grammar Fundamentals ini.

Bahasa Inggris, sepaham saya jika tidak sering diasah dengan sering membaca buku, latihan soal, dan menulis akan sulit untuk dikuasai. Membaca karya ilmiah, novel atau buku-buku lain berbahasa Inggris secara otomatis akan memperkaya wawasan dan vocabulary, sehingga produksi vocab bukan hanya itu-itu saja, melainkan bervariatif.

Dan jika mungkin dahulu saya sering berdalih sibuk, maka saat ini tidak ada alasan untuk itu meski memang ada kewajiban mengajar kelas daring untuk beberapa hari. Maka, pandemi membuat saya berhasil melakukan pendekatan terhadap Betty S. Azar dan Barron.

Buku kedua yang saat ini sedang saya cicil adalah karya novelis Indonesia, Kang Abik, dengan judul karyanya, Api Tauhid. Ada beberapa hal di dalam buku itu yang membuat saya merinding. Seperti seolah-olah, Kang Abik mengajak kita untuk menyaksikan langsung bagaimana Badiuzzaman Said Nursi berjuang untuk menegakkan Islam di tengah masyakarat yang sekuler, terutama ketika terjadi pergolakan politik di Turki, juga sebab imbas dari Perang Dunia I.

Beliau adalah seorang ulama yang mahir dalam bidang ilmu agama dan ilmu sains. Ada kalimat beliau yang saya jadikan pedoman, yakni “Cahaya kalbu adalah ilmu-ilmu agama, sementara sinar akal adalah ilmu sains. Dengan perpaduan antara keduanya, hakikat akan tersingkap. Adapun jika keduanya dipisahkan, maka fanatisme akan lahir pada pelajar ilmu agama dan skeptisisme akan muncul pada pelajar ilmu sains.”

Seperti novel-novel beliau sebelumnya, Kang Abik menyisipkan banyak sekali mutiara hikmah yang didapat dari kitab-kitab karangan ulama di dalam karyanya. Sejak 2007, saya adalah penggemar karya beliau, yakni novel beliau pertama yang saya baca, Ayat-ayat Cinta. Karya tersebut membuat saya terus mengikuti karya beliau lainnya, KCB 1, 2, Bumi Cinta, dan lainnya. Buku itu masih saya cicil, setiap hari, belum rampung. Sebab memang terdapat 587 halaman.

Karya lain yang sudah saya rampungkan selama masa pandemi ini adalah karya Ihsan Abdul Quddus, salah seorang sastrawan Mesir, mantan advokat, jurnalis dan wartawan beberapa media massa di Mesir. Judul karya beliau yang saya baca adalah Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan.

Kegalauan yang saya alami sebagai seorang perempuan dalam menempatkan diri di tengah kecamuk ambisi, karier dan cinta mendapatkan pencerahan tatkala saya sudah melumat habis buku ini. Suad, tokoh perempuan di dalam buku itu adalah sosok yang mulanya memiliki beberapa kesamaan dengan saya dalam bagian ambisi dan karier.

Namun sayang, Suad lebih mementingkan itu semua dibanding dengan cintanya, sehingga Suad seperti menafikan sisi keperempuanannya sebagai seorang istri dan ibu. Memang boleh memiliki ambisi sedemikian rupa sebagaimana Suad, namun untuk apa jika segala keagungan duniawi sudah berada di genggaman, namun hidup hanya dibayang-bayangi kesendirian, tanpa cinta yang mengiringi.

Membaca karya Ihsan Abdul Quddus akhirnya membuat saya mafhum dan berani mengambil keputusan besar dalam hidup. Saya akan berkarier, namun saya juga akan menempatkan keluarga dalam posisi sederajat dengan karier dan ambisi saya. Keduanya harus mampu seimbang, terlebih, saya menduduki posisi sebagai istri dan ibu, posisi vital dalam keharmonisan dan kesejahteraan dunia keluarga.

Buku keempat yang sedang dalam proses membaca adalah novel Kala. Saya sangat tertarik dengan bahasa sastrawi yang terdapat dalam novel tersebut. Disebutkan bahwa ‘kita adalah sepasang luka yang saling melupa’.

Tokoh Lara dan Saka dalam novel tersebut saling tumpang tindih, interchangeable dalam memosisikan sudut pandang orang pertama, pelaku. Karena gagal paham dengan gaya bahasanya, saya akhirnya memutuskan untuk memberi jeda terlebih dahulu.

Buku kelima yang saat ini menemani saya adalah karangan bapak linguistik dunia, John R. Searle, Rationality in Action. Buku ini berbahasa Inggris, salah satu buku yang menjadi nutrisi dalam berbahasa Inggirs, selain karena ditulis oleh native speaker, buku ini juga memuat filosofi bagaimana berpikir secara rasional.

Saya masih berada di tahap di mana berpikir rasional yang dimiliki manusia memiliki perbedaan dengan cara berpikir simpanse dan hewan lainnya.

Sebenarnya tujuan saya membaca buku ini adalah sebagai pengantar untuk memahami pemikiran beliau dalam karya beliau yang lain, yakni Expression and Meaning, Mind: A Brief Introduction, The Philosophy of Language, dan Speech Acts.

Terkait judul tesis yang saya ambil, seharusnya memang buku-buku tersebut sudah rampung diselesaikan untuk membantu proses analisis dan ketajaman berpikir. Namun karena perihal yang lain, buku tersebut masih berada dalam proses membaca. Meski saya tahu terlambat, tapi dalam belajar tidak ada istilah terlambat.

Beberapa judul tersebut adalah buku yang sudah menemani saya dalam masa pandemi ini. Meski saya mafhum, masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan predator buku yang lain jika dinilai dari segi kuantitasnya. Oleh sebab posisi saya saat ini sebagai ibu rumah tangga, menantu, pendidik, akhirnya waktu untuk membaca mengalami pengurangan.

Saya juga tidak menjamin, jika banyak waktu luang mampu saya dayagunakan sebagai aktivitas produktif untuk membaca, sebab di luar sana, meski orang-orang besar disibukkan dengan beragam hal, namun beliau-beliau masih membaca, bahkan masuk dalam kategori pembaca dan penulis yang sangat luar biasa.

Dan hal tersebut merupakan pilihan yang kita juga bisa memilihnya. Terlebih memanfaatkan masa-masa pandemi seperti sekarang ini, yang mungkin melelahkan dan menjemukan kita harus tinggal di tempat. Membaca bisa membuat kita ke masa dan tempat yang berbeda, ketika kita harus tetap tinggal di mana kita berada.

Saya ingat nasihat dari Dr. Ngainun Naim, jika ingin mengalami transformasi hidup, maka mari berliterasi, banyak-banyak membaca dan meproduksi tulisan. Sesungguhnya tidak ada waktu sibuk dalam belajar, ini hanya tentang prioritas.

loading...
Read More