Latest Posts

Showing posts with label Kupas. Show all posts
Showing posts with label Kupas. Show all posts

MENYELISIK DISKURSUS DAN METODE DESCARTES

No comments:

by. Miftakul Ulum Amaliyah

Rene Descartes adalah adalah filsuf Prancis sekaligus matematikawan. Sumbangsihnya terhadap pembaruan dalam filsafat inilah yang menjadikannya sebagai bapak filsafat modern. Selain itu, dalam bukunya yang berjudul Discourse on Method (Diskursus dan Metode, terj.) ini, ia menuangkan berbagai pemikirannya.

Bukunya ini berisi enam bagian, yaitu pembahasan perihal ilmu pengetahuan, kaidah-kaidah pokok perihal metode, beberapa kaidah moral yang didasarkan atas metode kesangsian, bukti-bukti keberadaan Tuhan dan jiwa manusia atau asas-asas metafisika, urutan pembahasan masalah-masalah metafisika, dan hal-hal yang merupakan prasyarat dalam penelitian alam.

Bagian pertama, Descartes menunjukkan pengertian nalar kepada pembaca. Nalar atau rasio menurutnya adalah akal sehat yang menjadi satu-satunya hal pembeda antara manusia dengan hewan. Dengan nalarlah, keanekaragaman pendapat itu muncul. Namun, hal ini tidak membenarkan bahwa penalaran yang berlainan adalah suatu yang lebih dapat dinalar. Sebab, penulis menekankan bahwa nalar yang baik tidaklah cukup, yang lebih penting adalah menggunakannya dengan baik.

"Orang-orang yang memiliki daya nalar tinggi, dialah yang mampu mengatur pikirannya dengan cara sebaik-baiknya untuk menjadi jelas dan mengerti serta mampu meyakinkan orang lain tentang apa yang telah mereka ungkapkan." (Descartes, h. 29)

Nalar ini, dijadikan penulis sebagai dasar dalam metodenya, yaitu kesangsian. Maksudnya, ia meragukan segala sesuatu yang ada. Dengan demikian, setidak-tidaknya manusia telah menemukan kebenaran ataupun kesalahan dengan nalar atau rasionya sendiri.

Bagian kedua berisi tentang bagaimana Descartes mereformasi sesuatu yang common sense atau pada umumnya. Sebagaimana metodenya, kesangsian, ini berguna untuk menghindarkan diri dari suatu kesalahan. Maka dari itu, perlu untuk memperhatikan prinsip-prinsip yang digunakan, yaitu tidak pernah menerima apapun sebagai seauatu yang benar kecuali mengetahuinya dengan jelas, memilah satu persatu kesulitan, berpikir secara runtut, dan membuat perincian selengkap mungkin.

Bagian ketiga, penulis menjelaskan betapa pentingnya moral dalam metodenya. Ia bahkan menjabarkannya kedalam empat prinsip. Hal ini antara lain, yaitu tetap mematuhi undang-undang dan adat istiadat negera dan berpegang teguh pada agama, bersikap tegas dan semantap mungkin dalam memutuskan dan mengikuti pendapat yang diyakini, berusaha melampaui diri dari pada menunggu nasib, dan menelaah berbagai kegiatan yang bisa silakukan untuk mendapatkan yang terbaik.

"Hendaklah kita mengejar atau menghindari sesuatu semata-mata karena nalar kita menganggapnya baik atau jelek, cukuplah menilai baik agar bertindak baik, dan menilai sebaik mungkin guna mencapai kebenaran." (Descartes, h. 59)

Rupanya dalam metode Descartes tetap memiliki batasan. Metodenya dibingkai secara epik oleh prinsip-prinsip moral. Namun, dengan hal itu pula setidak-tidaknya hanya diri kita sendiri yang dapat menentukan suatu kebenaran.

Bagian empat berisi tentang segala seauatu yang metafisika. Lagi-lagi dengan metode kesangsian, Descartes dapat menemukan sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh indra. Ia menemukan jiwa dalam tubuh manusia, namun dengan segala keterbatasan dan ketergantungannya. Oleh sebab itu, ia mencapai sesuatu yang sempurnya, yaitu Tuhan. Descastes menyebut-Nya sebagai sesuatu yang tidak lagi dapat disangsikan.

Bagian kelima, setelah mengungkap eksistensi atau keberadaan Tuhan, di bagian ini penulis menjabarkan kesempurnaan yang dimiliki-Nya. Ia menyebutkan bahwa eksistensi Tuhan dapat dibuktikan oleh keberadaan alam semeata dengan segala isinya. Hingga ia menemukan hukum alam dan posisi manusia didalamnya.

Bagian terakhir memuat tentang prasyarat dalam penelitian. Ia menjelaskan bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah menemukan secara umum prinsip atau sebab-sebab pertama sesuatu yang akan ditelitinya. Kemudian mengkaji akibat pertama dari sebab-sebab tersebut.

Semua ini memang akan berbeda dengan prasyarat yang dituliskan oleh orang lain. Namun, inilah yang dilakukan Descartes dalam segala penelitiannya. Berdasarkan penjabaran di atas, memang sulit untuk memahami betapa kompleksnya pemikiran penulis. Selain itu, dari tulisannya terlihat jelas bahwa serasionalis apapun Descartes, ia tetap terjebak juga dalam metafisika. Namun, kita patut bersyukur karena pemikirannya ini telah memberikan sumbangsih yang besar terhadap masa modern.

Keterangan  :

Judul buku : Diskursus dan Metode

Penulis : Rene Descartes

Penerjemah : Ahmad Faridl Ma'ruf

Penerbit : IRCiSod

Kota terbit : Yogyakarta, 2015

ISBN : 978-602-255-770-8

loading...
Read More

MENGARIFI TUJUH TEORI AGAMA

2 comments:

Era modern telah menjadi era yang kaya akan kategorisasi. Hal ini tidak terkecuali pada agama. Masyarakat telah menganut agama sejak mereka dilahirkan dari orang tuanya. Namun, tahukah mereka dari mana agamanya berasal?

Seven Theories of Religion adalah buku karya Daniel L. Pals. Yang mana buku ini akan memberikan gambaran singkat tentang agama dari ketujuh tokoh yang berpengaruh. Tokoh-tokoh tersebut antara lain, yaitu E. B. Tylor dan J. G. Frazer, Sigmund Freud, Emile Durkheim, Mircea Eliade, E. E. Evans-Pritchard, dan Clifford Geertz.

Pertama, Edward Burnett Tylor dan James George Frazer adalah guru (Tylor) dan murid (Frazer) yang tertarik terhadap agama masyarakat primitif. Mulanya Tylor menyatakan bahwa untuk mengetahui agama masyarakat bukanlah dari bahasa saja (etnografi), tetapi juga belajar dari kebudayaannya (etnologi). Oleh sebab itulah Tylor menemukan "animisme" sebagai kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan memiliki kekuatan di balik sesuatu.

Sedangkan muridnya, Frazer memiliki pendapat berbeda meskipun dari pintu masuk yang sama. Bagi Frazer, dalam memahami agama masyarakat primitif, seseorang perlu tahu sesuatu yang magis. Hal inilah yang digunakan masyarakat primitif untuk memahami dan berupaya merubah alam dengan rasa simpati yang imitatif dan kontak. Sehingga seseorang akan sampai pada agama atau kepercayaan terhadap sesuatu yang supranatural, Tuhan.

Kedua, Sigmund Freud adalah psikolog asal Vienna, Austria. Ia terkenal akan teorinya, yaitu psikoanalisis. Sehingga penjelasannya terkait agama pun tidak akan lepas dari "kepribadian". Bagi Freud, agama adalah ilusi yang menarik manusia. Oleh karena itu, Freud menyebut orang yang beragama sebagai neurotis atau orang sakit jiwa. Karena seseorang yang beragama akan merasa bersalah seandainya tidak melakukan ritual-ritual keagamaan.

Selain itu, Freud juga memperkenalkan Totem dan Tabu. Totem adalah objek yang sakaral, sedangkan Tabu adalah hal yang terlarang atau tidak dibolehkan. Kedual hal ini adalah sesuatu yang melekat pada masyarakat beragaman dan bersifat mengikat.

Ketiga, Emile Durkheim adalah sosiolog asal Perancis. Berbeda dengan Freud yang menjelaskan agama dari kepribadian individu, Durkheim lebih tertarik untuk memahami agama dari masyarakat. Oleh karena itu ia mencetuskan Yang Sakral dan Yang Profan dalam memahami agama. Yang Sakral adalah seauatu superior, berkuasa, dalam kondisi normal ia tidak tersentuh, dan selalu dihormati. Sakral bukanlah sesuatu yang supranatural melainkan ia yang bersifat mengikat masyarakat. Sebaliknya, Yang Profan adalah bagian keseharian dari hidup yang bersifat biasa-biasa saja.

Keempat, Karl Marx adalah filsuf sosial Jerman dan pencetus teori komunisme. Dalam buku ini Pals lebih menjabarkan ekonomi Marx dari pada agama. Inilah yang membuat penjelasannya terlalu bertele-tele. Padahal, Marx hanya menyinggung sedikit sekali perihal agama. Sama seperti Freud, Marx adalah atheis. Jika Freud menganggap agama adalah ilusi, maka Marx akan menyebut agama sebagai bentuk alienasi. Agama menurut Marx adalah opium. Yang mana ia selalu dijadikan obat atau rujukan untuk menekan rasa sakit.

"Seseorang yang mencari manusia agung dalam realitas surga yang fantastis, tidak akan menemukan siapa pun, kecuali refleksi-refleksi dirinya sendiri. ...manusialah yang menciptakan agama, bukan agama (Tuhan) yang menciptakan manusia." (Marx, h. 243)

Kelima, Mircea Eliade, seorang ilmuan lintas budaya dari Rumania. Sama halnya dengan Durkheim, ia menerapkan Yang Sakral dan Yang Profan dalam memahami agama. Namun, penjelasannya mengenai kedua hal tersebut berbeda. Yang Sakral adalah wilayah yang supranatural, sesuatu yang ekstraordinasi, tidak mudah dilupakan dan amat penting.

Sedangkan, Yang Profan adalah bidang kehidupan sehari-hari, yaitu hal-hal yang dilakukan secara teratur, acak, dan tidak terlalu penting. Selain itu, penulis menyebutkan bahwa pebedaan Yang Sakral dan Yang Profan dari Durkheim dan Eliade adalah value-nya. Jika Durkheim menyebut ada suatu kelebihan dan kekurangan dalam sakral maupun profan. Maka, eliade menyebutkan bahwa yang positif adalah Yang Sakral dan yang negatif adalah Yang Profan.

Keenam, Sir Edward Evan Evans-Pritchard, salah seorang figur utama dalam antropologi modern. Ia adalah tokoh yang memperkenalakn observasi mendalam terhadap agama masyarakat primitif. Selain itu, Ia juga bisa disebut sebagai pengkritik tokoh-tokoh sebelumnya. Kritikan mendasarnya adalah bahwa tokoh-tokoh terdahulu hanya mampu menafsirkan agama dari kelihatannya saja.

Padahal, masyarakat primitif memandang agama lebih dari itu. Agama adalah konstruk hati masyarakat. Hal inilah yang menjadikan temuannya berbeda dan lebih dijadikan sebagai rujukan tokoh-tokoh setelahnya.

Namun, Pals menyebut bahwa Evans-Pritchard tidak memiliki teorinya sendiri karena terlalu banyak yang ia luruskan dari telaah tokoh-tokoh sebelumnya. Terakhir, Clifford Geertz adalah antropolog budaya kenamaan Amerika. Sama halnya dengan Evans-Pritchard, ia melakukan observasi mendalam tentang agama. Bedanya adalah agama menurut Geertz dianggap sebagai sistem kebudayaan yang setiap masyarakat memilikinya secara berbeda-beda dan ia unik.

"Agama adalah suatu sistem simbol yang bertujuan untuk menciptakan perasaan dan motivasi yang kuat, mudah menyebar, dan tidak mudah hilang dalam diri seseorang dengan cara membentuk konsepsi tentang sebuah tatanan umum eksistensi dan melekatkan konsepsi itu kepada pancaran-pancaran faktual, dan pada akhirnya perasaan dan motivasi ini akan terlihat sebagai suatu realistis yang unik." (Geertz, h. 414-415)

Dari ketujuh tokoh tersebut, penulis menyebutkan bahwa tokoh terakhirlah yang memiliki kritikan paling sedikit. Namun, semua tokoh ini telah menyumbangkan pemikiran-pemikiran kritisnya pada dunia. Sehingga sudah selayaknya manusia sekarang mampu mengembangkan pemikiran itu dan menciptakan pemikiran-pemikiran baru yang dapat dinikmati oleh dunia juga.

Keterangan :
Judul buku : Seven Theories of Religion
Penulis : Daniel L. Pals
Penerjemah : Inyiak Ridwan Muzir dan M. Syukri
Penerbit : IRCiSoD
Kota terbit : Yogyakarta, 2018
Tebal buku : 492 halaman

ISBN : 978-602-7696-56-3
loading...

Read More

THE TAQWACORES: ANTARA IDENTITAS MUSLIM DAN IDENTITAS PUNK ROCK

No comments:



Saya mungkin satu dari sebagian banyak orang yang menikmati youtube sebelum tidur, atau lebih tepatnya menggunakan medium youtube sebagai pengantar tidur. Mulai dari film, talk show, hingga stand up comedy saya tonton, sesuai mood saja. Kadang bahkan hanya memutar musik suara hujan agar cepat tidur.

Bila sedang ingin menonton film, biasanya saya tulis saja sekenanya, seperti “film Indonesia” atau “film sub Indonesia”. Youtube kemudian akan mengeluarkan list-nya, sesuai dengan keyword yang saya tulis. Menarik waktu itu (tahun 2017) muncul satu film dengan judul “film bagus” pada list, dan saya klik film tersebut.

Awalnya saya tidak tahu judul asli film itu, saya tonton saja dari awal. Muncul gambar anak-anak punk, baru kemudian saya tahu film itu berjudul “The Taqwacores”. Latarnya di Amerika, tepatnya di Bufallo, New York. Tokoh pertama yang saya kenal dari film itu adalah Yusef, seorang pemuda muslim yang mencari tempat tinggal untuk meneruskan studinya di Amerika.

Yusef menemukan tempat tinggal bersama pemuda Muslim lainnya yang telah tinggal lebih dulu di Amerika. Di tempat itu Yusef pertama kali bertemu dengan Umar, seorang muslim yang kaku. Umar satu-satunya penghuni yang berusaha mengembalikan nilai-nilai Islam di rumah itu, yang baginya nilai-nilai Islam hilang sejak kehadiran Punk Rock Muslim.

Selain bertemu dengan Umar, Yusef bertemu pula dengan Jehangir dan Fasiq. Pertemuan Yusef dengan kedua orang itu terjadi saat Yusef hendak mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Ia melihat Jehangir dan Fasiq sedang berada di atas rumah. Saat itu Jehangir menirukan adzan dengan gitar listriknya. Itu membuat Yusef terheran-heran, begitu pula saya sebagai penonton film.

Yusef pun kemudian bergaul dengan Jehangir. Dari pergaulan itu Jehangir dapat mengubah pandangan Yusef tentang Islam yang selama ini ia jalani dan yakini. Yusef pun mulai berpetualang di lingkungan Punk Rock Muslim Amerika.

Banyak karakter menarik dan membuat saya terheran-heran dalam film ini. Seperti, Ayub yang radikal, Muzamil yang gay, dan Lyn yang mengaku baru masuk Islam (muallaf). Tapi dari banyak karakter di film ini, saya sangat tertarik dengan karakter Rabeya.

Rabeya ini menarik, seorang muslimah yang menggunakan burqoh (pakaian yang menutup seluruh badan) dengan berbagai tempelan identitas punk. Mungkin dia di satu sisi ingin menunjukkan identitas islamnya dan di sisi lain identitas Punk. Rebeya yang memakai burqa sebenarnya memiliki pandangan yang sangat feminis dan liberal. Itu ditunjukkan saat ia merobek salah satu surat pada Alquran yang ia anggap patriarki. Ia pun tidak mau hanya menjadi makmum ketika salat, tapi ia juga ingin menjadi imam salat.

Film ini bagi saya sangat kontroversial dan memang mendapat banyak penolakan dari umat Muslim di dunia. Namun bila kita pahami film ini, kita akan temukan relasi yang cukup toleran antar karakter yang berbeda-beda pada tokoh-tokohnya. Paling tidak karakter Umar yang kaku dapat bertoleransi dengan Muzamil yang gay.

Bagian klimaks dari film ini adalah ketika Jehangir menyulap rumah itu menjadi tempat konser Punk Rock Muslim. Jehangir mengundang berbagai band Punk Rock Muslim pada konser itu. Awalnya konser itu sangat meriah, sampai akhirnya muncul satu band yang tidak disenangi penghuni rumah dan terjadilah keributan.

Film The Taqwacores dirilis pada tahun 2010 ini sebenarnya diangkat dari novel “The Taqwacores” karya Michael Muhammad Knight yang terbit tahun 2003. Novel tersebut terjual 15 ribu copy di seluruh dunia. Meskipun novel tersebut fiksi, namun pengalaman penulisnya (bagi saya) sedikit banyak memberi gagasan dalam novel tersebut.

Michael Muhammad Knight sendiri adalah seorang mualaf. Ia tidak diterima baik di komunitas muslim maupun komunitas non muslim. Bagi masyarakat, komunitas Punk Rock Muslim dianggap tidak bertakwa. Namun demikian, konon kabarnya dalam tour musik nya para Punk Rock Muslim tersebut tidak pernah meninggalkan salat lima waktu.

Mungkin cukup dilematis bagi seorang muslim yang menonton film ini, khususnya yang masih muda dan masih mencari jati diri. Bagaimana tidak, di satu sisi Islam sebagai identitas dan Punk Rock sebagai identitas lain dalam film tersebut. Selalu saja ada berbagai identitas dalam diri manusia.

Identitas memang menjadi sesuatu yang penting bagi manusia, pun juga bagi masyarakat kita. Kita terus mencari-cari identitas yang absolut, sedangkan ada berbagai identitas dalam diri kita. Saya laki-laki, saya warga negara Indonesia, saya memiliki watak tertentu, saya dari golongan sosial tertentu, dan sebagainya. Tetapi apakah semua itu menjadi identitas absolut? Tentu saja tidak. Kita perlu merefleksikan semua yang melekat pada diri kita menuju penerimaan secara bebas.

Sebagaimana dalam Existence et objectivite, karya filsuf Prancis, Gabriel Marcel, objektivitas adalah lawan dari eksistensi. Eksistensi yang dimaksud di sini adalah situasi konkrit kita, seperti: aku laki-laki, aku warga negara Indonesia, dan sebagainya. Itu semua hanya nasib, bukan yang sesungguhnya dari kita (secara filosofis).

Untuk menuju manusia yang sesunggunya, marcel menawarkan tiga fase penting dari eksistensi menuju objektivitas (identitas sesungguhnya). Tiga fase tersebut meliputi admiration (kekaguman), reflexion (refleksi), dan exploration (eksplorasi).

Fase kekaguman itu penting bagi manusia untuk membuka diri terhadap berbagai hal dalam hidup. Membuka diri berarti kerendahan diri untuk melihat, mendengar, dan menerima berbagai hal. Akan sangat tidak mungkin keangkuhan dapat membuka diri.

Membuka diri saja tidak cukup bagi Marcel, manusia harus merefleksikan dirinya. Ada dua tahap dalam refleksi; pertama secara intelektual yang cirinya abstraksi, analitis, universal, dan dapat diverifikasi. Tahap pertama saja ternyata tidak cukup, harus dilanjutkan dengan tahap kedua dengan pertemuan dengan kehidupan konkrit yang sifatnya dialogis. Disini jelas harus ada pertemuan antara pikiran dan kehidupan nyata.

Bila dua fase tersebut sudah dilakukan, baru kemudian terbuka jalan menuju exploration. Pada fase ini manusia sudah dapat menerima realitas (kenyataan) secara bebas, baik dimana kita berada, termasuk menerima diri kita sendiri. Bagi Marcel keadaan tersebut melampaui pikiran aktif.

Dari gagasan filosofis Marcel tersebut, menurut saya, para Punk Rock Muslim tersebut mencoba merefleksikan diri mereka. Keterbukaan akan berbagai hal, merefleksi identitas mereka sebagai seorang muslim dan juga kesukaan akan aliran musik Punk Rock. Dari proses itu mereka dapat menerima identitas diri mereka secara bebas. Islam dan Punk Rock mereka terima sebagai identitas secara bersamaan.

Read More

GREGG BRADEN DAN RAHASIA ALAM SEMESTA



“Semua materi eksis berkat sebuah kekuatan. Kita harus berasumsi bahwa di balik kekuatan ini terdapat eksistensi pikiran yang sadar dan cerdas. Pikiran inilah matrix semua materi.” _Max Planck, 1944

Melalui kalimat tersebut, Max Planck, Bapak Teori Quantum, menggambarkan medan energi universal yang menghubungkan segala sesuatu dalam penciptaan: Matrix Ilahi. Matrix Ilahi adalah dunia kita. Ia juga segala sesuatu di dalam dunia kita. Ia adalah kita dan semua yang kita cintai, benci, cipta, dan alami.

Hidup di dalam Matrix Ilahi, kita menjelma sebagai seniman yang mengekspresikan nafsu, ketakutan, mimpi, dan hasrat terdalam melalui esensi kanvas sekaligus lukisan di atas kanvas itu. Kita adalah cat sekaligus kuasnya. (The Divine Matrix, hlm. 8)

Judul yang tentunya menarik banyak pembaca ini, membuat pemilik buku akan terus penasaran terhadap apa yang ingin disampaikan penulis tentang “kita” dan “alam semesta”. Bahasa yang membuat pembaca terus memikirkan maksud dan makna darinya ini, membuat novel ini berbeda dengan novel pada umumnya.

Jika banyak dari kita yang sudah mengenal tentang novel Jostein Gaarder seperti Dunia Sophie, mereka tampak sama namun novel ini memiliki sisi yang berbeda. Selain menyingkap rahasia alam semesta, ternyata buku ini adalah hasil penelitian seorang Gregg Braden selama lebih dari dua puluh tahun. Buku ini juga berisi tentang perjalanan pribadinya dalam memaknai rahasia besar yang terdapat dalam tradisi-tradisi paling kuno, mistis, dan kaya.

Gregg Braden adalah penulis terlaris New York Times yang banyak meneliti peran spiritualitas dalam teknologi. Ia dianggap sebagai pelopor utama dalam menjembatani sains dan spiritualitas. Selama lebih dari dua puluh tahun ia meneliti desa-desa di pegunungan tinggi, biara-biara terpencil, kuil-kuil kuno, dan naskah-naskah yang terlupakan untuk menemukan rahasia-rahasia abadi didalamnya. (The Divine Matrix, hlm. 367)

Penulis membagi novelnya menjadi tiga bagian alur cerita. Pertama, menyingkap Matrix Ilahi: misteri yang menghubungkan segala sesuatu. Dalam bagian ini, penulis mencoba untuk membuat kita ikut merasakan dan memahami bahwa kita semua disatukan oleh satu medan energi yang menghubungkan segala sesuatu. Penulis mulai mendiskripsikan beberapa eksperimen yang membawa ilmuwan kembali ke masa 100 tahun silam dalam upaya menemukan medan energi yang tunggal. Selain itu, ia juga mengulas riset abad ke-20 dalam fisika quantum, yang pada akhirnya membuat para ilmuwan harus mengoreksi kembali hasil eksperimen awal yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu terpisah.

Hal yang menarik lainnya, Gregg Braden juga menyertakan hasil dari tiga eksperimen representatif yang menunjukkan dokumentasi sains mutakhir terkait medan energi yang sebelumnya tidak terdeteksi. Secara singkat, penemuan tersebut membuktikan: (1) DNA manusia memiliki efek langsung terhadap substansi yang membentuk dunia, (2) Emosi manusia memiliki efek langsung terhadap DNA yang mempengaruhi substansi yang membentuk dunia, (3) Koneksi antara emosi dan DNA melampaui batasan ruang-waktu.

Entah seperti apa kita memendeskripsikannya dari perspektif spiritual maupun sains, eksperimen tersebut jelas menunjukkan bahwa ada sesuatu diluar sana, sebuah medan yang menghubungkan semua yang kita lakukan serta semua yang kita alami dan miliki. Selanjutnya, kita akan memasuki alur kedua yaitu jembatan antara imajinasi dan realitas: cara kerja Matrix Ilahi. Di bagian ini, Braden membahas mengenai makna hidup di dalam semesta yang bukan sekedar terkoneksi secara terbatas, melainkan segalanya terkoneksi secara holografis.

Hal yang sering kali dikenal secara holografis mungkin adalah kekuatan penemuan terhebat ilmu fisika abad ke-20, sekaligus penemuan yang paling sering tidak dimengerti dan diabaikan. Pembahasan ini memang sengaja dirancang sedemikian rupa sebagai penduan tepat-guna untuk memahami misteri dari pengalaman-pengalaman yang kita alami bersama namun jarang kita sadari sepenuhnya. Ketika kita memandang hidup ini terjadi secara bersamaan, ternyata berimplikasi begitu besar. Hal ini disebabkan karena koneksi universal kita mendorong kita untuk mampu mendukung, berbagi, juga berpartisipasi dalam kebahagiaan dan tragedi kehidupan dimana saja dan kapan saja.

Lalu, bagaimana seharusnya kita memanfaatkan kemampuan ini? Jawabannya, bermula dengan pemahaman bahwa sejatinya tidak ada “di sini” dan “di sana”, atau “nanti” dan “sekarang”. Berdasarkan perspektif bahwa kehidupan sebagai hologram yang terkoneksi secara universal, di sini telah ada di sana, dan nanti selalu berarti sekarang. (The Divine Matrix, hlm. 32)

Membicarakan tentang hologram, mungkin para ilmuwan akan menjelaskannya sebagai gambar khusus. Dimana gambar yang ada di permukaan tiba-tiba tampak seperti tiga dimensi ketika terpapar sinar cahaya langsung.

Proses penciptaan gambar ini melibatkan penggunaan cahaya laser, sehingga gambar menjadi terdistribusi ke seluruh permukaan film. Sifat “distribusi” inilah yang membuat film holografis sangat unik. Demikianlah, setiap bagian permukaan mengandung keseluruhan gambar, hanya dalam skala yang lebih kecil. (The Divine Matrix, hlm. 194-195)

Dapat kita ambil kesimpulan bahwa dalam hologram, jika gambar asli dipotong menjadi beberapa bagian, maka setiap potongan akan tetap menunjukkan tampilan penuh dari seluruh gambar yang asli. Greeg Braden juga menyampaikan, bahwa tradisi-tradisi spiritual kuno mengingatkan kita bahwa kita selalu membuat pilihan dalam setiap momen yang kita alami atau lalui. Melalui kekuatan kesadaran tersebut, keputusan-keputusan yang telah kita pilih ternyata memiliki konsekuensi melampaui tempat dan momen dalam kehidupan yang kita jalani.

Dari pemikiran yang holografis itulah menyadarkan kita bahwa setiap keputusan yang kita ambil ternyata juga berpengaruh terhadap keseluruhan kehidupan kita. Berbagai macam keputusan yang diakumulasikan akan menjadi realitas kolektif kita. Dan melalui pemahaman tersebut, penulis mencamtumkan berbagai hal yang bisa kita ketahui.

Hal pertama, adalah mengapa harapan, pikiran dan doa kita sesungguhnya telah tercapai. Kedua, bahwa kita tidak dibatasi tubuh kita atau hukum-hukum fisika. Ketiga, bagaimana kita mendukung orang-orang tercinta dimanapun mereka berada tanpa kita harus pergi ke tempat itu. Keempat, bahwa sebenarnya kita memiliki potensi untuk menyembuhkan secara instan. Dan yang terakhir adalah bahwa sangat mungkin bagi kita untuk melihat banyak hal yang melampaui ruang-waktu tanpa harus membuka mata.

Semua itu tidak lain karena adanya Matrix Ilahi, dimana doa, harapan, bahkan keyakinan bisa tersambung langsung kepada Tuhan maupun alam bawah sadar kita yang pada akhirnya berubah menjadi realitas. Dalam cerita ini pula, seorang Gregg Braden juga menuliskan kisah-kisah kuno yang didalamnya ia dapatkan banyak kebijaksanaan mengenai kehidupan.

Setelah itu, kita memasuki alur ketiga, pesan dari Matrix Ilahi: kehidupan, cinta, dan penyembuhan dalam kesadaran quantum. Menggali dan mencari tahu makna hidup dengan aspek-aspek yang terkandung dalam medan energi tunggal, memang sejalan dengan bagaimana hal tersebut mempengaruhi berbagai kejadian dalam hidup kita.

Melalui serangkaian kasus nyata yang dituliskan oleh Gregg Braden, ia berbagi kekuatan, ironi, dan pemahaman yang jernih terkait bagaimana kejadian-kejadian yang sering dianggap tidak penting dalam hidup kita adalah cerminan dari keyakinan-keyakinan terdalam diri kita sendiri.

Dari beberapa contoh untuk menjelaskan koneksi ini, saya menyisipkan kisah nyata tentang bagaimana binatang peliharaan kita bisa memperlihatkan melalui tubuh mereka kondisi-kondisi fisik yang tidak kita sadari atau masih berkembang di dalam diri kita sendiri. (Gregg Braden, The Divine Matrix, hlm. 34)

The Divine Matrix ditulis bagi siapapun yang ingin menjembatani realitas masa lalunya dengan harapan masa depan. Melalui medan tunggal ini, kita dapat memaafkan dan menemukan welas asih di dunia yang menderita karena luka, prasangka, dan ketakutan. Disamping itu, kita belajar bahwa untuk bertahan hidup atau menjadikan hidup lebih baik di masa sekarang adalah menciptakan pola pikir baru dan menanamkannya dalam alam bawah sadar. Pada akhirnya, kemampuan untuk memahami dan menerapkan “hukum-hukum” Matrix Ilahi merupakan kunci terjadinya hal-hal ajaib dalam hidup kita.

Keterangan:
Judul Buku: THE MATRIX ILAHI: Menyingkap Rahasia Alam Semesta
Penulis: Gregg Braden
Halaman: 372 hlm.
Penerbit: JAVANICA
Kota Terbit: Banten
Tahun Terbit: 2018

ISBN: 978-602-6799-41-8
Read More

MENAPAKI JEJAK LANGKAH MINKE




Tuntas dengan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, Tetralogi Pramoedya yang selanjutnya berjudul Jejak Langkah. Buku yang tentunya tidak kalah inspiratif ini memuat cerita dan pengalaman-pengalaman Minke di Batavia atau Betawi. Kisahnya berlanjut setelah kabar kematian istrinya, Annelies dan Minke memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di sana.

Pramoedya menuliskan bahwa Minke melanjutkan studi ke STOVIA, sekolah kedokteran untuk Pribumi. Di sini, ia diperlakukan berbeda, yang mana ia dituntut untuk benar-benar menjadi Pribumi dengan mengenakan atribut Pribuminya. Selain itu, ia harus mengejar ketertinggalannya dalam pelajaran.

Bulan selanjutnya, ia mendapat kunjungan dari Bundanya. Seperti halnya seorang ibu dan anak, Minke mendapatkan petuah-petuah dari Bundanya. Hebatnya, penulis mampu menyisipkan pengetahuan-pengetahuan dalam ceritanya perihal Revolusi Prancis. Di mana revolusi ini digadang-gadang berlian dalam sejarah. Namun, menjadi suatu hal yang utopis bagi sosok perempuan Pribumi yang dicantumkan penulis sebagai Bunda Minke. Tidak heran, jika bumbu-bumbu pengetahuan dalam novel tetralogi Pramoedya adalah salah satu keunggulan dari buku-bukunya.

Selain pengetahuan, tidak terlewatkan juga nuansa-nuansa roman dalam buku ini. Di mana penulis menggambarkan Minke yang bertemu dengan seorang perempuan Tionghoa, An Sang Mei. Perempuan yang cantik, cerdas, dan idealis dalam pemikirannya. Mereka dipertemukan melalui sebuah surat dari mendiang sahabat Minke dulu, kemudian mereka menjalin persahabatan hingga pernikahan.

"Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri." (An Sang Mei, Jejak Langkah, h. 147)

Hari-hari Minke dan Mei diwarnai dengan kesibukannya itu. Sampai suatu ketika ada perubahan pada Mei. Maklum, selain perempuan yang cantik dan cerdas, ia adalah seorang yang begitu cinta pada tanah kelahirannya. Ia menjadi aktivis yang kekeh, hingga kesehatannya pun tidak ia pedulikan.

Pada akhirnya ia jatuh sakit dan meninggal. Minke berduka untuk kedua kalinya setelah yang pertama adalah kepergian istri pertamanya. Selain itu, ia juga dikeluarkan dari sekolah kedokteran karena ketidakteribannya. Namun, ia akan menjadi bebas setelah keluar dari sekolah itu, katanya. Beruntung, karena setelahnya banyak peluang yang mendekat kearahnya.

Jejak langkahnya berlanjut hingga Minke mendapati banyak surat dari kawan-kawannya, antara lain Ter Haar dan  Miriam Frischboten. Di mana pembahasannya seputar pergejolakan di Bali dan Aceh yang melibatkan Belanda (Eropa) didalamnya. Hingga suatu hari terlintas oleh Minke untuk membentuk organisasi modern dengan nama Sjarikat Prijaji. Organisasi atau syarikat ini beranggotakan orang terpelajar dan masyarakat berbagai golongan.

"Bahagialah dia yang tak tahu sesuatu. Pengetahuan, perbandingan, membuat orang tahu tempatnya sendiri, dan tempat orang lain, gelisah dalam alam perbandingan." (Minke, Jejak Langkah, h. 265)

Syarikat itu semakin berkembang dengan berbagai hal yang dikeluarkannya, termasuk surat kabar 'Medan'. Ini adalah pertama kalinya Pribumi memiliki persurat kabaran sendiri, tanpa campur tangan Eropa, hanya Pribumi.

Beberapa bulan selanjutnya, Minke kedatangan Miriam Frischboten dan suaminya, Hendrik Frischboten. Mereka bertemu untuk melakukan kerjasama. Di sisi lain, Sjarikat Prijaji telah dianggap wafat. Yang mana anggotanya statis dan tidak dapat bergerak maju, hanya mampu mengandalkan Gubermen.

Tidak putus harapan Minke di situ. Ia bergerak untuk menerbitkan harian 'Medan'nya sendiri. Hingga harian itu berkembang pesat dengan majalah yang juga turut menyertainya.

Berkembangnya 'Medan' tidak pelak juga mempengaruhi para petinggi, Raden Tomo. Ia bermaksud untuk mendirikan organisasi sejenis Syarikat, yaitu Budi Oetomo (B.O). Organisasi ini kemudian berkembang pesat dengan 'Medan' sebagai medannya.

Di sisi lain, penulis masih saja menyisipkan cerita roman, yaitu pernikahan Minke lagi dengan seorang putri raja Maluku, Prinses van Kasiruta. Selain cantik dengan kulit sawo matangnya, ia adalah pribadi yang cerdas dan berwibawa, Bunga Akhir Zaman versi Pribumi kata Minke.

Setelah kegagalan Syarikat Priyayi, Minke dan temannya, Thamrin berniat membentuk organisasi modern lagi tetapi dengan hal-hal yang berbeda dari Syarikat dulu. Organisasi ini lebih bebas dan tidak terikat oleh golongan priyayi dan didalamnya ada unsur-unsur kebebasan, Syarikat Dagang Islam. Ini didirikan di Buitenzorg, dipimpin oleh Sjeh Ahmad Badjenet dan dibendaharai oleh Thamrin Mohammad Thabrie.

Baik Medan, B.O, maupun Sjarikat Dagang Islamijah tetap berjalan dan masif meskipun tidak mulus. Ada saja rintangan yang menghadang. Belum lagi, masalah pribadi yang dihadapi Minke dan Prinses. Ternyata Minke dinyatakan mandul. Ia tidak dapat menghasilkan keturunan, anak yang diidamkan selama ini.

Di sisi lain, semakin marak pula berita tentang Tionghoa. Yang mana mereka, Golongan Muda yang dipelopori oleh Sun Yat Sen, telah mampu mengubah Tionghoa menjadi republik. Rupanya, hal ini telah membuat pengaruh pada Hindia. Di mana Sin Po, surat kabar Tionghoa, telah menjadi pesaing tangguh bagi 'Medan'. Namun, Minke dan kawan-kawannya tetap berjuang keras untuk pertumbuhan 'Medan'.

Dan perjuangan tersebut tidak sia-sia. Minke dan anggota lain dalam berbagai pujian dan tanggapan positif. Hingga suatu hari munculah gerombolan polisi beserta surat tuntutan untuk Minke. Ia ditangkap dan hendak di bawa ke luar Jawa atas tuduhan hutang Bangsa. Dan terpaksa ia menceraikan istrinya, Prinses, melalui surat.

Begitulah akhir kisah Minke dalam Jejak Langkah.  Penulis lebih banyak menceritakan pergerakan organisasi modern didalamnya. Setelahnya, penulis akan menuntaskan ceritanya dalam tetralogi yang terakhir, yaitu Rumah Kaca. Memang dalam buku ini terdapat potongan kisah-kisah yang silih berganti dan nama-nama tokoh yang disamarkan. Namun, buku Pram ini lebih banyak memberikan pelajaran sejarah dengan gaya sastra.

Keterangan:
Judul buku: Jejak Langkah
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Kota terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2006
ISBN: 979-9731-2-5-9
Read More

DOA DAN TAKDIR MENURUT ABU HALA AL-JUNDI



"Do’a adalah suatu yang teramat mulia, maka janganlah kita umbar di sembarang tempat dan waktu. Bidiklah do’a pada tempat dan waktu yang layak dan pantas, karena kemuliaan do’a juga berarti kemuliaan kita, maka wajiblah kita senantiasa menjaganya.” (Abu Hala Al-Jundi).

Buku dengan Judul “ Mengubah Takdir Dengan Do’a “ Karangan Abu Hala Al-Jundi. Buku ini berisi tentang urgensi do’a yang beraneka ragam. Dilihat dari berbagai keutamaan yang dihadirkan guna membahas arti do’a, Keutamaan, Problematika Do’a, Moral, Etika, Sifat dan Waktu. Yang semua pembahasannya merujuk pada Al-Qur’an, Hadist, serta ajaran dan tuntunan para ulama salaf. Dalam penjelasan lebih lanjut, penulis mengambil beberapa point pokok pembahasan dari masing-masing bab yang telah penulis simpulkan.

Dialah Allah SWT Sang Maha Pencipta, Mahakuasa, dan Mahatinggi kedudukannya. Dia Maha Penyayang dan belas kasih yang tak pernah bosan menerima segala permintaan dan do’a setiap hamba. Kemuliaan yang penuh keterbatasan, keutamaan yang bercampur dengan segala kenistaan, disertai akal dan ilmu akan mengiringi manusia untuk selalu datang kepada-Nya, merengek, mengiba, mengemis dan meminta sekaligus menggantungkan hidupnya dalam asa, rasa, karsa, cita dan cintanya, karena Allah SWT telah memanggil manusia. Berikut Firman-Nya: 

"Dan, Tuhanmu berfirman, ‘Berdo’alah pada-Ku niscaya akan Aku perkenankan segala pintamu,” (QS. Al-Mu’min, 40:60).

Do’a yang teramat mulia, dan makhluk tidak dapat mempengarui yang lain. Sekalipun ada, semua hanyalah sebab semata. Datanglah pada-Nya dengan berbisik mesra dan penuh khidmat, niscaya cinta kita tidak akan tenggelam dalam damba. Pinta kita tidak akan terpantul tanpa sahut, dan tak ada tanya yang tak terjawab.

Semua akan menjadi pasti, jika terkait kepada Allah SWT dan yang sepasti kematian, kelahiran yang tak pernah terduga. Kesadaran akan kelemahan, kebutuhan dan kehinaan diri dapat melahirkan kesadaran pada kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Inilah yang sesungguhnya, letak kemuliaan dan keutamaan bagi manusia.

Dengan kesadaran yang demikian, manusia akan selalu berdo’a dan menggantungkan harapannya kepada Sang Mahakuasa. Ironisnya, masih ada saja di tengah kehidupan kita yang dengan angkuhnya berkata, “Apa pentingnya do’a buat kita? Jika segalanya telah ditakdirkan ada dan tiadanya. Kenapa mesti berdo’a? Toh, semua pasti akan terwujud dan takdir pasti akan terjadi, baik kita berdo’a atau tidak.” 

Sungguh, keyakinan yang teramat angkuh, menolak adanya hukum kausalitas. Bagi mereka Allah SWT Mahatahu dan Mahakuasa tak perlu menunggu dipinta. Sungguh begitu banyak pemahaman yang menyimpang dari tuntunan syariat. Islam sangat harmonis dan ideal. Islam juga tidak mebawa kita pada paham khayalan fiktif. Islam adalah kebenaran dan kebehagiaan sejati. Tumpahkan do’a dengan ikhlas bersama kepasrahan. 

Dan diakhir pembahasan terdapat beberapa syair yang disuguhkan penulis, guna menarik pembaca dan merasakan pendalaman dari setiap kata, kalimat yang dilewatinya. Selamat Membaca.

Keterangan: 
Judul Buku: Mengubah Takdir Dengan Do’a
Penulis: Abu Hala Al-Jundi
Penerbit: Jausan
Tahun Terbit: 2010
Kota Terbit: Jl. Pepaya Gg. Pepaya 1 No.4 Cempaka Putih Ciputat Tangerang
ISBN: 978-602-97114-0-0
Read More

TRANSPARANSI DIALOG ALA FILSUF


by. Miftakul Ulum Amaliyah

"Tindakan tertinggi manusia adalah mengenal dirinya sendiri dan melalui hal ini akan muncul tindakan yang mencerminkan kemanusiaannya." (Socrates)

Praktik Transparansi Dialog Menurut Para Filsuf adalah salah satu buku filsafat karya Dany Harianto, seorang penulis lepas dibeberapa majalah filsafat teologi. Buku ini berisi tentang evolusi tranparansi dialog dari masa ke masa, sarana transparansi dialog, dan fungsi transparansi dialog. Dalam menjelaskan hal itu, penulis membagi pembahasan ke dalam empat bab, yaitu pemahaman dialog secara filosofis, transparansi dialog dalam bingkai perjuangan filosofis manusia, peranan kebebasan dalam transparansi dialog, dan transparansi dialog.

Pemahaman dialog secara filosofis dipaparkan dengan sesederhana mungkin dalam Bab pertama ini. Pembahasan dalam bab ini mulanya seputar dialog mengenai mitos. Hal ini diperjelas dengan teori Plato, yaitu mitos gua. Yang mana penulis menggambarkan manusia yang masih terikat oleh sesuatu dan mengalami keragu-raguan sampai ia mendapatkan cahaya yang dapat melepaskan segala keterikatannya. Sehingga manusia bisa keluar dari kegelapan gua.

Selain itu, dalam bab ini juga dijelaskan terkait retorika kaum Sofis dan dialektika Socrates. Di mana kaum Sofis terkenal akan kecerdasan dan keterambilannya dalam berbicara sehingga mereka terlihat mendominasi, sedangkan Socrates dengan dialektikanya yang dikenal mampu membuat lawan bicaranya seperti mengalami kelahiran jiwa. Hingga puncak pada bab ini adalah sarana efektif dalam tranparansi dialog, yaitu Academia Plato.

Pada bab pertama ini hanya menekankan transparansi dialog menurut filsuf di era Klasik. Penulis sama sekali tidak memberikan penjelasan terkait dialog yang dilakukan oleh filsuf modern hingga sekarang. Sehingga pembaca hanya bisa bertumpu pikir pada dialog era Klasik. Namun, pengenalan ini cukup membantu karena adanya penjelasan yang detail mengenai Sofis, Socrates, dan Plato.

Dilanjutkan pada bab kedua adalah transparansi dialog dalam bingkai perjuangan filosofis manusia. Pada bab ini memuat tentang dinamika manusia dengan arah menuju kesempurnaan diri dan masyarakat. Penulis menekankan bahwa di dunia ini yang tampil sebagai sabjek hanyalah manusia. Sehingga hanya manusia yang diharapkan mampu bergerak ke arah yang lebih baik.

bab ini juga membahas tentang tujuan transparansi dialog, yaitu kebahagiaan yang diawali dengan yang baik dan yang benar. Karena hal inilah yang nantinya akan digunakan sebagai usaha perbaikan, pengetahuan, kritik, dan penguasaan diri. Sama seperti yang dikatakan oleh Wittgenstein bahwa orang yang mampu menguasai dirinya adalah orang yang mencapai kebahagiaan.

Namun, untuk mencapai itu semua manusia harus melewati berbagai problem dalam proses dinamika transparansi dialog. Problem-problem tersebut adalah kondisi internal seperti, pribadi tipe bertahan dan penyerang, serta kondisi ekstern seperti, materi dialog dan kondisi ruang-waktu. Penulis memaparkan bahwa manusia selayaknya mampu berada di tipe midle, tidak bertahan ataupun menyerang. Selain itu, manusia harus paham materi dan mengenali ruang-waktu dalam berdialog.

Pada bab ketiga menjelaskan tentang peranan kebebasan dalam transparansi dialog. Di bab ini penulis menjelaskan tentang makna, unsur-unsur, dan peran kebebasan. Dalam makna kebebasan, penulis masih membaginya lagi ke dalam makna umum dan khusus. Yang mana keduanya tetap memiliki makna "ketidakterikatan pada sesuatu". Mengenai unsur-unsur kebebasan terdapat tiga hal, yaitu ketidakpastian, halangan dan batasan, serta kesalahan dan rasa bersalah. Sedangkan peran dari kebebasan adalah sebagai sarana manusia untuk mencapai pengetahuan tentang dirinya secara utuh dan lengkap.

Menuju bab yang terakhir mengenai transparansi dialog. Pada bab ini penulis menjelaskan bahwa manusia memang harus mengenali dirinya sebagai manusia, bukan yang lain. Apalagi di era post-modern ini, yang asli dan yang palsu begitu sulit untuk dikenali. Manusia akan dibuat bingung oleh hal itu. Jika saja salah jalan, manusia akan terseret oleh arus kepalsuan dan kehilangan keautentikkannya. Maka dari itu, dengan bertranparansi dialog, manusia akan diajak untuk mengenali dirinya.

Keterangan:
Judul buku: Praktik Transparansi Dialog Menurut Para Filsuf
Penulis: Dany Harianto
Penerbit: Prestasi Pustaka Publisher
Tahun terbit: 2008
Kota terbit: Jakarta
ISBN: 978-602-8117-65-4
Read More