Latest Posts

Showing posts with label Kupas. Show all posts
Showing posts with label Kupas. Show all posts

Remember Me Iringi Kisah COCO

1 comment:

 


COCO

"Dia alasanku menyeberangi jembatan. Aku ingin bertemu lagi dengannya. Harusnya aku tak meninggalkan Santa Cecilia. Kuharap aku bisa memberitahunya kalau papanya berusaha pulang. Bahwa papanya sangat menyayanginya. Coco-ku".

Film ini tidak hanya mengisahkan tentang seorang anak kecil bernama Miguel, namun juga seluruh anggota keluarganya. Dimana keluarga ini sampai-sampai dijuluki keluarga Rivera---pembuat sepatu selamanya. Namun, kisah ini tidak sesederhana yang dibayangkan, karena dibalik nama keluarga tersebut ternyata memiliki history yang sangat panjang. Jadi, bagi kalian yang menyukai film kartun dan juga berbumbu fiksi, Aku rasa film dari Pixar animations studios ini patut kalian cantumkan dalam daftar kalian. Karena tidak hanya petualangan dan visualisasi yang menarik, namun juga pesan kehidupan yang sesuai dengan keluarga.

Dalam cerita ini, Miguel adalah pemeran utama dalam film. Kalian akan mendengar history tentang bagaimana keluarganya bisa menjadi pembuat sepatu darinya. Awalnya, nenek buyut (biasa dipanggilnya Mama Imelda) dan juga kakek buyutnya adalah seorang musikus. Mereka sangat mencintai musik, bahkan selalu menyanyi dan menari bersama setiap waktu bersama putrinya. Tetapi, pada suatu ketika kakek buyutnya meninggalkan keluarganya dan mengatakan bahwa ia ingin bernyanyi untuk dunia. Mungkin itu terdengar luar biasa, tapi sayangnya ia tak pernah kembali setelahnya dan membuat Mama Imelda merasa sakit hati. Setelah itu, mama Imelda memutuskan untuk membuang dan melupakan segala hal yang berhubungan dengan musik. Kemudian, ia mulai mencari cara agar bisa menafkahi putrinya hingga "membuat sepatu" akhirnya menjadi pilihan terbaik baginya. Sejak saat itulah, Mama Imelda mengajarkan cara membuat sepatu kepada seluruh keluarganya termasuk juga Coco.

Dengan memandangi Ofrenda---ruang khusus yang digunakan untuk memajang foto anggota keluarga yang telah meninggal, ia bertanya-tanya kenapa kakek buyutnya meninggalkan keluarga dan tak kembali. Karena tanpa disadari Miguel juga mencintai musik, sebagaimana kakek buyutnya yang pernah menjadi musikus dan memiliki impian besar terhadap musik. Dengan alasan belum resmi menjadi pekerja di keluarganya sendiri, Miguel bekerja menjadi penyemir sepatu di plaza yang terletak dekat dengan rumahnya. Dari tempat itu ia mendengar suara musik setiap hari, dan dari sanalah ia menemukan ada perlombaan musisi yang dikenal dengan nama De Los Muertos.

Ia bercerita bahwa menyukai musik tentu bukan salahnya, tetapi De La Cruz. Dia adalah penyanyi legendaris dalam sejarah Meksiko, tidak lain adalah penyanyi yang sangat diidolakan oleh Miguel. Ia pun termotivasi untuk mengikuti perlombaan itu, dan berusaha untuk memberanikan diri sebagaimana yang dilakukan oleh idolanya tersebut. Ia mulai membuat gitarnya sendiri, dan menonton ulang kaset lama De La cruz sekaligus menyanyikan kembali lagu-lagunya. Tanpa ia sadari ia memandang kembali foto yang dibawanya dari Ofrenda, dan menemukan bahwa gitar yang dipegang oleh kakek buyutnya mirip dengan gitar milik De La Cruz. Hal itulah yang membuatnya berkesimpulan bahwa kakeknya adalah De La Cruz, penyanyi idola nya selama ini.

Dengan percaya diri, ia pun membicarakan niatnya pada seluruh keluarga dan mengatakan bahwa ia ingin menjadi musikus seperti De La Cruz. Namun, bisa kalian bayangkan bahwa tentu Mama Elena (putri dari Mama Coco) pasti akan marah besar. Karena ia menjalankan rumah keluarga kecilnya sama persis dengan Mama Imelda, dimana ia tak pernah mengijinkan ada musik di rumah Rivera. Gitar yang dibuat oleh Miguel pun dirusak oleh Mama Elena, dan ia pun kabur meninggalkan rumah dan langsung pergi ke Plaza.

Singkat cerita, Miguel yang kesal atas ulah neneknya akhirnya pergi menuju pemakaman De La Cruz dan berniat untuk mengambil gitar legendaris miliknya. Dengan satu kali memainkan senar gitar itu, orang-orang yang sedang berziarah justru langsung mengetahui bahwa pasti ada seseorang yang mencoba untuk mencuri gitar milik penyanyi tercinta mereka. Tanpa Miguel sadari, seketika itu ia berubah menjadi tak kasat mata. Dengan cepat ia menembus apapun yang ditabraknya, dan kemudian bertemu dengan seluruh keluarganya yang telah wafat. Karena kejadian ini, Miguel diajak untuk bertemu dengan petugas di dunia kematian dan membantunya kembali hidup di dunianya.

Untuk kembali Miguel membutuhkan restu dari keluarganya, namun Mama Imelda memberikan syarat kepadanya untuk tidak bermusik lagi. Tentu Miguel menolaknya, dari sinilah kemudian ia bertemu dengen Hector. Tanpa sengaja ia mendengar Hector bercerita bahwa dirinya adalah teman dekat De La Cruz. Maka dari itu, Miguel meminta bantuannya agar dapat meminta restu dari sosok yang ia percayai sebagai kakek buyutnya itu. Dengan syarat anak laki-laki itu bisa memajang fotonya saat kembali, mereka pun bersepakat untuk pergi menemui De La Cruz. Perjalanan demi perjalanan mereka lewati dengan memberikan banyak pesan dan hiburan bagi siapapun yang menonton.

Adegan yang Aku sukai adalah ketika Mama Imelda menemukan Miguel dan berkata, “Tentu Aku sangat mencintai musik. Saat suamiku bermain, dan Aku pun akan bernyanyi. Hanya itulah yang berarti. Hingga Kami memiliki Coco, dan Aku merasa memiliki sesuatu yang lebih penting dibandingkan musik. Namun suamiku ingin bernyanyi untuk dunia…” Seketika Miguel menjawab, “Namun Aku tidak bisa memihak. Kenapa kau tak bisa memihakku? Itulah yang seharusnya dilakukan keluarga. Membantumu.”

Dari percakapan mereka, terutama apa yang disampaikan oleh Miguel Aku rasa ada benarnya juga. Karena sebagai keluarga memang haruslah mendukung satu sama lain. Apapun yang ingin dilakukan oleh seorang anak, adalah tugas orang dewasa untuk support dan membantunya melewati masa perjuangannya. Selain itu, sesampainya Miguel bertemu dengan De La Cruz. Ada sesuatu yang berbeda darinya, Miguel mulai menyadarinya saat Hector menyusul dan berusaha membantunya kembali. Entah kenapa Hector serasa lebih dekat dan pengertian, berbeda dengan De La Cruz yang justru tak ingin Miguel kembali ke dunianya. Aneh bukan, akan lebih terasa saat kalian menontonnya.

Aku sarankan untuk segera tonton dan nikmati keseruan dan kisah penuh makna dari film ini. Tapi sebelum itu, hal lain yang ingin Aku sampaikan adalah lagu favorit Mama Coco. Lagu dengan judul Remember Me, yang ternyata selalu dinyanyikan kakek buyutnya kepada putrinya setiap mereka akan berpisah. Film ini memberikan pesan bahwa seorang ayah akan selalu mencintai keluarganya bahkan putrinya sendiri. Kalaupun ada kejadian tak mengenakkan, tentu ia memiliki alasan. Sebagaimana alasan suami dari Mama Imelda yang sebenarnya bukan lah keinginan mutlak darinya untuk tak pernah kembali. Melainkan ada sesuatu yang menimpanya, hingga lagu-lagu buatannya pun dicuri oleh sahabatnya sendiri.  

“Remember me, Though I have to say goodbye. Remember me. Don't let it make you cry. For ever if I'm far away. I hold you in my heart. I sing a secret song to you. Each night we are apart. Remember me. Though I have to travel far. Remember me. Each time you hear a sad guitar. Know that I'm with you. The only way that I can be. Until you're in my arms again. Remember me……” 

Read More

Sang Kiai dan Kemerdekaan

No comments:

by. Zidna Nabilah

“Allah tidak akan memberi manfaat dan kemuliaan bagi umat yang tidak mau hidup berjama’ah, tidak bagi umat terdahulu dan tidak juga bagi umat yang hidup di akhir zaman”

Kemarin Indonesia telah berumur 75 tahun sejak merdeka pada 17 Agustus 1945. Hal ini tentu akan mengingatkan kita kepada para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan. Sebagaimana film yang disutradarai oleh Rako Prijanto yang dirilis pada tahun 2013 ini, yang mengisahkan sekaligus menggambarkan bagaimana para ulama juga ikut serta berjuang.

Film ini berlatar belakang masa penjajahan yang mengangkat kisah hidup ulama dari Tebu Ireng, Jombang, KH. Hasyim Asyari. Tentu banyak dari kalangan masyarakat tidak asing dengan nama ulama satu ini, pendiri organisasi terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU).

Saat pertama menonton film ini, kita akan disuguhkan pemandangan desa yang asri dimana seluruh warganya hidup sederhana dan juga damai. Begitu juga di pesantren Tebu Ireng yang selalu ramai kedatangan santri baru. Didukung dengan setting film yang dibuat antara tahun 1942-1947, menjadikan film ini berhasil membawa para penontonnya ikut merasakan situasi pada saat itu. Seperti menyaingi film garapan Hanung Bramantyo, Sang Pencerah yang menceritakan tentang biopic seorang Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.

Dengan judul yang kebetulan hampir sama, namun biopic milik pendiri Nahdlatul Ulama tersebut tak sepenuhnya fokus kepada KH. Hasyim Asyari. Karena dalam film ini juga menceritakan tentang kehidupan sekitar pesantren Tebu Ireng serta perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan.

Bagi penyuka film sejarah, film ini layak masuk ke dalam daftar film yang wajib ditonton. Karena gaya cerita yang dibuat masih pop dan enjoyable, bahkan ada sedikit unsur comedy dalam film yang tentu membuat penonton tidak bosan.

Disamping itu, film ini juga memberikan subplot cerita kepada karakter-karakter lainnya seperti Harun (salah satu santri Tebu Ireng) yang mempunyai screening time, dan subplot cerita tentang dirinya dan kehidupannya lebih banyak. Sehingga tidak melulu tentang sejarah, bahkan love story antara Harun dan Sarinah ikut menghangatkan film ini.

Konflik bermula tatkala KH Hasyim Asyari (Ikranegara) menolak untuk menandatangani kesepakatan untuk melakukan sekerei---menyembah atau sujud kepada matahari. Tanpa kehabisan akal, Jepang menangkap Ikranegara dengan memberikan tuduhan bahwa ialah yang menjadi pelopor kerusuhan di Pabrik Gula Cukir.

Penangkapan ini memicu berbagai macam reaksi dari berbagai kalangan terutama keluarga dan para santri Tebu Ireng. Tak lama kemudian, beliau dipindahkan ke Mojokerto karena para santri telah memenuhi markas Jepang atas diplomasi dari KH. Wahid Hasyim dan KH. Hasbullah dengan para petinggi Jepang. Hal ini dilakukan agar KH. Hayim Asyari dibebaskan dan kemudian membicarakan suatu kesepakatan yang menguntungkan Jepang.

Pada tanggal 7 September 1942 para petinggi Jepang selanjutnya mengumpulkan para ulama dari Jawa dan Madura, untuk membahas mengenai “latihan kiai” yang dilaksanakan pada 1 Juli 1943. Selain itu, masih banyak lagi kesepakatan yang akhirnya diambil seperti penghapusan MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia), dan pendirian MASYUMI (Majelis Syuro Muslim Indonesia).

Berikutnya, muncul konflik dimana K.H. Hasyim Asy'ari yang diangkat menjadi ketua Masyumi justru dimanfaatkan Jepang untuk memaksa para pribumi meningkatkan hasil bumi, dan menyetorkannya ke pihak mereka. Kebijakan itu berlangsung hingga dikeluarkannya Resolusi Jihad atas permintaan Presiden Soekarno pada 14 September 1945. Singkat cerita, saat Jepang memberikan penyerahan kekalahan kepada sekutu, brigadir Mallaby mendaratkan pasukannya ke Surabaya untuk mengambil alih wilayah tersebut.

Namun Bung Tomo kemudian mendatangi KH. Hasyim Asyari untuk meminta nasehat yang dijawab dengan “awali dan akhiri dengan menyebut asma Allah”. Dari sinilah Bung Tomo memberanikan diri untuk melakukan pidato atau orasi, menyulut semangat warga Surabaya dengan begitu menggelegar dan mengakhirinya dengan takbir sebanyak tiga kali.

Diiringi dengan keberangkatan para pemuda Jombang ke Surabaya undan bergabung dengan pemuda Surabaya guna menyerbu Belanda. Hingga pertempuran ini kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan pada 10 November. Film ini diakhiri dengan wafatnya KH. Hasyim Asyari yang menjadi pukulan bagi banyak kalangan, karena kondisi negara yang masih membutuhkan sosok seperti beliau. Keteguhan beliau dalam membela Islam sekaligus nasehat bijaksananya, tentu akan diingat oleh banyak orang.

“hukum membela negara dan melawan penjajahan adalah wajib bagi setiap masyarakat Indonesia. Umat Islam yang mati di medan pertempuran akan mati syahid dan mereka yang menghianati perjuangan umat Islam dengan memecah belah persatuan lalu menjadi kaki tangan penjajah wajib hukumnya dibunuh”, pesan KH. Hasyim Asyari.

Hal lain yang petut diacungi jempol atas film ini adalah berbagai detail production values yang digarap begitu apik oleh Frank X.R. Paat, membuat para penonton terpanah. Sebagaimana setting kota Jombang dan Tebu Ireng yang begitu rapi dan sesuai dengan tahun yang ingin digambarkan. Selain itu setting kota di zaman penjajahan juga terlihat detail, bahkan pemandangan-pemandangan saat perang terjadi terasa begitu nyata.

Namun, disisi lain bahasa yang digunakan oleh para pemain sering kali masih bercampur antara bahasa jawa maupun bahasa Indonesia. Terkadang penggunaan bahasa ngoko bercampur dengan krama inggil juga membuat sejumlah penonton mungkin terasa sedikit mengganjal. Meski demikian, film ini mengandung banyak sekali pesan yang disampaikan jika penonton menyadari setiap scene-nya.

Setelah membicarakan mengenai film yang mengisahkan sejarah kemerdekaan, mungkin kita akan bertanya-tanya alasan kenapa harus mempelajari sejarah. Bahkan ada kata yang sering kali dilontarkan di tengah-tengah masyarakat yaitu JASMERAH---Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Lalu, sebenarnya apa tujuan kita mempelajari sejarah dan terus memperingatinya.

Ayahanda Dr. H. Teguh M.Ag. justru pernah menyampaikan, bahwa belajar sejarah sama seperti saat kita bermain “ketapel”. Semakin jauh ke belakang kita menariknya, maka semakin kencang dan melesat pula senjata kita. Maka ini menjadi simbolisme bahwa dengan mempelajari sejarah, kita mampu memprediksi masa depan dengan lebih baik.

Sedangkan tujuan anak ketapel tersebut tentu menjadi fokus kita berikutnya, kemana dan bagaimana ia sampai ke titik tujuan. Jika membicarakan tujuan, maka yang terbersit dalam pikiran kita adalah kesuksesan. Bisa dipastikan bahwa tak ada seorang pun yang tidak ingin sukses, tetapi sukses seperti apakah yang menjadi pertanyaan. Selanjutnya beliau menyampaikan, bahwa sukses adalah ketika kita terus berkembang, menjadi bermanfaat bagi yang lain dan juga menjadi bernilai.

Berkembang saat kita terus membaik, menjadi lebih mahir, menjadi lebih rajin, mempelajari ilmu baru setiap hari, dan lain sebagainya. Sedangkan menjadi bermanfaat adalah ketika kita mengusahakan segala yang kita miliki termasuk ilmu, tenaga, harta benda bahkan doa kita bukan hanya diperuntukkan untuk diri sendiri melainkan juga untuk kemanfaatan orang lain.

Untuk yang ketiga adalah menjadi bernilai. Lalu, bagaimana kita bisa mengetahui apakah kita sudah bernilai atau belum. Maka caranya adalah dengan membandingkan keadaan saat kita ada, dan saat tidak adanya kita. Jika tidak adanya kita membuat suatu hal terasa tidak lengkap, itulah tanda bahwa diri kita sudah bernilai. Namun jangan menjadikan itu sebagai alasan kita menjadi sombong, tetapi tetap menjadi rendah hati dan sederhanalah yang terbaik.

Karena dari sejarah kemerdekaan, kita dapat memandang kilauan cahaya yang lebih terang bagi kehidupan negeri. Disamping itu, menjadi manusia yang baik adalah salah satu bentuk rasa syukur kita atas kemerdekaan negeri.

Read More

Zootopia

1 comment:
 

by. Zidna Nabilah

“Mungkin ini terdengar mustahil bagi sebagian orang. Tapi 211 mil jauh di sana, berdiri kota besar bernama Zootopia. Di mana nenek moyang kita pertama kali hidup dalam damai. Dan menyatakan bahwa semua orang bisa menjadi siapa pun.” Kata Judy Hopps---si kelinci dengan mantap.

Siapa yang akan percaya kepada seorang anak (kelinci) yang memimpikan dirinya menjadi polisi, walau dalam kenyataan itu mustahil. Entah mereka adalah predator atau mamalia, semua memiliki satu tempat tinggal yang sama. Maka untuk menjadi seorang polisi, pasti membutuhkan ekstra energi dan kecerdikan untuk mengatur serta mengayomi masyarakat yang heterogen.

Setelah menonton pertunjukan sekolah (saat Judy berumur 9 tahun), orang tua Judy baru menyadari bahwa ternyata anak mereka memiliki impian menjadi polisi. Nyatanya sejak dulu, tak pernah ada kelinci yang memiliki cita-cita itu. Hal tersebut membuat nyonya hopps takut, khawatir anaknya akan kecewa jika itu tak dapat dicapainya.

Berbeda dengan kelinci tangguh dan tak tahu caranya berhenti itu, karena kata “polisi” sudah menjadi impian sejati bagi dirinya. Dia mempunyai harapan akan membuat dunia lebih baik, dan memberitahu dunia bahwa siapa pun berhak menjadi apa pun. Sungguh mulia bukan, yang tak semua anak akan berpikir seperti itu hingga ia tumbuh besar.

Beberapa tahun berlalu, dan akhirnya Judy sampai di Akademi Kepolisian yang ia idamkan selama ini. Di awal pelatihan, ia menyadari beberapa hal tentang kota di mana ia tinggal. Mungkin kita biasa menyebutnya kota megapolitan, dan tidak lain adalah Zootopia. Ternyata kota besar itu memiliki wilayah dengan 12 ekosistem dalam batas kota--- Tundra Town, Sahara Square, Rain Forest District, dan lainnya.

Uniknya, setiap kota memiliki musimnya masing-masing, dan penduduk yang juga beragam. Tentu film ini adalah penggambaran dari dunia hewan yang berevolusi menjadi makhluk berperadaban tinggi layaknya manusia (tak ada satu manusia pun di dunia ini). Dimana “pemangsa” dan “mangsa” dapat hidup berdampingan.

Disamping itu, Judy---si kelinci betina juga harus melewati banyak rintangan sulit yang harus ditaklukkan agar lulus dan mendapat gelar polisi. Rintangan-rintangan itu tidak lain adalah menembus badai pasir, bergelantungan di ketinggian seribu kaki, melewati tebing es, bahkan harus mampu mengalahkan penjahat besar---si kudanil dengan adu tinju.

“Mundur dan pulanglah kelinci kecil. Tak pernah ada kelinci polisi. Tak pernah ada. Tak pernah ada. Hanya ada kelinci petani wortel bodoh.” Kata pelatih---si beruang kutub dengan nada tegas dan mengejek.

Suara itu terdengar keras dan kejam, siapa pun jika mendengarnya tentu akan kecil hati jika mentalnya tak cukup kuat. Namun berbeda dengan kelinci kita satu ini, justru kata-kata itu menjadi dorongan kuat baginya untuk terus mencoba. Siang dan malam ia gunakan untuk berlatih juga belajar, menggunakan usaha sebesar dua kali lipat untuk membuktikan bahwa ia mampu dan pantas.

Finally, tak ada hasil yang menghianati usaha. Ia berhasil lulus dengan nilai terbaik, dan mendapatkan lencana yang diimpikannya. Wakil wali kota Bellwether bahkan memberikan lencana berlambang polisi itu secara langsung kepada Judy Hopps, polisi kelinci pertama Zootopia. Upacara penobatan yang menggembirakan, merupakan awal petualangan sekaligus perjuangan Judy dalam memperjuangkan kedamaian dan keadilan.

Tidak perlu menunggu lama, Zootopia express---kereta laju cepat Zootopia segera tiba di Bunny Burrows, tepat setelah Judy usai bersiap dan berpamitan kepada orang tua dan 275 saudaranya yang lain. Judy kemudian bergegas masuk dengan tujuan ke jantung kota Zootopia, dan melambaikan tangan tanda perpisahan.

Dengan ditemani lagu terkenal dari penyanyi Zootopia—Gizelle si rusa, kelinci itu pun menikmati pemandangan sekaligus segala hal yang ada di kota itu. Tidak butuh waktu lama, Judy Hopps sampai di apartemen bernama Grand Pangolin Arm kota Zootopia.

Hari pertama bekerja, Judy sangat antusias karena saat itulah ia akan menerima penugasan yang sudah lama ia nantikan. Ketika sampai di kantor, ia disambut oleh Benjamin Clawhauser---si harimau ramah yang ditugaskan di bagian resepsionis.

Sama dengan hewan-hewan lainnya, tentu Benjamin juga tak menyangka kepolisian akan menerima seekor kelinci. Namun ia justru sangat ramah dan bahkan menyebut Judy sebagai hewan yang lucu (walau Judy sedikit aneh mendengarnya). Benjamin pun memberitahukan di mana tempat ia akan menerima tugas pertamanya.

“…Terakhir, kita memiliki 14 kasus mamalia hilang. Semua Predator. Dari beruang kutub hingga berang-berang. Dan Balai Kota menugaskanku untuk menemukan mereka. Ini Prioritas utama. Penugasan…” penjelasan yang cukup panjang dari ketua Kepolisian pusat kota Zootopia.

Ucapan ketua berakhir dengan menugaskan Judy menjadi Polisi parkir, dimana ia harus menuliskan sebanyak 100 tiket (berupa sanksi bagi pengendara yang parkir sembarangan) setiap hari. Walau awalnya ia sedikit kecewa atas tugas tersebut, Judy tak kalah semangat. Ia justru meningkatkan target bagi dirinya sendiri untuk menulis minimal 200 tiket setiap hari. Salah satu sikap pantang menyerah yang tentunya bisa kita jadikan teladan.

Tanpa pikir panjang, ia langsung pergi menuju jalan raya dan melaksanakan tugasnya. Disana ia bertemu dengan seekor rubah bernama Nick Wilde. Tidak disangka, pertemuan itu justru menjadi seperti takdir yang akan mengantarkan Judy memecahkan masalah hilangnya keempat belas mamalia tersebut. Berkat bekerjasama dengan Nick---seseorang yang memiliki koneksi luas di Zootopia, satu persatu petunjuk ia dapatkan.

Walaupun pada awalnya, Judy tahu bahwa rubah memikili karakter yang bisa kita sebut cerdas tetapi mereka juga termasuk hewan yang licik dan bisa saja buas. Namun, ada benarnya kata pepatah yang mengatakan bahwa tidak seharusnya kita memandang dari casing-nya saja. Melainkan lihat apa yang ada dalam diri mereka. Maka Nike si rubah adalah salah satu predator yang menyadarkan Judy bahwa tidak seharusnya kita men-judge orang lain tanpa tahu kebenarannya.

Kasus hilangnya mamalia tersebut, akhirnya berhasil diselesaikan oleh Judy dan rekannya Nike, yang pada akhirnya ikut menjadi anggota kepolisian Zootopia. Walau pada awalnya banyak percecokan antara mereka, namun mereka berhasil menuntaskan kasus yang ternyata adalah ulah Wali kota juga Wakik Wali Kota untuk menjaga posisi mereka. Memanfaatkan naluri pemangsa untuk menjadi buas, dan menjadikan mamalia yang lebih tinggi dibanding predator.

Film ini juga menyadarkan kita semua bahwa mayoritas ataupun minoritas, kita memiliki hak yang sama untuk menjadi apapun. Disamping itu, kita berhak menjadi diri sendiri dan ikut serta membangun kota sebagaimana yang diinginkan setiap orang. Menjalin kerukunan dengan adanya perbedaan, dan tidak memaksakannya untuk sama. Karena dengan berbeda, segala sesuatu menjadi lebih indah dan utuh.

Alasan lain memilih film ini adalah, karena film garapan sutradara Byron Howard (Tangled) dan Rich Moore (Wreck-It Ralph) ini, mampu menghadirkan cerita detektif bagi anak-anak tanpa membuat para penonton dewasa jemu atau bosan. Selamat menonton.


“Everyone can be anything”-Judy Hopps.

Read More

MENYIMAK PERJALANAN TAARE ZAMEEN PAR

No comments:



Karena mereka bisa melihat dunia dengan cara yang berbeda. Cara berpikir yang unik, dan tidak semua orang mengerti cara mereka. Mereka menentang. Namun mereka muncul sebagai pemenang, dan dunia takjub dibuatnya. 

Ishaan Nandkishore Awasthi, anak laki-laki berumur 9 tahun. Anak yang sering dianggap sebagai anak nakal, bodoh, idiot, tidak bisa diam, dsb. Berasal dari keluarga yang mampu dan utuh, mungkin membuat siapapun melihat bahwa dia tidak kekurangan apapun.

Namun, ternyata ada hal yang tidak bisa ia dapatkan saat itu. Keadaannya berbanding terbalik dengan Yohan, kakaknya yang menjadi pelajar sukses dalam studi maupun bidang olahraga. Ayahnya yang berkepribadian keras, bahkan tak pernah sekalipun melihat sisi baik dari Ishaan. Namun, Ibu Ishaan selalu sabar mengajarkan banyak hal padanya.

Dia bahkan mengorbankan karir demi memiliki banyak waktu untuk membimbing putranya, berharap mereka dapat menjadi sosok yang sukses suatu saat. 

Duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, Ishaan masih saja belum bisa membaca dan menulis dengan baik dan benar. Dialah satu-satunya anak yang tidak bisa membedakan antara huruf-huruf atau bahkan kata yang hampir sama---b dengan d, f dengan t, top dengan pot, soil dengan soiled.

Dialah satu-satunya yang membayangkan akan membawa planet bumi ke planet pluto untuk dihancurkan, itulah cara dia menjawab soal matematika dari hasil perkalian 3x9. Imajinasi yang begitu kuat, namun dari sanalah ia mendapatkan masalah. Dia juga tak pernah benar-benar paham akan perintah yang disampaikan gurunya.

“I said, open page 38 paragraph 3! Read the first sentence and mantion the adjective” perintah gurunya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ya, Ishaan hanya terdiam.

Justru ia menjelaskan bahwa huruf demi huruf yang berbaris di halaman buku tampak menari, dan ia tak bisa membacanya. Hal itu membuat guru di kelas menjadi marah, dan menghukumnya untuk keluar dari kelas sembari menunggu pembelajarannya selesai. 

Beberapa kali, hingga tak ada hari tanpa keluar kelas. Membuat anak itu---Ishaan sedih dan merasa tak ada gunanya ia duduk di kelas. Pun, dia memilih untuk meninggalkan kelas dan mengelilingi kota seorang diri (bolos). Berfikir bahwa dengan begitu ia akan lebih tenang.

Mengamati banyak hal dengan bebas dan tak seorang pun akan mengomelinya hanya karena ia tak bisa membaca dengan benar. Dia mulai berjalan seorang diri, menyusuri setiap jalan yang ia temui, hingga menaiki bus agar sampai ke sekolah tepat saat waktu pulang sekolah. Sampai di rumah, semua terlihat baik-baik saja. Hingga saat malam tiba, ia mulai gelisah.

Takut jika ia nanti akan mendapat omelan dari sang Ayah. Meminta bantuan pada kakaknya menjadi pilihan terakhirnya, agar menuliskan surat ketidakhadirannya hari ini. Karena sangat menyayangi adiknya, ia pun menuliskannya walau sempat menolak permohonan Ishaan. 

Beberapa hari berlalu, hingga ayah Ishaan pulang dari perjalanan kantornya dari Mumbai. Seperti biasa ia akan duduk di ruang keluarga dan memulai membaca koran saat hari libur. Tanpa sadar, ia menemukan sebuah surat saat akan mengambil surat kabar dari tempatnya. Surat yang berisikan ketidakhadiran Ishaan di kelas karena demam, yang pada kenyataannya tentu tidak benar.

Kalian bisa bayangkan, saat itu juga Ishaan dimarahi besar-besaran. Ia menangis tersedu-tersedu, dan ia hanya bisa diam. Namun, kejujuran selalu ada di pelupuk matanya. Berbicara apa adanya---sebagaimana anak seusianya atas apa yang ia lakukan kemarin, kemudian berlari ke kamar dan membisu. 

Tidak disangka, pihak sekolah menelepon kedua orang tua Ishaan beberapa hari setelah kejadian bolos itu. Kepala sekolah memberitahukan segalanya, termasuk kemampuan Ishaan yang dianggap tidak dapat ditoleransi lagi untuk bisa naik kelas. Hal ini tentu memperburuk keadaan, membuat Ishaan akhirnya dipindahkan ke sekolah asrama. Pada awalnya ia memberontak, tak ingin jauh dari Ibu maupun kakaknya.

Tetapi, keputusan yang sudah bulat itu tak dapat dirubah kembali. Di pihak lain, Ishaan menganggap bahwa sekolah di asrama merupakan hukuman orang tua terhadap anak yang nakal dan tidak mau menurut. Anggapan ini tampak lebih jelas dengan gaya dan sikap mengajar guru di sekolah tersebut yang cenderung lebih keras dengan dalih untuk menegakkan kedisiplinan. 

Suasana kelas dan asrama yang tidak menyenangkan membuat Ishaan semakin frustasi, semua guru menyebutnya bodoh dan seringkali menghukumnya dengan keras. Keadaan ini membuatnya semakin tertekan dan menjadi pendiam dan selalu menyendiri.

Selain itu, Ishaan menjadi takut ketika bertemu dengan guru bahkan tidak bersemangat saat pelajaran melukis berlangsung. Keadaan ini terus berlangsung hingga seorang guru pendatang tiba di sekolah asrama tersebut. 

Dialah Ram Shankar Nikumbh, guru kesenian yang diperankan oleh Amir Khan. Dia berperan sebagai sosok guru yang begitu unik, dan memiliki kepribadian kuat. Berbeda dengan guru-guru lain yang sangat disiplin dan kaku, ia justru memperkenalkan dirinya dengan kostum badut dan bernyanyi saat memasuki kelas.

Menghidupkan kelas dengan canda dan tawa, juga lirik lagu disertai tarian yang menyenangkan. Melihat semua muridnya tersenyum, membuat tuan Ram ikut bahagia. Namun disisi lain, ia menemukan salah satu dari sekian murid di kelasnya yang terdiam dan hanya menunduk hingga nyanyiannya usai.

Ya, dialah Ishaan kita. Keanehan inilah yang menggugah hati Tuan Ram untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Ishaan. Hingga suatu ketika, ia mencari semua buku tulis Ishaan dan mencoba mencari kesalahan apa yang dilakukannya hingga para guru menyebutnya bodoh. Dengan penuh rasa penasaran, akhirnya ia mendapatkan kesimpulan. 

Itu adalah penyakit Disleksia, gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan, dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat, sebagaimana yang dialami oleh Ishaan.

Walaupun seorang anak mengalami gangguan ini, itu tidak berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan mereka. Seperti halnya Ishaan, yang sebenarnya memiliki kecerdasan yang tinggi dan bakat melukis yang luar biasa. 

Oleh sebab itu, Tuan Ram mulai meyakinkan semua guru bahkan kedua orang tua Ishaan tentang keadaannya. Ia bukanlah anak idiot atau abnormal, tetapi anak spesial dengan bakat alami yang membutuhkan perhatian dan cara pengajaran khusus.

Dengan waktu, kesabaran dan keyakinan yang besar, Nikumbh berhasil mendorong tingkat kepercayaan Ishaan. Ia membantu Ishaan dalam mengatasi masalah yang selama ini menakuti dirinya. Ishaan mulai percaya pada dirinya, mulai berani bicara dan menjawab, sekaligus mulai melukis kembali. Ia mulai bisa membaca, menulis, berhitung, tanpa harus khawatir dengan imajinasi yang tak terkendali. 

Film ini diakhiri dengan dengan lomba melukis yang diadakan Tuan Ram Nikumbh untuk seluruh murid juga guru yang ada di sekolah tersebut. Semua mengikuti tanpa ada perbedaan, mereka menikmati suasana lomba tanpa merasa terkekang oleh batasan imajinasi.

Ishaan akhirnya membuktikan bahwa dia pantas diakui keberadaannya dengan memenangkan peringkat pertama dalam lomba ini. Dengan statement bahwa muridlah yang mengalahkan guru, lukisan Ishaan pun menjadi sampul buku tahunan sekolah. Dengan lukisan Tuan Ram Nikumbh di baliknya, yang merupakan lukisan wajah Ishaan, yang membuat buku itu menjadi begitu berarti saat orang tua Ishaan menerimanya.

Kata yang bisa terucap hanyalah terimakasih, yang mereka tunjukkan pada guru terbaik putranya yaitu Tuan Ram. Penyesalan karena seringkali mengabaikan sisi baik Ishaan telah tertancap dalam benak mereka. 

Film dengan judul Taare Zameen Par ini mengajarkan kita bahwa setiap anak adalah spesial dengan keunikan dan impian mereka masing-masing. Oleh sebab itu, jangan pernah memaksa harus seperti apa mereka, atau harus menjadi apa mereka suatu saat nanti.

Ijinkan mereka untuk hidup sebagai diri mereka sendiri dengan potensi dan keunikannya, serta hargailah apapun usaha yang mereka lakukan. Maka meraka akan tumbuh dan berkembang dengan menjadi anak yang cerdas dan luar biasa versi mereka. Sebegai orang tua, bukan tugas kita untuk terus menekan kekurangan yang dimiliki seorang anak.

Melainkan meyakinkan anak bahwa ia memiliki kelebihan yang dikaruniakan Tuhan padanya, untuk menyambut masa depan miliknya. Orang tua juga tidak boleh membanding-bandingkan kemampuan seorang anak dengan anak yang lain sebagaimana yang dilakukan ayah Ishaan.

Mewujudkan cinta orang tua pada anak adalah dengan memantau tumbuh kembangnya, selalu meyakinkan dia akan kemampuan yang dimilikinya, memberikan reward padanya saat ia berhasil, dan selalu ada untuknya di saat apapun. Hal ini adalah beberapa dari apa yang bisa orang dewasa lakukan. 
Read More

Belajar Kiri dari Manifesto Wacana Kiri

No comments:


Gaung Kiri telah mengudara lebih dulu di Barat. Mulanya mereka yang berhaluan Kiri tidak pernah menyebut diri mereka sebagai pihak kiri. Sebutan itu dilontarkan oleh mereka yang menjadi lawannya, Kanan.

Disebut Kiri bukan berarti mereka yang selalu membelot terhadap segala bentuk aturan. Tetapi mereka adalah pihak yang kritis dan cenderung tidak mengikuti alur begitu saja. Selain itu, mereka juga berusaha untuk selalu transformatif.

Premis tersebut sama seperti yang ditulis Santoso Kristeva dalam bukunya yang berjudul Manifesto Wacana Kiri. Buku ini mulanya adalah sebuah skipsinya yang disusun menjadi sebuah buku. Sama seperti judulnya, buku ini berisi berbagai wacana kiri yang mana merupakan kumpulan tulisan-tulisan kiri.

Manifesto Wacana Kiri oleh penulisnya dibagi menjadi duabelas bagian, yaitu diskursus sejarah ketertindasan masyarakat Indonesia, sejarah pemikiran negara, demokrasi Indonesia, materi dasar ke-PMII-an, ideologi gender, feminisme, dan sejarah gerakan perempuan, pendidikan kaum tertindas, Islam dan teologi pembebasan progresif, pemikiran Hegel, Marx, Gramsci, dan Habermas.

Teori pembangunan dunia ketiga, ideologi kapitalisme dan developmentalisme, globalisasi dan sejarah ekonomi internasional, serta analisi sosial dan strategi gerakan sosial.

Pertama, diskursus sejarah ketertindasan masyarakat Indonesia yang sebagian besar memuat sejarah Indonesia dari pembentukan negara hingga revolusi. Sama halnya dengan sejarah yang dipelajari di buku-buku sejarah lainnya, penulis menyusunnya sesuai dengan periodisasi. 

Namun, yang menjadi ciri dari bagian ini adalah penulisan sejarah yang cenderung pro-komunisme. Bahkan penulis secara gamblang menyebut bahwa sejarah Indonesia mengenai komunisme telah dikaburkan.

Inilah yang sekarang telah diamini oleh orang awam bahwa komunisme adalah suatu kejahatan dan harus diberangus.

Kedua, sejarah pemikiran negara yang memuat tentang terbentuknya negara beserta dengan perundang-undangannya. Penulis tidak terlalu menjelaskan secara detail terkait negara.

Ia hanya mencantumkan bagaimana pembentukan negara menurut para filsuf. Selebihnya hanya membahas tentang perundang-undangan dari pembentukannya sampai amandemen UUD 1945 yang sekarang ini.

Ketiga, demokrasi Indonesia yang membahas tentang pengertian, sejarah, dan perkembangannya. Tidak ada pembahasan lebih selain itu. Detail pembahasan hanya seputar demokrasi yang pernah diterapkan di Indonesia. 

Simpulan penulis di bagian ini adalah bahwa Indonesia sampai sekarang masih mencari demokrasi yang sesuai dengannya.

Keempat, materi dasar ke-PMII-an yang tentunya berisi seputar gerakan mahasiswa dan penjabaran tentang PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Tidak heran mengapa penulis mencantumkan PMII, melihat latar belakang penulis adalah seorang aktivis PMII. Namun, bagian menariknya adalah penulis mampu bersikap netral terhadap gerakan mahasiswa lain di luar PMII dalam tulisannya ini.

Sesuai dengan judul bagian, pembahasan tentang PMII ditulis secara rinci oleh penulis. Tentu saja dimulai dari sejarah terbentuknya PMII, nilai dasar pergerakan, dan aswaja.

Tidak ketinggalan pula paradigma yang menjadi ciri khas dari gerakan ini, yaitu paradigma kritis transformatif.

Kelima, ideologi gender, feminisme, dan sejarah gerakan perempuan. Sama seperti judul bagiannya, secara keseluruhan dari bagian ini memuat tentang gerakan perempuan.

Jika dibandingkan dengan buku Feminist Thought-nya Rosemerie Putnam Tong memang ada pembahasan yang kurang detail.

Namun, dalam buku ini dijabarkan bagaimana paham feminisme ini sampai ke Indonesia bahkan sampai terbentuknya Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Dan yang menarik adalah bahwa Gerwani ini dipelopori oleh PKI.

Keenam, pendidikan kaum tertindas. Berbicara tentang pendidikan kiri tentunya tidak terlepas dari pencetusnya, Paulo Freire. Penulis mulanya membahas tentang Freire dahulu, sebelum pada akhirnya membahas tentang buah pemikirannya.

Dari catatan penulis, ia menyebutkan bahwa pendidikan transformatif ala Freire ini adalah salah satu upaya untuk melenyapkan dehumanisasi yang terjadi di era modern ini.

Ketujuh, Islam dan teologi pembebasan progresif yang memuat berbagai macam Islam dan pemikirnya. Penulis menyebutkan bahwa terdapat berbagai macam Islam di Indonesia, yaitu Islam tradisional, modernis, neomodernis, fundamentalis, liberal, kiri, dan alternatif.

Selain itu, ia juga menjabarkan tentang Ali Syariati dengan humanism Islamnya, Asghar Ali Engineer dengan elemen pembebasan dalam Quran-nya, dan Hasan Hanafi dengan Islam Kiri-nya.

Kedelapan, pemikiran Hegel, Marx, Gramsci, dan Habermas. Keempat tokoh inilah yang oleh penulis dijadikan sebagai ikon Kiri. Mulanya ia menjabarkan Hegel dengan segala pemikirannya yang akan dikritisi oleh muridnya, Marx. 

Kemudian Marx mengembangkan pemikiran itu dan nantinya akan dikritisi juga oleh pengikutnya, Habermas dan Gramsci. Penjelasannya memang tidak sedetail apa yang dituliskan George Ritzer dalam bukunya, Teori Sosiologi, namun pemaparan penulis cukup gamblang.

Kesembilan, teori pembangunan dunia ketiga. Setelah perang dunia dua berakhir, bibit-bibit negara dunia ketiga atau negara jajahan telah bermunculan. Kemunculannya bukan tanpa alasan, namun negara dunia pertama atau negara adikuasa telah kehilangan modal yang cukup besar. 

Sehingga, mereka mulai menjalankan ekspansi ke negara-negara yang kaya akan sumber daya dan bahan baku untuk kepentingannya sendiri.

Kesepuluh, ideologi kapitalisme dan developmentalisme yang memuat sejarah kapitalisme hingga munculnya developmentalisme. Pembahasan ini tentunya tidak terlepas dari pemikiran ekonomi klasik dari Adam Smith, kritik dari Karl Marx, dan hegemoni-nya Anthonio Gramsci.

Kemudian penulis mengakhiri pembahasan di bagian ini dengan kemunculan developmentalisme atau teori pembangunan beserta dampaknya terhadap perekonomian dunia dan negara.

Kesebelas, globalisasi dan sejarah ekonomi internasional. Seperti judul bukunya, pembahasan globalisasi di bagian ini menampilkan kritik mendasar tentang globalisasi. Apalagi perihal ekonomi internasional yang telah berevolusi menjadi neoliberal.

Jelas saja pembahasannya lebih ditonjolkan ke dampak negatifnya dari pada ke positifnya. Pembahasan ini juga masih ada sangkut-pautnya dengan bagian sebelumnya, yaitu negara dunia ketiga dan ideologi kapitalisme.

Terakhir, analisi sosial dan strategi gerakan sosial. Oleh penulis bagian ini dibuat kolom kategori yang memudahkan pembaca dalam penggolongan analisis sosial dan strategi gerakan sosial.

Meskipun pembahasannya tidak mendetail seperti bagian-bagaian sebelumnya, namun sudah cukup membantu untuk mengenali apa itu analisis sosial dan bagaimana strategi yang digunakan dalam gerakan sosial.

Dari duabelas pembagian pembahasan tersebut, kiranya telah membantu pembaca dalam memahami wacana-wacana kiri. Meskipun ada berbagai pembahasan yang diulang-ulang, namun ini tidak akan membuat pembaca bingung untuk memahami maksud dari pembahasan.

Buku ini cocok buat penggemar wacana kiri, meskipun isinya tidak melulu perihal kiri atau bisa dibilang kiri yang tidak ekstrem.

Keterangan:
Judul buku : Manifesto Wacana Kiri
Penulis : Nur Sayyid Santoso Kristeva
Penerbit : Pustaka Pelajar
Kota terbit : Yogyakarta, 2015
Tebal buku : xxxii + 722 hlm.
ISBN : 978-602-229-484-9
Read More

Membaca Mahar Untuk Maharani

No comments:
Read More

Karena Puisi Itu Indah

No comments:


"Bukan cinta yang salah, kita hanya harus mengalah"

Akan kau temui kalimat itu ketika halaman pertama buku Karena puisi itu indah Jilid II kau buka. Jujur saja, aku suka membaca puisi dalam laman dunia maya atau buku kumpulan puisi. 

Namun, seringkali aku memiliki rasa khawatir ketika membaca bait-bait puisi yang tertuang. Karena acapkali yang pertama kali hadir di benak adalah puisi yang identik dengan diksi yang tak mudah untuk diterjemahkan begitu saja.

Namun lain halnya dengan buku kumpulan puisi karya Mbak Tia Setiawati yang beberapa hari belakangan menjadi temanku melewati malam. Tulisannya yang begitu apa adanya, tulus dan mengalir begitu saja, membuatku tak berhenti mengangguk setuju. 

Puisi-puisinya mampu menyentuh sudut relung hati hingga tak jarang ada hujan di pelupuk mata. Singkat kata, kau tak perlu bersusah-susah menerka apa makna yang ingin disampaikan. Kau hanya perlu membacanya dan tak lama hatimu akan paham dan mampu untuk merasakannya.

Ada satu puisi yang begitu kusukai dalam buku ini. Dan kebetulan ketika aku membacanya, lagu Pamit dari Tulus sedang berputar. Entah semakin bercampur saja segala rasanya.

Bukan Selamat Tinggal Selamanya
Kita adalah dua orang manusia penuh cinta.
Entah sebagai teman atau apa pun yang ditakdirkan Tuhan
Kita pernah melalui berbagai macam persoalan.

Ketidaknyamanan atas kehadiran orang lain dalam masing-masing hidup kita.
Ataupun kepergian salah satunya.
Mereka pernah memengaruhi bahtera hidup kita..

Dan ketika ada takdir Tuhan berbicara pada pertengahan cerita kita,
bukankah kita memang sudah seharusnya untuk menerima?

Perpisahan ini,
entah untuk yang keberapa kali
Semoga bukan selamat tinggal seperti yang sudah kita jalani.

Karena aku lebih memilih untuk berkata "sampai jumpa lagi"
daripada "selamat tinggal selamanya"

Berjanjilah untuk baik-baik saja.
Karena mungkin untuk sementara,
aku akan tak ada tepat di tempatmu berada..

Banyak, bahkan hampir seluruh puisi dalam buku Karenapuisiituindah Jilid II ini begitu menggugah hatiku. Mungkin karena kisah yang bergulir pada baitnya pernah kurasakan namun tak pernah berhasil kuutarakan dengan sempurna.

"Mencintai diam-diam itu seperti menggenggam sebuah bom waktu" begitu kiranya penggalan bait puisi “Maka Aku Akan Tersenyum Saja” yang akan kau dapati jika kau membuka halaman 153. Dan ada satu lagi puisi yang kusukai, judulnya "Percayalah, Itu Aku" .

Ah, tak akan kuberitahukan kau seluruh puisi dalam buku Karenapuisiituindah Jilid II ini. Ada baiknya kau membacanya sendiri agar mampu meresapi setiap kata yang bergulir di dalamnya. Jangan lupa siapkan tisu ketika membaca buku ini, hanya untuk jaga-jaga jikalau ada airmata yang hadir meski tak kau inginkan. 

Dan memang benar, buku ini ditujukan untuk mereka yang berani melepaskan, karena percaya takdir Tuhan selalu Mahabaik dibanding segala hal. Mbak Tia, I adore you, sangat!

Bila kau belum memilikinya, kau harus segera memesannya, sungguh! Karena, bukan hanya bait yang mengguggah saja yang akan kau dapati. Tapi ada banyak pesan yang hadir menemani. 

Segalanya dirangkum dengan amat sederhana, sesederhana cinta yang hadir pada setiap hela nafasmu. Sesederhana cinta yang melandasi terciptanya buku ini. 

Dan untukmu yang baru saja memesan bukunya atau baru akan membacanya, kuucapkan selamat berlayar dan tenggelam bersama buku ini, tapi ingat untuk kembali :)
Read More

Cinta Filosofis : Membaca Cinta Dan Agama Dalam Ruang Filsafat

No comments:



Benarkah cinta itu buta? Membuat seseorang hilang rasionalitasnya? Atau Menjerumuskan seseorang jatuh ke dalam nafsunya? Aku rasa tidak bagi seorang “Karima”.

Novel tentang cinta yang diselimuti dengan pemikiran filosofis ini, akan membawa siapapun mengerti bagaimana kita bisa berfikir secara sederhana dan enteng dalam menyikapi berbagai hal tentang filsafat, agama juga cinta. Sering kali orang-orang membuat berbagai perbedaan menjadi sesuatu yang harus ditonjolkan lebih dulu. 

Namun dengan membaca buku ini, membuka mata kita untuk menerima persamaan lebih dulu agar bisa bijaksana menyikapi perbedaan yang ada. Memanfaatkan akal yang telah dianugerahkan oleh Tuhan, dan juga memahami batasan maupun keterbatasan manusia.

Novel ini menceritakan sosok wanita sederhana yang mampu memegang erat prinsip yang telah ia dapatkan dari pemikirannya mengenai filsafat. Dialah Karima, keponakan dari Kiai Hadziqa Faqih yang merupakan pendiri pondok pesantren Nurul Azhar dan Kampus Akademos.

Dari sang Kiai lah, Karima belajar banyak hal mengenai filsafat dan agama. Bahkan, Karima memiliki waktu khusus untuk berbincang bersama Kiai yang dipanggilnya Pak De itu. Kiai Hadziqa termasuk sosok yang unik. Ia menyukai filsafat sejak muda. 

Ketika ia belajar di beberapa pesantren puluhan tahun lalu, disamping mempelajari ilmu-ilmu pesantren seperti nahwu (bidang tata bahasa Arab), Tafsir, Hadis, dan lain-lain, ia sangat menyukai pelajaran logika. Pun, kampus akademos sebenarnya adalah gagasan idealis dari Kiai Hadziqa Faqih. 

Tidak mengherankan jika program studi yang banyak diminati oleh para mahasiswa adalah filsafat. Banyak pula yang mengidolakan sosok Kiai sebagai figur Idolanya, termasuk juga Karima.

Selain itu ada juga Qanita, sahabat baik Karima sejak kecil. Dia berasal dari desa yang sama dengan Kiai Hadziqa, mungkin itu juga yang membuatnya terpilih menjadi ibu lurah pesantren (ketua organisasi pesantren). Karima dan Qanita berada di kelas yang sama, dengan prodi Filsafat Islam. 

Tokoh ketiganya adalah Ikhwan, yang juga pemeran utama dalam novel ini. Ia adalah sosok yang sederhana, dan pantang menyerah dalam keilmuan. Sejak pertama kali bertemu dengan Karima, Ikhwan sudah jatuh hati kepadanya. 

Namun apa daya, ternyata saat itu Karima telah menjalin hubungan dengan seorang hafidz dari prodi yang berbeda dengannya. Namanya Fauzi, ketua DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) kampus Akademos. Dengan postur tubuh yang tinggi bahkan berkulit putih, tak heran jika Fauzi menjadi idola bagi para mahasiswi.

Meskipun begitu, cinta Karima bukanlah cinta buta sebagaimana gadis-gadis seusianya. Cinta Karima lebih bernuansa filosofis sekaligus agamis, bukan cinta erotis. Maka ketika sosok Fauzi ini melakukan perbuatan yang menurutnya salah, Karima tetap menyalahkannya dan mengikuti apa yang menurutnya benar.

Cinta filosofis dibuktikan dengan adanya kontrol-kontrol rasional dalam berkomunikasi. Cinta filososfis selalu melandaskan pada kejujuran dan kebenaran. (Cinta Filosofis, hlm. 187)

Walau Karima mencintai Fauzi, tetapi ketika Fauzi akan melakukan demonstrasi untuk menurunkan Pak Hakim---dosen filsafat kampus akademos. Karima langsung menentangnya. 

Menurutnya, alasan Fauzi dan kelompoknya itu tentu tidak filosofis. Hanya karena Pak Hakim memberikan nilai C---yang menandakan ketidaklulusan bagi para aktivis yang tidak hadir dalam kelasnya, bukan berarti killer. Karima menjelaskan, bahwa menghadiri kelas adalah syarat formal dari perkuliahan. 

Jika mencari ilmu lain ketika jam itu, maka harus berani mengambil resiko untuk tidak mendapatkan ilmu di kelas. Sudah seharusnya juga mahasiswa menghargai dosen yang telah meluangkan waktunya untuk mengajar. Inilah salah satu bukti cinta filosofis Karima.

Karakter cinta filsosofis yang pertama adalah diawali dengan alasan-alasan yang tidak bersifat fisik seperti postur tinggi, putih, gagah, rambut lurus dan lain-lain. Cinta filosofis mengutamakan alasan-alasan non fisik seperti pintar, bijaksana, tidak emosional, berorientasi masa depan, dan mengedepankan etika dalam berkomunikasi. 

Kedua, cinta filososfis menggunakan standar kebenaran dan kejujuran dalam berkomunikasi. Kebenaran yang digunakan adalah kebenaran agama dan kebenaran filosofis yaitu kebenaran koherensi, korespondensi, dan kebenaran pragmatis. Kebenaran koherensi adalah kebenaran yang dibuktikan dengan konsistensi dan kesamaan satu pernyataan dengan pernyataan yang lain.

Selanjutnya, kebenaran korespondensi ditandai dengan kesesuaian kata, kalimat atau pernyataan dengan kenyataan atau faktanya. Terakhir, adalah kebenaran pragmatis. Dimana Karima selalu menjaga jarak dan tidak sering bertemu maupun mengobrol jika tidak ada kepentingan. Maka ketika Fauzi sudah tidak lagi sesuai dengan kebenaran dan kejujuran yang ia jadikan sebagai komitmen itu, Karima langsung memutuskannya.

Disisi lain, keserasian antara Karima dan Fauzi, membuat Ikhwan cemburu sejak awal, dan membuatnya berfikir bahwa ia tidak sebanding dengan Karima. Maka sejak ia tau hubungan antara Karima dan Fauzi, Ikhwan kemudian merenungkan segala hal yang membuatnya mulai berubah. 

Ia mulai melupakan sesuatu yang tidak seharusnya ia pikirkan. Fokus dengan kuliah, fokus dengan kajian-kajian kitab yang diadakan di pesantren, juga fokus memperbaiki diri.

Hari demi hari berlalu, waktu terus berputar tanpa henti. Ternyata sudah hampir empat tahun sejak demontrasi itu terjadi. Karima, Qanita, dan juga Ihkwan lulus dengan mendapat gelar camlaudge di ijasah mereka. Kiai Hadziqa memanggil ketiganya seusai wisuda untuk menemuainya di kantor. 

Siapa sangka, ternyata Pak De menjodohkan Karima dengan Ihkwan yang sejak semester pertama menjadi sosok santri yang dipercayai olehnya. Ihkwan pada awalnya mengira, mungkin Tuhan mempunyai rencana lain tentang siapa jodohnya. Tetapi ternyata benar. 

Doanya tak pernah sia-sia. Karena dengan mencintai Sang Maha Segalanya lebih dulu, Ia akan mendatangkan cinta terbaik bagi siapapun yang beriman.

Kiai Hadziqa juga memberikan amanah kepada Karima dan Ihkwan untuk mendirikan sebuah pesantren di daerah asal Karima. Daerah yang memang masih sulit mencari sekolah, tempat mengaji, bahkan untuk pergi dari satu desa ke desa yang lain. 

Cita-cita mulia yang diberikan oleh Pak De kepada keponakannya yang terpercaya menjadi akhir dari cerita. Pesantren itu akhirnya berkembang pesat. Dengan didukung oleh para alumni pesantren Nurul Azhar sebagai pengajar, menambah kepercayaan masyarakat kepada pesantren tersebut.

Novel ini dikemas dengan begitu sederhana, bahasa yang mudah dipahami, juga alur cerita yang unik. Melibatkan materi-materi filsafat juga bagaimana cara memandang agama sekaligus cinta. Lalu, apa yang spesial dari filsafat? Karima berkata bahwa dengan filsafat….

Aku lebih bijaksana. Tidak cepat-cepat menyalahkan orang lain. Lebih penting lagi Aku mulai sadar bahwa kehidupan itu tidak bisa dipaksakan untuk menjadi tunggal. Tuhan telah mengaturnya demikian….(Cinta Filosofis, hlm. 168)

Keterangan:
Judul : Cinta Filosofis
Penulis : Iswahyudi
Penerbit : Tera kata
Kota Terbit : Yogyakarta, 2017
Tebal Buku : 356 halaman
ISBN : 978-602-74426-7-2
Read More