Latest Posts

Showing posts with label Figur. Show all posts
Showing posts with label Figur. Show all posts

Erving Goffman: Peran Diri dari Konsep Dramaturgi

No comments:



“Seluruh dunia ini bukan panggung -sama sekali bukanlah teater.” (Erving Goffman, Frame analysis, 1974)
Ujaran tentang “jadi diri sendiri” telah marak bermunculan diberbagai kalangan masyarakat. Pasalnya sebagian dari mereka terlalu asyik mendalami peran orang lain. Hingga mereka lupa atau bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. Hal ini sangat disayangkan, bagaimana kita bisa menghargai diri sendiri jika kita sendiri tidak tahu atau mengenal diri kita sendiri?

Premis tersebut rupanya telah menjadi problematika masyarakat sejak dulu. Bahkan Erving Goffman, sosiolog kelahiran Kanada, 11 Juni 1922 itu tertarik untuk menelitinya. Ia membuat konsep tentang diri yang diberi nama “Dramaturgi”.

Dramaturgi adalah gambaran dari laku diri. Artinya, ada peran yang dilakukan oleh aktor dalam dua sisi, yang sebenarnya dan yang ditampilkannya. Singkatnya, diri ini memiliki dua sisi yang perlu untuk ditunjukkan kepada audiens (masyarakat) dan sisi yang harus disembunyikan dari audiens. 

Sedangkan Goffman menyebutnya sebagai peran di atas panggung dan peran di balik layar. Keduanya akan selalu melekat pada diri manusia dan tidak terelakkan. Oleh sebab itu, kita perlu mengenali diri sebelum terjebak dalam salah peran.

Pertama, peran diri di atas panggung atau sisi dari diri kita yang perlu ditampilkan pada audiens. Manusia tidak mungkin menunjukkan sisi buruknya di depan masyarakat, kecuali kalian memang ingin melakukannya. Dan tentu saja hal buruk yang kalian tampilkan akan menciptakan stigma kepada masyarakat.

Inilah yang oleh Goffman diringkas dalam lima fakta di atas panggung. Hal tersebut meliputi, kesenangan diri sendiri yang ditekan, kesalahan diri yang ditutupi, menyembunyikan proses atau hanya menunjukkan hasil, menyembunyikan kecurangan atau kerja kotor, dan menyembunyikan standar diri. Jelasnya, aktor akan menyembunyikan berbagai fakta pada dirinya di depan audiens.

Kedua, peran diri di balik layar atau sisi yang tidak diketahui audiens. Dari sisi ini seharusya kita bisa menjadi “benar-benar” subjek untuk diri kita. Pasalnya, inilah sisi kebenaran yang hanya diri kita yang tahu. Tidak mungkin diri kita mampu menipu diri sendiri, kecuali memang menghendaki yang demikian.

Dari sisi ini jelas sekali bahwa kita memiliki kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Tidak ada seorang pun yang tahu betul bagaimana diri ini kecuali diri kalian sendiri. Sesempurna apapun seseorang mendikte bagaimana diri kalian, mereka tidak akan pernah paham betul diri kalian.

Namun, memang banyak diantara kita yang tidak mengenal bagaimana dirinya sendiri. Ada banyak faktor yang salah satunya adalah “terlampau senang” menjadi diri “yang digemari” banya orang. Hingga mereka lupa bahwa menjadi diri sendiri adalah hal yang amat menyenagkan, sekalipun tidak banyak yang menyukai. Kesenangan diri itu adalah hak, selama tidak merugikan orang lain. Lagi pula, siapa yang peduli bagaimana kehendak audiens yang bertolak belakang dengan diri kita -seharusnya.

Sederhananya, omong kosong jika seseorang tidak tahu dirinya sendiri. Ia adalah aktor yang bebas mengekspresikan diri tanpa pusing tuntutan dari audiens. Dengan ini ia akan bertindak natural dan menjadi subjek untuk dirinya sendiri.
Read More

Teori Kritis: Produk Neo-Marxis Jerman untuk Marxian

2 comments:

Nama Karl Marx pasti sudah tidak asing lagi bagi para intelektual. Tokoh yang digadang-gadang sebagai ayah kandung komunis ini mashur dengan beberapa teorinya yang dianggap kontroversional. Namun, justru dengan pemikiran kontroversionalnya inilah Marx memiliki banyak pengikut yang kelak menamai dirinya sebagai Marxian. Jadi, tidak heran jika namanya acap kali disandingkan dengan hal-hal yang berbau "kiri".

Berbicara tentang kiri, sebenarnya bukan klaim negatif yang anti pemerintahan. Namun, kiri ini lebih condong pada sikap kritis yang tidak melulu mengikuti aturan pemerintah. Lagi pula, Marx tidak pernah menamai dirinya sebagai kiri. Itu hanyalah premis yang disandangkan oleh lawannya yang menganggap seolah-olah Marx anti terhadap pemerintahan.

Selain kesan politik yang "anti-pemerintahan", Marx juga memiliki pemikiran-pemikiran fantastis di bidang ekonomi, sosial, dan agama. Dan tentu saja pemikirannya ini dipengaruhi oleh Hegel, Feurbach, dan sahabatnya, Engels. Bahkan setelah kematiannya, pemikiran atau karya-karya Marx akan diterjemahkan oleh Engels untuk Marxian lainnya.

Namun, tidak ada seorang pun yang mampu mengerti secara detail apa yang dimalsudkan Marx. Seperti yang ditulis oleh Magnis Suseno dalam bukunya yang berjudul Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme menyatakan bahwa tidak ada yang mampu mengerti maksud pemikiran Marx, termasuk Engels. Sehingga, ada beberapa kerancuan Marxian dalam menelaah pemikiran Marx.

Premis tersebut sama dengan yang dilontarkan oleh golongan Neo-Marxis Jerman. Golongan yang menamai diri mereka sebagai Mazhab Frankfurt, Jerman ini menyebut bahwa Marxian telah mereduksi pemikiran Marx. Sehingga Marxian telah salah karah dalam mengimplementasikan pemikiran Marx. Dari interpretasi pemikiran saja sudah salah, apalagi dalam implementasinya.

Maka dari itu, Mazhab Frankfurt ini bermaksud untuk meluuskan kembali pemikiran-pemikiran Marx. Salah satu caranya adalah dengan membentuk suatu teori baru yang akrab dengan sebutan teori kritis. Seperti yang ditulis oleh George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi menyebut bahwa di dalam teori kritis memuat berbagai kritik terhadap Marxian, seperti kritik atas teori Marxian, positivismenya, sosiologinya, masyarakat modernnya, bahkan perihal kebudayaan.

Pertama, kritik atas teori Marxian. Mereka, para Neo-Marxian menyebut bahwa Marxian terlalu condong pada determinisme ekonomi. Yang mana seolah-olah hanya ekonomi yang dapat menopang segala sektor. Marxian tidak berpikir bahwa antara sektor satu dengan sektor yang lainnya saling tergantung. Menurut Neo-Marxian, seharusnya para Marxian memperhatikan sektor lain demi memperbaiki kesenjangan.

Kedua, kritik atas positivisme. Para positivis menganggap bahwa ilmu sains adalah standar ketepatan untuk seluruh disiplin ilmu, termasuk pembahasan terkait masyarakat. Jadi masyarakat dalam perspektif positivis dianggap pasif. Sehingga, peran teori kritis di sini adalah mengembalikan posisi manusia sebagai subjek yang aktif.

Ketiga, kritik terhadap sosiologi. Sosiologi dalam perspektif kritis dianggap terlalu santisme, yang mana segalanya harus serba ilmiah. Di sini, para Neo-Marxian bermaksud untuk menghindarkan masyarakat dari sesuatu yang ilmiah menjadi seauatu yang lebih fleksibel.

Keempat, terhadap masyarakat modern. Menurut Neo-Marxis, masyarakat modern terlalu memfokuskan diri untuk memperbaiki ekonomi ala Marxian. Dengan ekonomi pula, teknologi dapat dikendalikan dengan mudah. Dalam hal ini, salah satu Neo-Marxis, Marcuse, menyebut bahwa masyarakat modern yang demikian sama halnya dengan makhluk satu dimensi. Mereka telah kehilangan nalar kritisnya karena hanya memfokuskan diri pada ekonomi semata.

Terakhir, kritik terhadap kebudayaan. Para Neo-Marxian mengkhawatirkan adanya birokratis yang terlalu ikut campur perihal urusan masyarakat. Dari yang awalnya ekonomi yang dimonopoli, sekarang merambah pada budaya media massa yang dimanipulasi. Teoritisi Kritis menginginkan agar budaya yang sekarang ini tidak lepas kaitannya dengan media massa, seharusnya lebih mampu untuk menyerukan pengetahuan dari pada penyiaran tentang politik manipulatif dari birokrat.

Semua kritik yang dilontarkan Neo-Marxis kepada Marxian secara general memang menyerang determinisme ekonominya. Namun, dalam teori kritisnya, Neo-Marxis malah mengabaikan ekonomi. Mereka seolah-olah enggan menyentuh ranah ekonomi. Padahal, dalam beberapa pemikiran Marx juga memuat masalah ekonomi. Jadi, saya kira, baik Marxis maupun Neo-Marxis, mereka sama-sama telah mereduksi pemikiran Marx.

Read More

Empat Tahap Dasar Dalam Perbuatan Menurut Mead

No comments:

George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi menyebutkan bahwa sosiologi terbagi atas dua periodisasi. Pertama, sosiologi klasik yang membahas tentang latar belakang munculnya sosiologi beserta lima tokoh pemrakarsanya, yaitu Comte, Durkheim, Weber, Marx, dan Simmel. Kedua, sosiologi modern dan postmodern yang terbagi atas beberapa teori fundamentalnya, seperti fungsionalosme strukturalisme, interaksionisme simbolik, teori kritis, dan lain sebagainya.

Jika di era sosiologi klasik, kelima tokoh memiliki beberapa teori yang berbeda beda. Maka di era sosiologi modern, masing-masing tokohnya akan diklasifilasi berdasarkan teori yang dianutnya. Hal ini tidak terkecuali dengan tokoh-tokoh yang menganut interaksionisme simbolik. Di dalam aliran ini ada Mead, Blummer, Cooley, dan Goofman yang sama-sama mengulik perihal interaksionisme simbolik, namun dengan penjabaran yang berbeda.

Pada dasarnya, interaksionisme simbolik memuat interaksi atau hubungan antara individu satu dengan yang lainnya. Selain itu, dalam interaksi juga memuat simbol guna menarik suatu respon dari lawan aktor. Simbol dalam interaksi bukan hanya verbal, melainkan nonverbal.

Namun, ada hal unik dari salah satu tokoh interaksionisme simbolik yang terkenal akan psikologi sosialnya. Ia adalah George Hebert Mead. Sosiolog kelahiran Massachusetts ini berusaha mengkaji interaksi masyarakat dari sudut pandang psikologi.

Jika dalam psikologi, terutama psikologi Freud, maka diri individu adalah dasar dalam kajiannya. Namun, Mead menyatakan bahwa masyarakatlah yang mendahului interaksi maupun segala bentuk tindakan individu. Dalam hal ini masyarakat adalah kunci interaksi, bukan individu.

Lebih jelasnya, kita perlu mengupas unit paling inti dari teori Mead, yaitu perbuatan. Menurut Mead, perbuatan sangat erat kaitannya dengan respon yang ada dalam interaksi. Maka dari itu, dalam memahami perbuatan, perlu lebih dulu mengenal empat tahapannya, yaitu implus, persepsi, manipulasi, dan konsumasi.

Implus adalah tahap pertama dalam perbuatan. Ia diibaratkan seperti keinginan untuk melakukan sesuatu. Misalnya, rasa lapar adalah implus. Aktor akan merespon implus itu tanpa perlu berpikir rasa apakah yang ia alami. Menurut Mead, hal ini terjadi karena individu telah berkaca pada masyarakat umumnya bahwa ini adalah rasa lapar.

Jika kita telaah lebih lanjut, implus yang dimalsudkan Mead hampir sama dengan apa yang dimalsud Freud tentang id. Mereka, baik implus atau id, sama-sama memiliki maksud "keinginan atau nafsu". Bedanya, jika id berasal dari individu, maka implus diketahui dari diri individu yang berkaca dari masyarakat.

Tahap kedua adalah persepsi. Di tahap ini aktor berusaha mencari cara untuk memuaskan keinginan (implus). Jika pada psikologi Freud, tahapan ini dinamakan dengan ego. Namun, yang membedakan keduanya adalah sumbernya, yaitu individu dan masyarakat.

Tahap ketiga adalah manipulasi. Tahapan yang mana aktor akan menimbang-nimbang persepsi yang cocok atas beberapa pilihan. Sehingga, tahapan ini juga disebut dengan fase jeda. Artinya, aktor akan mempertimbangkan respon atau tindakan apa yang sesuai dengan keinginannya.

Tahap terakhir adalah konsumasi. Tahapan ini aktor telah mengambil putusan yang menurutnya tepat untuk memenuhi keinginannya. Kalau menurut Freud, tahap manipulasi dan konsumasi bisa dijadikan satu dengan istilah superego. Namun, Mead lebih memilih untuk memisah tahapan itu ke dalam dua tahapan.

Secara general, antara -id, ego, superego- Freud dengan -implus, persepsi, manipulasi, dan konsumasi- Mead memiliki makna yang sama. Hanya saja, Freud lebih condong pada konsep diri yang akrab dikenal dengan sebutan psikologi. Sedangkan, Mead lebih condong pada tindakan individu yang didapatkan dari masyarakat, psikologi sosial.

Read More

Mengenal Robert K. Merton dari Pemikirannya

No comments:


Mahasiswa Sosiologi pastinya tidak asing lagi dengan salah satu fungsionalis strukturalis ini, Robert K. Merton. Ia adalah salah satu mahasiswa dari fungsionalis strukturalis terkemuka, sebut saja Talcott Parson. Sama halnya dengan dosennya, ia juga tertarik terhadap kajian sosial terutama fungsionalis struktural, namun lebih condong ke haluan kiri. (George Ritzer, Teori Sosiologi, h. 268)

Merton lahir dengan nama asli Meyer Robert Schkolnick dan mashur dengan nama Robert King Merton. Ia adalah sosiolog berkelahiran Philadelphia, Amerika Serikat pada 4 Juli 1910. Selama perjalanan keilmuannya, ia mendapatkan pengaruh dari berbagai sosiolog, seperti Parson, Weber, Marx, dan sosiolog modern lainnya.

Dengan ini, Merton melahirkan beberapa pemikiran kritisnya sendiri. Pertama, kritiknya terhadap tiga postulat dari antropolog, Malinowksi dan Radcliffe-Brown. Inilah mengapa Merton disebut berhaluan kiri, karena ia tidak selalu berpihak kepada fungsionalisme strukturalisme dan malah menganggap ada kejanggalan darinya. Oleh karena itu, ia mencoba untuk mengkritisi fungsi dan struktur dalam postulat yang diutarakan oleh antropolog ternama itu.

Postulat pertama adalah kesatuan fungsional masyarakat. Pada postulat ini menyatakan bahwa segala praktik sosial budaya yang dilakukan masyarakat pasti bersifat fungsional. Maksudnya, dalam praktik sosial budaya akan selalu memberikan integrasi yang kuat dalam masyarakat kecil. Karena dalam masyarakat yang sedikit orangnya ini akan memudahkan sistem untuk menjalankan fungsinya.

Namun, Merton menyangkalnya dengan menyebut bahwa pernyataan itu tidak dapat dijadikan acuan lagi. Integrasi masyarakat tidak bisa dilihat dari banya sedikitnya orang yang tergabung dalam masyarakat. Bagi Merton, kualitas dari sistem sosial lebih penting, dalam artian sistem yang tertata, dari pada kuantitas dari masyarakatnya.

Sebagai contoh adalah masyarakat kecil desa dengan masyarakat besar kota. Jika dikaji dengan postulat tersebut, jelas integrasi di desa lebih kuat dari di kota. Namun, Merton pasti akan menjawab bahwa belum tentu di desa memiliki sistem yang lebih tertata dari pada di kota, pun sebaliknya. Jadi, integrasi masyarakat, baik desa maupun kota akan terlihat kuat jika memang memiliki sistem yang tertata.

Postulat kedua adalah fungsionalisme universal. Postulat ini menyatakan bahwa segala bentuk dan struktur sosial budaya memiliki nilai positif bagi masyarakat. Tentunya Merton menyangkal postulat tersebut dengan mengatakan bahwa postulat itu sama sekali tidak relevan. Mana mungkin semua budaya dalam masyarakat bisa dinilai positif.

Seiring berjalannya waktu budaya akan bergeser dan digantikan dengan budaya baru. Dan kemungkinan akan ada budaya yang benar-benar ditinggalkan karena memang memberikan risiko bagi masyarakat. Atau budaya akan ditinggalkan karena melihat tidak begitu besar kontribusinya dalam masyarakat.

Misalnya, sebagian besar masyarakat Indonesia dulu lebih suka menggunakan kebaya bagi perempuan. Karena kebaya dinilai mencerminkan citra perempuan Indonesia yang memang ruang geraknya terbatas di domestik saja. 

Sedangkan sekarang ini, perempuan memiliki banyak aktivitas yang dapat dilakoni. Tentunya dengan mengenakan kebaya perempuan akan sulit beraktifitas yang memungkinkan untuk bergerak lincah dan kerja ekstra.

Postulat yang ketiga adalah indispensabilitas. Postulat ini menyebutkan bahwa struktur atau sistem dalam masyarakat tidak hanya baik, namun juga saling bersangkutan. Baginya, tidak ada sistem buruk yang dibentuk oleh masyarakat.

Di postulat ini, Merton tidak sepenuhnya menyangkal. Tapi, sama seperti Parson, ia menyarankan adanya alternatif pada sistem. Masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada satu sistem yang mutlak. Misalnya, apakah masyarakat akan tetap mempertahankan sistem yang parasit? Lambat laun sistem ini akan tumbang dan ada sistem pengganti yang lebih mutualis tentunya.

Kedua, analisis Merton terkait fungsi dalam sistem atau struktur yang terbagi menjadi tiga kategori, yaitu fungsi, disfungsi, dan nonfungsi. Suatu sistem dapat dikatakan fungsi jika ia mampu memberikan kontribusi atau hal-hal positif pada masyarakat. Misal dengan adanya subsidi untuk masyarakat tidak mampu dari pemerintah. Hal ini akan meminimalisir beban masyarakat.

Dan sistem yang dapat dikatakan disfungsi adalah jika ia memberikan kontribusi pada masyarakat dan komplit dengan risikonya. Dengan ini, meskipun ada subsidi yang dapat meringankan beban masyarakat tidak mampu, tetapi subsidi juga akan membuat masyarakat mengalami ketergantungan terhadapnya. Bahkan, subsidi itu dapat disalahgunakan oleh pemerintah itu sendiri.

Sedangkan nonfungsi adalah sistem yang tidak berdampak apa pun atau tidak memiliki kontribusi terhadap masyarakat, juga tidak memberikan risiko. Suatu misal, pemerintah memberikan subsidi kepada masyarakat demi meringankan bebannya.

Namun, subsidi yang diberikan salah sasaran atau diterima oleh golongan yang mampu. Di sini jelas sekali bahwa pemberian subsidi akan mengalami nonfungsi atau tidak berguna.

Terakhir, Merton menawarkan konsep fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes adalah fungsi yang dikehendaki. Sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang tidak diharapkan atau tidak dikehendaki.

Ritzer memberikan contoh kedua fungsi ini dengan menyebut orang kulit putih yang lebih unggul dari orang kulit hitam. Kulit putih menduduki fungsi manifes yang tentunya dengan sadar dikehendaki dan akan memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri.

Sedangkan, fungsi laten diduduki oleh orang kulit hitam yang sama sekali tidak menghendaki posisinya sebagai orang yang dijajah dan dieksploitasi oleh orang kulit putih.

Jika ditelaah, kedua fungsi yang ditawarkan oleh Merton ini memiliki kesamaan dengan konsep alienasi yang diusung oleh sosiolog klasik, Karl Marx. Alienasi Marx ini sama halnya dengan fungsi laten yang dimiliki oleh proletar.

Proletar terasing dari objek yang mereka ciptakan karena adanya kesadaran palsu. Hal ini tentunya tidak dikehendaki oleh proletar, namun mereka tetap menjalaninya demi kebutuhan hidup.

Sedangkan fungsi manifes tentu ada dalam diri borjuis. Fungsi ini memang memberikan nilai positif, namun hanya untuk golongan yang beruntung saja. Dalam hal ini adalah borjuis yang dengan sadar menghendaki diri untuk meraup keuntungan maksimal dengan modal seminimal mungkin.

Dari ketiga pemikiran itu rasanya cukup untuk mengenal Merton. Ia memang bukan sosok yang fenomenal seperti dosennya, Parson. Namun pemikirannya cukup memberikan kontribusi terhadap fungsionalis strukturalis. 

Darinya, kita mendapatkan dua sisi dari fungsional struktural, yaitu baik dan buruknya. Meskipun nanti ia akan mendapat kritik dari pemikir-pemikir setelahnya.
Read More

Paulo Freire: Tipologi Kesadaran Mahasiswa

No comments:


Sudah lama sekali sejak politik balas budi oleh Belanda, pendidikan formal (dalam naungan instansi) di Indonesia terus berkembang. Bahkan sekarang ini tidak ada batasan untuk seseorang untuk mendapatkan pendidikan. Namun, perlu diketahui bahwa pendidikan di kampus misal, tidak akan lepas dari kesadaran mahasiswanya dalam kegiatan pembelajaran.

Menurut Nur Sayyid Santoso Kristeva dalam bukunya, Manivesto Wacana Kiri, ia menyebutkan bahwa seorang pendidik asal Brazil, Paulo Freire telah mengkategorikan kesadaran menjadi tiga macam. Kesadaran ini antara lain, yaitu kesadaran magis (magical conciousness), kesadaran naif (naival conciousness), dan kesadaran kritis (critical conciousness). Ketiga kesadaran ini oleh Freire dikaitkan dengan sistem pendidikan yang telah berkembang hingga sekarang.

Pertama, kesadaran magis (magical conciousness) sama halnya dengan ketidakberdayaan. Kesadaran ini membuat mahasiswa buta akan sesuatu di luar dirinya. Jika boleh mengambil istilah dari Karl Marx, ini sama halnya dengan kesadaran palsu.

Mahasiswa dalam kesadaran magis adalah mahasiswa yang secara dogmatik menerima segala sesuatu yang diberikan dosen kepadanya. Mereka tidak mencoba untuk bertanya atau mengkritisi setiap materi yang diberikan dosen kepadanya. Meskipun terkadang materi ataupun tugas yang diberikan dosen itu memberatkan dan terkesan memaksa.

Mahasiswa yang seperti ini biasanya dikekang dengan sesuatu yang magis bagi mahasiswa, seperti nilai yang mengikatnya misalnya. Mereka takut seandainya melawan, akan berdampak terhadap pengurangan nilainya. Sehingga mereka mengesampingkan ketertekanannya dan memilih untuk tunduk pada apa yang ditugaskan dosen kepadanya.

Kedua, kesadaran naif (naival conciousness) adalah kesadaran yang menjadikan mahasiswa sebagai akar penyebab masalahnya sendiri. Mereka berpikir bahwa segala baik buruknya keadaan kampus adalah salah mahasiswa sendiri. Mereka memungkiri bahwa ada faktor luar yang dapat mempengaruhinya.

Hal tersebut dialami oleh mahasiswa yang terlalu keras akan dirinya sendiri. Perihal mengerti atau tidak mengerti dalam pembelajaran itu tergantung dirinya sendiri. Mereka selalu postitive thinking, atau terkesan naif, bahwa sebenarnya bisa saja materi yang disampaikan dosen itu memang tidak terkonsep.

Terakhir, kesadaran kritis (critical conciousness) adalah kesadaran mahasiswa yang mampu melihat struktur dan sistem sabagai sumber masalah. Tidak hanya itu, mereka mampu mengidentifikasi bahwa selain dirinya sendiri, ada banyak hal yang mengebabkan masalah dalam pembelajaran. Di sini mereka dituntun bukan untuk dpat mengetahui letak masalah, tetapi juga cara mengkritisi masalahnya.

Mahasiswa yang semacam ini tentu saj tidak akan tinggal diam ketika mereka merasa ada yang janggal dari pembelajaran yang berlangsung. Mereka akan bertanya terhadap sesuatu yang tidak mereka mengerti. Bahkan, mahasiswa yang kritis tidak akan tinggal diam jika dosen memberikan tugas yang tidak wajar.

Menjadi mahasiswa yang kritis memang harus berani. Bukan hanya berani bertindak kritis terhadap ketidak adilan, tetapi juga berani terhadap resiko yang akan diambilnya. Berbeda dengan mahasiswa dengan kesadaran magis, yang menjadikan nilai sebagai suatu hal yang ditakuti, mahasiswa kritis menjadikan keadilan sebagai hal yang fundamental. Apa pun yang mengekang ruang gerak keadilan akan ditindaknya.

Selain keberanian, perlu untuk mengenal dan paham sesuatu yang akan dikritisi. Berani mengkritisi memang baik, tetapi akan terlihat nol besar jika tidak tahu apa yang dikritisi. Mereka perlu untuk berpikir dulu sebelum bertindak. Jangan sampai pekerjaan yang cerdas akan menjadi bodoh hanya karena kosong isi.

Mengingat tipologi kesadaran mahasiswa dari Friere, memang telah seharusnya mahasiswa itu bersikap kritis. Namun, siapa yang bisa mengontrol kesdaran setiap mahasiswa jika bukan mereka sendiri. Perlu juga untuk saling mengingatkan akan ketidakadilan dan bertindak untuk itu pula.
Read More

ROBERT N. BELLAH: TAHAP EVOLUSI AGAMA

No comments:



Hampir semua hal mengalami evolusi. Jika Darwin telah menulis teori evolusi pada manusia dan diteruskan oleh Harari dalam bukunya Sapiens dan Deus. Maka, salah satu tokoh ini tidak ingin ketinggalan untuk mencetuskan teori tentang evolusi juga, Robert Bellah. Populer dengan nama Robert Nelly Bellah. Ia adalah seorang sosiolog asal Amerika Serikat.

Sejak kecil, Bellah telah akrab dengan buku dan alkitab. Tidak heran jika ia tertarik dengan kajian-kajian keagamaan, terutama keagamaan masyarakat Amerika. Selain itu, Bellah adalah salah satu dari sekian tokoh yang tertarik untuk merumuskan teori evolusi tentang agama. Namanya memang tidak tercantum dalam buku Seven Theories of Religion karya Daniel L. Pals. Namun, teorinya ini cukup berpengaruh di Amerika dan perlu untuk dikaji lebih dalam.

Seperti halnya Auguste Comte, seorang yang mendapat julukan Bapak Sosiologi, ia juga membuat hukum tiga tahap perkembangan manusia. Yang mana ketiganya juga berkaitan dengan kepercayaan masyarakat seperti yang dikaji Bellah. Namun, baik Comte maupun Bellah tetap saja memiliki perbedaan. Perbedaannya dapat dilihat, jika Comte dalam hukum tiga tahapnya menyebut theologis, metafisik dan puncaknya adalah positifistik.

Maka, menurut Taufikurroqim, salah satu dosen di IAIN Tulungagung, Bellah memiliki empat tahap evolusi agama, yaitu mimetic, mythical, ethical, dan modernized. Kalau Comte lebih ke telaah generalnya, maka Bellah lebih tertarik dalam sistem simbol-simbol keagaamnya.

Telah disebut pula dalam Jurnal Multikultural dan Multireligius [2012, 11 (2)] dengan judul Sosio-Teologis: Memahami Dualitas Perspektif Pluralisme Agama di Indonesia karya Noor Rachmad, Dosen Universitas Negeri Jakarta, bahwa arah perkembangan agama dimulai dari simbol yang sederhana menuju ke simbol yang dapat dideferensiasikan.

Hal inilah yang menyebabkan perubahan dalam kemampuan keagamaan. Oleh karena itu, dengan simbol yang semakin dideferensiasi inilah semuanya dapat dipahami dengan mudah. Namun, bukan berarti simbol yang sederhana tidak lebih baik dari simbol yang terdeferensiasi. Semua simbol yang diciptakan masyarakat memiliki makna tersendiri.

Lebih jelasnya, mari kita uraikan tahapan evolusi agama dari Bellah. Pertama, mimetic adalah tahap peniruan atau cara berinteraksi dengan benda, hewan, tumbuhan. Sebagai contoh, konon masyarakat primitif menjadikan pohon besar sebagai totem atau simbol. Hal ini kemudian dikeramatkan oleh masyarakat yang mempercayainya. Inilah suatu bentuk interaksi yang dimaksud Bellah.

Jangan dikira pada modern ini hal tersebut telah hilang. Nyatanya, masyarakat Samin di Kendeng masih menjaga hal itu. Mereka mengeramatkan pohon atau hutan di sana. Selain itu, mereka juga melakukan doa dan menyajikan sesajen. Inilah suatu bentuk interaksi antara manusia dan alam dari Kendeng.

Kedua, mythical adalah tahap menarasikan mitos. Masyarakat pada tahap ini mulai mencoba untuk menarasikan atau menceritakan tentang peristiwa yang di luar nalar atau sesuatu yang luar biasa. Dengan adanya narasi mitos, pemahaman masyarakat akan sesuatu yang luar biasa akan mudah dipahami.

Seperti yang ditulis oleh K. Bertens dalam bukunya, Filsafat Yunani, bahwa yang melatar-belakangi munculnya filsafat adalah mitos. Ia menyebar luas dan mengakar kuat dalam benak masyarakat bahkan hingga sekarang. Apapun yang tidak dapat diterima oleh akal akan selalu diterjemahkan dengan mitos terdahulu.

Ketiga, ethical adalah tahap berperilaku. Masyarakat pada tahap ini mulai memperlakukan benda atau apapun yang dianggapnya luar biasa. Misalnya saja, orang Jawa menganggap keris sebagai benda yang dikeramatkan. Pada waktu-waktu tertentu keris akan diperlakukan dengan baik, seperti dimandikan dengan bunga. Selain itu, di Kudus, Jawa Tengah misalnya, masyarakat Kudus mempercayai bahwa Kebo Kyai Slamet adalah penentu nasib. Mereka mencoba untuk memperlakukannya dengan baik.

Terakhir, modernized adalah tahap mengembangkan. Masyarakat mulai lebih rasional. Namun, bukan berarti tahap-tahap sebelumnya adalah irasional. Tahapan sebelumnya tetap rasional menurut kepercayaan penganutnya. Hanya saja ditahapan ini, masyarakat lebih menuju ke arah yang bisa diterima atau disukai banyak orang.

Hal tersebut kebanyakan dialami oleh masyarakat modern sekarang. Mereka cenderung meninggalkan hal-hal yang menurutnya tidak masuk akal. Masyarakat ini cenderung mempercayai sesuatu yang empiris dan ilmiah. Hal ini tentu saja terkecuali bagi masyarakat yang masih menganut kepercayaan dulu. Semua tahapan di atas tentu tidak bisa dikategorisasikan berdasarkan waktunya.

Para kritikus pun telah menganggap teori ini tidak relevan. Namun, teori Bellah ini akan tetap relevan jika tidak dijadikan suatu tahapan, melainkan kelompok-kelompok. Hal ini dimaksudkan agar tidak mendiskriminasi tahapan yang oleh sebagian masyarakat dianggap ketinggalan zaman.
loading...
Read More

KRITIK KARTINI TERHADAP TRADISI ISLAM DI JAWA

No comments:



Kartini merupakan salah satu pejuang emansipasi wanita yang memiliki jasa besar terhadap eksistensi pendidikan perempuan di Indonesia. Dari pengalaman hidupnya, yang selalu dikekang dengan kehidupan ala kolonial dan tradisi jawa. Sehingga, kehidupannya tidak bisa leluasa untuk berkarya layaknya seperti kaum adam. Kartini sendiri tergolong dari darah bangsawan dan santri.

Dari keturunan ibunya, kakek dan neneknya merupakan seorang penganut Islam yang taat. Dari keturunan bapaknya, silsilah keturunannya sampai pada sultan hemengkubuwono VI. Barangkali ada yang menyangka bila ia merupakan kaum kejawen asli, atau dalam terminologi Gerrtz termasuk abangan perlu diklarifikasi kembali.

Sejak kecil, kartini kecil dibesarkan dalam lingkungan tradisi intelektual. Kakak kartini, Sosrokartono merupakan cendekiawan muda yang kehidupannya kelak menjadi inspirasi Kartini untuk menjadi sosok wanita yang berpendidikan. Di usia yang relatif muda, ia mulai mengenyam pendidikan di ELS (Europese Lagere School). Di sekolah ini, ia berhasil menguasai bahasa belanda, baik dalam bidang tulis-menulis maupun berbicara.

Sejumlah buku-buku berkelas dalam bahasa Belanda, seperti Roman-Feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, De Stille Kraacht (kekuatan Gaib) karya Louis Coperus, dll dapat ia kuasai. Merupakan sebuah prestasi dan kebanggaan tersendiri baginya bisa mendapatkan pendidikan tinggi, karena tidak semua kaum perempuan Jawa bisa mendapatkan ilmu pengetahuan di sekolah tersebut.

Ketika sudah beranjak dewasa, Kartini harus tinggal di rumah untuk menjalani masa pingit. Tradisi ini merupakan adat bagi bangsawan Jawa khusus perempuan yang sudah siap untuk dinikahkan. Selama menjalani masa pingit, wanita tidak boleh keluar sampai ada laki-laki yang mau melamar dan meminangnya. Selama menjalani masa pingit, dialektika berfikirnya semakin tajam. Dengan menelaah beberapa buku, majalah, dan Koran dari Belanda, ia mulai mengkritik budaya Jawa.

Perempuan Jawa bagi Kartini masih terkungkung terhadap tradisi. Sehingga kebebasan perempuan cenderung stagnan. Hal inilah yang membuat Kartini untuk menggerakkan kaum perempuan untuk maju. Berbagai kritikan melalui tulisan tidak membuatnya jenuh, bahkan ia semakin haus mencari berbagai referensi ilmu pengetahuan untuk mencari solusi dalam memajukan derajat perempuan. 

Kartini merupakan perempuan yang memiliki wawasan luas, haus akan ilmu pengetahuan. Berbagai fan ilmu, baik dalam bidang budaya, sosial, emansipasi wanita, dan agama ia telaahh untuk mendapatkan solusi dalam menghadapi masalah yang dihadapinya (Taufiq Hakim:2016).”

Sebagai perempuan berdarah santri, ia juga mengkritik tentang agama Islam di Jawa. Ia ingin mempelajari Islam lebih jauh lagi, sayangnya ada keterbatasan dalam memahami Islam, yakni tidak menguasai bahasa Arab. Kartini hanya bisa berbahasa Jawa dan Belanda. Selain itu, yang membuatnya jengkel ialah kebijakan kolonial Belanda terhadap pelarangan penerjemahan al-Qur’an dalam bentuk latin dan bahasa Jawa.

Hal ini tidak menutup kemungkinan, Kolonial ingin menjauhkan masyarakat Jawa dari Islam. Kesan Kartini terhadap Islam semakin terpuruk kala dilarang oleh gurunya untuk bertanya mengenai isi kandungan dalam al-Quran. Hal ini menjadikan Kartini semakin gelisah terhadap Islam di Jawa. Baginya, membaca al-Qur’an ibadah, akan tetapi tanpa memahami maknanya apa gunanya? 

Kritik Kartini memberikan semacam gebrakan baru untuk merekonstruksi praktik keagamaan di Jawa. Hal ini menimbulkan semacam persepsi, praktik keagamaan di Jawa hanya sekedar formalitas, dan hanya mengikuti alur jalannya pembelajaran Agama, tanpa ingin memahami hakikat dari pembelajaran itu sendiri.

Kritik Kartini tidak sampai disini, banyak orang memeluk Agama Islam karena faktor keturunan, sehingga mereka belum mengetahui dari inti dari beragama yang sesungguhnya. Pengalaman Islam yang dialaminya cenderung gersang, sehingga untuk mencapai inti dari beragama belum didapatkan secara penuh. Ketidakpuasan cara beragama masyarakat di Jawa menandakannya sebagai muslimah sejati yang sangat ambisius untuk memperdalam ajaran Islam.

“Kritik Kartini tentang agama bagaikan lonceng yang membangun kesadaran bagi praktik keagamaan yang latah, hanya mempelajari Agama sekedar kulitnya, tanpa menulusuri unsur-unsur yang ada di dalam ajaran Islam. Kegelisahan ini membawa dirinya untuk mengkritisi pola keberagaman yang kala itu menjadi mainstream (Taufiq Hakim:2016).”

Usaha Kartini terbayar sudah kala tidak sengaja bertemu dengan Kiai Sholeh Darat. Pertemuan antara Kartini dengan Kiai Sholeh Darat merupakan setingan Allah untuk membuka pintunya dari kegelisahan menuju ketenangan, dari kegelapan menuju cahaya. Pertemuan antara keduanya berawal dari adanya majlis ta’lim yang berada di pendopo rumah Bupati Demak, yang kebetulan merupakan paman dari Kartini. Sesungguhnya, tujuan utama Kartini hanya ingin berkunjung ke rumah pamannya. 

Berhubung pamannya punya hajat, ia diajak untuk menikmati acara tersebut.  Kala pengajian dimulai, Kiai Sholeh Darat sedang menjelaskan Isi Kandungan dari surah al-fatihah dengan menggunakan bahasa Jawa, kemudian dijelaskannya dengan pelan-pelan kata demi kata inti dari ayat yang terkandung didalamnya.

Ketika Kartini menyempatkan untuk mengikuti pengajian sang Kiai, seakan-akan jiwa yang timbul didalamnya tergugah untuk menikmati tafsiran tiap ayat yang terkandung dalam surah al-fatihah. Ia tidak percaya ada tokoh agama dengan berani menjabarkan secara gamblang makna yang terkandung didalamnya. Padahal, aturan otoriter dari kolonial belanda terhadap penerjemahan ayat al-Qur’an begitu ekstrim.

Tidak masalah bagi Kiai dalam menghadapi kolonial Belanda. Ia memiliki strategi untuk mensiasati politik darinya dengan metode pemahaman al-Qur’an bahasa Jawa. Selain itu, metode bahasa Jawa merupakan langkah yang strategis untuk mengajarkan pemahaman Islam terhadap masyarakat Jawa. ia melihat latar belakang masyarakat bila mayoritas belum mengenal dan menguasai bahasa Arab.

Andaikata ia tidak mensiasati hal demikian, dalam memahami tiap makna yang terkandung dalam ayat al-Qur’an, masyarakat awam semakin tidak memahami Islam. Kartini terkesan, kagum, dan bahagia. Pada awalnya begitu sinis dan mengkritik terhadap pelarangan penerjemaham al-Qur’an dengan bahasa Jawa, sehingga al-Qur’an hanya sekedar dibaca, tanpa memahami maknanya. Pola fikirnya berubah drastis dengan semangat membara untuk lebih giat dalam memahami ajaran Islam.

Perjumpaannya dengan Kiai, ia menceritakan perjalanan hidupnya bila baru pertama kali mendengarkan kata demi kata isi kandungan dalam al-Qur’an. Dengan pertemuan ini, mindseat negatif terhadap tradisi al-Qur’an menjadi berubah. Konon, Kartini memiliki inisiatif untuk meminta Kiai menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Supaya masyarakat bisa memahami pesan-pesan kandungan dalam al-Qur’an. Dari sinilah timbul anggapan secara umum bila Kartini menganjurkan sang Kiai untuk menulis tafsir dalam bentuk bahasa Jawa.

Perjalanan intelektual Kartini tentunya membangkitkan semangat para generasi muda,khususnya perempuan untuk menjadi generasi yang kritis akan ilmu pengetahuan. Darinya kita bisa mengambil nilai-nilai positif untuk selalu berusaha meningkatkan kualitas hidup kita menjadi manusia yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Selain itu, menjadi generasi yang baik bila kita bisa berkontribusi meneruskan perjuangan para pendahhulu kita, diantaranya keilmuan.[]

loading...
Read More

ASMA BINTI UMAYS DAN KESETIAANNYA PADA SUAMI



Bagai bunga yang begitu berharga, yang semerbaknya mengharumkan dunia. Bagai bunga langka yang harus dilindungi, yang keberadaannya sulit ditemukan atau bahkan tiada duanya lagi di dunia. Dialah Asma' bintu Umays, sahabiyat Baginda Rasul yang begitu istimewa.

Rasulullah SAW. pernah bersabda tentang empat sosok wanita shalihah yang dijamin sebagai penghuni surga. Sebagaimana sabda beliau:

“Pemuka wanita ahli surga ada empat. Ia adalah Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah Saw., Khadijah Khuwailid dan Asiyah.” (HR. Hakim dan Muslim).

Walaupun begitu, ternyata ada sosok wanita lagi yang mungkin akan membuat kita menjadi kagum padanya. Dialah Asma' bintu Umays yang merupakan wanita satu-satunya yang menikah dengan tiga laki-laki penghuni syurga (mubassyariina bil jannah), dan satu-satunya perempuan yang pernah menjabat sebagai Ibu Negara sebanyak dua kali.

Jika dilihat dari catatan riwayat, Asma' bintu umays adalah sahabiyat yang memang dekat dengan Rasulullah dan merupakan saudara perempuan dari orang-orang yang mulia. Asma' adalah saudara dari Maimunah binti Al-harits (istri Baginda Rasulullah), Samah binti Umays (istri dari Hamzah bin Abdul Mutholib), dan juga Ummu Fadl (Istri Abbas bin Abdul Muthalib).

Dia memiliki keistimewaan yang bahkan membuat Rasulullah saw. menasehati putrinya Fatimah r.a untuk belajar kepada Asma'. Istri Ja’far ini juga termasuk ke dalam kelompok Assabiquunal Awwaluun, karena termasuk hamba yang masuk ke agama Islam pada awal berkat dakwah Abu Bakar as-Siddiq.

Suatu ketika, Rasulullah berpapasan dengan menantunya Ali bin Abi Thalib. Namun tidak disangka, beliau melihat Ali dengan baju dan kepalanya yang kotor karena tanah. Bertanyalah Rasulullah kepadanya dan kemudian pergi menemui putrinya Fatimah r.a. Sesampainya disana, Fatimah pun membukakan pintu dan mempersilahkan ayahandanya untuk masuk.

“Wahai anakku, bolehkah aku menyampaikan sesuatu?”, kata Rasulullah kepada putrinya. “Tentu Rasulullah, apa yang ingin engkau sampaikan kepadaku?, jawab Fatimah. “Pergilah engkau kepada Asma bintu Umays dan belajarlah kepadanya. Sesungguhnya, ia pun adalah ahli surga”.

Setelah apa yang disampaikan Rasulullah, Fatimah r.a akhirnya pergi menemuinya.

“Wahai Asma, kedatanganku kesini tidak lain adalah perintah dari Rasulullah. Beliau memintaku untuk belajar kepadamu”, jelas Fatimah sesampainya disana. “Wahai Fatimah, lantas apa yang bisa Aku berikan kepadamu. Sedangkan sudah jelas bahwa engkau adalah wanita yang telah dijanjikan syurga oleh Allah, bahkan sudah tertera namamu dalam Al-qur’an.

Justru sejatinya Akulah yang harusnya belajar darimu” terang Asma'. “Engkau pun ahli syurga wahai Asma, itulah pesan Rasulullah padaku”. “Wahai Fatimah, apa yang dapat kuajarkan padamu? Jika membicarakan tentang kecerdasan dan ilmu, sejatinya Aku yang lebih banyak belajar darimu. Jika membicarakan tentang keturunan, tentu garis keturunanmu yang  lebih mulia.”

Setelah berfikir sesaat Asma' kemudian melanjutkan perkataannya, 

“yaa Fatimah, mungkin sekiranya ada satu hal yang bisa kuajarkan padamu. Aku adalah wanita yang selalu berusaha untuk taat dan melayani suamiku Ja’far dengan sebaik mungkin. Jika ia sedang pergi, maka aku pun selalu berusaha untuk menjaga bentuk tubuhku dengan cara mengerjakan pekerjaan rumah.

Aku pun akan menjaga dan mengajari anak-anakku dengan baik sekaligus menjaga hartanya. Jika ia akan kembali maka aku akan membersihkan badanku, memakai pakaian yang disukai oleh suamiku, dan merias wajahku secantik mungkin. Selain itu, aku akan menyiapkan makanan kesukaannya sebelum ia sampai dirumah.”

Asma juga merupakan sosok wanita yang lemah lembut, memiliki kepintaran seperti Aisyah ra, memiliki kesabaran dan ketabahan seperti Fatimah r.a, sekaligus ketaatan yang luar biasa sebagai seorang istri. Ia adalah wanita yang dengan setia mendampingi suaminya yaitu Ja’far bin Abi Thalib untuk mengarungi hidup dan berdakwah di Habasyah atas perintah Rasulullah.

Suami Asma' juga dikenal sebagai orang yang sangat lemah lembut, penuh kasih sayang, sopan santun, rendah hati dan sangat pemurah. Di samping itu, ia juga dikenal sangat pemberani, tidak mengenal rasa takut. Bahkan beliau diberi gelar sebagai orang yang memiliki dua sayap di surga dan bapak bagi si miskin.

Setelah suaminya wafat dalam perang, Asma' menikah dengan Abu Bakar as-Siddiq yang menjadi Khalifah pada saat itu. Bersama Abu Bakar, Asma' juga merupakan istri yang begitu taat kepada suaminya dan tidak pernah membantah atau berkata “tidak” pada apa yang disampaikan suami padanya. Dibuktikan ketika dalam sebuah kisah, diceritakan bahwa Asma' ingin memasak daging sesekali.

Hal itu dikarenakan semenjak Abu Bakar menjadi Khalifah, ia pun banyak mengorbankan harta bendanya untuk syiar Islam dan hanya mendapatkan penghasilan dari baitul maal. Saat itu, Asma meminta izin pada Abu Bakar untuk mencoba menyisihkan penghasilan dari baitul maal untuk kemudian ditabung dan dibelikan daging. Lalu, Abu Bakar pun mengizinkannya hingga tabungannya cukup untuk membeli sedikit daging.

Hari setelah tabungan cukup, Asma kembali bertanya kepada Abu Bakar,

“yaa Abu Bakr, apakah aku boleh membeli sedikit daging dengan tabungan yang sudah cukup ini?”. “Wahai Asma, ternyata gaji dari baitul maal lebih dari cukup untuk kebutuhan kita. Maukah kau mengembalikan uang yang kau tabung ke baitul maal? Dan mulai bulan depan gajiku akan dikurangi sebesar kau menyisihkannya setiap hari.”

Kemudian Asma' menjawab dengan yakin dan tanpa ragu, “Sami’tu wa ‘ata’tu, ya Aba Bakr”. Begitu mulianya hati Asma', walaupun dia harus hidup dengan sangat sederhana dan harus terus menghemat untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya. Tanpa ragu ia pun taat pada suaminya, dan dengan kesabarannya ia mendampingi Khalifah dan menjadi Ibu Negara yang baik. 

Setelah beberapa tahun berlalu, dengan tabah Asma menjalani kehidupannya sepeninggal Khalifah Abu Bakar bersama putra-putranya. Tak lama kemudian, Asma' pun dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib yang tak lain adalah saudara Ja’far bin Abi Thalib. Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa setiap kali kedua puteranya, Muhammad bin Ja’far dan Muhammad bin Abi Bakar saling membanggakan ayahnya.

Masing-masing mengatakan, “Aku lebih baik dibandingkan dirimu, ayahku lebih baik dibandingkan ayahmu.” Saat mendengar hal itu, Ali berkata, “Putuskan perkara di antara keduanya, wahai Asma’.”

Kemudian ia mengatakan, “Aku tidak melihat pemuda Arab yang lebih baik dibandingkan Ja’far dan aku tidak melihat pria tua (dewasa) yang lebih baik dibandingkan Abu Bakar.”

Setelah mendengar hal itu, Ali berkata,

“Engkau tidak menyisakan untuk kami sedikit pun. Seandainya engkau mengatakan selain yang engkau katakan, niscaya aku murka kepadamu.” 

Dengan mendengar apa yang disampaikan oleh suaminya, Asma’ pun berkata, 

“Dan dari ketiganya, engkaulah yang paling sedikit dari mereka untuk dipilih.”

Cerita-cerita singkat itu tentu akan membuka hati pembacanya, mengerti bahwa menjadi seorang wanita yang shalihah mungkin memang sulit. Namun, dengan kita berusaha berubah sedikit demi sedikit dan terus istiqamah melakukannya. Pastilah Allah SWT. menjadikannya sebagai akhlak yang mulia, karena walaupun manusia tidak ada yang sempurna tapi manusia masih diberikan kelebihan-Nya.
Read More