Upaya Pendidikan Dalam Pembebasan Palestina

Oleh: Hanifah ‘Urwatulwutsqo Rofi’ah

Judul : Model Kebangkitan Umat Islam: Upaya 50 Tahun Gerakan Pendidikan Melahirkan Generasi Shalahuddin dan Merebut Palestina

Penulis: Dr. Majid 'Irsan al-Kilani

Tahun terbit: 2019

Penerbit : Mahdara Publishing

Kota terbit: Depok

Jumlah halaman: xxix+450

Apabila menilik berbagai buku sejarah mengenai pembebasan Baitul Maqdis (Palestina) dari tangan Pasukan Salib, hal yang lebih utama disorot adalah heroisme Shalahuddin Al-Ayyubi sebagai pimpinan panglima dari ekspedisi pembebasan tersebut.

Pembahasan dengan metode itu, tentu banyak menghilangkan beberapa tahapan atau fase yang terjadi. Walaupun memang benar adanya bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi memiliki banyak kehebatan dan peran yang cukup besar dalam upaya itu.

Namun, pembahasan dengan cara penonjolan aksi individu memiliki potensi melahirkan kesalahpahaman dalam melihat permasalahan atau faktor fundamental yang melatarbelakangi.

Selain itu, juga menghambat aksi kolektif, dan hilangnya perasaan bertanggungjawab dalam memikul amanah bersama dalam perjuangan karena hanya menanggap permasalahan cukup diselesaikan oleh satu pemimpin hebat saja.

Setidaknya hal tersebutlah yang akhirnya menjadi latarbelakang Dr. Majid ‘Irsan Al-Kilani untuk menuliskan kajian sejarah mengenai pembebasan Palestina di era Shalahuddin Al-Ayyubi.

Kajian tersebut disajikan dengan pembahasan yang lebih menyeluruh dan menelisik lebih dalam mengapa akhirnya Baitul Maqdis bisa berada di bawah penguasaan Pasukan Salib dan apa saja masalah yang ada pada saat itu.

Kajian sejarah itu termuat dalam buku “Hakadza Zhahara Jil Shalahuddin wa Hakadza ‘Adat al-Quds” yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Model Kebangkitan Umat Islam: Upaya 50 Tahun Gerakan Pendidikan Melahirkan Generasi Shalahuddin dan Merebut Palestina.” oleh Mahdara Publishing pada tahun 2019.

Buku ini diawali dengan mengkaji bagaimana kesalahan-kesalahan pengkajian sejarah yang dapat berpotensi menyesatkan persepsi (sebagaimana dituliskan di awal artikel), lalu dijelaskan bagaimana metode pengkajian yang akhirnya digunakan dalam menyusun buku ini.

Penulis mengkaji sejarah ini dari kondisi umat yang hidup di era itu (sekitar abad 10-11 M/abad 5-6 H). Pembahasan dimulai dengan menjelaskan kondisi umat mulai kisaran abad ke-5 H atau menjelang ekspansi serangan kaum Salib Eropa.

Saat itu permasalahan mulai menyerang berbagai sendi-sendi kehidupan umat. Penulis menggolongkan permasalahan tersebut menjadi beberapa poin besar, yaitu perpecahan pemikiran Islam dan perselisihan antarmazhab (termasuk di dalamnya fanatisme mazhab).

Terdapat pula perpecahan dan penyimpangan tasawuf (dari batasan syariat), mulai munculnya ancaman pemikiran kebatinan, hingga ancaman filsafat dan para filsuf yang menyimpang.

Permasalahan tersebut tidak hanya terjadi pada satu atau dua individu saja, melainkan menyerang umat secara kolektif. Sehingga dapat dibayangkan pula, dampak yang dihadirkan dari permasalahan dan penyimpangan tersebut tentu akan menyebar pada berbagai lapisan masyarakat.

Penulis memaparkan bahwa kerancuan pemikiran dan aksi keagamaan yang hanya berupa formalitas pada akhirnya memberikan dampak pada struktur sosial-masyarakat, prinsip, dan nilai-nilai yang mendasari hubungan antarindividu dan antarmasyarakat.

Sehingga menjadikan masyarakat tidak memiliki konsep berpikir yang benar dan tidak adanya kepemimpinan yang matang, yang pada akhirnya kegiatan sehari-hari dilakukan tanpa petunjuk yang benar dan jauh dari nilai Islam.

Kerancuan tersebut pun memberikan dampak pada beberapa aspek, seperti rusaknya aspek perekonomian karena tata kelola yang bathil, rusaknya aspek sosial yang utamanya disulut adanya fanatisme, terjadi perpecahan politik dan pertentangan sunni-syiah.

Serta hasil akhirnya dunia Islam menjadi lemah dalam menghadapi serangan Pasukan Salib Eropa karena disibukkan permasalahan pribadi dibandingkan fokus mengatasi permasalahan umat.

Kondisi tersebut berakhir pada lepasnya Baitul Maqdis dan menjadi lebih menyedihkan dengan banyaknya korban dari umat Muslim yang dibantai sekitar 70.000 orang, di sisi lain kondisi umat saat itu semakin mengkhawatirkan.

Penulis memaparkan, meskipun saat itu terjadi begitu banyak penyimpangan dan juga kerancuan sehingga menjauhkan umat Islam dari standar nilai Islam, tapi masih ada pula beberapa ulama yang tetap memegang teguh syariat dan berpikiran lurus.

Akan tetapi, kalangan ulama itu tidak cukup kuat untuk menghalau besarnya gelombang permasalahan umat yang begitu darurat. Tuntutan perbaikan yang semakin mendesak ini memaksa masyarakat muslim untuk memilih pada dua pilihan, yaitu melakukan perubahan secara menyeluruh dari dalam atau menyerah terhadap ancaman yang membawa pada kehancuran.

Pilihan yang seharusnya dipilih tentu pilihan yang pertama, mau tidak mau harus dilakukan perubahan dan perbaikan secara menyeluruh dari dalam tubuh umat Islam.

Menurut penulis, pada masa selanjutnya, perwujudan upaya perbaikan itu dilakukan dengan melalui dua fase. Fase pertama, melalui perubahan dengan nuansa politik oleh Penguasa Bani Saljuk dengan Mazhab Asy’ari-Syafi’i.

Fase ini ditempuh dengan cara melahirkan karya monumental dan mendirikan madrasah-madrasah di pelosok negeri lalu menempatkan sumber daya yang sudah matang pada posisi penting dalam pemerintahan.

Akan tetapi upaya ini masih jauh dari berhasil, karena dalam keberjalanannya terdapat penyimpangan dan tujuan/ sasarannya bukan pada aspek fundamental. Sehingga ulama dan orang-orang yang berkontribusi dengan tulus, memilih mundur dan mengobati perasaan kegagalannya dengan berbagai cara.

Entah mengasingkan diri, mundur dari ranah syubhat, atau memperbaiki pemikiran lalu kembali berkontribusi dengan cara yang sesuai syariat.

Fase kedua, perubahan dimulai dari aspek nilai dan aqidah, serta dampaknya pada masyarakat. Fase ini lebih berfokus pada pembenahan umat secara internal dan menyeluruh.

Pada fase ini, dikenal upaya ishlah dan pembaruan yang diusung oleh Abu Hamid al-Ghazzali dengan mendirikan madrasah-madrasah. Al-Ghazzali memulai ini dengan hal mendasar, yaitu mengevaluasi dan membenahi diri sendiri dan pemikirannya.

Setelah itu, ia mulai kembali berkontribusi dalam perbaikan umat melalui jalur pendidikan. Mulanya ia kembali bergabung dengan madrasah milik pemerintah atau penguasa, akan tetapi ketika melihat nihilnya harapan perbaikan di sana, ia memutuskan mendirikan sendiri madrasahnya.

Ishlah Al-Ghazzali dimulai dari mendiagnosa penyakit masyarakat Islam, lalu dari hasil diagnosa tersebut digunakan sebagai pencarian langkah “mengobati” umat Islam dan merumuskan ruang lingkup ishlah.

Dr. Majid ‘Irsan al-Kilani, penulis buku ini menjelaskan bahwa pendidikan yang diterapkan pada madrasah al-Ghazzali tersebut, menjadi pemicu lahirnya madrasah dan institusi yang mengadopsi metode madrasah al-Ghazzali.

Madrasah tersebut menggunakan metode, kurikulum, dan sistem yang Islami. Adapun orang-orang yang tergabung di dalamnya, saling bekerjasama dalam mengatasi penyakit umat kala itu.

Madrasah ishlah dan pembaruan yang lahir semakin banyak dan benar-benar berkomitmen dalam melakukan perbaikan sesuai syariat Islam. Gerakan ini pada masa selanjutnya melahirkan generasi baru yang mengedepankan nilai spiritual dalam bertindak dan menerapkan ajaran dan akhlak Islam tanpa dibumbui fanatisme mazhab atau nafsu duniawi.

Penyebaran generasi ini sampai menempati posisi strategis dalam ranah politik, militer, sosial, pendidikan, dan ekonomi, yang pada akhirnya dapat melahirkan kebijakan yang lurus dan mengedepankan kepentingan umat.

Pada buku ini, penulis memaparkan bahwa setidaknya permulaan persentuhan antara pemerintahan dan madrasah ishlah bermula pada masa Imaduddin Zanki. Ketika itu ia memilih untuk berfokus mendirikan sendiri kesultanan baru yang tidak terikat dengan kesultanan yang ada dan sedang dipenuhi dengan kekacauan.

Pada sisi lain, aktivis pengusung ishlah dan pembaruan juga hendak membangun “umat baru” yang sesuai ajaran Islam. Sehingga dari kesultanan yang baru dibangun Imaduddin Zanki itulah, umat baru tersebut dapat lahir dan berkembang.

Sepeninggalan Imaduddin Zanki, estafet perjuangan tersebut kemudian dilanjutkan oleh Nuruddin Zanki, lalu nantinya dilanjutkan Shalahuddin Al-Ayyubi yang juga terus mengusung semangat ishlah dan pembaruan.

Ketika posisi sudah cukup kuat, Nuruddin Zanki melakukan ekspansi dalam pembebasan daerah Syam dan sekitarnya dari Pasukan Salib yang tentu kelak tujuannya adalah pembebasan Baitul Maqdis.

Upaya-upaya pembebasan tersebut, meski sempat mengalami kesulitan atau sempat gagal, namun pada akhirnya banyak yang menuai keberhasilan. Komitmen dan tujuan pembebasan Baitul Maqdis di era Nuruddin Zanki juga dapat dilihat dari persiapannya membuat mimbar baru untuk Masjid al-Aqsha.

Akan tetapi, dalam pertengahan persiapan tersebut ajal lebih dulu menjemput Nuruddin Zanki, sehingga pada proses selanjutnya tugas tersebut diestafetkan pada panglimanya, Shalahuddin Al-Ayyubi.

Di bawah komando Shalahuddin Al-Ayyubi, umat muslim secara kolektif terus melakukan upaya-upaya pembebasan Baitul Maqdis dari Pasukan Salib. Pada saat yang tepat, umat Islam (baik tentara, pembesar, atau ulama saling bersatu) melakukan penyerbuan terhadap Baitul Maqdis.

Setelah pertempuran yang sengit dan berkat kegigihan pasukan Muslim itulah Baitul Maqdis dapat kembali ditaklukkan.

Melihat bagaimana pemaparan dan pengkajian yang dilakukan Dr. Majid ‘Irsan al-Kilani tersebut dapat diketahui bahwa upaya pembebasan Baitul Maqdis (Palestina) kala itu adalah upaya yang dilakukan dari beberapa generasi sebelumnya dan disokong oleh banyak elemen masyarakat, bukan hanya berkat peran individu.

Keberhasilan tersebut juga tidak luput dari upaya-upaya perbaikan kondisi umat oleh berbagai ulama dan masyarakat, sehingga umat Islam mencapai posisi siap dan pantas dalam merebut kembali Baitul Maqdis.

Kajian sejarah dalam buku ini menunjukkan bahwa saat itu kondisi umat yang buruk mengakibatkan perpecahan yang hebat hingga lepasnya Baitul Maqdis dan daerah lainnya. Namun setelah adanya perbaikan internal dengan menghidupkan kembali nilai Islam, Baitul Maqdis dan banyak wilayah lain dapat diambil kembali.

Maka dapat diartikan bahwa kemenangan umat Islam datang ketika semua bersatu padu dan menghidupkan kehidupan dengan nilai-nilai Islam, serta senantiasa memiliki niat yang lurus dan sejalan dengan tuntunan syariat (al-Quran dan sunnah).

Setelah kondisi kemenangan dalam pembebasan Baitul Maqdis, buku tersebut juga masih menjelaskan bagaimana keberlanjutan dari kisah tersebut. Di mana pada akhirnya terjadi kemunduran pada madrasah ishlah.

Selain itu, buku tersebut menjelaskan berbagai pola-pola yang selama ini umum terjadi dalam sejarah umat Islam. Oleh karena itu, buku ini akan menarik dibaca bagi siapa pun yang menyukai sejarah dan hendak mengkaji persoalan dengan lebih mendalam dan komprehensif.

***