Reposisi Struktur Sosial Ala Feminisme Sosialis

Oleh: Wahyu Munaini

Pemikiran feminis sosialis menyatakan bahwa penindasan dalam sistem kapitalisme dan partiarki (partiarki kapitalisme) menyebabkan terjadinya penindasan sosial, pemikiran itu adalah Dorothy E.Smith yang meletakkan faktor kesadaran, motivasi, gagasan, pengetahuan, ideologi, dan definisi tentang situasi dalam menjelaskan pandangannya tentang pentingnya ilmu pengetahuan bagi perempuan.

Ilmu pengetahuan menurut Smith dipengaruhi oleh kekuasaan dan struktur sosial. Struktur sosial merupakan perwujudan dari kepentingan aktor individual yang membuat keputusan sehingga struktur sosial itu melakukan penindasan. Ada fenomena yang menunjukkan kesulitan perempuan mencapai keadilan sosial dalam beroprasinya sistem patriarki dan kapitalism.

Para tokoh feminis mengakui bahwa nilai ekonomi kerja rumahan yang tidak dibayar memberi kontribusi pada kapitalsme, sehingga membuka jalan bagi pemahaman sosialis feminis dalam hubungan patriarki kapitalisme. Dalam pandangan keras Karl Marx, kerja rumahan tidak menciptakan nilai.

Dalam konteks ini kaum feminis sosialis meresponnya dengan menyatakan bahwa kerja tidak perlu dikomodifikasi (dibayar oleh upah di pasar kerja) supaya dapat memproduksi nilai. Dalam hal ini ditegaskan bahwa kapitalisme memerlukan kerja tak berupah supaya kapitalisme dapat berfungsi.

Feminisme lahir beriringan dengan lahirnya teori Hubungan Internasional pada abad ke-20 ketika berakhirnya perang dunia pertama. Lebih tepatnya pada munculnya keberhasilan dari tuntutan hak-hak pilih perempuan di Inggris dan Amerika Serikat. Feminism sosialis menyatakan tidak aka nada sistem yang sosialisme apabila tanpa ada kebebasan bagi kaum perempuan.

Feminism sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan, lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide yang dicetuskan oleh Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.

Feminism sosialis muncul sebagai bentuk kritik terhadap gerakan feminism Marxis yang menjelaskan bahwa patriarki sudah ada sejak sebelum kapitalism serta tetap tidak akan berubah apabila kapitalism runtuh. Feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk pemahaman mengenai penindasan perempuan.

Nancy Fraser di Amerika Serikat menyatakan keluarga inti dikepalai oleh laki-laki dan ekonomi resmi dikepalai oleh negara karena peran warga negara dan pekerja adalah peran maskulin.

Sedangkan peran sebagai konsumen dan pengasuh anak adalah peran feminin. Agenda perjuangan untuk memeranginya adalah menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki.

Para tokoh feminis mengakui bahwa nilai ekonomi kerja rumahan yang tidak dibayar memberi kontribusi pada kapitalisme, sehingga membuka jalan teoretis bagi pemahaman sosialis feminis dalam hubungan patriarki kapitalisme. Dalam pandangan keras Karl Marx, kerja rumahan tidak menciptakan nilai.

Dalam konteks ini kaum feminis sosialis meresponnya dengan menyatakan bahwa kerja tidak perlu dikomodifikasi (dibayar oleh upah di pasar kerja) supaya dapat memproduksi nilai. Dalam hal ini ditegaskan bahwa kapitalisme memerlukan kerja tak berupah supaya kapitalisme dapat berfungsi. (Aminah, 2012)

Menurut Scott dan Andrew dalam buku Teori-teori Hubungan Internasional (Burchill & Linklater, 2009) teori feminisme ini muncul untuk mengkritik studi laki-laki guna mentransformasikan tekanan struktural dimulai sejak kita (kaum perempuan) menyadari tekanan-tekanan sebagai seorang perempuan.

Pengalaman hidup sehari-hari perempuan termasuk dirinya sendiri merupakan sumber dari ilmu pengetahuan meski dalam bentuk yang abstrak. Perempuan dengan pengalaman hidupnya sehari-hari merupakan suatu standpoint yang dapat dianalisa secara sosial.

Kehidupan perempuan memiliki relasi sosial, namun relasi itu tidak pernah terlihat oleh laki-laki dan bahkan perempuan acapkali tidak menyadari bahwa dirinya tengah berada dalam dominasi laki-laki. Inilah tesis dari Dorothy E Smith.

Ilmu pengetahuan menurut Smith sangat dipengaruhi oleh keterkaitan dengan kekuasaan (ada kelas tertinggi yang menjadi penguasa) dan struktur sosial ikut memberikan pengaruh terhadap jenis ilmu pengetahuan yang dihasilkan.

Ada kesenjangan dalam ilmu pengetahuan ketika bicara tentang struktur sosial dan fakta sosial, dimana laki-laki tidak melibatkan perempuan di dalam kajian dan analisa mereka.

Selain itu struktur sosial merupakan perwujudan dari kepentingan aktor individual yang membuat keputusan sehingga struktur sosial seperti dianggap menciptakan penindasan.

Para sosiolog laki-laki telah mengabaikan hal ini sehingga perempuan tidak pernah mendapatkan pencerahan. Jika demikian maka terlihat suatu kenyataan bahwa keadilan sosial untuk perempuan menjadi sulit dirasakan selama patriarki dan kapitalisme tetap ada sehingga kondisi kesetaraan terhadap perempuan juga menjauh dari kenyataan.

Melalui pengetahuan Smith ingin menunjukkan bahwa perempuan juga dapat dilihat sebagai penghuni kelas ekonomi dan menjadi bagian yang berharga bagi kapitalisme, baik sebagai pekerja di luar rumah maupun di dalam rumah.

Kondisi lain yang menciptakan dan memepertahankan kehidupan manusia adalah tubuh manusia, jenis kelamin, keterlibatannya dalam mencari nafkah, mengasuh anak, mengurus rumah tangga, dan tuga-tugas lainnya yang tak terlihat dan yang tidak diupah.

Teori feminism terbagi menjadi dua cluster, yaitu feminisme yang mengubah kodrat perempuan dan yang tidak mengubah atau melestarikan kodrat murni perempuan. Feminisme yang mengubah kodrat perempuan diantaranya adalah feminisme liberal, eksistensialisme, feminisme sosialis marxis, dan teologi feminisme.

Sedangkan feminisme yang melestarikan kodrat perempuan juga memiliki dua jenis yaitu feminisme radikal dan ekofeminisme.

Menurut Megawangi, feminisme sosialis berupaya menghilangkan struktur kelas dalam masyarakat berdasarkan jenis kelamin dengan melontarkan isu bahwa ketimpangan peran antara kedua jenis kelamin itu sesungguhnya lebih disebabkan oleh faktor budaya.

Kelompok ini menganggap posisi inferior perempuan berkaitan dengan struktur kelas dan keluarga dalam masyarakat kapitalis. Feminis sosialis mengadopsi teori praktis Marxisme yaitu teori penyadaran pada kelompok tertindas. (Wibowo, 2011)

Artinya, ada harapan besar agar para perempuan sadar bahwa kaumnya merupakan kelas yang dirugikan. Penyadaran ini dimaksudkan untuk membangkitkan emosional perempuan dan tegak untuk mengubah keadaan yang telah seperti itu. Upaya peruntuhkan sistem patriarki yang dainggap sangat menggangu kaum permpuan adalah dengan memuncakkan konflik antar kelas gender.

Feminisme marxis/sosialis menggambarkan posisi rendah perempuan dalam struktur ekonomi, sosial, dan politik dari sistem kapitalis, serta adanya analisis patriarki (pemusatan pada laki-laki). Fokusnya adalah kapitalisme dan patriarki menempatkan perempuan pada posisi yang tidak istimewa.

Mereka berpendapat bahwa penghapusan sistem kapitalis merupakan cara agar perempuan mendapat perlakuan yang sama. Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya, sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi.

Status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaan pribadi (private property) kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange). Feminisme sosial muncul sebagai kritik terhadap feminisme Marxis.

Aliran ini mengatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme, dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Feminisme sosial menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. (Karim, 2014)

Feminisme Marxis lebih diarahkan untuk menghilangkan penindasan ekonomi perempuan dengan menghapus sistem pemilikan pribadi, yang ditempuh dengan cara mengajak perempuan untuk memasuki sektor politik, sehingga menjadi produktif (menghasilkan materi/uang).

Kelompok ini juga berpendapat bahwa ketertinggalan yang dialami oleh wanita bukan disebabkan oleh tindakan individu secara sengaja, tetapi akibat dari struktur soaial, politik dan ekonomi yang erat kaitannya dengan sistem kapitalisme. (Faizain, 2007)

Sistem penindasan itu par excellence adalah gender. Karena itu, pengetahuan yang dimiliki perempuan itu unik dan membantu kita untuk melihat struktur penindasan yang terjadi. (Allan, 2000)

Smith menegaskan bahwa hendaknya memusatkan perhatian pada struktur yang menghasilkan penindasan itu. Karena secara histories, sosiologi dan ilmu-ilmu sosial umumnya merupakan dunia laki-laki.

Apa yang ditetapkan dalam sosiologi dan ilmu sosial didefiniskan dari perspektif laki-laki yang berkuasa/memerintah (the rulling men). Penyebab fundamental opresi terhadap perempuan bukan kelasisme atau seksisme, melainkan suatu keterkaitan yang sangat rumit antara kapitalisme dan patriarki.

Program feminis sosialis adalah untuk menyerukan solidaritas global di kalangan kaum perempuan agar memerangi kesenjangan sosial akibat sistem kapitalis yang menindas kehidupan kaumnya, komunitas serta merusak lingkungan.

Sudut pandang perspektif feminisme sosialis tidak melibatkan atau menyertakan kaum laki-laki serta dinilai banyak meninggalkan kondratnya sebagai perempuan.

Feminis sosialis, sambil bersetuju bahwa terdapat hal yang universal dan tanpa batas waktu menyangkut penindasan perempuan, adanya penegasan bahwa hal itu memiliki berbagai bentuk berbeda dalam setting berbeda-beda, dan perbedaan itu adalah sangat penting.

Proyek feminisme sosialis adalah dengan menggerakkan orang agar menggunakan Negara untuk redistribusi efektif sumber kemasyarakatan melalui pendanaan jaringan pengaman jasa publik.

Seperti pendidikan yang didukung penuh oleh Negara, jaminan kesehatan, transportasi, perawatan anak, dan perumahan (mencakup struktur pajak progresif, sehingga mengurangi kesenjangan antara orang kaya dan miskin; garansi upah hidup untuk semua anggota komunitas).

Penggerak feminisme sosialis yakin bahwa ini akan berhasil apabila orang-orang menyadari serta memperhatikan kondisi hidup masing-masing dan hidup orang lain disekitarnya. Ilmuwan-ilmuwan feminis sosialis untuk memperlihatkan serta mengatasi kesenjangan materi riil yang berwujudkan kehidupan manusia.