Warna-Warni Seni Memahami

Oleh: Miftakul Ulum Amaliyah

  • Judul buku: Seni Memahami
  • Penulis: F. Budi Hardiman
  • Penerbit: PT Kanisius
  • Kota terbit: Yogyakarta, 2015
  • ISBN: 978-979-21-4345-4

Hermeneutika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V (KBBI V) dijabarkan sebagai ilmu tentang interpretasi (tafsiran) asas-asas metodologis. Oleh F. Budi Hardiman, hermeneutika dikategorisasikan menjadi dua, yaitu hermeneutik klasik atau tradisional dan hermeneutik modern.

Hermeneutik klasik fokus pada “memahami” secara tekstual atau literasi. Sedangkan hermeneutik modern telah melampaui literasi.

Dalam bukunya yang bertajuk Seni Memahami (2015), F. Budi Hardiman mengulas berbagai sudut pandang hermeneutika dari tokoh-tokoh modern. Artinya, hermeneutik bukan hanya dipahami dari segi literasinya, melainkan kontekstualnya. Penulis bahkan membuat delapan bab hanya untuk menjabarkan hermeneutiknya.

Pertama, memahami sebagai seni, Schleiermacher dan hermeneutik romantik. Besar dengan nama Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher, ia telah membuka gerbang hermeneutik modern yang tidak lagi berpusat pada memahami literasi semata.

Baginya, memahami (verstehen) dalam hermeneutik adalah menangkap makna dalam objek (bahasa) dan menjadikan teks sebagai pemahaman.

Oleh karenanya, hermeneutik Schleiermacher bertolak pada kesalahpahaman. Artinya, penafsir menggunakan prasangkanya untuk memahami maksud dari menulis. Prasangka dari setiap penafsir tentunya berbeda-beda.

Jika hendak mencapai pemahaman, maka dibutuhkan kepiawaian dalam memahami. Inilah yang dimaksud oleh Schleiermacher sebagai seni memahami.

Lantas, mengapa hermeneutik Schleiermacher disebut dengan hermenenutik romantik? Romantik dalam periodisasi filsafat dianggap sebagai masa kerinduan atas kejayan Yunani Kuno. Hampir sama dengan maksud hermeneutik romantik yang menginginkan penafsir untuk bisa menangkap maksud teks sesuai dengan pikiran penulis.

Artinya, penafsir atau pembaca diajak untuk mengalami kembali pengalaman (dunia batin) penulis di masanya lewat teks yang ditulis oleh penulis.

“Hermeneutik romantik bermaksud untuk merekonstruksi makna penulis teks atau menghadirkan kembali seutuhnya maksud penulis.”

Inilah mengapa, hermeneutik yang diusung Schleiermacher dianggap telah melampaui literasi. Penafsir atau pembaca dapat memahami teks lebih baik dari penulis. Namun, bukan berarti penafsir lebih benar dari penulis. Penafsir dituntut untuk mengerti banyak hal tentang sesuatu yang berkaitan dengan teks.

“Dengan ini, memahami teks bukan hanya pada diri teks (unsur-unsur bahasa), melainkan dari luar teks atau konteks (ruang dan waktu).”

Kedua, memahami sebagai metode ilmiah, Dilthey dan hermeneutik ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan. Wilhelm Christian Ludwig Dilthey dengan tegas membedakan ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan.

Baginya, ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan berisi ungkapan-ungkapan kehidupan manusia (dunia batin atau mental). Sedangkan, ilmu-ilmu alam hanya fokus pada sesuatu yang nampak saja.

Inilah yang melatarbelakangi hermeneutik Dilthey sebagai metode ilmiah verstehen. Target penelitiannya adalah dunia batin atau mental manusia dan peneliti dituntut untuk berada di dalamnya. Selain itu, peneliti akan memperoleh pengetahuan dengan memahami makna yang terkandung dalam teks.

“Singkatnya, hermeneutik Dilthey dapat dipahami lewat interaksi antara peneliti dengan objek-objek sosial-historis penulis (norma, tradisi, artefak, dan lain sebagainya), bukan lagi dunia batin penulis.”

Ketiga, memahami sebagai cara berada, Heidegger dan hermeneutik faktisitas. Martin Heidegger mengusung fenomenologi Husserl dalam hermeneutiknya. Sama halnya dengan fenomenologi yang membiarkan fenomena menampakkan dirinya sendiri, mengada sendiri, dan mengembalikannya pada dirinya sendiri, maka hermeneutik Heidegger juga demikian.

“Hermeneutik bukan lagi sesuatu yang ada dalam kesadaran penafsir, melainkan sesuatu itu sendiri yang menampakkan atau menyingkap diri kepada penafsir.”

Menurut Heidegger, memahami itu sesuatu yang primodial pada diri manusia. Tanpa berkeinginan untuk menghadirkannya, memahami telah hadir sebelum dikehendaki untuk hadir. Ia telah ada pada diri manusia secara spontan.

Inilah mengapa, hermeneutik Heidegger disebut dengan hermeneutik faktisitas. Karena memahami adalah sesuatu yang tak terelakkan dalam diri manusia. Memahami sebagai kemampuan manusia untuk menangkap kemungkinan-kemungkinannya sendiri untuk berada. Dengan ini, memahami bukan lagi sebagai metode, melainkan cara manusia untuk bereksistensi.

“Jika Rene Descartes mendeklarasikan cogito ergo sum-nya (aku berpikir, maka aku ada), maka Heidegger akan demikian, aku memahami, maka aku ada.”

Hermeneutik Heidegger pun akan terkesan berbeda dengan dua tokoh sebelumnya. Jika Schleiermacher dan Dilthey bermaksud untuk merekonstruksi atau merehabilitasi makna, maka Heidegger tak demikian. Hermeneutiknya bermaksud untuk mendahului fakta atau menyingkap kemungkinan-kemungkinan makna di masa depan.

Keempat, memahami sebagai menyingkap, Rudolf Bultmann dan hermeneutik demitologisasi. Rudolf Karl Bultmann nyatanya diilhami oleh pemikiran Heidegger. Ia mengungkapkan bahwa makna akan menyingkap diri dengan sendirinya, sehingga ia dapat dipahami di masa depan.

Untuk mengetahui masa depan, tentunya tak akan lepas kaitannya dengan masa lampau. Namun, bukan masa lampau yang dikulik oleh Bultmann, melainkan mitos di dalamnya. Banyak ilmuan yang menganggap mitos sebagai fiksi semata, sehingga melewatkan begitu saja maksud sebenarnya dari mitos.

Inilah mengapa Bultmann begitu tertarik dengan mitos yang diabaikan dan menyematkannya dalam hermeneutiknya, hermeneutik demitologisasi. Menurutnya, demitologisasi sama sekali tak memiliki maksud untuk menghilangkan mitos, melainkan memahami mitos. Sehingga, mitos bukan lagi dianggap sebagai cerita imajinatif, tetapi cara masyarakat dahulu memahami dunianya.

Kelima, memahami sebagai kesepahaman, Gadamer dan hermeneutik filosofis. Hans-Georg Gadamer gencar meninggalkan romantisme Schleirmacher dan metodologi atau historisme Dilthey.  Ia lebih suka menggaungkan hermeneutik sebagai kemampuan universal manusia untuk memahami.

Dengan demikian, hermeneutik Gadamer disebut sebagai hermeneutik filosofis. Artinya, pembaca muskil untuk kembali ke masa silam, karena pemahaman akan selalu dipengaruhi oleh horizon (ruang yang memiliki batas) tertentu. Sehingga, pembaca akan memahami “sesuatu” di masa silam hanya dari perspektifnya di masa kini.

Hermeneutik Gadamer memancing pembaca untuk mau belajar berdialektika. Maksudnya, memahami bertujuan untuk “building” atau membentuk dan merubah diri lewat belajar. Belajar yang dimaksud adalah mau terbuka terhadap tradisi, sehingga memahami menjadi kemampuan universal manusia.

Keenam, memahami sebagai membebaskan, Habermas dan hermeneutik kritis. Jika Gadamer menyebut memahami sebegai keterbukaan terhadap tradisi atau sebisa mungkin sesuai dengan tradisi, maka Jurgen Habermas menolak dengan lantang pendapat itu. Menurutnya, tradisi bukan hanya untuk diteruskan saja, melainkan perlu untuk dikritisi.

Hermeneutik kritis Habermas berangkat dari psikoanalisis Sigmund Freud dan kritik ideologi Karl Marx. Psikoanalisis Freud akan menghidangkan psikopatologi dan kritik ideologi Marx akan menyuguhkan kesadaran palsu.

Keduanya sama-sama mengungkit tentang kesalahan yang tak disadari. Inilah yang membuat hermeneutik kritis menggaungkan distorsi sistematis (pembaca dan penulis sama-sama mengalami ketidaksadaran akan kesalahpahaman mereka) dalam memahami teks.

Oleh sebab itu, Habermas menggemakan emansipatoris dalam hermeneutiknya. Ia berkeinginan untuk membebaskan penulis dari ketidaksadarannya akan tulisan yang ditulisnya sendiri. Sehingga, ia memahami betul apa yang telah ia tulis. Dan pembaca pun, tidak akan salah paham atas teks yang dimaksud penulis.

Ketujuh, memahami sebagai merenungkan, Recoeur dan hermeneutik simbol. Paul Recoeur meyakini bahwa simbol (bahasa dalam teks) mengundang pemikiran. Sehingga, simbol akan menimbulkan perenungan filosofis.

“Memahami bukan hanya sebatas makna dalam teks, melainkan juga merefleksi makna hidup.”

Dengan demikian, memahami ala Recoeur bukan hanya bermaksud untuk merekonstruksi makna, tetapi juga menginterpretasi secara kritis dengan mencurigai makna. Serta, dengan menyingkap sesuatu yang tersembunyi di balik teks. Sehingga, tidak ada yang salah dalam merefleksikan maksud dari teks setelah diinterpretasi secara kritis.

Terakhir, memahami sebagai menangguhkan, Derrida dan hermeneutik radikal. Mashur dengan nama Jacques Derrida, ia menggaungkan dekonstruksi dalam hermeneutiknya. Artinya, tak ada  metode, aturan, kriteria, prosedur, maupun teori dalam memahami.

Inilah yang menjadi alasan hermeneutik Derrida disebut sebagai hermeneutik radikal. Dekonstruksinya menghentikan upaya untuk merekonstruksi atau merehabilitasi makna suatu teks. Menurutnya, makna asli -yang benar-benar utuh- dalam teks itu tak ada. Sehingga, interpretasi dalam teks itu tak terhingga.

Penafsir teks tidak akan mendapatkan pemahaman utuh seperti penulis. Pun sebaliknya, penulis tidak akan pernah bisa mengontrol pemahaman penafsir. Dekonstruksi Derrida menjadi cara memahami atau menafsirkan dengan membedakan, tanpa memutuskan atau menilai.

Selain itu, Derrida begitu memprioritaskan tulisan dibandingkan dengan logosentrisme (berpusat pada logos atau pengetahuan/rasio) dan fonosentrisme (berpusat pada phone atau bunyi/tutur).

Menurutnya, tulisan bisa diinterpretasi tanpa dasar pengetahuan, tidak melulu ilmiah. Dengan tulisan, juga tak perlu menghadirkan subjek atau penulis untuk menjelaskan -secara tutur- tentang tulisannya.

“Derrida benar-benar menghendaki tulisan yang otonom dan terbuka tanpa batas untuk diinterpretasi.”

Kedelapan tokoh tersebut memang saling melontarkan kritik satu sama lain. Perihal benar-salah akan tetap jatuh pada otoritas pembaca juga. Setidaknya, pembaca telah mengerti apa yang dikehendaki dari masing-masing tokoh.