Teh Manis Di Bulan Ramadhan

Oleh: Uun Zahrotunnisa

“Ya Tuhan, kiranya engkau berbaik hati padaku kali ini, mohon ampuni Aku, dan kalau hari ini waktu terakhirku untuk berdo’a di bulan suci ini maka sudi kiranya Kau kabulkan permohonanku ini. Sembah sujudku hanya kepada-Mu Allah Sang pengatur peredaran matahari dan bulan tanpa susah payah. Pertemukanlah Aku dengan Ramadhan di tahun berikutnya. Aamiiiin”

Seusai berdo’a Bu Mar segera bangkit dari tempatnya bersimpuh untuk menyegerakan diri melakukan aktivitas seperti biasanya, mencari kayu bakar untuk dijualnya ke pengepul kayu bahan bakar produksi tahu tempe di desanya setempat.

Jangan kaitkan Bu Martopah dengan kisah Istri Abu Lahab yang memiliki perangai buruk hingga disebut sebagai pembawa berita kebohongan dengan julukan sang pembawa kayu bakar, Bu Mar justru memiliki karakter sebaliknya.

“Pandemi hitungannya sudah dua kali puasa ya Bu, kangen sekali saya sama kumpul-kumpul dengan keluarga besar, makan bersama, ketemu teman lama, lah banyak sekali pokoknya” Suara Ibu-Ibu yang usianya terpaut lima tahun lebih tua daripada Bu Mar sedang mencoba mengawali percakapan pagi itu. Saat itu Bu Mar tengah berada di depan halaman rumahnya dan bersiap-siap melingkarkan kain ikat kayu di pundaknya.

“Iya Bu, bagi Saya sama saja ramadhan-ramadhan tahun ini dengan dulu-dulunya. Hehehe maklum lah Bu” canda Bu Mar kepada Bu RT.

“Hehe.. maaf Bu, oh iya si Rama nggak pulang lagi ya kelihatannya” tanya Bu RT kemudian.

“Sepertinya tidak Bu, walah orang keadaannya masih seperti ini, nanti saja lah bu kalau sudah agak membaik, lagian buat ongkos pulang sayang mending uangnya disimpan. Saya permisi ya Bu takut kesiangan nanti” Bu Mar dengan langkah cepat sambil menyudahi pembicaraan pagi itu bergegas pergi mencari kayu bakar.

Sepulang mencari kayu bakar sore itu, telepon genggam klasik Bu Mar berdering beberapa kali hingga terlihat ada 7 panggilan tidak terjawab dari nomor telepon dikenal. Karena masih harus memasak, menyiapkan hidangan berbuka puasa, dan bersiap melaksanakan sholat maghrib berjamaah membuatnya sampai rela mengabaikan bunyi teleponnya, padahal Bu Mar termasuk orang yang cekatan dan cepat tanggap jika ada hal yang mungkin membutuhkan respon cepat.

Mungkin baginya panggilan yang beberapa kali masuk ke nomor teleponnya tersebut sudah bisa ditebak dari siapa, tidak lain adalah Ramadhan. Iya anak perjaka satu-satunya Bu Mar, yang kini merantau ke Ibu Kota berkat mendapat beasiswa Kemendikbud pada pertengahan tahun 2017.

“Assalamualaikum Le, gimana puasanya?” Sapa Bu Mar sambil menyeruput teh manis, tanda buka puasa telah tiba.

***

Semenjak pandemi, Rama yang semula hampir tidak pernah merasa kesulitan dalam mencukupi kebutuhan hidup di Asrama kampus tempat tinggalnya di Ibu Kota, kini harus bergelut dengan waktu untuk bekerja paruh waktu demi menunjang kehidupannya agar tidak membebani Ibunya di kampung.

Pasalnya sejak pandemi, asrama kampus hanya memberikan fasilitas tempat tinggal dan kebutuhan Wi-fi saja, selain itu tidak. Mengingat banyaknya mahasiswa yang pulang kampung sejak awal pandemi hingga sekarang ini menjadi sebab tidak tersedianya kebutuhan makan bagi mahasiswa yang saat itu masih ada yang tinggal di asrama.

Pekerjaan paruh waktu di warteg dekat asrama ia manfaatkan dengan baik, hitung-hitung yang punya warung sudah kenal lama dengan Rama, tahu seluk beluk kehidupannya.

Mulai dari kisah asmaranya yang asam manis seperti asinan mangga muda, tingkah laku anehnya sebagai mahasiswa semester akhir, dan yang paling jadi nilai kuliahnya yang hamper selalu baik.

Rama juga terkenal Good Looking, untuk anak gadis yang baru pertama melihat dan mengenalnya sudah pasti mengira dia blasteran dan anak orang kaya. Padahal hidupnya jauh dari dua kata itu. Kesederhanaan sedari kecil telah berhasil mendidiknya apalagi sejak ditinggal ayahnya, satu hal yang ia ingat kala kelas tiga SD oleh ayahnya diberi tahu.

Boleh kita bukan anak orang yang kaya, tapi berpenampilan rapih dan wangi adalah kewajiban. Karena yang terlihat pertama kali di mata orang asing terhadap kita adalah bukan karena sikap kita saja namun, karena penampilan kita dari pandangan mata mereka”. Kata-kata ayahnya itu terus terpikirkan sepanjang hidupnya. Sebab hanya itu saja yang tersisa di dalam ingatan anak seusia itu.

“Kamu ga pulang Ram, kasian Ibumu kangen pasti” tanya Ibu Pemilik Warteg memecah lamunannya.

“Ah, tidak Bu. Kondisi seperti ini nanti malah bikin panik Ibu. Saya sebenernya sudah pingin pulang sejak lama. Namun, bagaimana lagi. Nampaknya Ibu tidak setuju takut Saya kenapa-napa sampai rumah, lagian kalau hanya diam di sini saja mungkin ada baiknya Bu. Selain itu, mungkin supaya cepat menyelesaikan tugas akhir dan bisa lebih fokus mengerjakannya” jawab Rama, sambil membungkus nasi ayam untuk berbuka dan sahur lantas kembali ke asrama kampus.

Sepulang dari warteg dengan membawa es teh manis dan dua nasi ayam, ia sembari melihat jam di tangan kanannya yang sudah menunjukkan pukul 05.20 sore. Tiba di pelataran asrama kampus Rama melihat seorang penjual dipan kayu keliling terlihat tengah duduk setelah menyandarkan sepedanya di tembok pagar pinggir pintu masuk asrama. Dilihatnya sekantong kresek bening di dalamnya terlihat bingkisan plastik es yang masih tergantung di stang sepeda.

“dari jam berapa Bapak tadi keliling?“ tanya Rama sambil mendekat kepada penjual ranjang tersebut.

“dari pagi Mas, hehe. Tapi ya belum ada pembeli juga sampai sore” jawab Bapak tersebut sambil tersenyum simpul.

“Saya salut sama Bapak. Merasa malu Pak, sebagai anak muda harusnya bisa mencontoh Bapak, karena yang sepuh aja masih punya semangat mencari nafkah meski belum diberi setelah bersusah payah seharian.” pungkas Rama sambil tersipu malu.

“Mas, di dunia itu cuman ada dua hal yaitu baik dan buruk. Demikian manusia. Kalo pas lagi ketemu sama hal baik pasti lupa sama susahnya, sedihnya. Giliran lagi dapat musibah seakan-akan menganggap Tuhan tidak adil.

Terus kemana saja selama diberi kebahagiaan tempo hari. Ya masa iya sampai lupa kalau kita itu harus hidup beriringan sehingga nggak siap dengan keadaan sebaliknya. Ujung-ujungnya Tuhan di maki-maki bilang kalau tidak adil.

Apakah hanya orang dalam keadaan seperti Saya sajakah yang bisa berkata demikian, Saya tidak yakin kalau nanti saatnya kaya saya akan ingat perkataan  sendiri. He he he” sambil terkekeh Bapak penjual meneruskan ceritanya.

“ketika saya bertemu dengan orang-orang seusia Mas, sama mereka Saya ditanya-tanya. Tentang ikhlas, prinsip, keyakinan, sabar dan macam-macam lah sampai pernah saya dikira syekh-syekh yang nyamar jadi tukang jualan dipan keliling.

Padahal Saya ini betulan manusia biasa seperti orang-orang yang mengira Saya. Hal itu cuman karena mereka melihat saya jualan dipan dan nggak kunjung bertemu dengan pembeli dan yang mereka heran kenapa saya masih bertahan sampai saat ini.

Kalau tahu resiko pekerjaan saya ini luar biasa mengupas lembaran kesabaran. Ya saya jawab asal aja mas. Tuhan itu melihat setiap usaha makhluk-Nya, mau dia pandai, atau tidak pasti bukan itu yang dilihat pertama kali, nggak kaya kita si manusia ini apa-apa harus serba yang tampak mata dulu.

Jadi, ketika kita berusaha pasti Dia akan mempertemukan kita dengan apa yang cocok dengan usaha kita, seperti halnya Saya bikin dipan ya pasti saya akan bertemu dengan orang yang akan membutuhkan dagangan saya.

Kalau manusia congkak pasti mengatur-atur do’anya untuk disegerakan turun rezekinya padahal Tuhan lebih tau kapan. Cobalah berdo’a agar kebutuhannya tercukupi, soalnya kalo kelebihan nanti banyak lupanya pas lagi kena musibah pusingnya minta ampun karena lupa rintihannya saat susah dulu. hehehe” sambil terus terkekeh bersama Rama.

Tiba waktu buka puasa dua orang laki laki yang sedari tadi duduk di depan pagar bak sahabat karib itu menyeruput teh manis, dan makan dengan lahap santapan yang dibawa oleh Rama sepulangnya dari warteg.

Kesederhanaan telah membuat Rama tahu akan makna kehidupan yang sebenarnya, sesungguhnya sesuatu yang dapat kita petik adalah buah dari penempaan hidup yang penuh cobaan berkali-kali.

Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Bapak penjual dipan keliling tadi. Lantas apakah semua hal yang akan mendidik manusia untuk selalu mengingat hakikat Allah menjadikan manusia itu hidup, adalah ketika mereka sedang berada di titik terendah sehingga harus putus asa ?.