Sudahkah Merasa Malu?

Oleh: Rizq Aufa Fauzia

Malu merupakan salah satu sifat terpuji yang bisa mengendalikan individu dari perbuatan yang tidak sepatutnya dikerjakan. Sifat malu merupakan bagian dari iman, disebut demikian karena malu menjadi pengendali bagi seorang muslim untuk senantiasa berada dalam kebaikan dan berpaling dari segala keburukan atau maksiat.

Maknanya, apabila seorang muslim memiliki rasa malu, maka keimannya berada dalam tahap yang selamat. Karena orang yang tidak memiliki sifat malu, mereka akan tenggelam dalam setiap perbuatan keji dan munkar.

Diantara bentuk malu adalah malunya seorang hamba kepada Tuhannyadan malunya seorang hamba kepada sesama. Malu merupakan salah satu akhlak yang mulia dan merupakan bentuk ketaatan seorang muslimjuga sebagai salah satu wujud rasa syukur kepada Allah Ta’ala karena telah memberikan segala nikmat yang pasti tak dapat terhitung.

Maka dari itu, hendaknya seorang muslim memiliki rasa malu kepada Allah, karena ibadah yang dia lakukan tak sebanding dengan nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Iman Ahmad, At-Tumidzi dan Al Hakim, Ibnu Mas’ud bercerita bahwasannya Rasullah SAW bersabda “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu”.Kami berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami malu (kepada-Nya) Alhamdulillah.

Nabi SAW bersabda : “Bukan demikian, melainkan malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu, hendaklah kamu memelihara kepala dan semua anggota yang ada padanya, perut dan semua apa yang dikandungnya serta hendaklah kamu mengingat mati dan kehancuran tubuh.

Barang siapa yang menghendaki akhirat, niscaya ia meninggalkan perhiasan dunia. Barang siapa yang mengerjakan hal tersebut, berarti dia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu”.

Seperti yang kita tahu bahwasannya di kepala terdapat indera penglihatan berupa mata, indera pendengaran berupa telinga, indera penciuman berupa hidung, dan lisan.

Kepala juga menyimpan ambisi dan keinginan dalam akal. Apabila seorang memilki rasa malu karena Allah, maka dia akan menjaga hasrat atau keinginan semua organ yang ada di kepala. Ia akan menjaga pendengarannya dengan cara tidak akan mendengar apa yang dibenci Allah.

Ia juga akan menjaga pandangannya dengan cara tidak akan melihat sesuatu yang menimbulkan kemurkaan Allah. Ia juga akan menjaga lisannya, tidak akan berbicara tentang sesuatu yang tidak disukai Allah. Hal itu semua dilakukan karena malu kepada Allah.

Dalam rongga perut terdapat hati dan hati adalah organ terpenting yang harus dijaga agar memiliki rasa malu kepada-Nya. Hatilah tempat rasa malu itu bersemayam, dan rasa malu itu bermula.

Apabila hati telah merealisasikan rasa malu kepada Allah, maka anggota badan yang lain akan menurutinya. Ada dua macam sifat malu yang harus dimilki Muslim dan Muslimah, yaitu malu yang berkaitan dengan hak Allah dan malu berkaitan dengan hak sesama.

Malu yang berkaitan dengan hak Allah adalah rasa malu yang berwujud mengetahui bahwa Allah tahu dan melihat setiap perbuatan hamba-Nya, baik larangan yang diterjang hamba-Nya maupun perintah yang dilakukan hamba-Nya.

Sedangkan malu yang berkaitan dengan hak sesama adalah rasa malu yang diwujudkan saat berinteraksi dengan sesama, kita tidak berperilaku yang tidak pantas dan berakhlak jelek serta berperilaku sesuai norma.

Syaikh Ibnu Utsaimin memberi contoh pada suatu majelis ilmu, yaitu jika seseorang berada di shaf pertama, kemudian dia menjulurkan kakinya maka dia dinilai tidak memiliki rasa malu karena dia tidak menjaga kewibawaan.

Rasa malu terpuji adalah malu dengan sesama manusia. Malu inilah yang menahan seorang hamba dari perbuatan yang tidak pantas dan hina. Sedangkan rasa malu kepada Allah akan mendorong untuk menjauhi semua larangan Allah dalam setiap keadaan.

Baik ketika bersama banyak orang atau pun saat sendiri, tanpa siapa pun yang menyertai. Rasa malu ini merupakan buah dari pengenalan terhadap Allah, dan keagungan-Nya. Serta menyadari bahwa adapun malu yang tercela, yakni malu di hadapan manusia ketika menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Misalnya, malu untuk menyampaikan kebenaran atau menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran, malu memakai jilbab yang syar’i, dan malu mencari nafkah untuk keluarga karena dirinya bukan seorang bos atau pekerjaan yang dinilai rendah. Allah dekat dengan hamba-hambaNya untuk mengawasi perilaku mereka.

Selain hadits yang diriwayatkan oleh Iman Ahmad, At-Tumidzi dan Al Hakim, adapun hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari tentang malu. Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara apa yang ditemui oleh orang-orang dari sabda para Nabi terdahulu ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”.

Sifat malu adalah warisan para Nabi terdahulu. Yang dimaksudkan dengan kenabian terdahulu yaitu mulai dari awal Rasul dan Nabi. Perkataan umat terdahulu bisa saja dinukil melalui jalan wahyu yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah atau dinukil dari perkataan orang-orang terdahulu.

Karena hal ini adalah perkataan Nabi terdahulu maka hal ini menunjukkan bahwa perkataan ini memiliki faedah yang besar sehingga sangat penting sekali untuk diperhatikan. Setiap Nabi yang diutus pasti memilki sifat malu.

Ada Malu yang merupakan bawaan dan ada pula malu yang harus diusahakan. Sebagian manusia telah diberi kelebihan oleh Allah SWT rasa malu. Contohya seseorang malu berbicara kecuali jika ada urusan mendesak atau tidak mau melakukan sesuatu kecuali jika terpaksa, karena dia adalah pemalu.

Sedangkan malu jenis kedua adalah malu karena hasil dilatih. Orang seperti ini biasa cekatan dalam berbicara, berbuat. Kemudian ia berteman dengan orang-orang yang memiliki sifat malu dan dia tertular sifat ini dari mereka.

Ibnu Rajab Al-Hambali menerangkan bahwa malu yang harus diusahakan bisa diperoleh dari mengenal Allah beserta keagungan-Nya dan merasa Allah dekat dengannya. Ini merupakan tingkatan iman yang paling tinggi, bahkan derajat ihsan yang paling tinggi.

Sifat malu bisa muncul pula dari Allah dengan memperhatikan berbagai nikmat-Nya dan melihat kekurangan dalam mensyukuri nikmat-nikmat yang diberi Allah. Jika rasa malu yang diusahakan ini pun tidak bisa diraih, maka seseorang tidak akan tercegah dari perbuatan keji, seakan-akan iman tidak ia miliki.

Para Ulama mengartikan bahwa kalimat “Jika tidak malu, lakukanlah sesukamu”, memiliki dua makna, yaitu :

Jika suatu perbuatan yang hendak kita lakukan tidak membuat kita malu, maka kita bsa melakukan sesuka kita. Maka makna pertama ini kembali pada perbuatan.

Bukan Bermakna Perintah

Para ulama memiliki dua tinjauan dari makna ini, yaitu:

Pertama, makna sebagai ancaman, hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Fushilat ayat 40,

عْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Lakukanlah sesukamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan.

Maksud ayat ini bukanlah kita bisa melakukan sesuka kita termasuk perkara maksiat. Namun, maksud ayat ini adalah perbuatan yang kita lakukan karena sesuka kita tanpa adanyaa rasa malu, pastilah akan mendapatkan akibatnya.

Kedua, makna sebagai berita, penghalang kita untuk melakukan perbuatan keji adalah rasa malu. Jadi barang siapa yang tidak memiliki rasa malu, maka dia akan terjerumus dalam kejelekan dan kemunkaran. Kalimat ini adalah perintah, namun bermakna berita. Itu maksud perintah di sini bermakna berita.

Tinjauan Kepribadian Menurut Shyness

Maltby mengungkapkan bahwa reaksi shyness terdapat dua jenis shyness yaitu situasional (state) shyness dan dispositional (trait) shyness. Situasional shyness melibatkan emosi dan kognisi yang merupakan pengalaman dari rasa malu itu sendiri.

Tipe ini dapat terjadi sewaktu-waktu oleh siapapun, terutama pada suatu situasi sosial. Sedangkan dispositional shyness merupakan malu yang bersifat jangka panjang atau permanen walaupun dalam waktu maupun situasi yang berbeda.

Dispositional shyness dapat berkurang saat keadaan sekitar yang harus dihadapi berubah. Malu dalam hal ini adalah suatu sikap yang muncul sebelum melakukan suatu perbuatan buruk dan tipe ini merupakan ciri kepribadian yang muncul secara stabil sewaktu-waktu dan tergantung situasi yang dihadapi.

Sudut Pandang Neuroscience

Pusat malu di bagian 'pregenual anterior cingulate cortex' yang berada jauh di dalam otak yakni sebelah kanan depan. Fungsi lain dari bagian otak ini yaitu mengatur detak jantung dan pernapasan, emosi, perilaku kecanduan dan pengambilan keputusan.

Maka dari itu, pada orang yang otaknya sehat, ketika merasa malu bagian otak ini akan berfungsi maksimal. Rasa malunya akan membuat tekanan darah menjadi naik, detak jantung meningkat atau terjadi perubahan napas.

Tapi pada orang yang memiliki rasa malu yang rendah seperti pada penderita Alzheimer atau demensia (pikun), otak di bagian ini ukurannya lebih kecil dari biasanya.

Mereka umumnya menjadi lebih acuh terhadap hal-hal yang menurut orang memalukan karena bagian otak 'pregenual anterior cingulate cortex' seperti “dibutakan” terhadap rasa malu. "Bila Anda kehilangan kemampuan otak di daerah ini, Anda akan kehilangan respons rasa malu," kata Virginia seperti dikutip Live Science.

Para ilmuwan meyakini bahwa semakin besar wilayah otak tertentu maka semakin kuat kerja otak yang terkait dengan fungsinya itu. Sehingga, di tegaskan bahwa rasa malu itu muncul dalam bentuk sikap meninggalkan perbuatan jelek, dan perbuatan dzalim.

Malu merupakan emosi bawaan manusia yang terhubung dengan rasa bersalah, kesombongan, dan kesadaran diri. Rasa malu membawa perilaku manusia kepada depresi dan anti-sosial.

Seseorang yang mengalami rasa malu berarti ia sedang mengalami konflik dalam dirinya, yaitu konflik karena dirinya melakukan negoisasi nilai antara kenyataan dan naluri, jika naluri dan kenyataan itu tidak selaras, maka terjadilah konflik dan timbul rasa malu.

Bila kita bertanya kepada orang di sekeliling kita mengenai “Apa yang paling ditakuti?”, maka sebagian besar akan menjawab “Berbicara di depan umum.”

Sifat malu ini akan menghalangi seseorang untuk mendapatkan banyak pengalaman berharga dalam hidupnya serta akan membuat orang menghindar dari interaksinya dengan orang banyak, khususnya orang yang tidak dikenal.

Sebaliknya, orang yang sama sekali tidak memiliki sifat malu seperti ini berarti tidak memiliki batasan dalam berinteraksi dengan orang lain dalam kata lain ia tidak memiliki kontrol dalam berbicara.

Maka, hal ini dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk hadits “Segala yang berlebihan itu tidak baik.” Di kala seseorang merasa tidak nyaman dalam suatu kondisi tertentu, maka kepercayaan dirinya akan hilang dan pada saat itu ia merasakan malu.

Sifat malu ini dibentuk dari lingkungan keluarganya. Di saat seseorang hidup dalam lingkungan keluarga yang kurang harmonis, anak akan merasa bahwa kesalahan merekalah yang membuat keluarga menjadi tidak harmonis.

Selain itu, hal ini juga bisa disebabkan oleh sikap orang tua yang terlalu kritis atas setiap tingkah laku anak dan juga terlalu peduli atas apa yang dipikirkan orang lain atas keluarganya.

Inilah yang kemudian menjadikan kepercayaannya hilang dan mengakibatkannya menjadi malu dalam banyak hal, khususnya dalam berinteraksi dengan masyarakat. Sifat malu juga memiliki keterkaitan yang erat dengan embrasment atau yang biasa kita sebut dengan perilaku malu-maluin.

Salah satu perilaku embrasment yang sering kita jumpai dalam lingkunagn kita adalah seseorang melakukan sesuatu yang tidak diharapkan dan hal tersebut menarik perhatian banyak orang, seperti perempuan yang tertawa terbahak-bahak di area umum padahal dalam islam telah ditegaskan bahwa suara wanita adalah aurat.

Jadi, sudahkah kita memupuk malu karena iman? Atau selama ini, malu kita bukan kata tunggal, melainkan kata dua sejoli yang dibubuhi –in "malu-maluin’"