Stop Memuji Diri Berlebihan!

Oleh: Annisa Adabina

Ketika kita bisa memuji sesuatu dengan melibatkan Allah, kenapa tidak kita lakukan?

Bukankah sesuatu yang ada disekeliling kita sumber utamanya dari Allah?

Beberapa waktu lalu banyak pembahasan mengenai Penyakit ‘Ain di dunia maya, padahal penyakit ‘Ain ini sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Penyakit ‘Ain ini nyatanya ada di sekeliling kita, karena penyakit tersebut bukan hanya menyerang benda hidup atau makhluk hidup saja, tetapi bisa juga kepada benda mati.

Penyakit ini lebih berbahaya dibandingkan penyakit yang tampak kasat mata, karena yang bisa mengendalikan penyakit ini adalah mata dan hati kita yang setiap hari digunakan dan tidak bisa lepas dari itu. Penyakit ‘Ain ini pun bisa menjadi penyakit hati yang sangat merugikan diri sendiri dan orang-orang di sekelilingnya.

Penyakit ‘Ain berasal dari pandangan seseorang atas dasar suka, kemudian diiringi dengan rasa dengki (Ibnu Hajar-Kitab Fathur Bari). Penyakit ‘Ain pun dibagi menjadi dua, yaitu ketika pendangan yang disertai dengan kekaguman dan dari pandangan yang disertai dengan rasa hasut. “Ain itu benar-benar ada, andaikan ada sesuatu yang mendahului takdir, sungguh ain itu bisa(HR. Muslim no. 2188).

Dalil pandangan hasad bisa menyebabkan ‘ain adalah surat Al Falaq. Al Lajnah Ad Daimah menjelaskan:

Bahkan Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan dari orang yang hasad, “… dan dari keburukan orang yang hasad(QS. Al Falaq: 5). Maka banyak dari mereka yang menjadi penyebab dari penyakit ain adalah orang yang hasad, namun tidak semua orang yang hasad itu menimbulkan ‘ain” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271).

Apa benar penyakit ‘Ain ini bisa menyebabkan orang meninggal?

Gangguan dari penyakit Ain ini sendiri bisa berupa penyakit, kerusakan bahkan terjadinya kematian. Dari Jabir bin Abdillah RA, Nabi SAW bersabda: “Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ‘ain(HR Al Bazzar dalam Kasyful Astar (3/404), dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’no1206).

Suatu kisah ada seorang kholifah, yaitu kholifah sebelum Umar bin Abdul Aziz yang meninggal karena penyakit ‘Ain, ketika itu hari jumat dan beliau memakai baju bagus ingin melaksanakan sholat jumat dan memakai sorban yang bagus pula, lalu ia bercermin.

Ketika sedang bercermin beliau takjub dengan dirinya sendiri dan mengatakan “Ana malikun Syar” yang artinya “Saya ini raja yang muda banget nih”. Setelah itu berangkat sholat dan ketika pulang sholat dari masjid beliau sakit lalu meninggal saat malam tiba.

Penyakit ‘ain ini adalah penyakit ketika kita memuji diri sendiri, kemudian ada setan yang  lewat dan mendengar perkataan kita. Karena sifatnya yang dengki, setan selalu merasa cemburu kepada siapapun yang merasa lebih darinya.

Mengutip Kisah Sahl bin Hunaif dan ‘Amir bin Rabi’ah

Adapun dalil bahwa pandangan mata kagum bisa menimbulkan ‘ain pada orang yang dikagumi, adalah hadits panjang riwayat Imam Malik tentang Sahl bin Hunaif yang dilihat dengan penuh kekaguman oleh Amir bin Rabi’ah radhiallahu’anhuma. Dari Abu Umamah bin Sahl, ia berkata:

“Suatu saat ayahku, Sahl bin Hunaif, mandi di Al Kharrar. Ia membuka jubah yang ia pakai, dan ‘Amir bin Rabi’ah ketika itu melihatnya. Dan Sahl adalah seorang yang putih kulitnya serta indah.

Maka ‘Amir bin Rabi’ah pun berkata: ‘Aku tidak pernah melihat kulit indah seperti yang kulihat pada hari ini, bahkan mengalahkan kulit wanita gadis’.

Maka Sahl pun sakit seketika di tempat itu dan sakitnya semakin bertambah parah. Hal ini pun dikabarkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, “Sahl sedang sakit dan ia tidak bisa berangkat bersamamu, wahai Rasulullah”.

Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pun menjenguk Sahl, lalu Sahl bercerita kepada Rasulullah tentang apa yang dilakukan ‘Amir bin Rabi’ah. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Mengapa seseorang menyakiti saudaranya? Mengapa engkau tidak mendoakan keberkahan? Sesungguhnya penyakit ‘ain itu benar adanya, maka berwudhulah untuknya!”.

‘Amir bin Rabi’ah lalu berwudhu untuk disiramkan air bekas wudhunya ke Sahl. Maka Sahl pun sembuh dan berangkat bersama Rasulullah, (HR. Malik dalam Al-Muwatha’ [2/938] dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah [6/149]).

Sehingga Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

Orang yang memandang dengan pandangan kagum khawatir bisa menyebabkan ‘ain pada benda yang ia lihat, maka cegahlah keburukan tersebut dengan mengucapkan: Allahumma baarik ‘alaih (Ya Allah berikan keberkahan kepadanya)(Ath Thibbun Nabawi, 118)

Ketika kita kagum terhadap sesuatu dan tidak menggunakan adab dan tata cara yang harus disertai dengan menyebut nama Allah dan menyertakan doa yang baik di setiap perkataannya.

Jika kita ingin menceritakan suatu kenikmatan (tahadus ni’mah) maka berceritalah dengan orang yang kita percaya agar terhindar dari bahayanya hasud dan doa-doa buruk.  

Memahami Pandangan Yang Disertai Dengan Rasa Hasad

Hasad adalah orang yang merasa berat ketika orang lain mendapatkan nikmat dari Allah, baik berupa kekayaan, ilmu ataupun dicintai orang banyak dan bagian baik lainnya, sehingga akan timbul rasa senang terlepas nikmat tersebut dari orang itu walaupun ia tidak akan mendapatkan sesuatu dari hilangnya nikmat tersebut.

Salah satu kisah yang bisa kita pelajari adalah dalam surat al-Kahfi ayat 32-42, di mana Allah mengaruniai yang ingkar dengan dua kebun. Al-Quran menyebutkan tentang dua kebunnya sebagai berikut:

Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar.” (QS: al-Kahfi | Ayat: 32-34).

Orang ini memiliki dua buah kebun anggur, dan terdapat pohon pohon kurma mengelilingi kebunnya sebagai pagar. Di Antara dua kebun itu ada ladang. Allah alirkan air ke kebun itu, dan ketika panen ia merasakan limpahan anggur, kurma dan hasil ladang. Ia sangat kaya dan menikati hasil panennya tersebut.

Dengan penataan kebun yang luar biasa ini, ia pun sangat bangga, ia bisa memiliki ilmu dalam mengatur dan memaksimalkan lahannya dengan baik. Ia bisa menggabungkan tanaman yang berbeda dengan susunan rapi dan irigasi yang sangat baik, tak lupa pula dengan perawatannya.

Dengan itu ia bisa panen maksimal. Ia pun masuk ke dalam kebun yang congkak, padahal ia menzhalimi dirinya sendri, ia ingkar dengan anugerah yang menciptakannya, dan sombong kepada orang lain.

Dalam surah ini dikisahkan ada sahabat yang salah satu diantaranya adalah pemilik kebun yang luas dan bagus, sedangkan yang lain tidak memiliki kebun. Salah satu sahabat (pemilik kebun) tersebut dengan bangga menyombongkan dirinya, maka ia pun terkena penyakit ‘ain. Penyakit ‘ain ini berasal dari pandangan mata yang disertai dengan rasa hasad.

Penyebab utama terjadinya penyakit ‘ain ini adalah pikiran negatif, karena penyakit ini merupakan salah satu kejahatan yang dipicu oleh rasa iri manusia. Dipengaruhi setan dan memuji tanpa melibatkan Allah SWT yang telah menciptakan bumi dan seisinya.

Tetapi manusia ini dapat melindungi diri mereka sendiri dari efek penyakit ‘ain jika mereka percaya terhadap Allah SWT dan mencari perlindungan-Nya. Cara mengobati penyakit ini adalah bertawakal kepada Allah.

Penyakit ini pun dapat ditanggulangi dengan cara menuntun siapapun yang terpukau atas sesuatu yang mengucapkan doa keberkahan atas sesuatu tersebut. Selain itu penyakit ‘ain ini bisa disembuhkan dengan ruqyah sesuai dengan syariat.

Maka dari itu kita wajib menjaga pandangan dan hati kita ketika akan menilai seseorang dan memuji seseorang. Karena sesuatu yang kita ucapkan akan berdampak bagi kita dan lingkungan sekitar.