"Ngaku Lepat": Makna Di balik Kudapan Khas Lebaran

Oleh: Uun Zahrotunnisa

Sebentar lagi, umat Islam akan menyongsong hari kemenangan sebagai buah dari berpuasa satu bulan penuh. Seluruh umat muslim diwajibkan untuk menahan diri dari makan dan minum serta nafsu syahwat dari terbitnya fajar hingga tergelincirnya pada waktu maghrib.

Hari kemenangan yang kita kenal sebagai Hari Raya Umat Islam ini akrab disebut sebagai lebaran. Hari kemenangan akan membawa kebahagian bagi setiap jiwa umat Islam.

Bukan perkara menantikan kedatangannya akan tetapi proses setelah lamanya berpuasa satu bulan penuh, yang akan diakhiri dengan sholat Eid sebagai pensucian diri seperti layaknya bayi yang baru saja dilahirkan dari rahim sang Ibu ke dunia.

Tradisi lebaran di Indonesia yang kita kenal memiliki banyak macam, mulai dari mudik, bersilaturahmi, halal bihalal, bagi-bagi THR, pakaian baru, dan tak kalah ketupat menjadi salah satu makanan yang identik dengan perayaan hari lebaran.

Kalau beberapa tradisi tersebut saat ini masih dilarang oleh pemerintah demi menekan pertumbuhan jumlah kasus yang terpapar covid-19, maka masih ada beberapa tradisi yang tidak kalah populernya bahkan dinilai “penting” esensinya yaitu kupatan.

Makanan yang satu ini menjadi populer saat umat muslim akan merayakan kemenangan setelah melewati bulan Ramadhan. Makanan tersebut tidak lain adalah ketupat, berasal dari kata kupat atau dalam bahasa Indonesia merupakan nama benda. Sedangkan tradisi yang diadakan adalah Kupatan, yang merupakan bentuk kata kerja dari kata kupat.

Ada banyak makna yang terkandung dalam jenis makanan ini saat dihubungkan dengan sejarahnya sampai dijadikan kudapan khas di hari raya. Ketupat secara umum merupakan makanan yang berbahan dasar beras yang di bungkus oleh daun kelapa muda atau dalam bahasa jawa disebut “janur”. Berbentuk persegi dengan sisa daun anyaman yang menjulur diatas dan bawah.

Cara memasaknya adalah dengan merebusnya selama kurang lebih lima jam. Beras, santan, dan daun pandan sebelumnya telah dimasak dalam panci selama tiga puluh menit, namun tidak sampai matang (di karu= bahasa jawa) untuk kemudian menjadi isian anyaman ketupat.

Fungsi daun pandan adalah memberikan aroma sedap dan gurih pada ketupat. Karena janur mudah layu maka selama memasak beras hendaknya janur di rendam dalam air. Ketupat biasanya disajikan dengan sayur mayur seperti opor ayam, rendang, maupun sate.

Sejarah ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, yakni seorang wali kesembilan (waliyullah) di Jawa pada abad ke-15 sampai 16 M. Sehari pasca lebaran idul fitri, akan ada istilah yang tidak asing yaitu bakda kupat.

Mengapa identik dengan makanan ketupat? Dahulu, ketika seseorang melakukan aktifitas sehari-hari demi mencapai tujuan hidup, maka apa saja yang dirasa benar akan dilakukan.

Terkadang seseorang juga sampai menghiraukan kepentingan orang-orang disekitarnya, baik sanak saudara sampai tetangga. Hal tersebut tak pelak membuat sakit hati bahkan kemarahan berujung kebencian.

Ketupat dijadikan sebagai simbol dari perasaan tulus untuk meminta maaf, lantas setiap bagian dalam ketupat memiliki makna unik. Mulai dari bahan utamanya yakni beras dan janur.

Beras berarti simbol nafsu manusia dan janur sebagai cahaya kebenaran dalam bahasa jawa “jatining nur”.  Maka keduanya dimaknai manusia sebagai makhluk yang harus bisa mengendalikan nafsu dunia dengan hati nuraninya.

Apabila di Sunda, ketupat disebut “kupat” atau artinya orang yang tidak diperbolehkan untuk “ngupat” atau mengumpat kepada satu sama lain. Ketupat atau kupat diartikan sebagai jarwa dhosok yang berarti “ngaku lepat”, mengandung pesan bahwa kepada sesama manusia kita harus sama-sama memaafkan ketika satu sama lain saling menemukan dan pernah berlaku salah.

Karena bentuknya yang terdiri dari empat sisi ketupat juga melambangkan pengakuan hamba atas adanya Zat pencipta (Allah SWT) dengan kewajiban manusia terhadap-Nya.

Makna filosofis yang terkandung lainnya adalah terletak pada anyaman janur, bersilangan sampai membentuk empat sudut tanpa celah, hal ini diyakini sebagai representasi kesalahan manusia.

Kemudian isian ketupat yakni beras yang ditanak hingga menjadi nasi memiliki arti manusia sebagai cermin makhluk Allah SWT yang paling sempurna, sehingga harus mencerminkan ke- kafahan dan kesuciannya dengan saling memafkaan.

Warna hijau kekuningan pada anyaman janur melambangkan penolakan atas bencana (tradisi tolak balak) yang diakibatkan karena kekhilafan. Santan kelapa merupakan lambang dari permintaan maaf, dalam bahasa jawa biasanya seseorang akan mengatakan satu kalimat sembari berjabat tangan yaitu “kulo lepat nyuwun ngapunten” artinya “saya salah, sudi kiranya memafkaan”.

 Di Jawa, kalangan sesepuh (orang lanjut usia) meyakini bahwa menggantungkan ketupat di gagang pintu atau tiap sudut rumah merupakan wujud penghormatan bagi anggota keluarga yang sudah meninggal dunia, sekaligus untuk mencegah guncangan roh jahat.

Biasanya Ketupat juga dibagikan ke sanak saudara, kerabat sampai ke tetangga. Cara menikmati ketupat dari berbagai macam daerah memiliki keistimewaan masing-masing.

Di Jawa Barat ketupat biasanya disajikan dengan tahu yang dibumbui sehingga disebut kupat tahu, Jawa Timur terdapat hidangan pelengkap ketupat yakni orem-orem.

Di Sumatra ketupat disebut sebagai katan kapau dan biasanya di konsumsi dengan rendang. Kalimantan memiliki nama unik yakni ketupat kandangan. Ketupat satu ini dikonsumsi dengan sayur ikan gabus.

Disebut sebagai ketupat kandangan karena di Kalimantan terdapat daerah penghasil ikan gabus yang bernama Kandangan. Ketupat Kandangan sekaligus menjadi ikon kuliner kota Banjarmasin.

Secara makna telah jelas disampaikan esensi dari ketupat dengan perayaan hari raya Idul Fitri, lantas bagaimana istilah lebaran itu dikenal? Ngaku lepat atau dalam bahasa Indonesia berarti sadar kesalahan, sebagai interpretasi dari ketupat ngaku lepat juga bisa diartikan laku papat (empat perilaku).

Konon istilah lebaran merupakan satu istilah yang diambil dari laku papat yang berarti simbol tuntasnya kewajiban sebagai umat Islam dalam menjalankan ibadah selama bulan ramadhan seperti puasa, tarawih, iktikaf, zakat.

Tiga diantaranya adalah, Luberan yang bermakna banyaknya karunia yang Allah SWT berikan kepada makhluknya sehingga kiranya itu dibagikan kepada sesame, maka hal ini dapat mencerminkan wujud manusia sebagai khairul Ummah.

Selanjutnya yakni Leburan bermakna meleburnya kesalahan yang di implementasikan dengan adanya silaturahmi. Terakhir adalah Laburan bermakna memutihkan atau mensucikan diri dan sekaligus pengingat untuk selalu berperilaku baik.

Jadi, dengan tradisi kupatan maka diharapkan hal ini dapat memberikan pesan kepada masing-masing pribadi untuk selalu memafkaan satu sama lain, dan hendaknya mencerminkan perilaku yang baik.

Lebaran dimaknai sebagai hari dimana Allah SWT memberikan pengampunan seluas-luasnya dan mengembalikan manusia kedalam keadaan yang fitrah. Dapat dimaknai setelah dibersihkannya dari segala dosa maka dengan mudah kita menorehkan kesalahan baik disengaja maupun tidak. Selalu berhati-hati dalam berkata maupun bertindak adalah suatu keniscayaan.