Mawas Diri Di Hari Yang Fitri

 


Oleh: Sylvia Rizky Anissa Noviana

Tok tok tok. Assalamu’alaikum . . .

Mumpung masih suasana lebaran nih, aku punya pantun.

Makan nasi lauk ikan kakap

Ikannya mancing dari lautan

Jika ada salah kata dan sikap

Mohon untuk dimaafkan

cakeppppp….

Lagi nih …

Ketupat opor di hari Raya

Makan sendiri di porsi besar

Hai, cuma mau nanya

Kamu yang baca “apa kabar?”

Apa kabar teman - teman semua? Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal afiat dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Saat ini kita sedang memasuki bulan Syawal yang artinya kita sedang merayakan Hari Raya Idul Fitri. Setelah melewati bulan Ramadhan, apa aja sih yang sudah kita dapatkan? Yuk kita ulas bareng yaa...

Kehidupan adalah suatu fase yang tak menentu, seseorang dapat datang dan pergi silih berganti tak mengenal waktu, begitupun dengan perasaan. Terkadang kita bahagia, bersedih, atau bahkan bahagia dan bersedih di waktu yang bersamaan.

Seperti saat Ramadhan pergi meninggalkan kita. Hati ini dirundung kesedihan karena Ramadhan telah berlalu, namun juga bahagia karena hari kemenangan telah tiba. Hari ini menjadi saksi bisu bahwa kita telah lulus ujian kesabaran dan menahan hawa nafsu selama berpuasa di bulan yang suci.

Banyak sekali hikmah dan pelajaran yang kita dapatkan dari bulan ini. Salah satunya adalah meningkatkan kesabaran dalam segala hal, saat menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, serta menahan hawa nafsu selama berpuasa ataupun setelah berbuka. Tanpa disadari Ramadhan mengajarkan kita untuk peduli terhadap sesama, seperti berbagi takjil, sahur, dan tolong - menolong dalam penyelenggaraan kegiatan selama bulan Ramadhan.

Ramadhan juga mengajarkan arti bersyukur atas karunia dan rezeki yang Allah SWT berikan. Setelah menahan lapar dan dahaga selama berpuasa, apapun menu berbuka yang terhidang di atas meja menjadi sangat nikmat saat kita santap. Gelas pertama setelah berbuka pun akan menumbuhkan perasaan bahagia dalam hati, apalagi jika berbuka bersama keluarga. Suapan pertama juga demikian, momen ini menjadi sangat berharga dan tak akan kita temukan selain di bulan Ramadhan. Kebersamaan dan kesederhanaan inilah yang patut kita syukuri adanya.

Kewajiban lainnya di bulan Ramadhan adalah mengeluarkan zakat fitrah sebesar 2,5 kg dalam bentuk beras. Hal ini menyadarkan kita bahwa dalam harta kita terdapat hak orang lain juga, dan merupakan bentuk kepedulian terhadap orang - orang yang membutuhkan agar dapat merasakan indahnya kemenangan di hari yang Fitri.

Hari kemenangan pun tiba setelah sebulan lamanya berpuasa, hari Raya Idul Fitri namanya. Diawali dengan pelaksanaan shalat Idul Fitri dua rakaat berjama’ah dan khotbah kemenangan, baik di masjid maupun tanah lapang. Namun sudah dua tahun ini sebagian besar umat Islam memilih untuk melaksanakannya di rumah masing - masing karena Covid - 19 masih merajalela. 

Uniknya setiap daerah memiliki cara dan tradisi tersendiri dalam merayakan Idul Fitri. Ada yang memakai baju seragam bersama keluarga, ada yang mudik, berkumpul bersama keluarga besar, menyantap masakan seperti opor atau rendang, atau bahkan ada yang menunggu hari ketujuh untuk menyantapnya.

Membuat kue lebaran juga menjadi salah satu tradisi masyarakat Indonesia dalam menyambut hari raya. Biasanya para ibu dan anak perempuan saling membantu membuatnya pada hari - hari terakhir di bulan Ramadhan. Kue ini yang akan menjadi hidangan bagi para tamu yang datang berkunjung ke rumah.

Sebenarnya kue - kue ini pun tak jarang dijumpai di pusat perbelanjaan, namun bagi sebagian orang membuat kue lebaran sendiri lebih melegakan hati. Meskipun lelah, namun melegakan hati. Banyak banget nih jenis kue lebaran, seperti nastar, kastengel, sus kering, atau bahkan yang berbau tradisional seperti keripik pisang, kembang goyang, keciput, dan masih banyak jenis lainnya. Jadi, kue lebaran apa nih yang ada di rumahmu?

Terlepas dari semua perbedaan ini, ada hal yang menjadi tradisi wajib setiap lebaran yaitu saling bermaaf - maafan. Lebaran menjadi momen haru yang dapat meluruhkan ego setiap orang dalam menggerakkan hati untuk meminta maaf ataupun saling memaafkan segala kesalahan, baik yang disengaja ataupun tidak.

Lebaran pun menjadi momen yang sangat bermakna bagi yang jarang bertemu, baik itu keluarga, saudara, teman, ataupun pasangan jarak jauh. Ada juga nih yang baru tau kalau ternyata mereka bersaudara di hari lebaran itu. Kamu termasuk tim ini nggak?

Menurut kamu nih, puasa sebulan lamanya itu butuh usaha keras nggak sih? Dan apa aja sih hikmah dan kebaikan yang kamu dapat dari Ramadhan?

Jawaban setiap orang pasti berbeda ya. Tapi ada satu hal yang harus sama, yaitu nggak melupakan semua yang sudah kita dapatkan. Gimana caranya biar nggak lupa? Dengan mengamalkannya dalam kegiatan sehari - hari. Ibaratnya nih kita merasa kesulitan mengerjakan matematika, lalu guru mengajarkan materi di kelas. Biar nggak lupa pasti guru bilang, “perbanyak latihan ya, perbanyak mengerjakan soal biar cepet bisa dan nggak lupa”. Bener kan teman - teman?

Ya, sama hal nya dengan hikmah dan kebaikan ini. Di atas tadi kita sudah mengulas berbagai macam hal yang kita lalui selama bulan Ramadhan. Banyak sekali hikmah, pelajaran, dan kebaikan yang kita dapatkan.

Beberapa hal tersebut bukan hanya kewajiban saat Ramadhan saja, melainkan menjadi kewajiban seumur hidup kita. Karena menghidupkan kehidupan itu dengan cara memperbaiki diri setiap detiknya. Semangat berbuat kebaikan!

Ternyata ada satu hal lagi nih yang harus kita ingat, jangan mengulangi kesalahan yang sama. Seandainya dosa kita dapat kita lihat banyaknya, pasti kita sangat berhati - hati dalam berperilaku. Ibaratnya nih saat Idul Fitri kita seperti terlahir kembali dalam keadaan yang fitrah karena saling bermaafan.

Apakah kita ingin melihat tumpukan dosa kembali? Sebagian orang akan berpikir, “ah kan tahun depan bisa ketemu Ramadhan lagi, ntar maaf - maafan lagi”. Alhamdulillah kalau dipertemukan dengan Ramadhan lagi, kalau nggak? Manusia memang tak luput dari dosa, namun sebaik - baik manusia yang banyak kesalahan dan dosanya ialah mereka yang bertaubat.

Bertemu dengan banyak orang seperti kerabat atau kawan lama merupakan suatu kenikmatan, namun jangan sampai lengah hingga menjadikannya ladang dosa kita. Kadang tanpa kita sadari celetukan dan bercandaan yang kita lontarkan membuat mereka tidak nyaman atau bahkan menggoreskan luka dalam hati.

Ada yang bilang, “loh kan fakta, aku ngomong apa adanya kok. Toh dianya juga biasa aja”. Banyak orang yang mudah berkamuflase dengan raut wajah dan respon yang baik - baik saja. Tapi apa saja yang tersirat dalam hati tak dapat disembunyikan dari Allah SWT.

Maka alangkah baiknya jika kita menjaga lisan kita agar terhindar dari dosa - dosa yang merugikan diri. Momen lebaran adalah momen yang sakral dan suci, jangan sampai momen ini ternodai oleh lisan yang tak dapat dikendalikan ini.

Momen lebaran adalah momen berbahagia, jangan sampai menjadi momen sedih yang akan dikenang sepanjang hidup kita. Tak ada yang bisa kita kendalikan kecuali diri sendiri. Oleh karena itu mari kita menjaga diri sendiri agar orang lain juga berhati - hati dengan dirinya.