Kotak-Kotak Perjuangan Palestina

Oleh: Hanifah ‘Urwatulwutsqo Rofi’ah

Akhir-akhir ini media masa dipenuhi berita mengenai penjajahan Israel di tanah Palestina. Hal ini tentu bukan hal yang tiba-tiba saja terjadi, namun kisahnya sudah bermula dari permulaan abad 20. Adapun kejadian terbaru yang akhirnya meletuskan gemuruh di berbagai belahan dunia adalah bermula dari penggusuran paksa warga Palestina dari wilayah Sheikh Jarrah, Yerussalem Timur.

Warga Palestina pun menggelar aksi solidaritas untuk penduduk Sheikh Jarrah, salah satunya digelar pada Masjid Al-Aqsha, pelaksanaannya bertepatan menuju akhir Ramadhan. Aksi itu akhirnya melahirkan sebuah serangan dari tentara Zionis Israel terhadap warga Palestina. Hal itu juga bersamaan dengan aksi Festival Jerussalem Day bagi Zionis Israel guna merayakan hari perampasan Al-Quds pada Perang Enam Hari 1967.

Ketegangan terus berlanjut, tentara Zionis bahkan melancarkan serangan pada jamaah Masjid Al-aqsha dengan peluru karet dan gas air mata. Bahkan pada hari selanjutnya, tentara Zionis juga melancarkan bom ke Gaza tanpa peringatan sebelumnya.

Serangan-serangan dari tentara Zionis Israel tentu membangkitkan aksi perlawanan dari Gaza. Kelompok militer yang mewakili Gaza pun melancarkan balasan atas serangan tersebut dan mengecam agar Zionis Israel menghentikan penyerangannya terhadap jamaah di Masjid Al-aqsha.

Sampai hari ini (20/5) serangan tehadap Masjid Al-aqsha memang sudah surut, namun terhadap Gaza masih terus dilancarkan. Bahkan Zionis Israel sempat membom salah satu bangunan media internasional di wilayah Gaza, yang mana hal ini tentu melanggar aturan perang, di mana media merupakan salah satu elemen yang dilindungi.

Terlepas dari semua kejadian yang terjadi belakangan, sebenarnya kondisi Palestina sudah terhimpit. Wilayah Tepi Barat, yang terdapat situs 3 Agama, terdapat di bawah kontrol dari tentara Zionis. Bukan hanya pada wilayah Masjid Al-aqsha yang sempat mengalami pembatasan, namun umat Nasrani juga sering dibatasi ketika memasuki Gereja Holy Sepulchre.

Sementara di wilayah Gaza, mereka hidup dibatasi dengan tembok apartheid. Tak jarang Gaza disebut sebagai penjara raksasa, yang seluruh perbatasannya diblokade dengan tembok raksasa, akses kepada air, listrik, dan sumber daya lain sangat terbatas, dan mereka hidup di bawah bayangan serangan yang dapat datang sewaktu-waktu.

Hal tersebut bukan hanya menyiksa fisik, namun juga mental. Semua ini menjelaskan bahwa kondisi Palestina di bawah penjajahan sudah teramat menderita, apalagi jika ditambahkan serangan-serangan terakhir yang meluluh lantahkan berbagai macam tempat dan bangunan. Banyak nyawa melayang, kehilangan tempat tinggal, kehilangan orang-orang terkasih. Begitulah sekiranya keadaan mereka.

Kurang lebih 73 tahun Palestina berada di bawah kungkungan penjajahan, tidak mengherankan jika akhirnya banyak melahirkan gelora pergerakan perlawanan atau pejuang kemerdekaan. Adapun saat ini ada dua gerakan atau organisasi yang dominan di Palestina, yaitu Hamas yang basis utamanya di Gaza dan Fatah yang berada di Tepi Barat. Semua pergerakan tersebut adalah sama-sama menuju pembebasan Palestina, hanya saja memang memiliki dasar cara bergerak yang berbeda.

Sisi menarik yang tidak apik dari kejadian ini adalah munculnya berbagai pandangan mengenai perjuangan pembebasan Palestina. Indonesia sendiri semenjak merdeka berada dalam posisi yang konsisten dalam menentang penjajahan, yang juga tertuang dalam konstitusinya. Sehingga posisi dalam kasus Palestina-Israel ini pun, Indonesia berada dalam posisi memihak untuk menghentikan penjajahan Israel atas Palestina.

Bahkan salah satu wujud konstitensi menentang penjajahan tersebut diwujudkan dengan tidak mengakuinya kedaulatan Israel sebagai negara dan tidak menjalin hubungan diplomatik dengannya. Hal tersebut adalah bagaimana sikap Indonesia dari segi tatanan pemerintahan.

Adapun sikap dalam tatanan masyarakat pada umumnya tidak jauh berbeda, karena tentunya sikap masyarakat juga mengikuti bagaimana konstitusi negaranya berbicara dan juga masyarakat dan pemerintah adalah elemen yang saling memengaruhi. Secara umum, dapat dilihat bahwa masyarakat Indonesia saat ini masih lebih banyak yang menentang penjajahan Zionis Israel terhadap Palestina.

Secara berkala, perjuangan pembelaan Palestina perlahan mengalami pergeseran. Pada awal mula Indonesia berdiri, perjuangan dengan dasar nasionalisme terasa lebih kental. Bahkan perjuangan pembelaan tersebut sampai meja Konferensi Asia-Afrika yang memiliki misi mewujudkan perdamaian dunia dan menghapuskan kolonialisme, dimana salah satu bahasannya kala itu adalah mengenai Palestina.

Hari ini titik berdiri itu sedikit mengalami perubahan. Tanpa mendiskreditkan konstitensi politik luar negeri Indonesia dalam menentang penjajahan, di tatanan masyarakat luas dapat dilihat bahwa perjuangan atas dasar nasionalisme terasa lebih memudar dan diiringi tone keagamaan yang terasa lebih menguat. Wujud bukti nyatanya adalah hadirnya kelompok yang mempertanyakan mengapa membela Palestina yang jauh di tengah kondisi Indonesia yang masih memiliki banyak masalah atau timbulnya pernyataan-pernyataan bahwa menjadi nasionalis seharusnya mengutamakan kondisi negara Indonesia terlebih dahulu.

Hal ini tentu tak selaras dengan perjuangan Indonesia sejak awal, menjadi nasionalis bukan berarti tidak peduli dengan kondisi negara lain. Dahulu sikap founding father Indonesia, di tengah kondisi negara yang masih banyak ketidaksatabilan pun terus berkontribusi dalam tatanan internasional. Bahkan dapat dikatakan Indonesia menjadi bangsa yang besar, karena kepeduliannya.

Adapun dari segi keagamaan memang tak dapat dipungkiri isu ini terasa lebih menguat. Hal ini tentunya tak dapat dilepaskan, di mana di Palestina tepatnya di Yerussalem Timur terdapat banyak situs suci bagi 3 agama. Di sisi lain, hal ini tak bisa dilepaskan dari penyempitan isu Palestina di kawasan. Saat dulunya isu ini dianggap isu bangsa Arab, namun hari ini bangsa Arab yang terpisah menjadi berbagai negara memiliki fokus masing-masing.

Sehingga lambat laun, ada penyempitan bahwa isu Palestina adalah masalah orang Palestina itu sendiri. Atau bahkan ada lagi yang merasa seolah Palestina hanya isu orang Islam. Semua itu akhirnya berkaitan dan akhirnya di Indonesia pun lebih banyak yang bersuara dari sisi ini, walau tidak menihilkan mereka yang juga berjuang atas dasar nasionalisme.

Lalu apabila kembali kepada ketidakpahaman akan amanat konstitusi, juga dapat mendorong banyaknya masyarakat Indonesia yang akhirnya tak peduli, dan menganggap ini hanya isu agama semata. Walaupun begitu, dapat dikatakan bahwa melihatnya dari segi keagamaan juga bukan suatu kesalahan.

Pada kenyataannya, isu Palestina memang bukan isu dengan satu sisi saja. Berbagai sisi semacam tujuan nasional Indonesia yang anti penjajahan, kebijakan luar negeri, isu kemanusiaan, isu keagamaan, dan sebagainya dapat digunakan untuk melihat kasus Palestina. Dan juga hal tersebut bukan hal yang harus dipilih, karena semuanya berkaitan dan berkesinambungan. Semua sisi tersebut dapat saling melengkapi dan menguatkan misi pembelan pembebasan Palestina dari penjajahan.

Pada kasus terbaru yang mencuat akhir-akhir, tak luput hadir pula segolongan yang salah fokus melihat. Ada yang justru menyorot kelompok-kelompok perjuangan di Palestina (semacam Hamas) lalu menuduhnya beraliran yang macam-macam, ada yang sibuk mengkritik mengenai pemberian donasi dan menganggapnya tak cukup membantu, atau menuding Palestina beraksi brutal, banyak yang memiliki aliran menyimpang, dan sebagainya. Pandangan-pandangan tersebut justru semakin memperkeruh suasana yang sebelumnya sudah kacau.

Jika tidak cukup mampu memahami area yang begitu rumit, cukup melihat kepada bagian yang lebih mudah dipahami. Kasus Palestina sudah jelas bahwa ini penjajahan, korban bergelimpangan di mana-mana, jutaan warga terusir, banyak anak tanpa dosa terbunuh, perempuan, anak-anak dan media yang harusnya dilindungi dalam perang juga tak luput dari korban serangan Zionis Israel, begitu banyak bangunan dan rumah dihancurkan, dan masih banyak lagi hal yang lebih mudah dipahami.

Bayangkan saja, dari satu orang ayah yang terbunuh, ada satu keluarga yang ditinggalkan, anak-anak dan istri yang harus dihidupi. Dari rumah-rumah yang dihancurkan, ada banyak orang kehilangan tempat tinggal, ada mental ketakutan sebab serangan dan hantaman misil atau persenjataan lainnya. Setidaknya hal ini dapat menarik simpati manusia, jika memang naluri manusia itu masih ada.

Melansir dari Aljazeera per 20 Mei 2021, di Gaza sekitar 230 orang terbunuh, dan di Tepi Barat dan Yerussalem Timur sekitar 25 orang. Total 68 anak terbunuh. Orang yang terluka di Gaza sebanyak 1710 serta di Tepi Barat dan Yerussalem Timur 6309 orang. Ada lebih dari 500 rumah hancur di Gaza.

Mereka bukan hanya sekadar angka tanpa nama, bukan angka tanpa harga. Setiap satu dari mereka pasti sangat berarti dan juga sama-sama manusia yang harus dihargai dan dilindungi hak hidupnya. Sudah banyak warga dari belahan dunia, menyatakan protes mengecam kekejaman perang yang dilakukan Zionis Israel.

Banyak titik di dunia menggelar demonstrasi, seperti di Los Angeles, Washington DC, Amman Yordania, Istanbul, Milan, Bologna Italia, Berlin, Ankara dan Istanbul, New York, Brooklyn, Doha, Tokyo, London, Lebanon, dan masih banyak lagi. Tak luput pula di Jakarta pun sudah menggelar aksi solidaritas ini. Tak justru sibuk memandang apa agamanya, alirannya, dan apa bangsanya, mereka bergerak atas dasar solidaritas kemanusiaan.

Di tengah kondisi yang sudah kacau, sudah seharusnya tidak semakin memperkeruhnya. Sekarang semua kembali pada diri masing-masing, mau membela dari sisi yang dimampuinya atau terlelap sibuk menilai dan mengotak-mengotakkan perjuangan yang ada.