Ketika Bicara Tentang Masa Muda

Oleh: Wahyu Munaini

Ketika bicara tentang anak muda pada akhirnya muda bukan dilihat dari umur, tetapi dari cara mereka menjalani hidup dan memandang kehidupan yang akan datang. Jelas kita bicara masa depan, bukan menawarkan masa lalu, bukan juga hari ini. Bicara anak muda tidaklah trending baru-baru ini, sepuluh atau dua puluh tahun lalu.

Bicara tentang anak muda sudah trending dari 1400 tahun yang lalu. Ada pepatah mengatakan  “pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan”. Jangan rubah kata-kata yang indah dan mendalam ini menjadi “Pemuda adalah pecundang masa depan”. 

Kenapa pecundang? karena kita tidak menetapkan persiapan apa-apa dari sekarang. Apa yang ingin kit lihat di masa yang akan datang? Ingin jadi seperti apa? Apakah ada progress yang lebih baik kedepannya?.

Masa depan tidak melihat diri kita sebagai perempuan atau laki-laki, dari anak siapa, kaya atau miskin. Masa depan adalah milik mereka yang mempersiapkan hari ini. Untuk mempersiapkan hari ini kita perlu mengubah mindset kita. Kenapa harus mindset? Karena dengan mindset, kita akan menciptakan dan menentukan masa depan.

Seperti yang dikatakan oleh Margaret Thatcher, dia adalah seorang perdana menteri perempuan pertama Inggris. “Watch you thoughts, for they become your word. Watch your word for they become your actions. Watch your actions for they become your habit. Watch your habit for they become  your character. Watch your character for they become  your destiny. In other word what you think  you become”.

Perhatikan apa yang kita fikirkan karena dia akan keluar  menjadi ucapan, sebuah untaian kata-kata. Perhatikan ucapan kita, karena jika kita ulang terus-menerus dia  akan keluar menjadi tindakan.

Perhatikan tindakan kita, karena jika terus kita lakukan akan menjadi kebiasaan kita. Perhatikan  kebiasaan kita, karena dari kebiasaan itu akan menjadi sebuah karakter. Perhatikan karakter kita, karena  suatu saat akan menjadi takdir kita.  Dengan kata lain, apa yang kita pikirkan itulah takdir kita.

Pada intinya, dengan apa yang kita fikirkan bisa berubah menjadi sebuah takdir. Seperti ketika menginginkan sesuatu, hal itu pasti akan membuat kita memikirkannya terus-menerus, dan tanpa kita sadari hati pun jiwa akan mendorong kita untuk melakukannya.

Urusan kun fayakun itu urusan yang Maha Kuasa, Sang Maha Iradah. Janganlah terburu-buru katakan takdir. Usaha dulu yang maksimal, ikhtiar dulu yang maksimal, juga Do’a yang maksimal. Letaknya takdir  itu pada batas maksimal dari usaha juga Do’a.

Jika ada yang mengatakan bila hasilnya seperti ini, berarti inilah takdirnya. Dapat disimpulkan bahwa hal itu menunjukkan bagaimana dia berpikir terlalu realistis, akan dengan mudah dipengaruhi oleh lingkungan, bukan sebaliknya.

Ada 3 hal diluar kendali kita yakni, masa lalu, masa depan dan pemikiran orang lain terhadap kita.

Manusia adalah sosok yang sangat kompleks. Dia memiliki masa lalu, masa sekarang, dan juga masa depan. Dari semua waktu, akan selalu ada aspirasi dan pengharapan, kemarahan, kekecewaan, identitas, sifat, maupun lingkungan yang membentuk diri dan konsep diri yang bisa berasal dari dalam maupun dari stereotip yang dia tangkap selama hidup.

Sebagai seorang muslim, kita dapat melihat bagaimana hubungan manusia dengan Tuhannya juga sama kompleksnya. Konsep tersebut tidak akan pernah tamat, jika kita ingin menggalinya hingga dalam.

Banyak anak muda di luar sana, mengerjakan sesuatu yang ingin mereka perbuat. Spirit yang ingin mereka bagi kepada sekitar adalah bagaimana mereka menjadi diri sendiri.

Tentu mereka adalah anak-anak muda hari ini yang telah memiliki cara berpikir berbeda, terbuka, dan global. Terutama bagaimana mempunyai network yang baik dan kesempatan yang lebih baik pula.

Berbicara tentang anak muda, sudah saatnya mereka sangat aware dengan apa yang terjadi dan mereka mempunyai cara dengan pemikiran-pemikiran yang keren. Banyak anak muda yang melakukan sesuatu yang bukan dari simbol-simbol moral atau apapun.

Alquran dengan indahnya telah memberikan kisah teladan para pemuda gua (ashabul kahfi) yang terkenal kokoh iman dan teguh pendirian dalam memegang prinsip kebenaran.

Allah SWT memujinya dalam ayat, yang artinya, "Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhannya, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka(QS Al-Kahfi [18]: 13).

Teladan pemuda idaman juga telah dipertunjukkan oleh Nabi Ibrahim ketika masa remajanya. Seperti tertera di dalam kalam-Nya, artinya, "Mereka menjawab, 'Kami mendengar seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini, yang bernama Ibrahim(QS Al-Anbiya [21]: 60).

Rasulullah SAW memberikan jaminan keselamatan di hari akhirat kelak, antara lain, kepada pemuda yang menghabiskan masa mudanya untuk beribadah kepada Allah SWT, pemuda yang gemar melakukan aktivitas ibadah di masjid, dan pemuda yang sanggup menahan gejolak nafsunya manakala berhadapan dengan godaan syahwat perzinaan.

Mengingat betapa besar sumber daya potensi sekaligus emosi yang dimiliki pemuda, maka sepantasnyalah sebagai pemuda berusaha menjadi  pemuda idaman yang mulia menurut pandangan Allah SWT.

Seperti yang disampaikan oleh Rasulullah dalam pesannya “Aku pesankan agar kalian berbuat baik kepada para pemuda, karena sebenarnya hati mereka itu lembut. Allah telah mengutus aku dengan agama yang lurus dan penuh toleransi, lalu para pemuda bergabung memberikan dukungan kepadaku. Sementara para orang tua menentangku.

Sahabat Ibnu Abbas pernah menyatakan, ''Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan pemuda. Dan seorang alim tidak diberi ilmu pengetahuan oleh Allah melainkan di waktu masa mudanya.''

Kini saatnya memunculkan generasi muda idaman berkarakter ashabul kahfi, berakidah Ibrahim, pecinta sifat-sifat mulia para Nabi.

Dengan demikian, para pemuda dan pemudi mempunyai kriteria yang jelas dalam mengidolakan seseorang. Sehingga, tak lagi membabi buta dalam menentukan seseorang yang akan ditiru dan diikuti tingkah lakunya. Karena pada hakikatnya, di sisi Allah SWT mereka yang menjunjung nilai keimanan dan ketakwaan sajalah yang layak menjadi idaman setiap insan.

Ketika bicara tentang "muda" maka akan banyak tokoh-tokoh dari sahabat Nabi yang patut kita contoh. Seperti Amr bin Ash yang menjadi Gubernur di Afrika, atau Sa’ad bin Abi Waqash ketika setelah Nabi wafat beliau merantau ke China untuk menyebarkan Islam dan mulai mempelajari bahasa-bahasa China.

Dalam artian, sahabat-sahabat Nabi adalah orang-orang yang cerdas dan dapat belajar bahasa asing dengan cepat. Salah satunya sahabat Nabi yaitu Zaid bin Tsabit yang belajar bahasa Ibrani hanya dalam waktu 2 minggu, dan bahkan beliau juga belajar 6 bahasa lainnya.

Jadi, sebagai pemuda kita jangan hanya berfikir lokal, jangan puas disitu saja tetapi cobalah untuk melampaui level-level global. Kita punya cita-cita dan effort untuk itu.

Global Citizen, coba kita melihat pada zaman dahulu bagaimana akses masih sangat terbatas namun prestasi dan capaian mereka luar biasa. So, kenapa kita tidak? Dengan segala fasilitas-fasilitas yang ada dan dengan berbagai akses yang dapat kita jangkau.

Kita diciptakan sebagai “Rahmatan lil ‘Alamiin” yang jangan hanya puas pada satu titik, buatlah beberapa titik-titik yang dengan begitu akan menjadi sebuah garis. Dengan garis itu dapat menghubungkan antara garis satu dengan yang lainnya.

"Masa muda itu harus menjadi masa, di mana diri kita berjuang untuk sukses dan menghabiskan jatah kegagalan. Hingga nanti ketika usia tua, hidup kita sudah dipenuhi oleh berbagai pengalaman yang mensukseskan dan mendewasakan." - Edvan M. Kautsar.