Idolaku (Bukan) Rasulullah

Oleh: Hanifah ‘Urwatulwutsqo Rofi’ah

Sesuatu yang menarik dari bulan Ramadhan adalah adanya orang-orang yang makin giat menambah kegiatan ibadah, berupa meningkatkan target kuantitas juga kualitas ibadahnya.

Adapun saya, memilih mengisi Ramadhan salah satunya dengan membaca buku bergenre sejarah Islam. Saya akui, bukan main beratnya untuk mencoba membaca bacaan sejarah untuk seseorang yang dulunya sangat menghindari bacaan genre tersebut.

Sebuah buku yang sudah cukup lama saya beli namun hanya berakhir pada tumpukan buku dan tidak segera saya baca, menjadi target saya pada bulan Ramadhan kali ini. “Muhammad Al-Fatih 1453” yang ditulis oleh Ustaz Felix Siauw.

Berbekal tekad yang mencoba untuk tegak, halaman demi halaman seolah menyihir saya. Hingga pada satu kenyataan yang membuat saya cukup tertohok malu bukan kepalang.

Tidak lain adalah kenyataan bahwa tokoh utama dalam buku tersebut, Sultan Mehmed II atau dalam dunia Islam lebih dikenal sebagai Sultan Muhammad Al-Fatih adalah sesosok yang begitu mengidolakan Rasulullah.

Tidak ada yang salah dan bukan hal yang asing jika umat Islam mengidolakan Nabi akhir zaman, Rasulullah Muhammad SAW. Akan tetapi, perihal “idola mengidolakan” itu menyentakkan sebuah kenyataan dan membawa ingatan saya pada suatu momen di masa lalu.

Saat itu adalah saat saya mengikuti kegiatan wawancara untuk suatu organisasi kerohanian Islam di kampus. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah, “Siapa tokoh idolamu?”. Dengan mata berbinar, saya sebutkan beberapa tokoh terkenal dan juga influencer era ini, beserta alasan dan keunggulan tokoh-tokoh tersebut.

Jujur saja, saya tidak malu mengutarakan jawaban itu, toh orang-orang yang saya sebutkan juga cukup diakui sebagai orang yang baik. Namun, beberapa saat setelah saya selesai wawancara dan tidak sengaja mendengarkan seseorang sedang menjawab pertanyaan yang sama di belakang saya.

Jawaban orang tersebutlah yang membuat saya terpukul malu. “Saya mengidolakan Rasulullah Muhammad, karena bagi saya beliau ialah role mode terbaik dari seluruh zaman,” begitu kiranya yang ia ucapkan

Bermula dari kejadian itu, jika pertanyaan yang sama diajukan, maka tentu saya menjawab bahwa idola saya adalah Rasulullah, disertai keyakinan bahwa memang seharusnya idola bagi umat Islam adalah Rasulullah Muhammad SAW.

Pukulan telak kembali datang kemudian hari saat halaman demi halaman buku “Muhammad Al-fatih 1453” membawa saya hanyut di dalamnya. Bagaimana sesosok Sultan Mehmed II, Sultan dari Kesultanan Utsmani itu mengidolakan Rasulullah.

Mengidolakan baginya berarti mempercayai segala ucapannya. Hal ini tergambar bagaimana Sultan Mehmed II begitu yakin dapat menembus benteng kokoh Konstantinopel yang selama 1300 tahun lamanya tidak mampu ditembus pasukan manapun, keyakinan ini bersumber dari sebuah bisyarah rasulullah yang termuat dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal.

“Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”

Berkat keyakinan kepada hadist tersebut dan berbekal didikan ulama yang membentuknya untuk memantaskan diri agar pantas menjadi seorang yang dikabarkan Rasul dalam hadist tersebut, Sultan Mehmed II pun akhirnya mampu membuktikan kebenaran ucapan sesosok bergelar al-amin itu.

Bagi Sultan Mehmed II, mengidolakan adalah meniru rutinitas dan kebiasaan baik dari sang idola. Selaras dengan itu, ia menjadi seseorang yang tak pernah absen dalam shalat fardlu semenjak ia baligh, rutin menjalankan shalat rawatib (shalat yang mengiringi shalat fardlu), dan bahkan menjadi seseorang yang tak pernah melewatkan malam harinya tanpa menunaikan shalat tahajud.

Bagi seorang Al-Fatih Sultan Mehmed, begitu orang Turki mengenalnya, mengidolakan berarti memberikan kekuatan. Hal itu pula yang menjadikan Sultan Mehmed II sebagai seorang yang tak hanya memiliki keyakinan yang kuat, tapi juga menjadi seseorang yang teguh dalam menghadapi berbagai rintangan dalam menegakkan kalimat Allah di atas muka bumi, meski pun sepertinya keadaan berkata mustahil.

Tentu masih banyak sekali perwujudan Al-Fatih dalam mengidolakan Rasulullah. Namun, itu adalah beberapa di antaranya yang membuat saya tercengang.

Hal yang terdetak di benak saya kala itu adalah, “Apakah lantas ucapan saya mengidolakan Rasulullah hanya sebuah kebohongan? Apakah memang  saya tidak mengidolakan Rasulullah?

Saya tertunduk malu di hadapan barisan-barisan untaian kata yang disusun guru kami, Ustaz Felix Siauw, mengenai cara Sultan Mehmed mengidolakan rasulullah.

Bahkan lalu, saya merasa malu bukan hanya bagaimana Sultan Mehmed mengidolakan Rasulullah. Saya pasti juga akan merasa malu jika ada seseorang yang mengukur bagaimana saya mengidolakan Rasulullah, dan dibandingkan dengan cara teman-teman kalangan pecinta Korean idol melakukan perwujudan bentuk “mengidolakan”.

Jika dari kalangan teman-teman pecinta Korean idol rela melakukan apa saja demi idolanya, seperti mengorbankan waktu untuk melihat berbagai aktivitas sang idola, mengorbankan harta demi membeli album keluaran terbaru atau atribut fanbase lainnya, maka tentu saya belum berbuat sebanyak itu untuk Rasulullah SAW.

Jangankan mau mengorbankan waktu menghadiri berbagai kajian shirah nabawiyyah, melihat informasi kajiannya saja seolah ingin “auto skip”.

Jangankan mengorbankan harta demi membeli berbagai buku shirah nabawiyyah, kitab hadist, dsb, mengeluarkan seribu-dua ribu rupiah sedekah demi menyokong kemajuan dakwah agar dapat terus melanjutkan perjuangan Rasulullah saja begitu enggan.

Jika dari teman pecinta Korean idol begitu kuat membangun solidaritas kepada tokoh ‘bias’nya, saya bahkan masih belum bisa begitu vokal menyatakan pembelaan saya terhadap Rasulullah ketika beliau dituding dengan hal-hal yang tidak menyenangkan.

Maka sekali lagi, saya mulai menyadari bahwa saya rupanya tak benar-benar mengidolakan Rasulullah.

Tentu hal itu bukan dengan artian bahwa Rasulullah tak pantas diidolakan, tapi bersumber pada diri saya sendiri yang begitu lemah imannya untuk meneladani hal-hal baik Rasulullah, semua itu bermula dari kelemahan saya mewujudkan kecintaan padanya.

Apabila mengidolakan dapat diartikan lain, seperti mencoba meneladani, berupaya mencintai, dan berupaya meyakini segala ajarannya, meski belum dalam taraf sempurna (dalam meneladaninya). Maka, semoga saja saya masih pantas dikatakan sebagai golongan orang yang mengidolakan Rasulullah.

Bagi saya secara pribadi, mengidolakan Rasulullah barang tentu adalah wajib bagi setiap umat Islam. Bagaimana tidak?

Jika beliau adalah pembawa cahaya yang menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju terangnya cahaya Islam, ia manusia yang dijaminkan kemuliaannya oleh Allah, bahkan Allah beserta malaikat-Nya senantiasa bertasbih atas nama Rasulullah.

Beliau juga seseorang yang dijamin sempurna-bersih hatinya, ia pun diutus sebagai Nabi terakhir, sebagai upaya penyempurnaan akhlak mulia umat manusia, yang segala ajarannya akan selalu bisa sesuai bahkan untuk seluruh zaman.

Ia juga penerima mu’jizat yang dapat berlaku sebagai petunjuk utama manusia, yaitu al-quran. Maka, bagaimana bisa seorang muslim mengabaikan semua hal-hal tersebut?

Sehingga tentu saja, seharusnya Rasulullah adalah role mode, idola, idaman bagi setiap muslim untuk terus melakukan amalan-amalan baik, untuk terus hidup sebagaimana ajaran yang dibawanya.

Semoga, kita senantiasa menjadi golongan yang dapat terus mencintai Rasulullah, mengidolakannya melebihi makhluk yang lainnya, meski upaya kita belum sempurna.

Sehingga harapannya, upaya tersebut menuntun sempurnanya keyakinan kita pada rukun iman yang keempat. Lantas kelak menjadikan kita pantas, menjadi penerima syafaat dari Nabi Muhammad SAW, di yaumil hisab.