Hilangnya Esensi Memaafkan

Oleh: Hanifah ‘Urwatulwutsqo Rofi’ah

Ramadhan berlalu dengan cepat. Tidak peduli apakah umat manusia-umat Islam khusunya-, menjalaninya dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkannya atau hanya sekadar menjalaninya. Atau juga hanya membiarkan waktu berlalu begitu saja, itu tidak akan mengubah bahwa fakta Ramadhan akan tetap berakhir pada waktunya.

Sebulan penuh seorang muslim menahan haus dan lapar di waktu siang, juga diuji dengan menahan hal-hal buruk, tentu semua dilakukan agar puasa dapat ditunaikan dengan sempurna. Sedangkan di waktu malam bergelut dengan ibadah shalat malam, seperti shalat tarawih, witir, hajat, dan tahajud.

Pada siang maupun malam juga terus dipacu untuk melakukan berbagai amalan dan kegiatan kebaikan ini-itu guna tak menyia-nyiakan jaminan keberkahan yang diberikan dari bulan Ramadhan ini.

Tentu dalam melaksanakannya bukan hal mudah, baik ibadah wajib bulan Ramadhan atau hal-hal sunnah yang menyertainya, maka tak mengherankan apabila telah paripurna selesai bulan Ramadhan dan Syawal bersambut, Islam menyebutnya sebagai hari kemenangan.

Hari kemenangan, setidaknya memenangkan diri sendiri dari godaan nafsu, baik dengan mengupayakan menunaikan ibadah wajib dengan tuntas, terus giat menambah amal baik, menghindari hal buruk, dsb.

Maka hari kemenangan ini merupakan hari yang begitu membahagiakan. Selain diistilahkan dengan hari kemenangan, ia yang merupakan hari raya umat Islam ini disebut juga dengan hari raya ‘idul fitri.

Umat Islam akan memeriahkannya dengan suka cita, terkhusus di Indonesia biasanya diisi dengan saling berkunjung kepada sanak keluarga dan para tetangga. Hal ini dilakukan untuk menunaikan maaf agar dapat kembali dalam keadaan bersih.

Di sisi lain, harapan kemenangan itu tak hanya menang dari godaan yang ada di bulan Ramadhan saja. Karena tujuan hadirnya Ramadhan jelas bukan menjadikan manusia sebagai hamba Ramadhan, yang giat beribadah ketika Ramadhan dan mengabaikan bulan-bulan lainnya.

Pada hakikatnya Ramadhan hanya medan latihan, sementara pertempuran selanjutnya menanti pada 11 bulan lainnya. Harapannya tentu saja, bekal kebiasaan baik yang dibentuk pada bulan suci tersebut, senantiasa menjadi kebiasaan yang berkelanjutan bukan hanya sesaat saja.

Sehingga semoga benar, bahwa kita termasuk golongan orang-orang yang menang dan tetap kuat bertempur, terus melakukan amal baik pada Syawal hingga bertemu kembali dengan Ramadhan.

Maka pertanyaan semacam, “Apakah ketika Ramadhan berlalu, kita benar-benar menjadi pemenangnya? Apakah kita benar-benar telah memenangkan pertarungan pada diri sendiri selama bulan Ramadhan ini atau justru sebaliknya, kita yang tunduk pada nafsu dan kehendak diri?”

Tentu jawabannya hanya masing-masing pribadi yang tau. Lalu, semoga jawaban dari pertanyaan itu mengantarkan kita pada diri yang selalu ingin memenangkan pertarungan atas segala kebathilan.

Seperti yang sudah dinyatakan, bahwa momen ‘Idul Fitri biasanya dihiasi dengan saling memaafkan satu sama lain, baik dengan keluarga, saudara, tetangga, kolega, dan sebagainya.

Sayangnya, terkadang momen itu hanya dimaknai sebagai sekadar “momen”, hanya dimeriahkan karena itu yang biasa dilakukan, bukan benar-benar dilakukan dengan penghayatan dan kesungguhan.

Momen maaf-memaafkan kadang kehilangan esensinya. Tak jarang, kegiatan silaturahmi yang mulanya untuk menjaga hubungan kekerabatan, justru berganti ajang berbisik gosip sana sini.

Pertemuan antarsaudara justru membawa diri pada kesibukan membicarakan kesalahan sanak saudara atau rekan lainnya, hingga bukannya mengurangi dosa antar sesama, namun diam-diam malah memupuk dosa di sisi lainnya.

Atau momen ketika bertemu sanak saudara, mulanya saling bertanya kabar, tak lupa saling berjabat tangan saling menyampaikan maaf, namun di ujungnya dibumbui dengan berbagai macam kalimat-kalimat dengan tujuan menyakiti dan menghakimi agar diri sendiri terlihat lebih baik dari yang lainnya.

Maka, bukannya menghilangkan luka (kesalahan) antarsesama, namun jutru diam-diam memupuk bentuk luka lainnya. Meskipun dalam realita yang sering terjadi, memaafkan tak sama dengan melupakan kesalahan.

Namun, ketika sudah dalam upaya saling memaafkan, itu artinya juga dalam proses menerima, menerima bahwa mungkin pernah ada kesalahan seseorang di masa lalu, menerima dengan kelapangan hati mengenai yang terjadi, meski memang belum dapat melupakan keburukannya atau menyudahi rasa sakit saat mengingatnya.

Meski demikian, tidak menjadikan pembenaran untuk terus mengungkit-ungkit kesalahan. Tentu tak jarang kejadian yang sudah terjadi bertahun lalu misalnya, yang dikatakan sudah melalui proses saling memaafkan, namun esoknya kesalahan yang sama diungkit guna menyerang lawan bicara.

Maka begitulah, kadang hari raya yang dipandang sebagai hari saling memaafkan ini bisa kehilangan esensinya, karena “memaafkan” itu sendiri sudah kehilangan jati dirinya. Ya, kerapnya memaafkan menjadi sebuah kedustaan semata.

Berkaitan dengan memaafkan, itu bukan menandakan kelemahan seseorang. Memaafkan tidak menandakan seseorang kalah dari siapa yang dia maafkan. Hal itu justru menunjukkan bahwa ia telah mencapai kemenangan tertinggi dalam meluruhkan egonya, dan memilih untuk berdamai meski rasanya berat.

Begitulah memaafkan, ia pada sejatinya bukan tentang orang lain, namun tentang kedamaian dalam diri sendiri. Hari raya idul fitri yang begitu indah tentu menjadi sebuah waktu yang baik untuk saling memaafkan. Meski begitu, jangan menunggu satu momen untuk saling memaafkan, namun terus ciptakan momennya.

Mengenai memaafkan, ada satu kisah yang dapat diteladani, di mana kisahnya menandakan kedamaian dan ketundukan hati pemiliknya. Kisah ini tentu bukan kisah yang asing lagi, ini tentang upaya dakwah Rasulullah di luar Makkah, tepatnya di kota Thaif.

Beliau pergi bersama anak angkatnya yang bernama Zaid bin Haritsah menuju kota yang berjarak 60 mil dari Makkah tersebut. Upaya pertama saat tiba di Thaif tentu mendatangi dahulu pemuka kabilah guna mengenalkan Islam, namun pemuka kabilah tersebut menolaknya dengan perkataan yang tidak menyenangkan.

Rasulullah terus mencoba melakukan pendekatan dengan warga di sana, namun ia terus ditolak, bahkan lantas diolok-olok. Tak cukup sampai di situ, ketika beliau hendak melangkah keluar dari kota, para warga Thaif yang tak bermoral melempari Rasul dengan batu, mencacinya, dan menghujami tumit beliau dengan batu sampai sandalnya bersimbah darah.

Kejadian tersebut bukan hanya menyakitkan secara fisik, namun tentu menyayat hati Rasulullah. Allah yang Maha Melihat dan Mendengar, lalu mengutuskan malaikat untuk menemui Rasulullah.

Tidak lain adalah untuk membawa penawaran, apakah Rasulullah menghendaki jika Allah melenyapkan warga yang telah menyakitinya tersebut. Jawaban Rasulullah lah yang menggetarkan hati dan menandakan bagaimana kualitas akhlaknya.

Bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang punggung mereka suatu kaum yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun,” Begitu jawabnya.

Jawaban ini tidak lain menunjukkan bagaimana ketulusan dan sikap pemaaf Rasulullah yang begitu luar biasa. Dakwahnya tulus guna meninggikan asma Allah, ia tak menyimpan dendam bahkan pada yang telah menyakitinya.

Ia memiliki sifat begitu pemaaf dan bahkan justru berharap akan hadir kebaikan dari orang yang telah menyakitinya. Tentu bukan Rasulullah yang sempurna akhlaknya, namun sebagai umatnya, tentu sudah menjadi kewajiban untuk meneladaninya.

Kembali pada hari raya Idul Fitri, jika benar itu menjadi momen maaf-memaafkan, setidaknya kisah Rasulullah mengenai memaafkan tersebut dapat menjadi teladan utama. Memaafkan tanpa disertai dendam dan justru mengharapkan kebaikan bagi yang lainnya.