Ambisi Tak Pernah Berujung

 Oleh: Annisa Adabina

Terkadang ada beberapa yang perlu dibenahi, berhenti sebentar berfikir tentang apa tujuanmu hidup selama ini. Apakah hanya untuk mengejar dunia tanpa diseimbangi dengan akhirat? Atau mengejar kepuasan batin sendiri?

Sesekali memang harus berjalan pelan dari lari, mengintropeksi diri apa yang sudah gigih diperjuangkan, sudahkah benar jalan yang kita lalui? Atau telah menikung tajam pada arah yang salah? Atau bahkan kita sedang dititik penuh ambisi harus mendapatkan apa yang seharusnya dilepaskan karena itu bukan hak kita.

Sesekali memang harus membenahi diri, berkumpul dengan orang-orang yang membawa dampak positif. Tidak hanya dunia tetapi tentang akhirat yang harus digenggam, Apakah hanya tentang amalan apa yang akan kita bawa, atau hanya cerita hiruk piruknya dunia?

Instastory tentang makanan minuman mahal? Tentang aib orang yang kau bicarakan dengan teman? Berbelanja baju dengan harga jutaan? Atau memamerkan sesuatu yang kau punya dengan bangga? Akhirat tidak butuh itu semua.

Pada tahun 2017, sekitar 27juta orang Indonesia memiliki masalah mental, dan masalah mental tersebut bukan berarti sakit jiwa tetapi stress, insecure, cemas, depresi yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti lingkungan.

Kesehatan mental di zaman sekarang banyak terjadi kepada anak muda yang terlalu memikirkan standar duniawi dirinya dengan standar hidup orang lain, yang pada hakikatnya dunia adalah tempat kerja keras kita untuk menuju akhirat.

Semakin berkembangnya zaman manusia berlomba-lomba untuk menonjolkan apa yang kita miliki, terlalu latah mengikuti trend hanya ingin diakui oleh orang lain bahwa kita tidak ketinggalan zaman.

Jika kita mengikuti standar hidup orang lain maka tidak akan ada batasannya. Karena hidup bukan untuk perlombaan, bukan siapa yang cepat kaya, bukan siapa yang terlihat mampu, atau lain sebagainya. Melainkan tentang bagaimana kita melakukan sesuatu yang mendambakan akhirat.

Lahir di dunia bukan hanya untuk mengharapkan pengakuan orang lain tentang kita, tetapi bagaimana kita melakukan sesuatu sesuai jalan yang benar dan mempunyai Batasan-batasan tertentu.

Kaya atau tidak bukan pencapaian yang wajib kita tunjukan kepada orang lain, tetapi tentang ketaatan kita pada Allah yang wajib kita lakukan. Status kita setara dimata Allah, tidak ada yang membedakan kecuali ketaatan kita pada-Nya.

Banyak informasi berkeliaran di internet yang akhirnya membuat kita terkecoh, kita cenderung melihat gaya hidup orang lain dan menjadikannya sebagai standar hidup yang harus dijalani.

Di era sekarang, sebagian besar manusia menggunakan media sosial, tentun hal ini menimbulkan adanya kemungkinan besar untuk mengalami hal ini. Diakui atau tidak terkadang kita merasa iri dengan pencapaian orang lain, karena itu kita menjadikan standar hidup orang lain sebagai standar hidup kita.

Melihat orang lain sukses berbisnis dalam waktu yang singkat langsung secara otoriter ingin seperti itu, pada kenyataannya kita tidak pernah mengetahui apa yang sudah dilalui orang lain untuk sampai pada titik itu.

Ada beberapa hal yang terjadi jika cara hidup kita mengikuti standar orang lain, seperti menyulitkan kita untuk bahagia, menghalangi kita mendapat kepuasan batin, tidak mampu menghargai dan mencintai diri dengan seutuhnya, juga tidak memiliki ketenangan didalam hidupnya.

Tetapi ada beberapa cara untuk mencegahnya, salah satunya dengan bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang. Tidak akan ada habisnya jika mengikuti standar hidup orang lain, kita boleh saja memandang standar hidup orang lain, tetapi sebatas sebagai motivasi untuk menjadikan diri kita berkembang kearah yang lebih baik.

Orang yang paling bahagia di dunia adalah orang yang mempunyai rasa tenang didalam hatinya, banyak orang yang sudah memiliki semua yang ada di dunia tetapi merasa kurang dan tidak memiliki ketenangan didalam dirinya. Sosok semacam itu akan cenderung terus mencari ketenangan hidupnya dengan cara melihat apa yang orang lain miliki.

Kebahagian itu bukan seperti memiliki istana Abdul Malik ibn Mawran, bukan pula pasukan Harun ar-Rasyid, bukan rumah mewah Al-Jashshash, juga bukan harta simpanan Qarun.

Bahkan bukan pula yang ada di dalam buku Asy Syifa’ karya Ibn Sina, bukan juga dalam koleksi syair diwam Al-Mutanabbi, dan tentu bukan di taman-taman Cordoba atau kebun lainnya. Justru kebahagiaan menurut para sahabat adalah sesuatu yang tidak banyak menyibukkan, kehidupan yang sederhana dan penghasilan pas-pasan.

Bersyukurlah jika ingin memiliki ketenangan hati dan ingin merasa bahagia. Ingatlah setiap nikmat yang Allah berikan kepada kita, karena dia telah melimpahkan nikmat-Nya dari ujung rambut hinga ke bawah kedua telapak kaki.

Dari awal kita di rahim ibu sampai sekarang, kesehatan badan, sandang pangan, udara yang masih kita hirup, semua dapat kita rasakan tanpa perlu berusaha mendapatkannya. Segala tersedia dalam hidup kita, maka secara tidak langsung kita menguasai dunia tanpa disadari.

Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya. (QS. Ibrahim: 34)

Islam sendiri selalu mengajarkan kepada kita untuk mempunyai sifat qonaah, salah satu istilah dalam ajaran Islam yang merujuk pada sifat atau sikap bersyukur. Dalam hal ini, seseorang yang memiliki sifat qonaah akan selalu bersyukur dan merasa cukup dengan segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Tidak jarang, sifat qonaah juga dikaitkan dengan sikap lapang dada yang dimiliki seseorang. Qonaan itu menjadikan standar diri sendiri sebagai standar hidup, merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Karena yang pertama kali dilihat adalah tentang pemberian Allah terhadap kita, sehingga bersyukur tentu menjadi yang terbaik.

Meskipun begitu, sifat qonaah ini bukan berarti berpasrah begitu saja. Seseorang yang memiliki sifat ini tetap melakukan usaha sebaik mungkin sesuai kemampuan yang dimiliki.

Manfaat kita memiliki sifat Qonaah adalah bisa merasakan seolah telah mendapatkan dunia dan isinya. Seseorang yang telah miliki sifat qanaah akan selalu merasa cukup dengan apa yang dia miliki. Atau bahkan ia akan merasa bahwa dunia serta isinya seolah  cukup atas harta yang ia miliki.

Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary, Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi)

Arti qanaah sendiri yang terpenting adalah bisa membuat seseorang terbiasa hidup sederhana. Meskipun, sebenarnya mereka mampu untuk memperlihatkan harta kekayaannya yang telah dimiliki, namun ia tetap menjadi seseorang yang rendah hati serta sederhana. Karena tujuan utamanya bukanlah semata-mata mencari harta duniawi.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Bukannya kekayaan (orang kaya) itu karena banyaknya harta, melainkan kekayaan (orang kaya) yang sebenarnya adalah kaya hati”. (HR Bukhari dan Muslim).

Orang yang mempunyai sifat ini terhindar dari rasa iri serta dengki, sifat qanaah akan selalu menjaga diri kita dari iri serta dengki kepada sesama. Karena, ia telah merasa sudah cukup atas segala yang dimilikinya.

Segala sesuatu yang ada didunia yang diperlihatkan dunia maya adalah tipu daya setan untuk menggoda manusia agar saling memamerkan sesuatu yang kita miliki. Padahal sebenarnya dunia hanya tempat singgah sementara, yang tidak perlu kita kejar habis habisan, karena akhiratlah yang sebenar-benarnya kehidupan.