Urgensi Analisis Gender dan Transformasi Sosial


Judul buku: Analisis Gender dan Transformasi Sosial

Penulis: Mansour Fakih

Penerbit: Pustaka Pelajar

Kota terbit: Yogyakarta, 2013

Tebal buku: 186 halaman

ISBN: 979-8581-54-7

Sebenarnya, seberapa penting, sih, analisis gender dalam kehidupan bermasyarakat? Apakah kita perlu menggunakan analisis gender dalam setiap peran? Saya kira, buku Mansour Fakih ini bisa menjawabnya.

Yups, buku bertajuk Analisis Gender dan Transformasi Sosial telah menyuguhkan beberapa isu gender di dalamnya. Buku ini mengulik perbedaan mendasar antara gender dan seks, urgensi analisis gender, korelasi antara developmentalisme dan gender, gerakan transformasi perempuan, dan tafsir agama yang perlu diperbaiki. Untuk lebih jelasnya, mari kita beredel tiap babnya.

Pertama, mengulik analisis gender dan transformasinya, belum afdol kalau kita tidak mengerti perbedaan mendasar antara gender dan seks, bukan? Penulis menjabarkan bahwa keduanya, gender dan seks, memiliki perbedaan yang acap kali diabaikan. Bahkan ada yang mengira bahwa keduanya memiliki arti yang sama, jenis kelamin.

Tidak heran, sih, karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kamus yang menjadi rujukan penulis pun, belum menjelaskan perbedaan makna antara keduanya.

Padahal, seks adalah jenis kelamin. biologis. Ia tidak dapat dipertukarkan dan bersifat kodrat atau pemberian Tuhan. Misal, laki-laki memiliki penis dan jakun, sedangkan perempuan memiliki vagina dan rahim.

Berbeda dengan gender. Ia adalah konstruk sosial atau budaya yang sifatnya dapat dipertukarkan atau berubah setiap waktu, tempat, dan kelas. Misal, kuat, lemah, berani, anggun, rasional, emosional, dan lain sebagainya. Sifat-sifat semacam inilah yang dapat dimiliki oleh semua orang.

Saya kira semua akan baik-baik saja jika kita telah mengenal perbedaan antara seks dan gender. Namun, naasnya tidak sesepele itu. Perbedaan antara keduanya malah melahirkan ketidakadilan gender (sistem atau struktur yang membuat laki-laki atau perempuan menjadi korbannya).

Misal, timbulnya marginalisasi, subordinasi, strereotip, dan kekerasan. Belum lagi, ketidakadilan tersebut didukung oleh beberapa instrumen. Misal, negara dengan undang-undang, peraturan, kebijakan, dan hukumnya yang bias gender.

Ada pula adat konservatif yang terus-menerus dilanggengkan. Tidak ketinggalan pula, rumah dan tempat kerja yang memupuk subur aturan-aturan yang jauh dari kata adil.

Mengapa, ya, hal-hal bias selalu cepat tumbuh kembangnya? Padahal, penulis menyebut bahwa adanya konsep analisis gender malah akan mempertajam analisis kritis yang sudah ada.

Misal, konsep pertentangan kelas Karl Marx akan lebih detail dengan menyematkan analisis gender di dalamnya. Pun dengan konsep kritis Frankfurt, hegemoni Gramsci, relasi kuasa Faucoult, dan lain sebagainya.

Sayangnya, tidak semua orang mau mendukung konsep fantastis yang berbau gender. Beberapa dari mereka malah berpikir kalau konsep analisis gender akan mengusik sistem yang telah mapan.

Sehingga, hilang pula kekuasaan atau privilege yang telah lama dalam genggaman. Yah, mau bagaimana lagi, sedahsyat apa pun konsep analisis gender, kalau tanpa dukungan semua pihak, ia akan utopis juga.

Kedua, korelasi antara developmentalisme (teori pembangunan) dan gender. Awalnya, saya sempat tertarik dengan konsep brilian ala developmentalisme.

Bagaimana tidak? Ia menyuguhkan semangat antikapitalisme dan gerakan menuju modernitas yang sarat akan kemajuan teknologi-informasi seperti negara industri lainnya.

Mengesankan, bukan? Tentu saja. Paham yang diusung oleh Amerika Serikat (AS) ini bak aufklarung bagi negara-negara dunia ketiga, negara yang baru merdeka.

AS sudah seperti juru selamat yang memanjakan umat-umatnya dengan memberi kucuran dana, transfer teknologi, pengembangan tenaga ahli, dan hal-hal mulia lainnya.

Hal tersebut sejalan dengan lahirnya beberapa teori modern yang berpengaruh di dunia. Misal, teori evolusi yang meyakini aka nada perkembangan yang lambat tapi pasti, yang diusung oleh Hegel dan Comte.

Teori fungsionalisme yang disuguhkan Parson dan Merton, yang sarat akan struktur atau sistem yang akan mengarah pada ekuilibrium. Bersamaan dengan modernisasi yang gencar dengan revolusioner, kompleks, global, sistematis, bertahap, dan progresifnya.

Teori Sumber Daya Manusia (SDM) yang optimis dengan peningkatan SDM sebagai modal pembangunannya. Teori konflik ala Hegel, Marx, Frankfurt, dan Gramsci yang bersikeras dengan pertentangan, yang akan membuat semua-muanya lebih baik.

Belum lagi, munculnya teori ketergantungan ala Gunder Frank, lumpen bourgeoisie atau pihak ketiga antara borjuis dan proletar yang memiliki peran penting dalam relasi keduanya.

Teori pembebasan yang sarat akan humanistik, diusung oleh Paulo Freire dengan pendidikan pembebasan dan pembangunannya, serta Gustavo Gutieres dengan teknologi pembebasannya. Tidak ketinggalan, teori kekuasaan dan diskursus dalam perubahan sosial yang dikenalkan oleh Faucoult.

Walakin, teori-teori pembangunan tersebut berdosa sekali, Kawan. Ia yang membahana ini benar-benar terkutuk. Ia menciptakan ketidakadilan, melangenggkan struktur yang bias, sarat akan donimasi kultur dan pengetahuan, penindasan, dan menimbul kankerusakan lingkungan.

Kronisnya, Women in Development (WID), gerakan perempuan yang mendukung teori pembangunan ini, sepenuhnya antusias pada developmentalisme. Mereka tergiur dengan semangat kesetaraan dalam pembangunan.

Padahal, developmentalisme adalah bentuk penjinakan dan pengekangan baru untuk perempuan, khususnya perempuan negara-negara dunia ketiga. Luar biasa sialannya, bukan?

Ketiga, gerakan transformasi perempuan. Tidak salah lagi, gerakan transformasi ini adalah feminisme. Gerakan dengan semangat emansipatoris yang berangkat dari asumsi dan kesadaran bahwa perempuan pada dasarnya tertindas, dieksploitasi, dan perlu upaya mengakhirinya.

Namun, tetap saja, gerakan ini tidak terlepas dari developmentalisme, teori fungsionalisme dan konflik. Teori fungsionalisme menjadi kiblat bagi feminism liberal dan WID. Mereka beranggapan bahwa perempuan juga bisa seperti laki-laki dalam pembangunan.

Karena kebebasan dan persamaan berakar pada rasio yang sama-sama dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Selain itu, perempuan dididik agar mampu bersaing dalam merebut kesempatan memasuki prinsip-prinsip maskulinitas (persaingan, dominasi, eksploitasi dan penindasan).

Sedangkan teori konflik menjadi pondasi bagi feminisme radikal, marxis dan sosialis. Si Radikal beranggapan bahwa penindasan berasal dari penguasaan fisik laki-laki. Kaum mereka, laki-laki, telah beruntung karena diberkati dengan kondisi biologi yang sempurna.

Sehingga, mereka bisa menjadi superior karena privilege-nya dalam kerajaan patriarki. Kami, perempuan akan bersaing pula dengan laki-laki dengan tanpa pandang biologis (personal is political).

Lain lagi dengan si Marxis. Ia tidak sepaham dengan si Radikal. Baginya, penindasan perempuan berasal dari penindasan kelas dalam hubungan produksi. 

Duh, entah apa yang dipikirkan si Marxis ini, nyatanya ia malah merendahkan feminitas dan menggaungkan maskulinitas dengan memaksa perempuan untuk melacurkan diri dengan produksi.

Yah, mungkin kita bisa sedikit bernapas lega dengan adanya si Sosialis ini. Ia berusaha menyintesis antara si Radikal dan si Marxis. Well, si Sosialis sepaham dengan akar opresi yang diusung dari si Radikal, yaitu patriarki. 

Toh, ia memang benar kalau patriarki sudah ada bahkan sebelum hubungan produksi. Tapi, si Sosialis juga tidak menyangkal jika penindasan kelas juga menjadi salah satu faktor yang tidak terbantahkan dari penindasan perempuan.

Dus, penulis memberi alternatif untuk melawan ketertindasan. Misal, dalam jangka pendek, perlu melibatkan perempuan untuk membatasi masalahnya, membuat mereka sadar, bertindak tegas, dan mampu berkata “tidak” untuk sesuatu yang tidak mereka sukai. Sedangkan jangka panjangnya, menghancurkan ideologi dan kultur bias dalam masyarakat.

Terakhir, tafsir ayat-ayat suci yang perlu diperbaiki. Sebagian orang berpikir bahwa dengan adanya agama, mereka malah terkekang. Aturan-aturan agama yang termaktub dalam kitab suci acap kali bias gender dan merugikan salah satu pihak.

Padahal, ada yang dilewatkan dari tafsir ayat-ayat suci. Kita perlu tahu, dong, siapa, sih, yang menafsirkannya? Apakah penafsirnya berpaham gender? Apakah sesuai dengan konteks?

Bukankah kita sering melewatkan pertanyaan-pertanyaan ini? Dan, yah, seakan-akan agamalah yang mengekang manusia dengan dali-dalil sucinya. Oh, ayolah, Kawan, jangan berpikir negatif dulu tentang agama. Tafsir-tafsir mengenainya bisa jadi keliru dan tidak sesuai konteks.

Oleh karenanya, penulis menyarankan kepada pembaca untuk tahu bagaimana menganalisis tafsir ambigu. Caranya, tanamkan spirit emansipatoris dan berkeadilan dalam benak, identifikasi keadaan struktur dan norma sosial saat itu atau pahami konteksnya, mau menafsirkan kembali, advokasi, analisis, dan berani aksi.

Biar bagaimanapun, berbicara tentang gender tidak akan pernah ada habisnya. Selalu ada pro dan kontra di dalamnya. Ada yang sedang baik-baik saja, ada juga yang sedang dalam posisi tidak mengenakkan.

Bagi mereka yang merasa baik-baik saja, mereka sedang beruntung saja karena berada dalam posisi menikmati dan diuntungkan oleh sistem dan struktur. Namun, bagi bereka yang gencar menyuarakan keadilan gender, mereka memang sedang dalam kondisi tertindas dan dirugikan. Yah, atas nama kemanusiaan, bergerak dan bantulah mereka yang sedang tidak baik-baik saja, Kawan.