Sebab Tak Ingin Jadi Murid (eps. 2)

Oleh: Uun Zahrotunnisa

“tidak usah bang, nanti kalau ikut Mamak dapatnya hanya sedikit karena kita pasti disuruh duduk paling belakang karena Mamak takut kita berulah” kepalanya kembali mendongak untuk mengecek dan berjaga apabila Mamak tiba-tiba datang.

Berikutnya...

“Ya sudah ayo berangkat. Mamak dimana?” Saleh melangkah menyusul Ahmad yang sedari tadi keluar masuk pintu rumah menyelidiki keadaan.

“Mamak sedang ke Pasar, ayo cepat bang nanti Mamak tau” tukas Ahmad sembari mendahului Saleh yang masih berdiri di daun pintu

“Hei, mau kemana kalian” teriak Mamak, keluar dari rumah Pak Tetua. Membuat kedua anaknya yang hendak melangkahkan kaki terkaget bukan kepalang.

“waduh, Mamak disana ternyata” Ahmad mengadu pelan

“bagaimana ini, kau bilang Mamak ke pasar Mad. Mau bilang apa ini nanti”

“berbohong saja bang, kita hendak main ke tempat Samusi”

“Dasar kau ini. Mamak, benci dengan pembohong Mad, kau tau itu” sergah Saleh memelototi adiknya.

Dengan hitungan detik Mamak sudah berdiri di depan kedua anak bujangnya itu. Sambil memandang wajah ketakutan anak-anaknya.

“sejak tadi, aku perhatikan dari rumah Pak Tua kalian berdiri seperti maling dirumah sendiri, tengok sana-sini, keluar masuk, Apalagi ini Ahmad berbicara bak orang penting menyusun siasat. Apa yang hendak kalian lakukan?” tanya Mamaknya mendesak.

Keduanya ketakutan hendak terkencing-kencing di celana. Tidak berani menatap Mamaknya kalau sudah seperti ini. Nampaknya Mamak akan sangat marah jika tahu rencana mereka pergi ke galian bekas tambang.

“Anu mak, maaf tadi Ahmad bilang ada acara do’a bersama desa kita dengan desa seberang di sebelah lubang bekas tambang, jadi kami ingin pergi kesana duluan sebelum banyak orang” jelas Saleh.

“siapa bilang, sejak kapan ada do’a bersama di sebelah lubang maut itu. Ketahuilah yang kalian lihat disana itu ritual syirik, mereka menyediakan masakan dan bunga sebagai sesajen agar diberi kekayaan dan keselamatan,

Adapun yang kalian lihat di rumah Pak Tua sedang sibuk menyediakan hidangan karena nanti malam Ratih akan dipinang oleh pemuda kota, dan bukan untuk menggelar do’a.

Bapak dan Mamakmu ini seumur hidup tidak pernah mengikuti ritual itu karena bukan termasuk ajaran Islam, itu musyrik. Sudilah kalian dengar Mamak, tidak usah main kesana, main di sejauh apapun terserah kalian nak, tapi jangan ke lubang itu.

Mau melihat Bapak kau menangis di Surga sana melihat ulah kalian yang susah Mamak beri tau” terik matahari pagi menyilaukan pandangan Mamak, tambah kesal Mamak kali ini.

“Mengerti tidak kalian? sudah berapa kali Mamak mengomel untuk tidak pergi kesana ?”

“Sering mak, Maafkan kami” jawaban ini sempurna semakin membuat Mamak mereka marah, sudah diberi tahu tapi tetap saja keras kepala. Secepat kilat Mamak menyambar sapu yang disandarkan di depan pagar kayu rumah, saat hendak diayunkannya keatas namun Saleh dan Ahmad sudah berlari menghindar sejauh mungkin, bersembunyi ke rumah Samusi.

****

Walaupun keluarga Mamak kurang mampu sebelum Bapak meninggal, tetapi ia sudah membangun surau tepat di sebelah teras rumah panggungnya, minimalis tapi muat untuk satu keluarga.

Seusai solat maghrib Mamak selalu membaca qur’an Bersama kedua putranya. Lelahnya Bertani seharian tidak menyurutkan semangatnya mengajarkkan ilmu agama.

Mamak dulunya lulusan pondok pesantren walaupun tidak sampai Aliyah (SMA), tentu saja itu karena hambatan biaya sekolah. Mamak pun berhenti dan memilih membantu orang tua, sebenarnya Mamak menyesal setelahnya karena orang tuanya yang kecewa akibat keras kepalanya.

Orang tua Mamak sudah melarang dengan keras karena sebentar lagi biaya sekolahnya dan saudara-saudaranya nanti akan ditanggung oleh paman yang ada di kota.

Mamak akhirnya merasa bersalah dan memutuskan untuk menikah dengan Bapak, sebab jika harus melanjutkan sekolah Mamak tidak punya semangat lagi juga diselimuti rasa takut akan mengecewakan harapan orang tua.

Oleh karena itu, Mamak sangat memperhatikan Pendidikan anak-anaknya. Ia pasti akan sangat sakit hati jika kesulitan hidup yang dialami membuat anak-anaknya bertindak seperti halnya Mamak dulu. Tapi, ini sudah pernah terjadi kepada Saleh.

***

“Mak, aku ingin bantu Mamak, biarkan si Pintar Ahmad yang sekolah, aku tidak usah. Aku bodoh mak, tidak seperti dia, tidak pernah masuk peringkat, sering mengantuk di kelas, paling tidak paham satu kelas.

Bahkan seusia Ahmad saja aku masih sulit membaca, memahami kata-kata orang. Tiada guna mak, percuma Mamak biayai aku sekolah. Tak pandai-pandai” tiba-tiba Mamak dikejutkan kalimat Saleh setelah mengaji dan belajar agama dengan Mamak.

“istighfar Leh, jin apa yang menempel di ragamu, sampai seperti tidak tahu malu dan dosa kau itu. Baru selesai mengaji bukan mensyukuri nikmat Tuhan, malah berkeluh hingga ingin putus sekolah. Sadar leh, kau itu manusia. Ajaran apa yang sudah diberikan Bapak guru sampai hari ini kalimat itu keluar dari mulutmu?”

“maaf mak, aku tak sanggup lihat Mamak sendirian bekerja untuk kami, Mamak bohong kalau Mamak kuat, Saleh tau suara hati Mamak, Saleh tau.” air mata tertahan di mata kanan kiri Saleh.

“Lantas apakah dengan kalimatmu putus sekolah membuat Mamak lega karena sudah tidak membiayaimu sekolah? apakah dengan niat tulusmu membantu bekerja akan membuat Mamak senang? justru semua kalimatmu itu membuat Mamak sakit hati Saleh.

Bayangkan saja semua usaha Mamak selama ini, sampai kau bisa melihat sendiri keadaan Mamakmu yang terlihat tua lebih cepat daripada ibu-ibu pada umumnya. Setiap hari Mamak pulang pergi ke ladang, kadang ikut tetangga memetik hasil kebun dari seusai subuh sampai menjelang maghrib.

Bukan kepalang bahagianya jika bisa membayar kebutuhan sekolah kalian, Mamak rela menahan diri  hanya sekedar untuk tidak membeli mukena yang sudah menguning, kusam, berjamur ini yang sejatinya penting untuk urusan ibadah.

Apa gunanya Mamak tabung hasil kerja keras Mamak setiap hari kalau bukan demi mendukung kesuksesan anak-anak. Jangan seperti Mamak dulu, menyesal kemudian setelah keras kepala kepada orang tua.” tangis Mamak pecah, bercampur rasa kecewa setengah mati, perasaannya hancur.

“maafkan Saleh mak, bukan maksud Saleh begitu. Maaf jika niat Saleh melukai hati Mamak” sesal Saleh sambil bersimpuh di pangkuan Mamak, lututnya lunglai tak sampai hati melihat Mamak menangis tersedu-sedu.

“sudahlah, temani adikmu makan sana kasihan dia sendirian menuggumu di dapur” utus Mamak mengisyaratkan Mamak tidak mau ditemani.

“tapi, Mamak?” ajak Saleh kemudian

“mau membantah lagi?” suara parau Mamak terdengar menyayat hati Saleh.

“iya mak baiklah” Langkah gontai kaki Saleh mengantarkannya menuju dapur, ceroboh sekali tidak memikirkan matang-matang perkataan dan niatannya itu, sampai terlanjur melukai hati Mamak.

Seumur-umur baru kali ini Mamak menangis sampai tersedu-sedu, bahkan sampai Bapak meninggal pun tidak sebegitunya. Mamak paham menangisi orang yang sudah meninggal hingga terisak itu tidak diperbolehkan, padahal Bapak separuh jiwa Mamak, tidak pernah membuat Mamak kecewa.

Justru kali ini Aku anak yang diharapkannya sukses, kali ini sanggup membuatnya menangis terisak. Piring yang tadinya penuh sayur dan nasi serta lauk pauk sekarang bersih tak tersisa.

Setengah jam Saleh makan sambil melamun hingga makanan yang didepannya kalap, bahkan baca do’a sebelum makan pun tak ingat. Memang ketika sedih begini Saleh lebih banyak melamun sambil memikirkan sesuatu.

Jangan tanya soal selera makan, dalam keadaan apapun Saleh tetap akan menghabiskan makanan. Sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, makanan tidak boleh sampai tersisa walau sebiji beras pun.

Tiba-tiba Mamak mendatangi Saleh. Jika sedih Mamak memang tak pernah berlarut-larut, sesedih apapun Mamak tetaplah Mamak, tegar, kuat dan akan segera beranjak kalau memang sedang merasakan kesedihan, karena bagi Mamak kehidupan harus seimbang. Bahagia secukupnya, bersedih seperlunya, bersyukur sebanyak-banyaknya.

“maafkan Mamak karena telah keras mendidikmu dan adikmu Ahmad selama ini, semua itu agar kalian kuat jiwa raga menghadapi kerasnya hidup. Memang dari segi harta kita bisa jadi paling miskin sedunia, tapi janganlah kalau soal akhlak.

Mamak percaya sekolah bisa membentuk akhlak dengan baik. Bukan perihal pintar saja, karena itu sudah biasa. Lihat banyak orang pintar diluar sana tanpa akhlak sehingga ia diperdaya oleh kepintarannya.

Banyak dari mereka yang kemudian merusak ekosistem kampung kita, membuat galian sana sini, mengeksploitasi kekayaan alam. Jika sudah habis mereka akan meninggalkannya begitu saja, bahkan sempat mengutarakan janji manis untuk membenahi agar tidak membahayakan penduduk sekitar.

Tapi, fakta apa yang kita dapati, janji bagi mereka hanya sebagai bumbu penyedap. Semua dilakukan agar mendapat persetujuan dari masyarakat untuk melakukan proyek pertambangan, sedangkan janji untuk kita bak musibah baru.

Niat dan harapan Mamak adalah ketika kalian sekolah, bukan hanya ilmu yang kalian dapat tapi sekaligus akhlak. Karena itu, Mamak setiap hari berdo’a pada Tuhan dan memohon agar kelak anak-anak Mamak sukses dan menjadikan kampung halaman beserta warganya tidak mudah dibohongi oleh pejabat negeri”.

“satu lagi, Pendidikan akan mengangkat derajat siapa saja yang mengagungkannya nak, ketahuilah bahwa barang siapa yang berilmu dan beradab akan disegani, disenangi siapapun yang berada disekelilingnya.

Untuk Mamak, tak peduli seberapa pintar dirimu, jangan pernah bandingkan dengan siapa pun bahkan saudaramu sendiri, Ahmad. Karena setiap orang memiliki keahlian masing-masing.

Giatlah sekolah karena Mamak akan sangat bangga, bulir-bulir keringat, tulang belulang, dan kulit Mamak serta Bapakmu nanti akan terhindar dari panasnya api neraka karena berhasil mencukupkan kebutuhan pendidikan anak-anaknya.

Perkara pekerjaan, semua itu akan ada waktunya, rezeki sudah ada yang mengatur, kesuksesan sudah ada yang mengarahkan, tugasmu sekarang adalah kerjakan kewajibanmu sebagai anak yang soleh seperti namamu Saleh, sekolah baik-baik, ibadahlah dengan rajin.

Karena Tuhan tidak tidur. Ia akan melihat setiap kepayahan yang telah manusia upayakan. Percaya nak, sekolah itu adalah tempat terbaik menempa ilmu untuk pedoman menapaki kehidupan sebagai bekal pulang ke pangkuan Sang Maha Esa.

Ketika Bapak pergi, itu berarti tugasnya menjadi manusia sudah selesai, engkau dan Ahmad lah yang akan menyempurnakan. Jadilah kebanggaannya di akhirat”

Mendengar Mamak berbicara pada Saleh, Ahmad yang sedari tadi yang berdiri sambil bermain rubik di balik dinding kayu berbatasan dengan dapur dan ruang tengah mengerti maksud dari kalimat abangnya tempo hari ketika belajar denganya. Ia kemudian menyimpulkan dan berkata dalam hati.

“tak mau lah namaku di hapus dari keluarga Mamak hanya karena menjual ladang dan membawa Mamak ke kota, untung bang Saleh kasih tau aku kemarin”.