Sebab Tak Ingin Jadi Murid (eps. 1)

Oleh: Uun Zahrotunnisa

“Mamak kan sudah bilang, dirumah saja leh. Jaga adikmu, ajari berhitung, kerjakan tugas Bapak guru, tak usah ke ladang. Biar Mamak saja, kau dengar tidak kata Mamak?” suara Mamak terdengar lantang dari dapur yang pintunya tembus ke jalanan hingga masuk ruang tengah, cukup nyaring di telinga, telak membuatnya mengurungkan niat.

“Mad, Mamak punya rambutan sembilan, kau kasihkan abang tiga, Mamak tiga, dan kau makan sendiri tiga. Sisa berapa sekarang? tanya Saleh pada adiknya. Ahmad terdiam hampir satu menit sama sekali tak ada jawaban keluar dari mulutnya.

“bang, Mamak tak punya rambutannnnn”, bantah Ahmad pada Saleh.

“sudah bayangkan saja mad, ah kau nih susah betul” gerutu Saleh.

“bang, apa sih gunanya sekolah kalau nanti juga untuk cari uang” Ahmad punya banyak trik untuk hal pengalihan jawaban.

“heh, anak kecil pintar nian kau itu, disuruh menghitung rambutan tak genap sepuluh saja lama sekali, kenapa sekarang pertanyaanmu macam orang dewasa?” ucap Saleh dengan nada tinggi dan mata melotot.

“Samusi orang kaya bisa sekolah sampai kuliah tapi tetap saja, membantu bapaknya jadi tukang membuat batako” gumam Ahmad lagi.

“Semua tergantung masing-masing Mad, kalau kau rajin hingga di sekolahkan negara dan kau mau ikut bekerja di kota tak apa, tapi kalau Mamak menyuruhmu tinggal di kampung untuk menjaga ladang dan mengairi sawah mau apa lagi kau?”  tanya Saleh geram.

“Kujual ladang Mamak, kubawa Mamak ke kota dengan Bang Saleh lalu ganti kubelikan gedung-gedung besar. Bangga Mamak dengan aku ini ha ha ha” tawanya puas.

“ha ha ha, setelah itu dijualah gedung-gedung itu oleh mamak, lantas dihapus kau dari keluarga Mamak” Saleh menimpali jawaban Ahmad mantap.

“loh, bang” kelopak mata Ahmad melebar terheran.

“Mamak itu sederhana, sekaya apapun itu, Mamak tidak akan pernah berkeinginan menjual ladang peninggalan Bapak. Karena susah payah Mamak dan Bapak dulu dimulai dari ladang itu Mad, apalagi saat Bapak mengetahui Mamak sedang mengandungmu.

Menangis Mamak dibuatnya setiap hari berfikir harus bagaimana membantu Bapak menghidupi keluarga dan janin yang ada didalam kandungannya karena takut tak bisa memberikan gizi yang cukup.

Tapi kembali Bapak selalu menyadarkan Mamak untuk tetap bersyukur, kalau rezeki itu tidak selalu datang dalam bentuk uang, makanan, atau barang tapi bisa juga anak. Karena anak juga akan membawa rezekinya sendiri.

Semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Jadi, sangat kurang ajar sekali jika kau sukses nanti berpikir akan menjual ladang Bapak lalu membawa Mamak ke kota” jelas Saleh Panjang lebar. Sepertinya Ahmad kali ini semakin tidak paham.

Kehidupan keluarga Saleh sepeninggalan bapaknya cukup sulit. Bapaknya meninggal tertimbun material bekas galian pertambangan, yang tidak segera ditutup usai di eksploitasi.

Keadaan ini membuat Saleh ikut membantu Mamaknya mencukupi kebutuhan pangan dengan berjualan gorengan di kantin sekolah. Sebenarnya Mamak tidak tega melihat Saleh sekolah sambil berjualan, tapi ini semua keinginan tulus Saleh.

Dia tidak merasa malu sama sekali, justru dengan berjualan ia menjadi lebih semangat untuk bersekolah. Karena baginya ia bisa tetap mendapatkan ilmu sekaligus uang, walaupun itu tidak berlangsung lama.

Hal tersebut karena Mamak melarang keras Saleh berjualan, dengan alasan bahwa berjualan membuat Saleh menjadi tidak fokus bersekolah.

***

Udin, Bapak Saleh termasuk petani sukses walaupun sawah yang digarapnya itu bukan milik sendiri, melainkan sistem bagi hasil dengan pemiliknya. Namun, sayangnya keadaannya berubah setelah ia meninggal dunia.

Meski tewasnya Pak Udin merupakan akibat dari kesalahan pihak pertambangan yang tak kunjung menutup lubang galian, tetapi hal ini juga tidak bisa dihakimi. Karena sudah menjadi aturan tertulis perusahaan tambang, bahwa penduduk dilarang memasuki kawasan bekas galian.

Seandainya jika masih ada yang keras kepala mendekati wilayah tersebut, bahkan hanya untuk sekedar mencari cacing umpan ikan maka tanggung jawab bukan dari perusahaan.

Awalnya mamak berkali-kali melarang Bapak, namun bapak bersikeras meyakinkan bahwa sudah bertahun-tahun banyak yang mencari cacing tetap selamat. Berbeda jika pencari cacing itu sampai berenang, mungkin kemungkinan bahaya itu ada.

Pada akhirnya, Pak Udin menjadi penduduk pertama pencari cacing yang tidak berenang kemudian tewas di lubang bekas galian. Mayatnya tidak dapat diangkat karena terlalu rapuh, sehingga dikhawatirkan potongan tubuhnya akan terpisah-pisah.

Mamak dan Eyang memutuskan untuk ikhlas membiarkan mayat Pak Udin tetap di dalam lubang, dan menaburinya dengan bunga mawar disaksikan penduduk kampung. Setelah kejadian itu, tak ada lagi kawan memancing Bapak yang berani mencari cacing.

Hampir setiap tahun ada saja laporan “anak hilang setelah sebelumnya berenang di bekas galian tambang”, bukan karena dimangsa jin sejenis tumbal melainkan karena banyak yang ditemukan tewas di tempat.

Hal ini dibuktikan oleh tim sar yang sudah beberapa kali menelusuri dasar galian tambang, dan menemukan seorang anak sudah tidak bernyawa lagi. Sejak saat itu, perasaan takut terus menghantui para orang tua saat anak mereka pamit hendak pergi bermain.

Pun, banyak orang tua yang kemudian tak pernah bosan mengingatkan anak mereka agar tidak bermain di sekitar galian bekas tambang. Akibat jengkel, beberapa orang tua menasehati anak-anak mereka yang tidak menuruti nasehat dengan menceritakan kejadian mengerikan seputar tenggelamnya korban yang berenang di bekas tambang.

Bahkan cerita itu sampai di bumbui hal-hal yang tidak dapat dinalar. Hal ini semata-mata agar anak-anak penduduk kampung jera dan enggan bermain disana.

Pernah suatu ketika Mamak dibuat naik pitam di siang hari oleh kedua anak bujangnya itu, dimarahinya hingga kedua anaknya lari tunggang langgang kerumah Samusi. Mereka berlindung di dalam gorong-gorong baja karena ketahuan main ke lubang bekas galian tempat Bapaknya tewas, lagi-lagi karena ulah Ahmad.

“Bang Leh, kangen Bapak tidak?”

“Doian aja Mad, Bapak hanya butuh Do’a” tenang Saleh pada adiknya.

“Bang, kalo ajaran agama Islam dalam hidup setidaknya mengunjungi makam keluarga kita yang sudah meninggal dunia, nah kalo lagi kangen gini kan bisa juga”

“Dulu sudah pernah waktu Bapak meninggal di TKP Mad, itu sudah cukup. Bahaya juga kita kesana, dilarang pula oleh Mamak, sudah jangan buat masalah. Abang tau kau ini banyak alasan ingin ke lubang bekas tambang itu”

“Bang Leh, tau tidak kadang-kadang desa Sebrang itu ada ritual do’a bersama dengan desa kita, banyak makanan disana, cukup duduk dan ikut berdo’a, sudah dapat makanan”

“Memang kau tau kalau hari ini mereka akan menggelar do’a?”

“Nah, kita lihat aja dulu barangkali hari ini ada, dengar-dengar kata Samusi hari ini tetua desa sedang masak-memasak untuk menyiapkan hidangan do’a”

Pandai memang Ahmad, adik Saleh yang usianya baru genap 7 tahun. Tetapi kata-katanya mampu meracuni siapa saja yang berbicara dengannya apalagi dalam hal rayu-merayu.

Semula orang keras kepala seperti Saleh yang berpegang teguh pada prinsip, dan karena takut kena amarah Mamak akhirnya bergegas juga berkat penjelasan Ahmad yang belum pasti benar itu.

Dari samping jendela rumah, memang benar dari atap rumah Pak Tetua terlihat gumpalan asap tebal keluar dari corong dapur rumahnya. Ratih anak gadis Pak Tetua disertai beberapa kerabat sedang terlihat hilir mudik membawa sayur mayur kedalam rumah, tanda kebenaran perkataan Ahmad semakin kuat.

“Ini masih terlalu pagi Mad,” membalikkan badan dari jendela sambil melihat jam dinding.

“kita tunggu disana saja bang, duduk paling depan biar cepat dapat makanan banyak, Mamak pasti senang.” Ahmad mulai berjalan menuju pintu hendak keluar rumah. Sambil mengawasi apakah Mamak ada disekitar rumah atau tidak, kemudian masuk lagi berbicara kepada Saleh.

“apa tidak sebaiknya berangkat Bersama Mamak, sekalian kita ajak Mamak. Sepertinya Mamak juga belum pernah ikut.” Tanya Saleh masih sangsi.

“tidak usah bang, nanti kalau ikut Mamak dapatnya hanya sedikit karena kita pasti disuruh duduk paling belakang karena Mamak takut kita berulah” kepalanya kembali mendongak untuk mengecek dan berjaga apabila Mamak tiba-tiba datang.

Bersambung...