Ramadhan dan Kedermawanan

Oleh: Hanifah ‘Urwatulwutsqo Rofi’ah

Hati diciptakan pada diri manusia, menjadi pelengkap keberadaan akalnya. Maka, tentu saja selain mempergunakan akal, manusia juga bersikap dengan hatinya. Sementara salah satu sikap yang membutuhkan peran serta hati adalah kedermawanan.

Dermawan sendiri dapat diartikan kemurahan hati atau dapat pula dimaknai sebagai keringanan seseorang dalam memberi. Murah hati bukan bermakna ‘gampangan’, akan tetapi hati yang ringan merelakan hal-hal yang dimiliki.

Sehingga secara sederhana maknanya adalah tidak pelit, baik hati, suka memberi, dan sebagainya. Jika dermawan saja sudah menyangkut hati, tentu dalam melakukannya akan senantiasa melibatkannya.

Orang-orang dermawan dapat dipastikan memiliki kelapangan hati, mampu mengikhlaskan apa-apa yang dimiliki dan membaginya dengan sesama. Pada hakikatnya memang manusia tak memiliki segalanya.

Namun, segala sesuatu yang ada dan dimiliki saat ini sejatinya hanya titipan dari Yang Maha Kuasa. Hal tersebut pastinya sudah tak asing lagi di telinga. Maka, orang-orang yang murah hati tersebut sejatinya adalah manusia yang memahami hakikat dari konsep “memiliki” tersebut.

Orang yang ringan berderma bisa jadi adalah orang-orang yang meyakini bahwa apa yang dimiliki pasti terdapat hak orang lain di dalamnya, ia menganggapnya sebagai amanah yang harus ditunaikan.

Sebagai manusia dengan segala sifat yang dikaruniakan terhadapnya, merasa memiliki atas sesuatu yang didapatkan adalah hal yang lumrah terjadi. Terkadang perasaan itu jugalah yang membawa manusia sulit merelakan sesuatu yang harusnya dilepaskan atau hal terburuknya, manusia menjadi tamak dengan ingin terus memiliki banyak hal.

Begitulah kiranya manusia dengan berbagai warna dalam dirinya. Selain itu, memberi dan berbagi sejatinya tak harus melulu tentang merelakan hal-hal besar. Katakan saja jika konteksnya adalah sedekah, ia tak harus dalam nominal yang besar untuk dikatakan sedekah.

Berbagi bisa dimulai dari hal kecil dan tak masalah diawali dengan nominal semampunya. Karena pada kenyataannya, tak ada yang terlalu kecil untuk ukuran kebaikan.

Mengenai kedermawanan itu sendiri, bulan yang identik dengan kemurahan hati adalah bulan Ramadhan. Bahkan ada satu julukan bahwa Ramadhan adalah bulan kedermawanan “syahru al-juddi”.

Tidak dapat dielak, pada bulan Ramadhan kegiatan berbagi makan sahur atau buka, berbagi ta’jil, dan sebagainya marak sekali dilakukan.

Masyarakat semakin antusias, bahkan biasanya pemuda dari berbagai organisasi (baik dari kampus atau komunitas kepemudaan) turun ke jalan untuk berbagi makanan dengan para pengendara atau bahkan kepada saudara-suadara kurang beruntung yang terpaksa harus hidup di jalanan.

Semarak Ramadhan begitu terasa dengan kegiatan berbagi dan kegiatan kedermawanan lainnya. Adapun sikap tersebut tentu tidak datang tiba-tiba. Salah satu penyebabnya adalah jiwa manusia memang lekat dengan rasa ingin menjadi bermanfaat dan salah satu caranya adalah ketika bisa memberi kepada orang lain.

Jika melihat pada sebuah hierarki kebutuhan berdasarkan teori Maslow, pada tingkatan ketiga adalah kebutuhan akan memiliki dan kasih sayang. Ketika kebutuhan manusia pada tingkatan sebelumnya (kebutuhan fisiologi dan kebutuhan akan rasa aman) sudah terpenuhi, manusia selanjutnya ingin memenuhi kebutuhan bagaimana berkasih sayang (memiliki dan dimiliki) yang erat kaitannya dengan hubungan sosial.

Hal ini biasanya diwujudkan dengan cara membangun kedekatan dengan orang lain, atau dengan cara memberi dan menerima cinta. Sementara bentuk cinta sendiri dapat diwujudkan dengan berbagai macam sikap, misalnya dengan melakukan kegiatan sosial masyarakat atau dengan kegiatan berbagi itu sendiri bagaimana pun bentuknya.

Selain itu, bagi umat muslim, keinginan untuk berderma didasari pada ketentuan agama yang menyatakan bahwa dengan berbagi Allah akan membalas dengan balasan yang jauh berkali-kali lipat jumlahnya.

Sementara untuk berbagi di bulan Ramadhan itu sendiri, tentunya memiliki berbagai keutamaan, salah satunya adalah pahala bersedekah akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda dibandingkan pada bulan biasanya.

Sedangkan amalan sedekah semacam memberi makan orang yang berbuka akan diibaratkan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang berpuasa. Tentu hal-hal semacam itu tak mau dilewatkan oleh banyak umat muslim, sehingga bulan Ramadhan menjadi ajang berbagi, sehingga dikatakan sebagai bulan kedermawanan.

Hal tersebut tentu merupakan sesuatu yang baik dan mendatangkan manfaat, namun ada juga yang harus dimaknai lebih selain kegiatan berbagi itu sendiri. Mengingat makna kedermawanan yang dekat dengan hati, sudah seharusnya pada bulan yang suci ini memperbaiki hati menjadi diutamakan.

Selain berderma, ada cara-cara lain yang dapat digunakan untuk melatih keteguhan dan kerendahan hati. Itu tentu selaras dengan hakikat salah satu ibadah wajib dan utama di bulan Ramadhan, yaitu puasa.

Puasa bukan hanya kegiatan menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan hawa nafsu atau amarah lainnya. Maka, ibadah ini utamanya berlaku sebagai ibadah untuk melatih hati manusia. Dan hal-hal pengiring semacam giat berderma, membantu sesama, dan yang lainnya dapat dilakukan untuk melatih hati tersebut.

Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan yang mulia dengan segala keutamaannya. Meskipun begitu, ini bukan bermaksud mendiskreditkan bulan-bulan lainnya. Ramadhan membawa semangat kompetisi dalam kebaikan, membawa semangat terus memperbanyak ibadah.

Akan tetapi yang seharusnya dipahami, Ramadhan bukanlah tujuan akhir, sehingga ketika Ramadhan berakhir, berakhir pula semua hawa kebaikan tersebut. Tentu bukan itu maksud dan tujuannya.

Ramadhan hanyalah salah satu ladang berlatih, penempaan dan penempaan dilakukan di bulan ini. Manusia diajak terus melakukan pembiasaan-pembiasaan baru dan menetapkan target-target yang unggul, untuk harapannnya dapat menjadi kebiasaan baru dan rutinitas di bulan berikutnya.

Ramadhan memang bulan berlomba dalam kebaikan, namun di sisi lain hal itu sendiri juga harus diselaraskan dengan kemampuan memahami. Bagaimana ketika melakukan amal-amal tersebut benar-benar memperhatikan konsep kebaikan (thayyib) dalam Islam.

Maksudnya, adalah untuk melakukan niat baik, tentunya harus disertai dengan langkah-langkah yang baik dan tidak memberi dampak buruk untuk orang lain. Jangan sampai, niat baik yang dimiliki justru berakhir dengan hasil yang buruk karena salah cara melaksanakan.

Kembali pada konteks Ramadhan sebagai bulan kedermawanan, maka menjadi dermawan bisa saja dengan menjadi murah hati untuk memahami. Menjadi manusia yang memiliki kelapangan hati untuk memahami kesalahan atau kekurangan orang lain dan memaafkannya.

Menjadi manusia yang memiliki kemampuan untuk menahan diri dari hal-hal yang tidak baik baginya. Berderma tak harus dengan uang dan nominalnya yang melangit, karena kembali lagi berderma adalah tentang jiwa atau hati yang mampu mengikhlaskan meski itu dalam jumlah yang kecil.

Meski begitu, ketika mampu memberi dalam jumlah yang lebih banyak dan disertai keikhlasan hati, tentu juga akan lebih baik lagi. Berderma, bermurah hati tentu sangat luas maknanya dan banyak sekali jenis perwujudannya.

Begitulah Ramadhan dengan segenap keutamaannya. Ia menjadi bulan kedermawanan dan juga bulan penempaan untuk menghasilkan manusia yang lebih baik di bulan selanjutnya.

Sehingga pada kemudian hari, bersambung dengan hadirnya bulan Syawal yang di sana terdapat hari Idhul Fitri, hari kembalinya manusia pada kondisi suci karena telah ditempa dan diperbaiki pada bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan.

Maka semoga, kita menjadi manusia yang mampu memanfaatkan momen Ramadhan ini untuk memperbaiki diri dan berbenah lebih baik lagi.