Puasa dan Kebiasaan Mokah

Oleh: Rizqa Aufa Fauzia

Kapan terakhir kali kamu mokah?

Hingga usia berapa kita mendapat pertanyaan ini dari orang lain? Rupanya di usia yang telah menginjak dewasa, pertanyaan ini masih menjadi tren. Mokah merupakan bahasa yang digunakan orang Jawa Tengah dalam penyebutan membatalkan puasa bukan karena udzur, atau yang tren dalam bahasa Jawa Timur adalah mokel.

Budaya mokah memang terlihat wajar di kalangan anak kecil yang masih belajar berpuasa Ramadhan. Orang tua akan mengajari anak sedikit demi sedikit, dari puasa bedhug hingga ke puasa penuh, dari mewajarkan bermokah hingga melarang melakukannya. Dengan berlatih, maka kita akan terbiasa menjalani puasa.

Namun, bagi sebagian orang, puasa merupakan hal yang sangat sulit dilakukan, maka dari itu Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah: 183 dengan seruan “Hai orang-orang yang beriman...” bukan “Hai umat muslim...” atau sejenisnya.

Menurut beberapa ulama’, berpuasa membutuhkan keimanan kepada Allah SWT, sebab puasa adalah ibadah yang tak mampu diwakilkan atau gugur kewajiban saat telah banyak yang melakukan seperti sholat jenazah.

Puasa akan menjadi tantangan tersendiri bagi manusia dewasa yang tidak menyertakan Allah dalam puasanya. Maka dari itu, Lillah yang biasa dikaitkan dengan kata lelah, berlaku juga dalam hal berpuasa.

Definisi puasa yang paling umum didengar adalah menahan dari segala hal yang membatalkan puasa, rupanya sangat berkaitan erat dengan regulasi emosi individu, baik emosi negatif maupun emosi positif.

Salah satu contoh meregulasi emosi positif adalah melakukan pekerjaan bermanfaat selepas Sholat Dhuhur, pasalnya Allah menganjurkan umat-Nya untuk beristirahat hingga tidurnya orang berpuasa dinilai sebagai ibadah.

Sedangkan meregulasi emosi negatif adalah menahan diri dari mokah, pasalnya hal sepele ini melibatkan 3 struktur psikis manusia untuk berinteraksi yaitu id, ego dan super ego.

3 Struktur psikis ini dicetuskan oleh seorang Psikolog, Sigmund Freud. Id merupakan kebutuhan alami manusia atau yang biasa kita sebut sebagai nafsu. Ego merupakan cara individu mengadapi kenyataan atau realita. Dan superego adalah nilai dan moral yang ada di masyarakat, termasuk nilai spirtual ke pada Allah SWT.

Dalam kasus mokah, maka keinginan bermokah ada id, keputusan menunggu adzan Maghrib merupakan ego dan keimanan kepada Allah atas dasar rukun Islam ke-4 merupakan superego.

Meski terlihat mudah dalam mengajak 3 ranah ini untuk bekerjasama, rupanya ini merupakan hal tersulit dalam memerangi diri sendiri. Di sinilah berpuasa mengambil peran pentingnya sebagai regulasi emosi.

Emosi sangat erat hubungannya dengan mekanisme pertahanan diri, salah satu caranya adalah represi. Dalam beberapa permasalahan, sering merepresi emosi akan membuat kita menjadi tertekan namun dalam hal kebaikan ada baiknya kita melakukan represi sesuai dengan kapasitas diri.

Saat kecil, kita masih bisa menerapkan represi mokah dengan bantuan orang tua, namun saat sudah beranjak dewasa maka satu-satunya yang mempu membantu kita adalah diri kita sendiri. Ada beberapa cara untuk merepresi keinganan mokah, yaitu:

Mengalihkan Keinginan Mokah ke Hobi yang Tidak Menguras Tenaga

Umumnya, individu akan melupakan apa yang menjadi tanggungan saat tengah asyik melakukan hobinya. Hobi yang bisa dilakukan saat berpuasa adalah membaca buku, mendengarkan podcast, mengikuti webinar daring, mendengarkan musik dan hal-hal sederhana lainnya. Hal ini menjadi cara represi yang sering digunakan oleh sebagian orang saat ingin mengalihkan sesuatu dan terdengar mudah dilakukan manusia dewasa.

Menerapkan “Token Ekonomi” Pada Diri Sendiri

Token ekonomi adalah salah satu modifikasi perilaku yang telah familiar bagi kita sejak masa kanak-kanak. Salah satu hal yang sebagian besar kita pernah mengalami adalah mendapatkan bintang di kelas dari guru saat melakukan hal baik.

Cara menerapkan token ekonomi pada diri sendiri, cukup sederhana yaitu dengan memberikan reward dan punishment secara konsisten. Hal ini bisa dilakukan secara bertahap, contohnya pada minggu pertama bila kita berhasil melawan mokah sebanyak 4 hari, maka di akhir pekan kita akan berbuka dengan makanan kesukaan kita yang berharga mahal atau sulit dijangkau.

Lalu di minggu kedua bila berhasil melawan mokah sebanyak 5 hari maka di akhir pekan kita akan menghadiahi diri kita dengan benda sederhana yang bemanfaat untuk kita, dengan syarat reward yang kita berikan tidak lebih mahal dari reward di minggu pertama.

Namun bila pada minggu kedua kita hanya mampu melawan sebanyak 3 atau 4 hari saja maka kita tidak boleh memberi reward melainkan punishment, seperti tidak ada hiburan berupa audio-visual (seperti film atau youtube) hingga pekan depan berhasil melawan 5 hari dan begitu seterusnya hingga di minggu terakhir menjadi penuh 7 hari.

Reward yang diberikan tidak boleh menjadikan kita lalai atau memanjakan diri, pasalnya kita akan melakukan kemubadziran. Sedangkan punishment yang diterapkan tidak diperbolehkan menjadikan kita tersiksa, sebab kita akan melakukan stressing pada diri kita sendiri. Apabila kedua hal tersebut berlebihan, maka nilai Lillah benar akan menjadi lelah semata.

Mempertemukan Antara “Aku” dan “Saya” Setiap Hendak Tidur Sebagai Muhasabah Diri

Berdialog dengan diri sendiri adalah salah satu cara kita memahami bagaimana diri kita sendiri. Manusia dengan persona atau topengnya, cenderung sulit mempertemukan “Aku dan “Saya secara bersamaan.

Maka, hal yang bisa dilakukan adalah dengan self-therapy sebelum tidur. Mengucapakan terima kasih pada diri sendiri dan mengucapkan hamdalah ke pada Allah sebagai permulaan mengevaluasi diri selama seharian beraktivitas.

Setelah itu melakukan metode buttefly hug sembari mengatakan bahwa kita adalah manusia yang tidak luput dari salah dan nafsu, serta kalimat-kalimat lain yang ingin dikatakan pada diri sendiri serta menanyakan pada diri kita apa yang membuat kita sulit menjauhi mokah.

Butterfly hug dilakukan dengan cara menyilangkan kedua tangan di depan dada hingga telapak tangan berada di pundak kita, dan menepuk-nepuknya sebari menarik serta membuang nafas secara perlahan.

Dengan melakuakn self-therapy seperti ini, akan mampu memotivasi dan menguatkan diri kita untuk membaik setiap masa karena motivator terbaik adalah diri kita sendiri.

Masih banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menjadikan puasa sebenar-benarnya Lillah bukan sekadar formalitas. Setiap kita berproses pada tahapan kita sendiri.

Tidak perlu membandingkan dengan orang lain namun juga harus menyadari keseimbangan perilaku dengan usia kita. Menjadi muslim dan muslimah baik, bukan seberapa sering kita berpuasa penuh namun seberapa mampu kita meregulasi emosi kita saat berpuasa.

Jadi, kapan terahir kali kamu mokah?