Paradigma Cinta: Senjakala Kisah Sepasang Babi

Oleh: Akhmad Nur Khoiri

Suasana sore hari menghabur dikala senja memancarkan sinarnya menembus sela dari rapatnya pepohonan hutan. Suasana yang lembab dengan penuh semak belukar di sisi kana dan kiri menghiasi jalan setapak yang membelah rindangnya barisan pepohonan.

Nampak sepasang babi mesra yang berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan setapak. Mereka menuju tepi danau untuk menjalani peribadatan kencan akhir pekannya.

Sinar senja yang menabrak permukaan air danau memantulkan gemerlap cahaya kekuningan dengan diselimuti suasana yang tenang. Indahnya pemandangan di danau itu membuat tempat itu menjadi langganan sepasang babi ini untuk memadu kasih.

Mereka duduk di sebatang pohon tumbang dengan disertai hembusan angin yang semilir menerpa tubuh mereka. Hanya tinggal memutar instrumen lagu my heart will go on, maka akan semakin syahdu perkencanan mereka.

Selain romantis, sepasang babi ini juga seorang intelektualis yang handal. Maka tak jarang dalam kencannya mereka berdialektika tentang apapun yang terlintas dipikiran mereka.

Bigen si babi jantan memulai percakapan. “Lihatlah pemandangan ini, indah sekali bukan? Betapa bodoh mereka yang memilih untuk berkencan di mall, cafe, atau berbagai makhluk sejenisnya,”

Babyla mengerutkan dahinya. “Lantas apakah salah jika kita sesekali menghamba pada mall atau diskotik? Selalu berkencanan di tepi danau juga merupakan suatu rutinitas yang cukup membosankan.”

Bigen tersenyum. “Apakah engkau tidak tahu betapa nikmatnya menyayikan lagu atau membacakan puisi untukmu di tepi danau ini, sayang? Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan? Wacanamu tentang kapitalisme masih teramat balita. Mari aku perdalam.”

Dengan sedikit tersentak Babyla menjawab. “Bukan main umpatanmu. Kau mencibirku seperti seorang pemula yang merayu perawan saja. Apakah salah jika aku menginginkan kebutuhan akan materi ini dipenuhi?”

Bigen cukup jengkel. “Persetan dengan segala sesembahan ciptaan kapitalisme. Mereka adalah tempat berpulang bagi para pemuja materi. Cinta kita tidak terbatas pada materi, sayang. Kita tak sama bodohnya seperti para hewan lain pada umumnya”.

Babyla sedikit menarik nafas. “Baiklah, lantas mengapa engkau memilihku dengan segala bentuk hedonisme yang ada padaku?”

Bigen kembali tersenyum. “Ini semua karena aku dapat berpikir, sayang”.

Babyla merasa tidak puas dengan jawaban Bigen. “Tak usah berkelit. Lekaslah berikan aku sebuah jawaban layaknya seorang pejantan tangguh”.

Bigen menjawab dengan segala bentuk penafsirannya tentang cinta. “Kita memerlukan rasio dalam mencinta. Karena kita adalah makhluk yang sadar akan diri kita. Maka dengan kesadaran itu, aku tahu tentang siapa yang sepantasnya aku cinta”.

Babyla merasa cukup dengan jawaban dari Bigen “Ya... ya, itu semua argumenmu. Semua bisa dikapitaslisasi. Namun yang aku tahu yang tidak bisa dikapitalisasi hanyalah cintamu kepadaku yang kian menjelma suci”.

Bigen terheran dengan jawaban kekasihnya “Tumben kamu cerdas? Habis membaca Feminisme, Sosialisme atau produk lain karangan Karl Marx?”.

Babyla menjawab “Ah, orang peramal itu lagi. Ia dengan pedenya mengatakan kehancuran kapitalisme. Namun telah lama setelah kematiannya kapitalisme sungguh semakin langgeng dalam tatananya”.

Bigen mengerti maksud dari kekasihnya. “Ya, beberapa hari terakhir ini aku membaca berbagai buku karangan Karl Marx. Aku memang kaya dalam wacana, namun tiada aksi yang nyata”.

Babyla menyahut ungkapan Bigen. “Sudahlah, sayangku. Akan hilang kejantananmu jika engkau hanya mengeluh seperti itu. Lihatlah tubuhku, ketika rasi bintang cintamu telah terpancar padaku maka tubuh ini sepenuhnya adalah otoritasmu”.

Bigen tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh Babyla. Dia memandangi kekasihnya dan mengamini bahwa yang mampu merepresentasikan Tuhan hanyalah perempuan.

Bigen mulai memeluk Babyla dan mencumbunya. Sungguh sepasang babi yang bercinta dengan mesra di bawah indahnya bias senja.

Babyla merasa kelelahan. “Cukup, sayangku. Belaianmu membuatku mencapai ruang dzauq asmaraku”.

Bigen tersenyum dan menjawab. “Bukankah telah aku tunjukan bahwa semua ini adalah surga yang nyata, sayangku”.

Babyla bergegas menjawab. “Tunggu dulu. Hubungan kita belum berlabel halal, kapankah engkau akan menikahiku?”.

Bigen kembali mencibir. “Ah, masalah pernikahan lagi. Itu adalah pemikiran usang dari sekumpulan orang yang mengingkan suatu ketentraman dengan membuat ikatan”.

Babyla bingung dengan pernyataan itu. “Bukankah kita seharunya menikah dan berkembangbiak, sayangku?”.

Bigen menjawab pertanyaan dari kekasihnya yang lugu. “Apakah ikatan lebih penting dari cinta itu sendiri, sayangku? Masihkah kau meragukan cintaku? Ikatan dalam sebuah komitmen hanyalah diproduksi oleh mereka yang sebenarnya tidak dapat memegang komitmen itu sendiri”.

Babyla tersenyum dan berkata. “Sungguh tidak ada keraguan dalam menjalankan aktivitas mencintaimu, sayangku. Tapi bukankah dengan begini hubungan kita akan dikatakan sebgai pasangan ‘kumpul kebo’, sayangku?”.

Bigen tertawa sembari berkata. “Tidak mungkin, kita ini sepasang babi bukan kerbau”.

Babyla merasa gemas dan mencubit Bigen. Mereka telah berbagi banyak pemikiran dalam kencan kali ini.

Tanpa terasa adzan maghrib telah berkumandang. Ini menandakan peribadatan kencan senja mereka di hari ini telah berakhir.