Mitos Sisifus: Absurditas, Upaya Menuju Nihilisme

 

Judul buku: Mitos Sisifus

Penulis : Albert Camus

Penerjemah: David Setiawan

Penerbit: CIRCA

Kota terbit: Yogyakarta

Tahun terbit: September, 2020

Tebal buku: viii + 166 halaman

ISBN: 978-623-7624-06-6

“Satu-satunya pemikiran yang membebaskan benak [mind] adalah pemikiran yang meninggalkannya bersendiri, menentukan batas-batasnya dan akhirnya yang akan segera terjadi.” (Mitos Sisifus, h. 138)

Kalau mencari sesuatu yang menyebalkan, jawabannya adalah Sisifus. Setidaknya itu hal pertama yang saya tangkap dari buku Albert Camus ini. Ia mencoba menggaungkan absurditas dari kisah Sisifus, sang Pahlawan Absurd, katanya.

Yups, Camus menggambarkan Sisifus sebagai pahlawan yang mencemooh dewa, benci terhadap kematian, renjana terhadap hidupnya yang membuahkan hukuman, dan keberadaannya yang didesak menuju nihilisme. Sisifus adalah manusia absurd yang menjalani hukuman dari dewa dengan tabah. Meskipun ia tahu hukuman itu tak akan pernah selesai.

Hukumannya, mendorong batu ke puncak gunung dan setelah sampai di puncak, batu itu akan menggelinding ke dasar. Batu itu akan ia dorong lagi ke puncak dan -lagi-lagi- akan menggelinding. Sisifus tetap menjalankan hukuman itu, meski ia tahu akhirnya akan seperti ini juga.

Rasionalnya, ia terlihat bodoh dengan mengulangi sesuatu yang jelas-jelas ending-nya akan sama, sia-sia. Pasalnya, ia adalah manusia absurd, yang mana tak ada seorang pun yang tahu bagaimana dirinya yang sesungguhnya, apa maksudnya dari perbuatannya itu, dan apa yang sebenarnya ia perbuat.

Padahal, lebih dari semua itu, dalam perjalanannya menghampiri batu yang ada di dasar, ia merenungkan siksaannya. Ia memiliki sesuatu yang tak akan pernah orang lain miliki dan ketahui.

“Kita selalu mendapatkan beban kita sendiri-sendiri. Namun, Sisifus mengajarkan kesetiaan yang lebih tinggi, yang menegasikan para dewa dan yang mengangkat batu-batu.” (Mitos Sisifus, h. 146)

Lebih jelasnya, kita akan mengupas satu persatu dari tiga bab dalam karya Camus. Pertama, penalaran absurd. Pada bagian ini, Camus menjelaskan tentang bunuh diri yang oleh sebagian orang dianggap sebagai fenomena sosial. 

Sebut saja Emile Durkheim yang menjadikan bunuh diri (suicide) sebagai salah satu tema utama dalam Sosiologinya. Durkheim mengganggap bahwa bunuh diri bukan perkara psikis, melainkan sosiologis. 

Menurutnya, manusia melakukan bunuh diri karena tinggi-rendahnya regulasi dan integrasi dalam masyarakat. Bisa dibilang, kalau bunuh diri itu bukan kehendak diri, melainkan pengaruh dari masyarakat.

Namun, Camus tidak demikian. Apa yang kiranya diyakini benar oleh individu, maka itu yang akan dijalankan. Pun dengan bunuh diri, Camus mengungkapkan bahwa setiap orang sehat memiliki pemikiran akan bunuh dirinya masing-masing.

“Menjalani hidup secara alamiah tak pernah mudah. Kita terus-menerus berbuat sesuatu yang diperintahkan oleh eksistensi untuk banyak alasan, yang pertama-tama adalah karena kebiasaan.” (Mitos Sisifus, h. 8)

Sebuah truisme mengungkapkan, orang yang bunuh diri karena hidupnya tidak layak dijalani. Tidakkah itu telalu to the point? Menurut Camus, bunuh diri itu muskil dipahami, sehingga butuh perenungan untuk sampai padanya. 

Ibaratnya begini, meskipun telah menyaksikan ribuan kali penampilan aktor yang sama, kalian tidak akan pernah tahu bagaimana kepribadian aslinya. Premis ini mengingatkan kita pada Imanuel Kant tentang das ding an sich-nya

Sekuat apapun rasio, seberingas apapun indera, keduanya tak akan sampai pada an sich. Keduanya memiliki batasan. Dengan keduanya, manusia hanya bisa menggapai fenomena, mereka sama sekali tidak akan pernah sampai pada nomena.

Nah, pun dengan bunuh diri. Bisa dibilang, nyaris muskil untuk mengetahuinya. Karena memang segala sesuatu di dunia ini absurd, kata Camus. Keabsurdan ini menjadi kerinduan yang liar akan kejernihan yang berdengung pada diri manusia.

Dengan ini sampailah kita pada ruang lingkup keabsurdan. Ia adalah perlawanan yang selalu menegasikan sesuatu, tak terima begitu saja pada fakta yang ada. 

Keabsurdan adalah renjana itu sendiri. Ia melahirkan kebebasan yang menolak kesatuan kebenaran. Ia menggaungkan keragaman kebenaran yang identik pada diri setiap individu. 

Well, namanya juga absurd. Sepanjang apa pun definisi mengenai penalaran absurd, kita akan jatuh juga pada keabsurdan. Namun, dari bab ini kita tahu bahwa segala sesuatu itu perlu dinegasikan, hingga kita akan dapat pelbagai kebenaran.

Kedua, manusia absurd. Kalau di bab sebelumnya kita menyelami penalaran absurd, maka di bab ini Camus akan mengenalkan manusia absurd versinya. 

Manusia absurd, mereka yang memilih keberanian dan penalarannya. Mereka yang hidup tanpa memohon dan sadar akan batasannya. Manusia absurd yang rindu akan kejernihan dan menerima segala konsekuensi atas hidupnya.

Camus mengenalkan Don Juan, sosok yang gemar mencintai wanita. Baginya, tak ada istilah mengoleksi wanita. Setiap wanita memiliki sesuatu yang berbeda antara satu dengan yang lain.

Jika Don Juan gagal dengan yang satu, maka ia akan mendapatkan yang lain dengan sesuatu yang tak akan pernah sama. Dengan ini, ia telah mencurahkan diri dan menghabiskan kesempatan hidupnya dengan wanitanya.

“Tidak ada cinta yang agung, kecuali yang menganali dirinya sendiri sebagai hidup sesaat sekaligus luar biasa.” (Mitos Sisifus, h. 88)

Tidak lupa, Camus menggaet aktor dalam absurditasnya. Sebenarnya, ia telah menjelaskan ketertarikannya pada aktor di bab pertama. Namun, ia menegaskan dengan menyebut bahwa aktor itu adalah sosok yang absurd. 

Mereka mampu menampilkan berbagai peran, namun, na'as, tidak ada satu pun orang yang mampu mengenal sosok aktor yang sebenarnya. Mirip dengan konsep Dramaturgi ala Erving Goffman. 

Di mana aktor hanya menampilkan apa yang ingin mereka tampilkan dihadapan publik. Namun, tak ada satu orang pun yang tahu bagaimana dirinya di belakang layar. Ya, semua-muanya terkesan absurd, sama seperti yang digaungkan Camus.

“Dunia absurd tak bertuhan ini dihuni dengan orang-orang yang berpikir jernih dan yang telah berhenti berharap.” (Mitos Sisifus, h. 109)

Ketiga, penciptaan absurd. Saya kira bagian ini memuat segala tetek bengek tentang seni. Bagi Camus, seni adalah fenomena absurd. Tak ada yang tahu persis bagaimana makna seni itu, kecuali penciptanya.

Camus mencontohkan kisah Kirilov dalan novel The Possessed, seorang yang mendakwa dirinya bunuh diri karena memang itu idenya. Dia ingin bunuh diri untuk menjadi Tuhan.

Duh, siapa yang tahu maksud dari novel ini sesungguhnya? Secara awam, pembaca akan mengutuk novel ini karena berisi kiat-kiat bunuh diri. Namun, ketika menggunakan penalaran absurd, pembaca akan dihadapkan dengan sesuatu yang sarat akan negasi dan muskil didefinisikan

“Jika Tuhan tidak ada, akulah Tuhan. Untuk menjadi Tuhan berarti harus terbebas dari dunia ini, tidak melayani satu zat abadi. Jika Tuhan eksis, semua tergantung kepada-Nya dan kita tidak bisa melakukan apapun yang bertentangan dengan-Nya.” (Mitos Sisifus, h. 128)

Terakhir, apendiks tentang harapan dan keabsurdan dalam karya Franz Kafka. Camus menyebut bahwa karya-karya Kafka itu adalah karya yang absurd. Penuh paradoks yang perlu diuraikan dan sarat akan negasi.

Ya, beginilah karya absurd, yang barang kali bukan hanya karya-karya Kafka, tetapi karya-karya novelis dan filsuf eksistensial akan mengarah padanya, pada sang Absurd. Saya kira Mitos Sisifus ini adalah karya Camus yang cukup sulit. Ia menjabarkan sesuatu yang absurd untuk ditelan pembaca.

Bisa dibayangkan sendiri, bagaimana mengasupi nalar dengan sesuatu yang absurd. Tapi, karyanya ini cukup memotivasi pembaca untuk tidak tunduk pada fakta, menegasi sesuatu, dan bersyukur. Setidaknya, itu hal naif yang saya dapat setelah selesai mengoreknya. Yah, saya pikir, semua akan nihilis pada waktunya.