Klandestin

Oleh: Rizqa Aufa Fauzia

“Bisakah Tuhan berhenti membuatku mimisan?”

Kurang ajar sekali sebuah mulut melonglong tak gentar

Seperti angin yang memaksa masuk ke dalam rongga yang sedang menggigil

Siapa dia si anak kecil yang berani itu? Tak takut Tuhan?

 

Rupanya, dia bernama ‘Aku’. Nama lengkapnya ‘Aku Si Anak TK’

Lisannya kehilangan rantai, kalimatnya keluar membantai..

 

‘Aku’ tak menyukai senyum, katanya gigi depannya tak cantik

‘Aku’ hanya menyukai warna-warni di genggaman bapaknya

Oh iya, Aku menyukai ibunya. Bahkan, senyum ibunya. Manis..

 

Kudengar, ‘Aku’ sudah berkali-kali mengganti nama lengkapnya

Terakhir bercengkrama, namanya menjadi ‘Aku yang Tak Kunjung Sarjana’..

 

Kudengar, ‘Aku’ tak lagi menagis sekencang gemuruh

Tangisnya sesunyi malam tanpa hujan

 

Kudengar, ‘Aku’ enyukai empat tahun. Begitu orang mengenalnya

Tiap ‘Aku’ masuk, ‘Aku’ akan keluar setelah empat tahun

 

Kukira ‘Aku’ masuk sebuah kesedihan yang menggerogoti

Ternyata ‘Aku’ mengganti nama lengkapnya

Setiap empat tahun sekali, tahun kelahirannya berusaha dihilangkan. Entah. Aneh..

Ragu.. Jawabnya singkat saat kutanya mengapa ‘Aku’ dan 1998

 

Kukira kerusuhan, ternyata kesusahan..

Kupikir kemiskinan, rupanya kemirisan

Kalimatnya masih lihai menyulap kesejukan menjadi bara api

 

Hanya “Terima kasih untuk 23 tahun atas keapaadaannya” yang tak merubah damai..

“Setia menantiku berpulang setiap 4 tahun sekali”

Begitu tutur ‘Aku’ dengan isak yang lama tak pernah kulihat..

 

‘Aku’ berubah. Ada Saya dalam diri ‘Aku’. Ada resah dalam diri ‘Aku’

Hanya satu yang masih sama, ‘Aku’ masih mencintai klandestin dengan sarkasnya

Hanya satu yang menetap, ‘Aku’ masih membanggakan rahasia dengan binarnya..

 

Semua berubah, semua menua, semua melepas, semua menghilang

Hanya ‘jika’ yang menetap, hanya ‘jika’ yang menapak, hanya ‘jika’ yang mengakar

Begitu kalimat akhir ‘Aku’, sebelum ia menjelma menjadi ‘Saya’, lagi..