Ketika Diri Sendiri Tidak Aku Kenal


Matahari mulai meninggi dan memancarkan sinar yang kian menyengat permukaan kulit. Aku masih duduk termenung di bawah sebatang pohon rindang untuk sekedar bertukar oksigen dengannnya.

Menyandarkan diri sembari menghisap seputung rokok yang asapnya aku hembuskan ke udara. Pikiranku masih melayang akibat tugas-tugas UAS (Ujian Akhir Semester) yang menumpuk.

Aku adalah mahasiswa biasa yang terstruktur oleh rutinitas kampus. Wajar saja jika UAS sudah menjadi masalah yang cukup berat untuk aku pikirkan.

Banyak mata kuliah yang cukup membosankan seperti sejarah, dan bahkan adapula yang selalu membingungkan yakni filsafat. Kepala ini hampir saja pecah dibuatnya.

Namun aku sendiri tak kekurangan akal. Bermodalkan jurus “Ctrl+C dan Ctrl+V”  dan sedikit editing dari bahan yang diberikan teman aku sudah bisa menyelesaikan berbagai mata kuliah dalam UAS.

Sembari menunggu jawaban UAS dari teman, aku berinisiatif untuk pergi “nongkrong” ke Warung Kopi Mbak Susi. Aku keluarkan ponselku dan mengabari teman-temanku untuk merapat ke Warung Kopi Mbak Susi.

Langsung saja aku memacu motor bebekku dengan kecepatan yang tidak melampaui kapasitasnya. Tak butuh waktu lama aku sudah tiba di Warung Kopi Mbak Susi.

Aku memesan es kopi dan langsung duduk di samping teman-temanku. Seperti umumnya manusia lain aku bertanya pada mereka “Sudah datang dari tadi?”.

Satu persatu dari mereka menjawab sembari berjabat tangan denganku. Kami mulai membicarakan berbagai topik yang ringan.

Kami mulai tertawa bersama-sama, mulai dari cekikikan hingga tertawa terbahak-bahak. Seolah-olah apa yang aku pikirkan tadi hilang seketika.

Di tengah canda gurau kami, tiba-tiba salah satu temanku berkata “ayo kita MABAR (main bareng) Mobile Legend,”. Serentak teman-teman yang lain langsung membuka ponsel mereka.

Ponsel-ponsel mulai dimiringkan. Kepala-kepala kian tertunduk seakan khusyuk dalam peribadatan push rank-nya.

Sedangkan aku hanya berdiam diri. Bukan tak mau, tapi apalah dayaku yang ponsel ‘kentangnya’ hanya berkapasitas 2gb.

Beban pikiran yang sempat hilang kini kembali lagi. Tak ada yang bisa aku lakukan selain  melihat mereka berceloteh sembari matanya tetap tertuju pada ponsel.

Aku merasa tidak nyaman dengan kondisiku saat ini. Aku bahkan merasa terasing dari teman-temanku.

Hingga akhirnya aku teringat pada kekasihku. Sudah dua hari ini aku tidak mengabarinya akibat tugas UAS yang menumpuk.

Ku akui bahwa hati ini merasa rindu. Ingin rasanya untuk pergi bertemu namun aku ingat bahwa ini bukanlah hari sabtu ataupun minggu.

Aku berinisiatif untuk mengirimkan pesan melalui WhatsApp. Setelah lama aku tunggu akhirnya dia membalas chat-ku.

Kita bercerita mengikuti alur walaupun dapat dikatakan dia cukup slow respon untuk aku yang selalu fast respon. Dan chat kita berhenti saat dia berkata ”bentar ya, aku masih repot,”.

Sebagai pasangan yang pengertian aku bisa memakluminya. Terbesit dalam pikirku untuk membuka Instagram untuk sekedar menyingkirkan sunyi.

Namun saat itu pacarku membuat story Instagram tentang videonya yang sedang bermain Tik Tok. Bahkan selang beberapa menit dia juga melakukan siaran langsung.

Aku tak bisa marah walau rinduku tengah menggebu. Mau bad mood tapi dia juga kekasihku.

Aku hanya bisa berkata dalam hati ”Rindu, engkau tak perlu menggonggongi waktu. Kekasihmu tak akan membuka galeri untuk melihat fotomu, dia hanya akan membuka Instagram, tik tok, dan aplikasi semacam itu.”

Aku bingung, aku tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Teman-temanku dan juga kekasihku atau bahkan diriku.

Siapa mereka sekarang ini? Apakah ini karena ganasnya hipnotis teknologi? Atau aku yang sudah usang dan tertinggal zaman?

Entahlah, yang jelas untuk saat ini teknologi telah membuatku tak mengenali diriku sendiri. Ya, aku sudah teralienasi.