Huru-hara Artis Hijrah Dan Artis TOA Di Tengah Ramadhan

Pada sebuah tatanan masyarakat, budaya dan adat istiadat menjadi bagian yang lekat dalam kehidupan. Bisa dikatakan, hampir setiap kegiatan masyarakat sedikit banyak dipengaruhi bagaimana adat istiadat di lingkungannya.

Begitu juga ketika bulan Ramadhan, setiap masyarakat memiliki budaya masing-masing. Sebagai contohnya masyarakat di Ponorogo memiliki budaya ‘megengan’ untuk menyambut Ramadhan.

Yaitu, budaya menyambut Ramadhan dengan berkumpul membaca doa bersama di satu lingkungan tempat tinggalnya dan membawa makanan masing-masing untuk dibacakan doa. Hal-hal semacam itu banyak sekali jenisnya.

Tentu budaya menjadi pemeriah dalam berbagai kegiatan. Namun, sisi buruk yang bisa timbul dari adanya budaya adalah ketika menjalankan ritual peribadatan, menjadi lebih mengutamakan pelaksanaan ritual budayanya dibandingkan dengan menjalankan tata cara yang benar sesuai syari’at.

Dalam konteks Ramadhan misalnya bisa jadi masyarakat menjadi lebih rindu dan lebih bersungguh-sungguh melakukan ritual budaya, namun tidak berlaku demikian untuk melakukan amal ibadah dari Ramadhan itu sendiri.

Sudah bukan rahasia lagi, pada bulan Ramadhan masjid terasa lebih ramai, bacaan al-Quran dilantunkan lebih sering dari hari-hari biasanya, semua seolah berlomba tak mau kalah dalam memeriahkan.

Tetapi posisi teknologi, ternyata sedikit banyak juga memengaruhi bagaimana kehidupan masyarakat dalam memeriahkan Ramadhan. Terlebih lagi di era pandemi COVID-19 saat ini, di mana masih belum seluruh wilayah bisa melakukan kegiatan memakmurkan masjid dengan leluasa.

Kegiatan meramaikan Ramadhan tidak sedikit yang akhirnya digelar secara online, terutama kegiatan anak mudanya. Kegiatan seperti halaqah Quran, kajian, lomba Ramadhan, dan masih banyak hal lainnya yang digelar secara dalam jaringan (daring).

Bahkan semenjak beberapa tahun belakang, posisi smartphone juga lebih mendewa, yang membuat masyarakat lebih terpaku pada smartphone itu sendiri, dibanding melakukan kegiatan-kegiatan tatap muka langsung.

Sejalan dengan berkembangnya teknologi dan menjamurnya penggunaan smartphone, media sosial adalah sesuatu yang memberikan pengaruh cukup tinggi. Maka, tidak mengherankan saat ini banyak orang, utamanya anak muda yang lebih suka ‘nongkrong’ di media sosial, bahkan di bulan Ramadhan.

Seolah menjadi bilah pisau dua sisi, karena selain memberikan kemudahan dalam akses informasi, tapi juga menjadi tantangan tersendiri ketika memakainya. Ujaran-ujaran kebencian misalnya, ia bertebaran di media sosial dan bisa menguji kesabaran si pembaca.

Di sisi lain, menjadi tantangan juga menahan emosi untuk tidak membalas ujaran yang sejenis. Maka menjadi sebuah kepastian, bahwa menggunakan media sosial harus disertai kebijakan diri si pengguna.

Baru-baru ini, pada media sosial Twitter ada sebuah huru-hara yang terjadi dan menguji kesabaran di tengah bulan Ramadhan yang suci. Ada 2 kejadian yang akan disorot dan semuanya berkaitan dengan tokoh public figure.

Pertama, kejadian ini bermula dari sebuah post di Twitter yang menampilkan kolase foto, bagian atas menampilkan ulama dan muridnya yang sedang mengkaji kitab, sedangkan bagian bawah adalah foto sekelompok artis hijrah yang sedang mendengarkan kajian salah seorang ustadz.

Masalah bemula ketika foto itu diberikan sebuah keterangan yang menyatakan bahwa foto tersebut adalah gambaran mana orang yang mengaji dan mana yang hanya sekadar mendengarkan seseorang berbicara di panggung.

Hal ini tentu disayangkan, karena bermula dari sana banyak memicu hal-hal yang kurang menyenangkan. Di lain sisi, post tersebut juga cukup menuai kritik. Banyak yang akhirnya menjawab post tersebut dengan menyatakan bahwa tidak bisa membandingkan kedua foto tersebut begitu saja dan sangat menyayangkan perilaku pengirim.

Memang benar mengaji kitab adalah sesuatu yang penting sebagai jalan mengenal Islam, akan tetapi pada kehidupan nyata, jangankan mengaji kitab, melakukan kewajiban sehari-hari saja masih enggan.

Maka, bagaimana pendekatan dari ustadz yang membimbing kalangan hijrah tersebut juga patut diapresiasi. Pendekatannya menjadikan banyak kalangan yang mulanya eggan belajar Islam, akhirnya mau kembali belajar dan menjadi lebih baik.

Tentu, akan ada proses yang bertahap, bermula dari mengenalkan kembali Islam, mengajak kembali pada jalan Islam, lalu lambat laun baru bisa memasuki tahapan-tahapan mengenal dengan lebih dalam (dengan cara mengkaji kitab, dsb). Semua itu bertahap dan memang benar adanya bahwa mengkaji kitab adalah bagian yang penting dalam mengenal Islam.

Kejadian kedua adalah kritikan pedas tehadap seorang artis yang mulanya memposting dan mengkritik bagaimana pembangunan sahur di daerahnya yang menggunakan TOA dan disertai teriakan.

Ia juga menyatakan bahwa hal tersebut bisa saja mengganggu yang tidak menjalankan saur, dan di Indonesia pun agamanya beragam. Hal semacam ini dirasanya tidak lucu, tidak etis, dan tidak bisa menghargai yang lain.

Berselang beberapa saat, nama sang artis menjadi trending Twitter dan disandingkan dengan kata “Mabok TOA”. Usut punya usut, sebuah media memberitakannya dengan judul yang dapat memicu kesalahpahaman. Tanpa melihat isi dan video asli, memang akan berpotensi terjadi kesalahpahaman yang besar.

Selanjutnya kubu terbagi-bagi, ada yang menyetujui apa yang diungkapkan sang artis dengan alasan bahwa penggunaan speaker/TOA masjid sudah selayaknya dipergunakan dengan baik dan tidak perlu menggunakan teriakan.

Kubu lain menyatakan bahwa membangunkan sahur sudah menjadi budaya di Indonesia dan hal semacam itu sudah biasa terjadi, bahkan juga ada tambahan bahwa si artis lebih baik pindah ke hutan agar tidak terganggu.

Satu kejadian dengan perbedaan sudut pandang dan hal ini lumrah saja terjadi. Keramaian terus timbul dan akhirnya sang artis membuat video di kanal YouTube nya untuk meluruskan apa yang sebenarnya ia kritik dan juga menghadirkan tokoh pemuda yang melakukan tindakan pembangunan sahur di daerahnya.

Ia menyatakan bahwa yang ia kritik bukan seluruh aktifitas membangunkan sahur, hanya saja membangunkan sahur dengan TOA yang disertai teriakan berlebihan. Ia juga memaparkan bahwa jika menggunakan TOA, di mana berfungsi sebagai pengeras suara, tidak perlu disertai dengan teriakan dan lebih baik menggunakan pemilihan kata yang baik.

Video tersebut juga bermula dan berakhir dengan kedamaian dari kedua belah pihak. Akan tetapi, kejadian kritik dari masyarakat masih belum juga berhenti. Bahkan tak jarang, komentar disematkan dengan membawa masa lalu buruk sang artis dan masih membanjiri kolom komentar artis tersebut dengan kata-kata yang kurang baik (bahkan pada post yang tidak menyangkut pautkan dengan saur).

Dari dua huru-hara tersebut, baik yang terjadi pada pengajian artis hijrah atau pada artis yang mengkritik sebuah kejadian pembangunan sahur di daerahnya, semua memiliki pro dan kontranya.

Hanya saja yang menjadi bahasan kali ini bukanlah siapakah pihak yang pantas dibenarkan dan sebagainya. Namun, kembali lagi sebagaimana pemaparan di awal mengenai bulan Ramadhan dan segala yang menjadi pemeriahnya.

Bulan Ramadhan dan segenap kesuciannya, ternyata tak lantas menjadikan manusia begitu saja lebih bisa memahami sesamanya dan lebih lapang mendengarkan orang lain. Mengenai dua kejadian tersebut, alangkah baiknya jika pengguna media sosial mau sedikit saja bersabar dalam mengajukan kritik.

Bagaimana bersabar memahami bahwa tak semua umat muslim bisa langsung memasuki tahapan mengkaji kitab, namun butuh beberapa pengenalan terlebih dahulu. Seperri bagaimana mau sejenak membaca isi berita, lalu menyimak utuh apa yang sebenarnya diutarakan.

Selain itu, hal yang disayangkan terjadi adalah bagaimana komentar justru menyerang pribadi pihak-pihak artis hijrah tersebut. Sangat disayangkan bagaimana suatu kejadian dikritik dengan menghadirkan dan menguak masa lalu buruk seseorang.

Padahal secara etika saja kita tahu bahwa menguak aib orang lain itu tidak baik, dan kita tidak tahu bagaimana seseorang telah berusaha meninggalkan kebiasaan buruk di masa lalunya tersebut.

Sangat disayangkan bagaimana momen indah Ramadhan justru terwarnai dengan hal-hal semacam saling menjatuhkan atau bersalahpaham pada sesama. Semoga Indonesia bertumbuh menjadi negara yang tidak darurat memahami.

Semoga pula amalan puasa yang dilakukan tidak hanya semata dimeriahkan secara budaya, namun juga secara penggiatan amal dan menjadi manusia yang lebih baik lagi setiap harinya. Puasa yang dilakukan sudah seharusnya tak hanya menahan lapar dan dahaga, namun juga menjalankannya dengan sebaik yang kita bisa, dengan meninggalkan apa-apa yang tidak berguna dan tidak mendatangkan manfaat.