Gus Dur dan Aliran Sastra Realisme Sosialis



Mengenang Gus Dur, sama halnya mengenang kemanusiaan. Figur santun, santuy sekaligus toleran itu telah tuntas menyemai benih-benih kesadaran akan pentingnya menjaga kerukunan umat.

Tak elak, semasa beliau hidup, problem-problem identitas serta sosio-kultural yang menjangkit masyarakat Indonesia, perlahan-lahan Gus Dur obati dengan berbagai dakwah yang mempertonjolkan Islam yang ramah, Islam yang kembali ke substansi asalnya, yakni Islam yang rahman dan rahim, penuh kasih sayang.

Permasalahan yang lahir karena kekayaan identitas di Nusantara itu, Gus Dur lacak dari akar kelahirannya. Nusantara yang notabene-nya merupakan suatu bangsa yang heterogen (menaungi berbagai ras, suku, budaya dan Bahasa), harus pula dilayani dengan tangan yang terampil memeluk semuanya.

Seperti tubuh yang kokoh membentengi rasa persatuan, dan jiwa yang berkobar dalam upaya menjaga tali silaturahmi antar sesama.

Usaha Gus Dur dalam menyelesaikan problem-problem itu tak lahir dari olah keilmuan yang statis, namun sebagai seorang cendekiawan, Gus Dur mempelajari berbagai khazanah keIslaman secara kompleks.

Perjalanan intelektualnya selepas rampung ngaji di pesantren adalah kuliah di luar negeri. Selain itu, pertemuan beliau dengan tokoh-tokoh Islam dunia juga menjadi formula ampuh yang akhirnya membentuk perspektif Gus Dur akan sederajatnya agama dan kemanusiaan.

Kita tak mungkin melepaskan term Islam Kosmopolitan, Pribumisasi Islam dan Islam moderat dari nama Gus Dur, embrio tiga gagasan tersebut memang racikan beliau, dengan kontekstualisasi khas keindonesiaan.

Bahkan Greg Barton, seorang pengkaji Indonesia dalam bukunya “Biografi Gus Dur” pernah mengutarakan bahwa “Gus Dur dalam banyak hal merupakan seorang pemimpin yang menonjol dan juga seorang individu yang sangat kompleks. Memang, dalam diri Gus Dur terdapat lebih daripada sekadar apa yang kasat mata” (hal 21).

Pernyataan tersebut memperlihatkan pribadi Gus Dur yang memang unik secara ideologis, teologis dan sosial. Dari posisinya sebagai santri, umat Nahdliyyin, presiden dan seorang penulis.

Maka dari itu, saya hendak lebih rinci mengulas perihal kedekatan Gus Dur dengan realitas sosial bangsa Indonesia, dilacak dari hubungannya dengan Pramoedya Ananta Toer sekaligus mengulas kecondongan wacana Gus Dur atas aliran sastra realisme sosialis.

Realisme sosial merupakan sebuah aliran baru dalam jagad kesusastraan, aliran ini hampir memiliki kesamaan dengan aliran sastra realisme sosialis. Realisme sosial lebih condong ke arah elemen masyarakat secara utuh, menyangkut berbagai isi dari problematika sosial, entah politik, ekonomi maupun negara.

Sedang, realisme sosialis lebih membidik pada kritik atas tatanan masyarakat ideologis, semisal penerapan ideologi sosialisme dalam arus perpolitikan masyarakat. Namun keduanya saling berikatan dalam cara pandang transformasi sosial.

Seperti pandangan yang dituturkan Jan Van Luxemburg, Mikel Bal dan Willem G Weststeijin (1982) Realisme sosialis menuntut dari para pengarang agar melukiskan kenyataan dalam perkembangan revolusionernya, selaras dengan kebenaran dan fakta sejarah...” (lit. Korasulindo.com, Noor Yanto, 2016).

Salah satu penggagas aliran ini di kancah kesusastraan Indonesia adalah Pramoedya dengan berbagai novel kritis-evaluatif terhadap masyarakat yang ia tuliskan. Aliran sastra sosial sering ditautkan dengan kelahiran revolusi-revolusi besar atau pergolakan sosial yang terjadi di dunia, semisal contoh konkritnya kita bisa melihat pola sastra yang ada di Rusia (Uni Soviet pada saat itu).

Karya-karya yang dihasilkan oleh sastrawan Rusia seringkali dianggap sebagai aliran sastra realisme sosial, semisal karya dari Anton Chekov, Leo Tolstoy, Maxim Gorky dan Fyodor Dostoyevsky.

Nah, Pramoedya adalah salah satu penerjemah karya-karya ini dalam Bahasa Indonesia, terbukti dalam terjemahannya yang berjudul ‘Ibunda’, karya Maxim Gorky. Sedang, pertemuan Gus Dur dengan aliran sastra ini, berbenang merah dari kegemarannya membaca karya dari Tolstoy.

Gus Dur dan Pramoedya berteman baik, walau dalam beberapa rujukan tak memperlihatkan hubungan ini. Keduanya sering berkorespondensi dan, seperti tradisi para pemikir, mereka saling mengevaluasi gagasan masing-masing.

Mengutip satupena.id, dalam tulisan berjudul “Gus Dur dan Pramoedya Ananta Toer, Sahabat dalam Perbedaan yang ditulis Riadi, sosok Pramoedya ini dianggap lebih dari sekadar teman bagi Gus Dur, hingga pernah suatu ketika Gus Dur mengundang Pramoedya di istana kepresidenan Indonesia.

Saat itu Gus Dur telah menjabat sebagai presiden RI. Gus Dur mengundang Pramoedya untuk membincangkan problem maritim di Indonesia. Uniknya, undangan tersebut Gus Dur layangkan atas dasar kekagumannya terhadap karya Pramoedya yang berjudul 'Gadis Pantai'.

Dalam novel tersebut Pramoedya memang memberikan berbagai ulasan soal problem kelautan yang selama ini merundung Indonesia, alih-alih problem itu meluas dalam aspek sosial masyarakat secara keseluruhan.

Dari pertemuan itu, kedua tokoh ini, dengan latar belakang yang berbeda, memang memiliki satu concern kajian yang sama, yakni mencari solusi atas problematika bangsa Indonesia.

Sebagai sosok yang gemar membaca buku, Gus Dur sejak dini memang dilatih untuk terampil mengolah wacana dari rahim pengetahuan Islam maupun Barat.

Membenarkan yang dituliskan Barton “Gus Dur dibentuk oleh pendidikan Islam klasik dan pendidikan Barat modern... Gus Dur menyintesiskan kedua dunia pendidikan ini” (hal 138). Riwayat pendidikannya yang sedemikian luas, membawa Gus Dur untuk terampil meramu pemikirannya sendiri, nyantri, nyastra dan ngelmu di luar negeri.

Barton juga menuturkan, ketika kuliah di Kairo “... ia membaca membaca hampir hampir semua karya William Faulkner... ia juga membaca dan menikmati novel-novel Ernest Hemingway, semasa masih di pesantren, Gus Dur telah mengembangkan cintanya akan puisi Arab, namun ia lebih suka sastra Eropa, terutama prosanya.” (hal 90).

Kegandrungkan Gus Dur akan tema-tema kesusastraan ini berasal dari tradisi keilmuan yang unik, keluarganya yang membebaskan Gus Dur untuk mengembangkan keilmuan, sangat menunjang titik balik kesadaran Gus Dur akan dunia yang lebih luas dan beragam.

Perspektif Gus Dur akan kesusastraan kian besar, tambah Barton “ia juga mulai membaca karya-karya Andre Gide dan Kafka (baca: Franz Kafka) dan juga karya-karya Tolstoy... karya-karya Puskhin (baca: Alexander Puskhin) serta novelis-novelis Eropa lainnya yang telah mulai dibacanya ketika masih di Jawa” (hal 90-91).

Lain hal, seperti yang diutarakan Gus Dur dalam bukunya Tuhan Tidak Perlu Dibela”, juga dalam esai yang berjudulDemokrasi Haruslah Diperjuangkan, Gus Dur dengan tegas memproyeksikan bentuk pemberontakan yang ada di Rusia, sekaligus meninjau bahwa karya-karya yang dihasilkan oleh Alexander Pushkin atau Ivan Turgenev memiliki andil dalam laju rekonstruksi masyarakat.

Bahkan, Gus Dur menulis “Karya-karya Tolstoy, Dostoyevsky, Gogol dan sastrawan-sastrawan ukuran dunia lainnya dari Rusia menunjukkan dengan jelas kuatnya tradisi pembangkangan melalui pemunculan moralitas baru itu dari masa ke masa”.

Selain mereka, Boris Pasternak, dalam novelnya yang berjudul “Doktor Zhivafo” atau Solzhenitsin dalam beberapa karyanya, menggugah Gus Dur untuk mengevaluasi suatu sistem pemerintahan yang tidak condong ke arah tirani atau sebaliknya.

Pembacaan kritis Gus Dur atas karya-karya menghasilkan suatu frame baru bahwa “Demokrasi dalam artian sebenarnya, terlepas dari predikat apapun yang dilekatkan kepadanya, tidak akan datang begitu saja dengan sendirinya. Ia haruslah dicapai dengan pengorbanan.” (hal 224).

Pertemuan Gus Dur dengan sastra Eropa serta Pramoedya ini yang menjadi indikator penulis untuk menyimak cara pandang Gus Dur akan nilai-nilai kemanusiaan, aspek konkrit dari problematika sosial, memaksa Gus Dur untuk memformulasi konsep baru yang lebih cocok di Indonesian.

Gus Dur melihat dimensi fiksi dalam sastra bukan sekadar dimensi semu yang tak dapat direalisasikan. Aliran realisme sosialis yang sedemikian mempengaruhi kehidupannya, membuat Gus Dur berpikir ulang akan keterpihakannya kepada mereka yang lemah (baca: mustad’afin), termarjinalkan dan minioritas.

Hal ini berlaku pula dalam keterhubungan Gus Dur dengan serangkaian manuver politik kebangsaan yang ia terohken dan tawarkan dalam Mukhtamar NU, konsep Ij’timaiyah (sosial-kemasyrakatan).

Konsep ini diberlakukan dalam cara pandang masyarakat Nahdliyyin pada saat itu, yang mana realisasinya bewujud dalam dialog-dialog harmonis untuk merekatkan antar agama yang ada di Indonesia, sekaligus memberikan ruang kebebasan berekspresi bagi kalangan Tionghoa maupun etnis-etnis nampak terpinggirkan (semisal, GAM dan Papua) di Indonesia.