Generasi Milenial Menyongsong Era Society 5.0 dalam al-Qur'an dan Hadist

Setiap Revolusi Industri memiliki dua gelombang. Adanya konsep dua gelombang pada perkembangan revolusi industri jelas sudah terjadi”, ucap Reevany Bustami, Lektor Kepala Universiti Sains Malaysia (USM), kepada editor jurnal internasional Malaysia dengan bahasa melayu.

Pada Revolusi Industri 5.0, akan terdapat aspek yang akan mengembalikan kejayaan peradaban manusia. Pendiri Malindo (Malaysia-Indonesia) Research Center for CSR and Leadership ini mengatakan, aspek-aspek yang berkolaborasi satu sama lain adalah fisik, digital, dan biologis, serta dilengkapi dengan hadirnya aspek spiritual.

Pada Revolusi Industri 5.0 ini, agama akan kembali masuk untuk memimpin sains lagi”, tegasnya.

Reevany juga menyampaikan keyakinannya bahwa Revolusi Industri 5.0 telah mendatang suatu era yang akan menjadi kekuatan untuk mengubah Nusantara. 

Dengan mengembalikan nilai-nilai luhur Nusantara serta kembalinya kebanggaan terhadap identitas Nusantara, dan bangkitnya pemahaman atas spiritual maka negara-negara di Asia Tenggara dapat bangkit untuk memimpin perkembangan Revolusi Industri 5.0”, ujarnya.

Hadirnya generasi milenial adalah sunnatullah. Munculnya generasi ini sebagai akibat kemajuan sains dan teknologi. Generasi milenial adalah generasi yang lahir mulai tahun 1980-1990-an atau 2000-an dengan karakter pribadi yang kreatif, memiliki ide dan gagasan yang cemerlang, terbiasa berpikir out of the box, percaya diri, pandai bersosialisasi, serta berani menyampaikan pendapat di depan publik melalui media sosial. 

Generasi milenial cenderung selalu ingin serba instan. 

Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Millennial Generation atau generasi yang juga akrab disebut generation me atau echo boomers.

Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini. Generasi milenial cenderung selalu ingin mencari tahu mengenai perkembangan zaman. 

Mereka mencari, belajar dan bekerja di dalam lingkungan inovasi yang sangat mengandalkan teknologi untuk melakukan perubahan di dalam berbagai aspek kehidupannya. 

Generasi milenial lebih percaya User Generated Content (UGC) daripada informasi searah.

Generasi milenial sangat bergantung pada media sosial. Namun, mereka belum memiliki filter yang kuat untuk dapat menyaring informasi yang diterima. Terlihat kecenderungan pengguna internet yang sering tidak peduli dengan nilai-nilai moral dan etika. 

Padahal etika sangat berperan penting guna menghindari terjadinya konflik dalam bersosialisasi. Oleh karena itu, generasi milenial perlu mempersiapkan diri dengan memperbaiki karakternya.

Generasi milenial juga mempunyai tantangan dalam menghadapi era baru dikehidupannya, yakni era society 5.0. Di mana menjadi komplemen Revolusi Industri 4.0 yang perlu diarahkan pada peran generasi milenial untuk kemajuan bangsa di masa mendatang. 

Diperlukannya pemahaman society 5.0 yang berbasis spiritualitas dan kebudayaan sebagai bekal bagi proses pengembangan generasi milenial yang siap akan problematika dan tantangan.

Era serba instan saat ini telah berpengaruh besar terhadap cara berpikir dan cara pandang. Dengan sosial media dapat terjadi permusuhan. Berbagai persoalan, seperti maraknya praktik politisasi agama, penyalahgunaan dakwah, eksploitasi umat, hingga banyaknya hate speech, hoax dan fitnah kini membanjiri wajah keberagaman bangsa.

Misal, ketika tanpa sadar mengomentari sesuatu yang tidak sesuai dengan salah satu pihak dengan menghujat di kolom komentar. 

Setiap bangsa sangat mengharapkan dapat menghadirkan generasi milenial yang berkualitas dan berkeseimbangan. 

Baik secara aspek agama (aqidah, syariah dan akhlak), aspek pendidikan dan keterampilan, aspek keberadaban (budaya, nilai dan teknologi), aspek kesejahteraan (ekonomi dan nonekonomi) serta aspek sosial (kemasyarakatan dan kebangsaan).

Perbedaan pendapat dapat dilakukan dengan menasehati bukan menghujat. Menasehati itu ada kata sehat di dalamnya. Jadi, tidak ada kata sakit dalam menasehati.

Bil hikmah wal mauidatil hasanah", dengan cara yang baik dan bijaksana. “Wajatil hum bilati hiya akhsan”, jika harus berdebat dengan cara terbaik bukan baik. Bahkan kata Qur’an terbaik.

Dalam Hadist Rasulullah, “barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.” 

Generasi milenial sekarang banyak yang menilai kepribadian orang lain daripada dirinya sendiri. Sehingga memanfaatkan media sosial tanpa memfilternya terlebih dahulu.

Tanpa sadar di dalam kolom komentar telah melakukan penghujatan. Sebagai generasi milennial yang memiliki aqidah dan akhlak Bagaikan 3:1 yaitu nilai diri kita, diri kita, diri kita, baru orang lain.

Generasi milenial yang berkualitas sesungguhnya memiliki aqidah, syariah dan akhlak secara kuat dan maksimal. 

Menyikapi kondisi seperti ini, dibutuhkan generasi milenial yang dibalut dengan bingkai nilai-nilai rahmatan lil alamin atau memahami al-Qur’an dan Hadis untuk kebaikan semua umat manusia, alam dan lingkungan.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam", QS. Al-Anbiya, Ayat 107.

Rahmatan lil alamin menjadi ciri keagungan Islam yang penjabaran secara kongkrit diantaranya, orang lain ikut menikmatinya, merasakan faedahnya, terangkat martabatnya, siapapun membutuhkannya dan semua orang terbantu olehnya. 

Pelaksanaan Islam rahmatan lil alamin membutuhkan sebuah sikap yang bijaksana dalam mengelolanya, yaitu: sikap yang profesional, tidak mudah terpancing, tidak emosional, tetapi tetap sabar.

Tokoh-tokoh Islam, seperti Abdurrahman Bin Auf, sosok yang ahli dalam bidang perniagaan dan bisnis bahkan menjadi tangan kanan Rasulullah. Utsman Bin Affan sahabat Nabi yang fokus pada bisnis dan bekerja sama dengan Abdurrahman Bin Auf. Khalid Bin Walid sosok yang ahli dalam berperang. 

Sedangkan, keahlian Rasulullah adalah sebagai Leader (pemimpin) yang mengarahkan binaannya agar fokus sesuai keahliannnya. Sebagai generasi milenial dapat meneladani dari sosok-sosok yang luar biasa tersebut.

Dalam menyongsong era society 5.0 ini sangat diperlukannya Society Collaboration, dimana membutuhkan kerja sama untuk memotivasi, menginspirasi, dan berdedikasi yang positif di lingkungan sekitar.

Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap siagalah kamu dan majulah (ke Madani pertempuran) secara berkelompok/ majulah secara bersama-sama", QS. an-Nisa, Ayat 71.

Dalam QS. Az-Zalzalah, Ayat 6, “pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatnnya".

Seorang muslim yang baik dan yang kaffah adalah yang mampu membumikan nilai-nilai al-Quran. Nilai-nilai al-Quran yang dipahami benar-benar sesuai dengan kontekstualitas, bukan nilai-nilai yang kaku dan menakutkan. 

Nilai-nilai yang membuat perilaku muslim disebut sebagai pribadi yang berakhlakul karimah. Ajaran-ajaran dalam al-Quran menjadi pedoman seluruh umat manusia dan alam semesta. Jika diamalkan maka akan membentuk karakter yang sakinah, mawaddah wa rahmah

Karakter-karakter itulah yang disebut perilaku moderat. Karakter seperti ini lah yang harus dimiliki generasi milenial dalam menyongsong era society 5.0. Dan apa pun yang dikatakan Allah dalam al-Qur’an pasti terjadi.