Melek Krisis Iklim: Isu Penting Generasi Kita

Oleh: Dini Damayanti

Isu lingkungan mulai masif digaungkan akhir-akhir ini. Melihat tidak sedikit dampak-dampak yang telah dirasakan sekarang. Salah satu yang menjadi fokus adalah isu mengenai krisis iklim. Isu yang sudah semestinya disadari oleh anak muda, karena ini merupakan isu generasi kita. Mengapa?

Menurut perhitungan Intergovernmental Panel on Climate (IPCC), dalam 10 sampai 20 tahun ke depan, kita harus bisa setidaknya memitigasi dampak dari krisis iklim. Jika tidak, maka ancaman seperti krisis pangan akibat gagalnya produksi pertanian, krisis air yang akan semakin parah dan naiknya permukaan air laut yang tentu berdampak pada mereka yang tinggal di pesisir pantai, dan masih banyak lagi, akan terjadi.

Tentu masih segar di ingatan kita, banyaknya kasus kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini dan semakin tingginya frekuensi banjir tiap tahunnya seperti yang terjadi di Jakarta di awal tahun 2020.

Bahkan di Jawa, kegagalan panen akibat kekeringan kerap terjadi. Hal-hal semacam ini terlihat merupakan hasil kerja alam secara alamiah, namun pengaruh perbuatan manusia utamanya dalam sektor ekonomi, semakin memperparah situasi ini.

Andhyta Firselly Utami, seorang peneliti ekonomi lingkungan, melihat bahwa isu terkait keberlanjutan lingkungan merupakan pondasi dari segala sektor perekonomian. Maka jika pondasi dasar ini saja kurang mendapat perhatian dari kita atau bahkan kita acuh, akan sangat berpotensi menyebabkan keruntuhan di segala bidang. 

Padahal lingkungan ini kan tempat di mana kita tinggal, bertumbuh dan melakukan ragam kegiatan. Sebenarnya banyak media-media berita yang telah mengangkat isu ini. Tentang bagaimana isu krisis iklim terjadi, dan dampaknya yang sudah terlihat sekarang. Namun, isu ini kurang mendapat perhatian yang serius, terutama bagi anak-anak muda.

Padahal, krisis iklim merupakan isu intergenerasional. Artinya, dalam 10 sampai 20 tahun ke depan, anak-anak muda terutama yang sekarang berusia 20 tahunan, sama kayak aku nih, pada tahun 2030-an merupakan tahun di mana kita sedang berada di usia produktif-produktifnya.

Bayangkan, saat kita berada pada masa itu, di usia produktif, melakukan kegiatan ekonomi dan lain sebagainya, namun dibarengi dsengan dampak krisis iklim yang kian parah. Bahkan bisa dibilang, kita menjadi yang paling terdampak ketimbang orang-orang generasi di atas kita.

Bisa saja ketika kita tengah hidup dan berkegiatan, namun dibarengi dengan sulitnya mendapat akses air bersih, susahnya mendapat suplai pangan akibat gagalnya pertanian yang kian masif, ancaman banjir yang intensif, pola musim yang kian semrawut dan lain sebagainya.

Selain isu krisis iklim yang urgent bagi generasi kita, isu ini juga merupakan isu kelas. Dampak dari krisis iklim memiliki efek yang berbeda bagi mereka yang berkecukupan dan bagi mereka yang kurang dari segi finansial.

Misalkan saat terjadi banjir. Untuk mereka yang kaya, tinggal di perumahan mewah, dampak dari banjir mungkin tidak terlalu berpengaruh. Karena kebanyakan perumahan tempat mereka tinggal telah didesain untuk menanggulangi banjir.

Sementara bagi mereka yang kurang dari segi finansial, mau tidak mau harus berjibaku dengan banjir. Mereka harus bertahan hidup saat rumah digenangi air, bahkan mereka harus mengungsi selama beberapa hari sampai dipastikan banjir benar-benar telah surut. Pulang pun masih harus membersihkan rumah pasca banjir.

Misakan juga saat terjadi kebakaran hutan, mereka yang kaya dapat dengan mudah meninggalkan tempat tanpa harus terkena efek dari kebakaran hutan. Sementara bagi mereka yang kurang secara finansial, mereka harus berkutat dengan asap dan terancam terkena penyakit pernafasan.

Dari sini saja kita bisa melihat bahwa krisis iklim juga menjadi isu antar kelas. Ini juga semakin menjadikan krisis iklim merupakan isu yang penting di dekade ini. Tapi sedihnya, tidak sedikit juga anggapan untuk apa peduli krisis iklim, jika orang miskin dibantu dibantu dulu?

Seperti sudah dijelaskan di atas, melek krisis iklim sama juga kita membantu mereka yang berada di garis kemiskinan. Mengutip dari laporan Global Wealth Report di tahun 2018, menyatakan bahwa satu persen orang terkaya di Indonesia berhasil menguasai sekitar 45 persen total kekayaan nasional.

Tentu kesenjangan ini kentara sekali. Belum lagi mereka-mereka yang memiliki otoritas di dunia politik, tidak sedikit pula yang memiliki kepentingan ekonomi di industry batu baru dan lain sebagainya.

Lantas kita sebagai anak muda bisa apa? Aspek pertama tentu saja kesadaran. Sadar bahwa dampak krisis iklim memang sudah terjadi sekarang, meskipun belum benar-benar berada di puncaknya. Sadar bahwa waktu kita tidak banyak untuk benar-benar bisa memitigasinya. Dan sadar, bahwa isu ini lebih berdampak pada kita yang nanti akan berada pada usia produktif-produktifnya.

Kita bisa mulai dari menggunakan transportasi publik, demi mencegah pertambahan polusi yang dikeluarkan. Pada pola konsumsi, kita bisa lebih mengonsumsi hal-hal yang tidak merusak lingkungan. Atau, nantinya kita bisa bekerja pada sektor-sektor yang tidak menyumbang kerusakan lingkungan, syukur-syukur jika malah ikut menjaga lingkungan.

Dan karena ini sedang maraknya pemilihan kepala daerah, anak-anak muda harus peduli dan ikut memberikan suaranya. Jangan lupa, mereka yang terpilih untuk memimpin memiliki kekuasaan membuat peraturan yang dampaknya akan langsung kita rasakan.

Anak-anak muda yang paham politik, bisa masuk ke parlemen dan bebarengan dengan pemahaman terhadap isu lingkungan, akan jauh lebih bagus untuk akhirnya membuat peraturan atau gagasan terkait penyelamatan lingkungan.

Sebenarnya masih banyak usaha yang bisa kita lakukan. Aspek kesadaran, terus mengedukasi diri terkait hal ini, serta mulai menyebarkan kepada orang lain, akan sangat berdampak baik. Ini tidak hanya untuk generasi kita, namun juga untuk generasi-generasi selanjutnya.