Hidupku, Otoritasku

Judul buku : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur

Penulis : Muhidin M. Dahlan

Penerbit : ScriPta Manent

Kota terbit : Yogyakarta, 2005

Tebal buku : 269 halaman

ISBN : 979-99461-1-5

Ini bukan kali pertama saya meresensi buku karya Muhidin M. Dahlan. Tapi ini kali pertama saya meresensi bukunya yang bernuansa memoar. Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur, buku yang dari judulnya saja sudah menarik pembaca, apalagi isinya.

Mungkin karena pernah membaca karya Nawal El Sadawi, Perempuan di Titik Nol, saya kira isinya hampir mirip. Keduanya sama-sama mengisahkan perempuan yang dikukung agama dan tradisi, kemudian memberontak dengan menempuh jalan pelacuran. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak isi dari buku fenomenal Muhidin ini.

Penulis menggambarkan tokoh utama sebagai seorang perempuan bernama Nidah Kirani yang begitu antusias dengan dunia barunya, Islam Kaffah. Ia berambisi untuk belajar Islam sesuai dengan Syariat Islam, Alquran dan Hadits. Mulai dari belajar dengan Rahmi, teman sepondoknya tentang ibadah. Kemudian membuat komunitas bernuansa diskusi Islam dan bergabung dengan Jemaah Islam.

Dalam perjalanannya, Kiran telah merasakan pasang surut keimanan. Semakin ia mengenal jemaahnya, semakin ia merasa santai. Ibadahnya tidak seruntut dulu. Hingga ia memutuskan untuk hijrah ke desanya. Mulanya memang berjalan lancar, hingga akhirnya ia diusir karena ajarannya yang dianggap membahayakan.

Sejak awal, di dalam jemaahnya sendiri, Kiran merasa janggal. Bagaimana titak, ia tidak tahu-menahu tentang sejarah pergerakan jemaahnya. Ia pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan jemaah yang dianggapnya vakum tanpa pergerakan yang berarti.

Namun, Kiran malah semakin terhempas jauh dari kehidupan yang sebelumnya ia anggap putih. Ia merasa tercerabut dari akar-akar kesalehan. Kiran yang sekarang berbeda. Ia lebih berani berjalan di jalan hitam dan tegas menyalahkan Tuhan untuk itu. Karena semua-muanya adalah bentuk kekecewaannya terhadap Tuhan. Ibadahnya, jihadnya, infaknya, dan segala tentang Tuhan tak ada guna lagi, sia-sia.

Dan inilah Nidah Kirani yang sekarang. Tumbuh menjadi perempuan yang mendobrak ketabuan agama dan tubuh. Ia buktikan kepada Tuhan bahwa ia dapat melanggar syariat. Ia berubah menjadi perempuan perokok, kalong (begadang), bermain dengan laki-laki, dan menanggalkan virginitasnya.

Karena, bagi Kiran, laki-laki sama halnya denga Tuhan. Mereka sama-sama memperdaya perempuan dengan kekuatannya. Maka dari itu, setelah menerjang ketabuan Tuhan, ia tak segan untuk mematahkan kekuatan laki-laki. Laki-laki, menurut Kiran, tak ubahnya manusia berselimut baju. Kekuatannya hanya terletak pada apa yang ia kenakan. Apabila yang ia kenakan itu tertanggal, maka laki-laki tak ada apa-apanya.

Kiran menganggap bahwa semua laki-laki sama saja. Mereka hanya terlihat memukau disampulnya. Secerdas, tangkas, saleh, dan sememukau apapun laki-laki, mereka akan lemah karena tubuhnya, tubuh perempuan.

Hingga Kiran percaya bahwa kematian adalah klimaks dari pemberontakannya. Masalah yang menghujamnya secara bertubi-tubi membuatnya semakin garang dalam melawan Tuhan. Ia menyerang Tuhan dengan meminum pil dan soda untuk mengakhiri peperangannya dengan Tuhan. Dan akhirnya ia mengaku kalah, Tuhan menang atas nasibnya.

"Aku telah menjadi orang lain. Menjadi diri sendiri adalah neraka. Menjadi orang lain adalah siksa." (Nidah Kirani)

Setelah percobaan bunuh dirinya itu, Kiran mulai menerawang jauh kebelakang. Bagaimana orang lain dengan lihai mendefinisikan dirinya. Bagaimana ia terbahak atas masa lalunya. Dan beginilah Kiran, hidup dalam hitam dan putih.

Hingga suatu waktu, ia dipertemukan dengan pernikahan. Namun, ia menolak dengan tegas hal itu. Baginya, pernikahan hanyalah sekat untuk kita berekspresi setotal-totalnya, semau-maunya. Dan Kiran tidak suka itu.

"Nikah bagiku adalah pembirokrasian ego negatif dari cinta, yakni ego kepemilikan total yang berarti sebuah pemerkosaan dan pemenjaraan sumber energi cinta yang dimiliki seseorang." (Nidah Kirani)

Dan bagi Kiran cinta itu omong kosong. Dan titik klimaks dari cinta adalah seks. Setelahnya? Bukan apa-apa. Dengan ini, Kiran bertekat menjadi seorang pelacur.

"Lain ketika aku melakukan semuanya dengan cinta, aku tidak mendapatkan apa-apa. Semuanya terkuras: raga, jiwa bahkan pikiran. Cinta hanya melemahkan kekuatan, mebjajahi diri." (Nidah Kirani)

Baginya, menjadi seorang istri tak ubahnya seperti pelacur gratisan. Istri akan digunakan suaminya tanpa tarif, diperbudak. Sedangkan pelacur, punyak hak penuh atas dirinya dan mendapatkan tarif yang tak remeh setelahnya.

"Lain ketika aku menjadi pelacur. Aku bisa memertahankan diriku, melawan, dan tak pernah lengah. Dengan menjadi pelacur paling-paling yang kuberikan kepada lelaki hanyalah sekecumik daging tubuhku. Lainnya tidak." (Nidah Kirani)

Setelah itu, Kiran dihadapkan dengan problematika keluarga yang menjeratnya. Namun, ia memilih pergi untuk sekedar melupakan hal ini. Ia pergi jauh ke suatu tempat untuk menenangkan dirinya, menerawang jauh, dan menertawakan masa lalunya.

Dan lagi, kekecewaannya terhadap Tuhan mengepul. Kiran menyebut bahwa Tuhan-lah sebab dan ia adalah akibatnya. Apapun yang ia lakukan sekarang, baik-buruk, bukan salahnya, tapi Tuhan, sebab dari akibatnya.

Penulis benar-benar menyuguhkan tulisan yang mengagumkan. Mungkin karena diangkat dari kisah nyata dan berlatar di Indonesia, yang mana sarat akan tabu tubuh dan sensitif agama, cerita ini nampak berani. Yah, meskipun tak sefrontal tulisan Barat, tapi cukuplah membuat pembaca takjub akan pesannya.