Urgensi Prespektif Perempuan dalam Sosiologi

 


Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Term sosiologi identik dengan studi kemasyarakatan. Artinya, bukan hanya laki-laki yang terlibat dalam pembentukan masyarakat, melainkan juga perempuan. Lantas, mengapa hanya andil laki-laki saja yang ditonjolkan dalam sosiologi?

Seperti yang telah ditulis Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi, ia menyebut setidaknya ada lima tokoh penggagas sosiologi. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya, Auguste Comte, Emile Durkheim, Karl Marx, Max Weber, dan George Simmel. Apa sosiologi terkesan patriarki jika melihat semua tokoh penggagasnya adalah laki-laki?

Sebenarnya tidak masalah, baik laki-laki atau pun perempuan yang mengagas sosiologi. Permasalahannya terletak pada perspektif yang mereka usung di dalamnya. Lihatlah, bahkan dari kelima tokoh pengagas sosiologi, hanya Marx yang sempat mengusung isu perempuan. Itu pun hanya sekedar gambaran buruh perempuan yang dieksploitasi.

Belum lagi dalam babakan modern. Hampir semua tokoh sosiologi modern adalah laki-laki. Parahnya, ada suatu teori yang membuat saya geram. Teori ini diusung oleh fungsionalis dan strukturalis.

Fungsionalis dengan serampangannya menyebut bahwa sistemlah yang membentuk masyarakat. Ada kejanggalan? Jelas sekali bahwa fungsionalis seakan-akan menjadikan sistem sebagai subjek yang mengontrol objek (masyarakat). Sistem dianggap memiliki andil besar dalam terbentuknya masyarakat yang dinamis.

Sedangkan strukturalis juga tak kalah pamornya. Mereka beranggapan bahwa masyarakat dapat didefinisikan dengan bahasa. Salah? Bukan salah, melainkan kurang tepat saja. Mana bisa masyarakat hanya dapat dipahami melalui bahasa. Mereka, para strukturalis mungkin bisa menjabarkan bagaimana masyarakat kelihatannya. Namun, mereka sama sekali tidak akan pernah sampai menyentuh bagaimana esensi dari masyarakat.

Sebenarnya masih banyak sosiolog modern yang seakan-akan mendiskreditkan peran masyarakat, terutama perempuan. Namun, semuanya akan mendapatkan kritik dari aliran post modern nantinya. Mereka, para tokoh post modern akan mengembalikan subjektivitas masyarakat dari yang sebelumnya dianggap objek oleh tokoh-tokoh modern.

Sebelum post modern beraksi, sebenarnya sosiolog feminis telah lebih dulu mengusung perspektifnya ke dalam sosiologi. Tidak banyak, namun cukup untuk menyadarkan betapa pentingnya perspektif perempuan dalam sosiologi. Setidaknya, mereka cukup mampu untuk mendongkrak konstruk patriarki dalam masyarat pada masanya dan semoga setelah ini bisa selamanya.

Pertama, sosiolog feminis menekankan emansipasi dalam kajiannya. Mereka melihat banyaknya ketimpangan dalam masyarakat. Misalnya, dalam babakan mikro, masyarakat belum bisa mengerti dirinya sendiri. Kebanyakan dari mereka melihat dirinya dari sudut pandang orang lain. Masyarakat cenderung memenuhi standar dalam masyarakat meskipun mereka harus terbebani.

Belum lagi dalam ranah makro, kita ambil dunia kerja. Bisa dilihat dari dulu bahkan sampai sekarang, pemilik modal seakan-akan memiliki hak atas hidup buruhnya. Kalian bisa melihat keadilan atau ketimpangan di sini? Atau bahkan kalian melihat suatu kewajaran? Sial, hidup seseorang merupakan otoritasnya sendiri, bukan milik bosnya. Dan ini tidak bisa dianggap sebagai kewajaran.

Kedua, sosiolog feminis lebih condong pada masyarakat tertindas atau tersubordinasi. Menurut mereka, penting untuk mengetahui pendapat mereka dalam masyarakat. Mereka lebih bisa dipercaya, apa adanya, dan tidak ada manipulasi dalam hidupnya. Berbeda jika kita meminta pendapat kalangan atas, mereka cenderung hiperbola. 

Ingat tentang buruh yang tertindas dalam cerita Marx? Menurutmu dari mana Marx dan sahabatnya, Engels menemukan gagasan epik itu? Mereka bertemu dan berbaur langsung dengan kaum buruh. Mereka tidak serta merta menulis pengalaman kaum buruh, tetapi melihat dan mendengarkan pendapat dari kaum buruh.

Ketiga, sosiolog feminis mengembalikan subjektivitas masyarakat. Jelas saja, dari beberapa teori yang disajikan oleh sosiolog modern membuat sosiolog feminis kecewa. Bukannya membumikan sosiologi, namun mereka kelewat semangat untuk itu. Sampai-sampai lupa bahwa subjek dalam masyarakat adalah manusia itu sendiri, bukan sistem atau struktur pembentuknya.

Bagaimana? Sosiologi benar-benar butuh perspektif perempuan, bukan? Seperti yang digambarkan oleh sosiolog feminis, perspektif perempuan itu penting dalam membangun sosiologi. Bukan demi kepentingan perempuan saja, melainkan demi keadilan bersama dalam masyarakat. Panjang umur keadilan!

Post a Comment

0 Comments