Pemilu dalam Hermeneutik Dilthey

 


Akhir-akhir ini nampaknya dunia sedang ditaburi nuansa pemilihan umum (Pemilu). Bau-bau kampanye pasangan calon (Paslon) nampaknya telah tercium. Pun dengan rentetat skeptis akan visi dan misi yang tak kalah menyengatnya.

Kalau berbicara tentang Pemilu, belum afdol rasanya kalau tidak mengulik aksi-aksi unik masyarakatnya. Di antara dari mereka pasti ada saja yang menggebu-gebu tentang Paslon pilihannya. Entah apa yang membuatnya demikian, pasti ada saja yang skeptis atau optimis pada visi dan misi, sampai pada "bodo amat" tentang Paslon.

Lantas, mengapa masih ada saja visi dan misi Paslon yang acap kali diragukan? Mengingat mayoritas Paslon selalu berkobar-kobar dalam menyampikan visi dan misi. Pasalnya, setelah terpilih dan menjadi ketua atau wakil, mereka lupa visi dan misi, kemudian lupa diri. Inilah yang membuat masyarakat skeptis pada visi dan misi yang diusung Paslon. Jangan-jangan itu hanya bualan belaka untuk menggaet hati masyarakat lagi. Atau parahnya, ada kepentingan lain yang lebih ekstreme lagi dari itu. Siapa yang tahu?

Tetapi, tidak jarang dari masyarakat yang fokus pada visi dan misi Paslon. Mereka bahkan mampu mengritisi visi dan misi itu. Tidak jarang pula hal ini malah dijadikan perbandingan, sekaligus acuan dalam Pemilu.

Lebih lugu lagi, masyarakat akan "bodo amat" dengan visi dan misi. Bagi mereka yang terpenting adalah siapa yang memberikan uang dan keuntungan. Paslon yang "baik" pada masyarakat, maka ia yang mendapat "berkat".

Lantas, apa yang harus dilakukan agar tidak tertipu mulut manis Paslon, atau setidaknya masyarakat bijak dalam Pemilu? Wilhelm Christian Ludwig Dilthey punya cara untuk problematika ini. Tokoh hermeneutik modern ini mengusung hermeneutik ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan sebagai cara untuk memahami ungkapan-ungkapan kehidupan manusia, khususnya kehidupan batiniah. Dalam konteks ini tentunya Pemilu, masyarakat dapat menerapkan hermeneutik Dilthey.

Hermeneutik Dilthey bermaksud untuk melawan positivisme, yang mana manusia selalu dipahami dari segi lahirnya atau kenampakannya saja. Positivisme terlalu ikut campur dalam hajat hidup masyarakat, mengaburkan dan mengacaukan sisi batiniah atau esensi kehidupan sosial. Baginya, seakan-akan masyarakat dapat dikalkulasi dan apapun dapat diperhitungkan.

Dalam kasus Pemilu ini, misal, ada beberapa masyarakat yang fokus pada visi dan misi Paslon, atau uang yang didapatkan, tanpa tahu sesuatu dibaliknya. Inilah salah satu kelancangan positivisme. Ia seolah-olah dapat menyelesaikan problematika Pemilu hanya lewat visi dan misi atau uang, yang mana masuk dalam lahiriahnya. Padahal, ada sisi batiniah yang perlu dipahami untuk bisa menjadi pertimbangan dalam Pemilu.

Lantas, bagaimana kita tahu batiniah Paslon? F. Budi Hardiman dalam bukunya yang bertajuk Seni Memahami menyatakan bahwa ada dua hal yang perlu kita pahami untuk mengetahui kehidupan batiniah Paslon. Pertama, lingkup atau kehidupan di sekitarnya yang berpengaruh. Misal, Paslon tinggal di lingkungan agamis, ia terkenal sebagai pengurus pondok, aktif berorganisasi, dan lain sebagainya. Sehingga cara berpikirnya, perilakunya, dan cara hidupnya kurang lebih sama dengan lingkupnya.

Dengan ini, setidaknya kita hanya terpaku pada visi dan misi yang diajukan Paslon. Mengingat betapa berpengaruhnya lingkup pada kehidupan Paslon. Ia tidak akan jauh-jauh dari pengaruh lingkup.

Kedua, empati kepada Paslon. Kalau Schleirmacher dalam hermeneutikanya, kita harus memasuki dunia batiniah Paslon dengan introspeksi, maka Dilthey berbeda. Ia lebih menyarankan untuk interpretasi. Menurutnya, kita tidak bisa memahami orang lain dengan seolah-olah menjadi orang itu.  Kita tidak akan pernah bisa membayangkan atau merenungkan untuk menjadi orang lain. Jadi, cara yang paling ampuh adalah dengan interpretasi atau menafsirkan pemahaman atas ekspresi kehidupan seseorang.

Lantas, bagaimana cara kita nginterpretasi Paslon? Dilthey menyebut bahwa kita perlu melakukan studi terhadap data tentang Paslon. Selain itu, ketahui konteks berdasarkan maknanya.

Misal, dalam konteks ini adalah memilih Paslon. Tentu kita tidak akan menjadi Paslon hanya untuk memastikan pilihan kita benar. Pasalnya, kita juga tidak akan pernah benar-benar bisa menjadi orang lain. Maka dari itu, hanya lewat interpretasi atas data dan konteks berdasarkan maknalah, kita bisa berempati kepada Paslon. Seperti, apa prestasi Paslon, pengalamannya, studinya, serta kesusuaian visi dan misinya dengan keadaan sekarang ini.

Dengan hermeneutik Dilthey, kita mendapat alasan yang tepat untuk pilihan Paslon. Tidak lagi asal memilih karena uang, visi dan misi semata. Lebih dari itu, kita mengenali lingkup dan dapat menginterpretasi pilihan atas Paslon kita.