Menuhankan Buku? Belajar Hermeneutika Schleiermacher Dulu!

Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Siapa bilang kalau buku itu selalu benar? Ia bahkan bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Namun, ada saja dari mereka yang seolah-olah menuhankan buku. Parahnya, percaya berlebihan kepada buku hingga buta realita.

Rupanya problematika ini bukan hal yang baru. Bahkan dari masa ke masa selalu ditumbuhi perkara serupa. Buktinya, seorang yang dijuluki sebagai bapak hermeneutika modern ini telah tertarik untuk menelitinya, Schleiermacher.

Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher, mashur dengan nama Schleiermacher. Ia terkenal dengan hermeneutika universalnya yang berusaha untuk memahami teks dari dua sisi, yaitu gramatis dan psikologis. Dengan harapan, adanya kesinambungan antara pembaca, teks, dan penulis. Sehingga pembaca benar-benar dapat memahami isi teks dan tidak menuangkan prasangkanya.

Bagi Schleiermacher, hermeneutika adalah seni untuk memahami yang diibaratkan sebagai fine art. Mengapa fine art? Karena untuk memahami sesuatu, seseorang memerlukan kepiawaian dalam mengatasi kesalahpahaman dan dilakukan dengan kaidah-kaidah tertentu pula. Nah, inilah letak “seni”-nya, seseorang memerlukan “kepiawaian” layaknya seniman yang menghasilkan fine art.

Oleh karena itu, kita perlu mengenali “apa, sih, maksud memahami dari sisi gramatis dan psikologis?”. Pertama, sisi gramatis fokus pada unsur-unsur bahasa teks. Artinya, memahami sebuah teks bertolak dari bahasa, struktur kalimat-kalimat, dan hubungan antara teks yang dibaca dengan karya-karya lainnya yang sejenis.

Misal, satu buku saja tidak cukup untuk dijadikan sumber rujukan. Mengapa demikian? Kita perlu membandingkan isinya dengan buku lain yang serupa atau sama genre, problem, dan topik bahasan. Tujuannya bukan untuk membandingkan buku mana yang lebih menarik, melainkan, apakah buku ini falid dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jika dalam Hadist, apakah ini termasuk sahih atau daif.

Kedua, sisi psikologis fokus pada diri penulisnya. Artinya, memahami sebuah teks tidak cukup hanya melihat teksnya saja, melainkan menghadirkan kembali dunia mental penulis. Pembaca diharapkan seolah-olah mengalami kembali pengalaman penulis. Bukan emosinya, melainkan pikiran penulis.

Misal, ketika membaca buku terdapat kalimat-kalimat yang dianggap kasar. Sebagai pembaca yang memahami buku dengan melibatkan sisi psikologis, ia tidak akan mudah menjustifikasi buku tersebut dengan label tak layak baca. Pembaca akan melihat penulisnya, latar belakang penulisan buku, apa yang dipikirkan penulis dengan kalimat-kalimat di bukunya itu, dan lain sebagainya.

Lantas, sebagai pembaca yang bijak, manakah yang harus didahulukan? Memahami buku dari gramatisnya dulu atau psikologisnya dulu?

Schleiermacher menyebut, baik gramatis ataupun psikologis memiliki kedudukan yang setara dalam upaya memahami buku. Jadi, baik gramatis maupun psikologis perlu dilakukan secara bersamaan. Lantas, bagaimana caranya? Seperti yang ditulis F. Budi Hardiman dalam bukunya, Seni Memahami, Schleiermacher menyebut bahwa rasio manusia memiliki kekuatan “divinatoris” atau “intuitif”. Sehingga, pembaca dalam memahami teks akan mengambil alih posisi penulis agar dapat menagkap kepribadiannya.

Lalu, ketika kita ingin memahami kitab suci, misal, yang digadang-gadang sebagai wahyu Tuhan, apakah pembaca perlu menjadi Tuhan untuk memahami isi dalam kitab suci tersebut? Konyol, jelas tidak mungkin.

Schleiermacher menyebut, “Roh Kudus dapat berbicara melalui mereka hanya sebagaimana mereka sendiri berbicara.” (F. Budi Hardiman, Seni Memahami, h. 54)

Artinya, dalam memahai Kitab Suci, pembaca harus memahami konteks ruang dan waktu. Misal, peristiwa apa yang melatarbelakangi munculnya wahyu Tuhan itu? Kapan peristiwa itu terjadi? Di mana peristiwa itu terjadi? Sehingga, pembaca dapat menempatkan teks sesuai dengan konteks dan dari sinilah maknanya baru dapat dipahami.

Apakah dengan cara-cara memahami seperti yang dipaparkan di atas artinya pembaca dapat dikatakan beyond the writer? Tentu tidak. Pembaca tetaplah pembaca. Mereka tidak akan bisa memahami secara penuh melebihi penulisnya. Hanya saja, pembaca diharap dapat mengetahui hal-hal lain di luar isi buku yang ditulis penulis. Sehingga, pembaca tidak akan mudah terpengaruh atau percaya begitu saja terhadap isi buku.

Dari Schleiermacher, minimal kita bisa mengedukasi diri lah, ya, untuk tidak mengamini begitu saja buku-buku yang dibaca. Kita juga perlu selektif dan “memahami” buku dari sisi gramatis dan psikologisnya. Dengan ini kita bisa meminimalisir penuhanan terhadap buku, setidaknya bagi diri sendiri, syukur, deh, kalau ditularkan ke orang lain juga “seni memahami”-nya.

Post a Comment

0 Comments