Sosiologi ala Feminis

ad+1



Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Sosiologi dan feminis merupakan dua term berbeda. Jika sosiologi mengarah pada studi tentang kemasyarakatan, maka feminis adalah orang yang mengkaji feminisme. Namun, dalam buku Teori Sosiologi karya George Ritzer, keduanya dapat dijadikan sebuah teori, yaitu Sosiologi Feminis.

Sebenarnya, tidak ada istilah pakem untuk mendefinisikan sosiologi feminis. Dari dua kata itu, kita bisa menyimpulkan bahwa sosiologi feminis adalah suatu teori sosiologi yang dikaji dalam perspektif feminis. Singkatnya, segala hal yang berhubungan dengan masyarakat akan dikulik berdasarkan perspektif feminis.

Seperti yang kita tahu, dari babakan klasik hingga modern, belum ada sosiolog yang menyentil perihal keadilan bagi perempuan. Semuanya hanya berputar-putar di dunia masyarakat, baik mikro ataupun makro. Meskipun Marx pernah menyentil babakan keadilan perempuan, namun hanya sebatas buruh perempuan. Ia belum menyentuh detail terkait perempuan, seperti beban ganda yang dialami perempuan di ranah domestik dan publik sekaligus. Maka dari itu, Ritzer mencantumkan sosiologi ala feminis di bukunya.

Menurut Ritzer, akar dari sosiologi feminis adalah ketimpangan dalam mengkaji perempuan dalam masyarakat. Kebanyakan sosiolog hanya menonjolkan peran laki-laki dalam masyarakat. Selain itu, hampir semua teori-teori yang disumbangkan untuk sosiologi merupakan perspektif laki-laki. Hal ini tentu saja semakin menyudutkan perempuan, yang mana mereka terlihat sama sekali tidak memiliki kontribusi dalam keilmuan, khususnya dalam ranah sosial. Padahal perempuan memiliki andil yang sama pentingnya dengan laki-laki dalam masyarakat.

"Para perempuan hadir di sebagian besar situasi kritis. Ketika mereka tidak hadir, itu semua bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan atau minat, tetapi karena telah terdapat upaya secara seksama untuk mengesampingkan mereka. Ketika mereka hadir, perempuan memainkan peran yang sangat berbeda dari konsepsi populer tentang mereka." (Ritzer, h. 488)

Untuk lebih jelasnya, kita perlu mengidentifikasi ciri-ciri teori sosiologi feminis. Pertama, sosiologi dengan pengetahuan feminis. Jika teori sosiologi klasik atau bahkan sampai sekarang didominasi perspektif laki-laki, maka Ritzer menyebut bahwa ada beberapa teori sosiologi dengan perspektif feminis. Artinya, dalam teori sosiologi memuat pengetahuan feminis.

Teori sosiologi dengan pengetahuan feminis ini tidak akan jauh-jauh pembahasan seputar keadilan peran dalam masyarakat. Ciri lainnya adalah pemaparan kasus dari aktor yang tersubordinasi, penjelasan tentang maayarakat secara objektif, baik laki-laki maupun perempuan, bukan hanya mampu menggambarkan aktor sosial, melainkan waktu dan tempatnya juga, serta hal-hal lain yang bersifat emansipatoris lainnya.

Kedua, tatanan makro sosial. Pembahasan makro bertalian erat dengan dunia kerja. Menurut Ritzer, feminis mengecam keras penalaran tokoh fungsionalis yang mengganggap masyarakat sebagai sistem. Jelas saja, feminis tidak ingin melihat manusia sebagai objek yang digerakkan. Bagaimana pun, manusia adalah subjek dalam masyarakat.

Selain itu, dalam dunia kerja, sosiolog sering menggaungkan nama dominasi dan subordinasi. Premis ini mengacu pada tindakan pemilik modal yang memiliki hak atas kehidupan buruh. Padahal, baik pemilik modal maupun buruh itu sama-sama aktor dalam masyarakat. Mereka berhak atas kehidupannya masing-masing. Perbedaannya hanya terletak pada cara posisi kerjanya.

Oleh sebab itu, feminis menginginkan keadilan dalam masyarakat, tak terkecuali dalam dunia kerja. Seperti yang dilakukan oleh Patricia Hill Collins, seorang sosiolog feminis yang gencar sekali menyuarakan keadilan dalam dunia kerja. Ia bahkan sampai turut andil untuk menyuarakan keadilan untuk perempuan kulit hitam (dulu dianggap kasta paling rendah di Barat) untuk bebas bekerja di mana pun mereka mampu.

Ketiga, tatanan mikro sosial. Tatanan ini berkaitan dengan psikis perempuan ataupun laki-laki. Jika konstruk menyebut perempuan untuk tunduk dan patuh pada laki-laki, maka feminis menyangkal akan hal itu. Perempuan bebas untuk melakukan apapun yang mereka kehendaki dengan tidak menimbulkan kerugian, setidaknya untuk dirinya sendiri atau masyarakat.

Pun halnya dengan laki-laki. Konstruk menginginkan laki-laki untuk kuat dan bisa dalam segala hal terutama dalam urusan publik. Feminis tentu saja menolak untuk itu. Laki-laki berhak atas dirinya sendiri dan bebas melakukan apa pun, selama mereka tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Sungguh, baik laki-laki maupun perempuan, mereka punya otoritas dalam dirinya sendiri. Demi apa pun, konstruk tidak perlu repot-repot mendikte mereka untuk melakukan hal-hal yang membebani mereka.

Serupa dengan yang dialami oleh Dorothy E. Smith. Ia adalah perempuan yang hidupnya dikelilingi oleh stigma tentang janda. Smith kemudia mampu speak up dan mengajak orang lain untuk berani memiliki otoritas dalam dirinya. Lantas mengapa jika ia janda? Ia hidup dengan nyaman dengan statusnya dan bahkan ia mampu menciptakan karya dengan begitu gemilang di tengah-tengah masyarakat. Ialah bukti dari kebanggaan atas hidupnya sendiri.

Keempat, subjektifitas dalam pengalaman sosial. Sosiolog feminis melihat beberapa masyarakat yang kehilangan subjektifitas akan dirinya. Mereka cenderung melihat dirinya dari sudut pandang orang lain. Oleh sebab itu, harapan sosiolog feminis ini adalah mengembalikan subjektivitas diri dengan respect pada diri dan berhenti mendengarkan standarisasi orang lain terhadap dirinya.

Terakhir, integrasi dalam sosial. Jika masyarakat terlihat menganut atruktur patriarki, maka keinginan sosiolog feminis adalah emansipasi. Dengan ini masyarakat berhenti untuk terus melihat stratifikasi dan mulai untuk berintegrasi.

Dari beberapa hal di atas, saya kira masyarakat akan mampu hidup dengan lebih baik dengan adanya keadilan seperti yang diungkapkan sosiolog feminis. Namun, keadilan tidak akan mampu dicapai jika hanya perempuan yang bergerak. Semua lapisan masyarakat perlu ikut andil demi terwujudnya keadilan. Dengan ini masyarakat berkeadilan akan terealisasi dan bukan hanya dalam narasi saja.

0 Comments: