Pandemi Virus: Tentang Umat Manusia dan Masa Lalunya

Covid-nineteen, corona, pandemi, work from home, sanitizer, APD, dan lain-lain;

Nyatanya semua kata tersebut bak jadi keywords dan headline harian di media. Update perkembangan virus, berita kelangkaan APD dan alat-alat medis, masyarakat yang cenderung rewel dan persetan dengan protokol keamanan, dan sebagainya. Sebagai masyarakat, tentu kita jenuh dengan repetisi hal-hal tersebut dan berharap semoga semuanya kembali normal tanpa embel-embel new. Tapi tunggu, apakah semudah itu? Tentu tidak. Harus ada sinergi yang masif di berbagai lapisan untuk bersama-sama menahan laju pandemi agar tidak semakin dinamis. Tenaga medis bukan segalanya tanpa kebijakan pemerintah dan kepatuhan dari masyarakat. Maka dari itu, dengan mengedepankan rasionality dan humanity, masyarakat memang hendaknya manut tanpa perlu meributkan soal teori-teori konspirasi yang bisa jadi bias pikir semata.

Bicara soal pandemi sebagai mahasiswi yang non-medis, pikiran saya melayang jauh ke masa di mana dunia belum mengenal kata canggih atau teknologi atrificial intellegence. Saya teringat cerita soal pandemi di masa Romawi Kuno abad 4-5, kemudian wabah shirawayh dan amwas yang terjadi di masa kenabian Muhammad dan khilafah rasyidah, terus berjalan hingga pandemi paling luar biasa dalam sejarah Eropa -Black Death yang menghabisi hampir 1/3 penduduk benua biru, kemudian Spanish Flu yang menambah semarak dunia pasca Perang Dunia I, virus ebola di Afrika, MERS, SARS di awal abad 21, hingga berhenti di titik pandemi corona sejak akhir 2019 lalu.

Saya berpikir, berapa dan betapa lama umat manusia sudah berjibaku dengan pandemi dari masa ke masa, berikut cara penanganan yang seadanya pada masa itu. Garis waktu pandemi seperti ini seharusnya sudah memberi pelajaran dan hikmah yang implisit bagi umat manusia setelahnya, bahwa adanya virus dan pandemi bak siklus yang tinggal menunggu waktu tayang. Memang, seiring dengan dinamika zaman, teknologi dalam berbagai hal akan terus berkembang. Namun, tidakkah kita dapat belajar lebih banyak dari kasus-kasus sebelumnya? Terkait upaya preventif, kuratif, kondisi masyarakat, pengondisian wilayah, maupun kebijakan yang diambil?

Saya teringat akan berbagai kebijakan yang pernah diterapkan guna membendung pandemi pada masa itu, semisal wabah pes di Hindia Belanda sekitar abad 17-18. Pemerintah kolonial begitu gencar memberlakukan lockdown atas daerah-daerah yang terkena wabah. Patroli keamanan diberlakukan dengan ketat untuk memastikan tidak ada orang sakit yang berkeliaran ke luar daerah. Para jamaah haji yang baru pulang-pun tidak luput dari protokol pembersihan besar-besaran; seperti wajib membakar baju yang dikenakan selama perjalanan, sampai membuang barang bawaan dari tempat asing. Cara ini terbilang cukup efektif dalam menangani wabah, terlebih karena pemerintah kolonial enggan mengeluarkan banyak uang untuk urusan wabah terhadap kaum pribumi maupun orang-orang Eropa.

Kasus penanganan kedua yang saya soroti adalah Flu Spanyol tahun 1918-1919, di mana banyak negara sudah menerapkan protokol lockdown dan cukup efektif, maka sistem lockdown sempat dilonggarkan dan masyarakat kembali beraktivitas seperti semula. Namun sayangnya, kebijakan ini justru mendatangkan gelombang kedua pandemi dengan korban yang jauh lebih besar. Puluhan juta orang meninggal akbat wabah tersebut.

Pertanyaannya, seberapa banyak kita mau belajar dari masa lalu kita?

Ketimbang mempermasalahkan bias pikir teori konspirasi elit global yang jadi undercover dari pandemi, saya sendiri lebih senang menyimak perkataan atau perbincangan ahli atau tokoh global terkait pandemi, salah satunya Bill Gates. Dalam sebuah forum di TEDTalks pada awal tahun 2015 lalu, Bill Gates bicara banyak soal pandemi Ebola dan apa yang harus kita pelajari dari pandemi tersebut. Pada kalimat pembuka, ia sedikit mengomparasikan antara persiapan dunia menghadapi war dengan persiapan dunia menghadapi pandemic. Dunia bisa saja bersiap atas banyak hal untuk menghadapi perang; tentara yang terlatih, persiapan alutsista, logistik, bahkan pakta pertahanan -tapi nyatanya, perang tidak serta merta terjadi, terlebih di era kontemporer pasca Perang Dingin. Sebaliknya, Bill Gates menyindir ‘dangkalnya’ persiapan dunia untuk menghadapi pandemi-pandemi selanjutnya dengan musuh sekecil virus.

Apakah setiap negara sudah mengantisipasi terjadinya pandemi? Epidemologis bekerja lebih keras dan waspada? Atau, persiapan vaksin untuk kemungkinan-kemungkinan derivat virus baru di masa depan? Sebagai penutup, ia menyampaikan beberapa poin penting yang dapat menjadi acuan untuk menghadapi pandemi yang dapat datang sewaktu-waktu, seperti; 1) memperkuat sistem medis; 2) membuat korps siaga medis; 3) tenaga militer dan medis yang saling bersinergi; 4) membuat simulasi virus; dan 5) pengembangan penelitian yang mutakhir. Harapannya, dengan menyiapkan aspek-aspek tersebut secara lebih awal, kedatangan pandemi sudah dapat diantisipasi dengan berbagai upaya preventif dan lebih efektif dari segi penanganan.

Tapi sepertinya, negara kita -atau bahkan dunia- tidak belajar banyak dari masa lalu, termasuk apa yang dikatakan Bill Gates lima tahun yang lalu.

Tahun ini, Bill Gates kembali berkomentar banyak soal pandemi, termasuk menganalogikan pandemi corona sebagai perang dunia ketiga. Yang membedakan antara perang ini dengan dua perang dunia sebelumnya adalah dari segi lawan. Dari manusia versus manusia, menjadi manusia versus virus -dan ini jauh lebih sulit. Bicara soal vaksin virus, tentu tidak semudah membuat jamu masuk angin yang terbilang instan. Butuh waktu lama untuk riset, pengembangan, juga uji coba. Untuk saat ini, umat manusia hanya butuh untuk patuh atas berbagai protokol dan kebijakan, bukan ramai-ramai mencari celah konspirasi dan menabrak aturan.

Saat ini, sembari mencoba menguatkan diri untuk tetap mematuhi aturan dan berdamai dengan keadaan, saya berpikir panjang mengenai historical consciousness alias kesadaran sejarah. Harusnya, umat manusia bisa mengambil pelajaran atas segala sesuatu yang menimpa sebelumnya demi menciptakan keadaan yang lebih baik, tidak hanya asal tahu lalu berlalu. Tidak hanya perihal medis, tapi juga kebijakan, teknologi, dan segala aspek kehidupan, karena hakikatnya, history repeats itself. Sejarah akan berulang dengan pola yang sama, terlepas dari siap atau tidaknya umat manusia. Maka memang penting bagi kita untuk sadar sejarah, bukan hanya tahu sejarah dan bersikap seolah-olah paling tahu soal dunia.

Lantas, dari pandemi kali ini, apa yang akan dunia wariskan pada generasi setelahnya?