Etnometodologi: Peduli Praktik Sepele

ad+1

 


Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Belajar tentang sosiologi pastinya tidak akan jauh-jauh dengan masalah mikro-makro. Namun, tidak semua yang dibahas di dalamnya melulu tentang itu. Ada yang lebih memfokuskan perhatiannya pada praktik sepele dari masyarakat dari pada sibuk dengan urusan mikro-makro, sebut saja Etnometodologi.

Menurut George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi (terj., 2017) menyebut bahwa etnometodologi adalah pengetahuan, prosedur, dan pertimbangan masyarakat untuk memahami, menyelami, dan bertindak dalam situasi yang sedang mereka hadapi. Singkatnya, studi yang dipublikasikan oleh Harold Garfinkel ini mencoba untuk menunjukkan praktik sepele dalam masyarakat. Hal ini terlepas dari apapun bentuk organisasi masyarakat, baginya yang terpenting adalah praktik yang sedang dilakukan oleh anggota masyarakat.

Premis tersebut bukan hadir begitu saja. Sama seperti teori-teori sosiologi lainnya, etnometodologi Garfinkel dipengaruhi oleh fakta sosial Emile Durkheim. Jika fakta sosial Durkheim lebih memandang aktor sebagai sesuatu yang mudah dinilai. Maka etnometodologi lebih menganggap fakta sosial sebagai produk yang dibuat anggota. Artinya, etnometodologi memandang fakta sosial sebagai praktik-praktik yang dibentuk oleh anggota masyarakat dan tidak semua orang dapat mengetahui praktik sebenarnya, kecuali anggota yang terlibat dalam praktik tersebut. Hal ini terlihat lebih sepele dari pada apa yang diungkapkan oleh Durkheim.

Oleh sebab itu, kita perlu tahu ragam etnometodologi untuk melihat praktik-praktik sepele di dalamnya. Menurut Ritzer, ada dua ragam fundamental yang diusung Garfinkel dalam ragam etnometodologinya. Pertama, studi terhadap setting institusional yang di dalamnya terdapat praktik formal dan masyarakat perlu tahu itu. Kedua, analisis percakapan yang memuat interaksi dan komunikasi masyarakat sehari-hari dan tidak ada hal formal di dalamnya.

Dalam studi terhadap setting institusional tentunya berbeda dengan hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat di kesehariannya. Dalam institusi tentunya memuat hal-hal formal yang cenderung to the point. Hal ini semata-mata demi keefektifan dan meminimalisir kejadian di luar kontrol. Oleh sebab itu, Ritzer menuliskan beberapa contoh praktik dalam institusi, seperti wawancara kerja, negosiasi eksekutif, panggilan ke pusat gawat darurat, dan penyelesaian perselisihan lewat mediasi dengar pendapat.

Pertama, dalam wawancara kerja tidak mungkin ada percakapan yang terlontar begitu saja. Pastinya terdapat setting di dalamnya. Berbeda dengan percakapan sehari-hari yang terkesan spontan, dalam wawancara kerja terdapat pertanyaan yang telah disusun guna mendapatkan jawaban yang tepat, sesuai tujuan.

Kedua, negosiasi eksekutif juga demikian. Segalanya dilakukan secara matang, terukur, dan masuk akal. Seperti istilahnya, dalam negosiasi hanya bertujuan untuk mencapai kesepakatan final dan meminimalisir adanya perdebatan yan tidak logis yang membuang-buang waktu, tenaga, uang serta pikiran.

Ketiga, panggilan ke pusat gawat darurat yang berbeda dengan panggilan pada umumnya. Jika biasanya kita melakukan panggilan dngan mengawalinya dengan salam, menambahkan guyonan, dan memancing emosi, maka di panggilan darurat hanya ada ujaran serius yang to the point. Hal ini disebabkan karena panggilan darurat hanya berfungsi untuk mereka yang benar-benar dalam keadaan genting, seperti panggilan kepada ambulans ketika ada kecelakaan.

Keempat, penyelesaian perselisihan lewat mediasi dengan pendapat. Jika dalam keseharian kita terdapat cekcok yang begitu panjangnya, maka dalam mediasi akan mereduksi hal-hal semacam itu. Di sini mediator yang memiliki kendali penuh untuk mengatur perbedaan pendapat. Hal ini semata-mata guna meminimalisir percakapan yang sama sekali tidak perlu dan menyelesaian perdebatan secara final.

Berbeda dengan institusi, dalam analisis percakapan sehari-hari lebih menonjolkan sisi spontan. Pratik-praktik yang dilakukan anggota masyarakat tidak begitu terstruktur dan formal. Dengan ini Ritzer memberikan contohnya, seperti percakapan di telepon, memancing gelak tawa, mengundang tepuk tangan, cemooh, cerita, formulasi, integrasi berbicara dan aktivitas nonvokal, serta mengungkapkan rasa malu dan percaya diri.

Pertama, percakapan di telepon berbeda dengan percakapan secara langsung. Oleh sebab itu, percakapan di telepon akan menambahkan kata-kata dalam praktiknya, seperti ucapan salam, perkenalan, guyonan, dan penutup. Selain itu, seseorang yang menelepon tidak akan tahu bagaimana ekspresi dari lawan bicaranya seperti dalam percakapan secara langsung. 

Kedua, memancing gelak tawa adalah peristiwa yang bebas dalam percakapan atau interaksi. Namun, etnometodologi melihat bahwa dalam gelaktawa selalu melibatkan pengorganisasian di dalamnya. Meskipun gelak tawa muncul secara spontan, namun pembuat lelucon secara tidak langsung telah memikirkan sesuatu untuk bahan guyonan.

Ketiga, mengundang tepuk tangan. Hal ini adalah praktik sepele yang sering diabaikan oleh orang lain. Namun, etnometodologi melihat bahwa dalam tepuk tangan ada sesuatu yang ingin ditonjolkan. Hal ini seperti bentuk penegasan atas suatu percakapan. Misalnya, ketika seseorang telah memberi jalan keluar atas masalah, secara spontan beberapa dari kalian akan bertepuk tangan sebagai apresiasi, ungkapan terima kasih, atau bahkan penegasan atas kebenaran ucapan tersebut.

Keempat, cemooh adalah lawan sikap dari tepuk tangan. Jika dalam tepuk tangan berarti kamu menyetujui ungkapan, maka dalam cemooh kamu tidak sependapat untuk itu. Atau bisa jadi kamu kecewa atas ungkapan yang diberikan oleh lawan bicaramu.

Kelima, cerita akan muncul dalam beberapa percakapan. Etnometodologi mengamati beberapa orang dalam berinteraksi, kemudian ia mendapatkan beberapa hal termasuk cerita di dalam interaksi tersebut. Hal inilah yang nantinya akan mengundang percakapan akan terus mengalir dengan respon dari lawan bicara.

Keenam, formulasi adalah bentuk percakapan yang mana lawan bicara dapat menyimpulkan maksud dari pembicara. Artinya, pembicara mencoba untuk memahamkan lawan bicaranya. Dengan ini, lawan bicara akan menanggapinya dengan pemahaman yang mereka dapat dari apa yang dibicarakan.

Ketujuh, integrasi berbicara dan aktivitas nonvokal. Jika dalam percakapan memusatkan perhatiannya pada pembicaraan, maka dalam etnometodologi menambahkan fokus tersebut dengan aktivitas nonvokal, seperti gestur. Dengan ini, tidak hanya pembicaraannya yang dapat dipahami, melainkan dengan gestur kita akan lebih paham maksud dari percakapan tersebut. 

Kedelapan, mengungkapkan rasa malu dan percaya diri. Etnometodolog begitu yakin bahwa dalam percakapan kedua rasa itu selalu ada. Kita akan cenderung diam dan menghindari topik-topik percakapan ketika kita merasa malu. Sebaliknya, kita akan terus memancing lawan bicara kita dengan topik-topik tertentu ketika kita percaya diri dengan itu.

Dari beberapa contoh yang disebutkan oleh Ritzer, jelas sekali bahwa etnometodologi berbeda dengan fokus sosiologi klasik sebelumnya. Etnometodologi begitu tertarik terhadap praktik-praktik sepele yang dilakukan oleh anggota masyarakat. Namun, dengan ini etnometodologi membuktikan bahwa dirinya telah tumbuh menjadi tak terbatas dan kehilangan spesifikasi atas dirinya.

0 Comments: