Erving Goffman: Peran Diri dari Konsep Dramaturgi

ad+1




“Seluruh dunia ini bukan panggung -sama sekali bukanlah teater.” (Erving Goffman, Frame analysis, 1974)
Ujaran tentang “jadi diri sendiri” telah marak bermunculan diberbagai kalangan masyarakat. Pasalnya sebagian dari mereka terlalu asyik mendalami peran orang lain. Hingga mereka lupa atau bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. Hal ini sangat disayangkan, bagaimana kita bisa menghargai diri sendiri jika kita sendiri tidak tahu atau mengenal diri kita sendiri?

Premis tersebut rupanya telah menjadi problematika masyarakat sejak dulu. Bahkan Erving Goffman, sosiolog kelahiran Kanada, 11 Juni 1922 itu tertarik untuk menelitinya. Ia membuat konsep tentang diri yang diberi nama “Dramaturgi”.

Dramaturgi adalah gambaran dari laku diri. Artinya, ada peran yang dilakukan oleh aktor dalam dua sisi, yang sebenarnya dan yang ditampilkannya. Singkatnya, diri ini memiliki dua sisi yang perlu untuk ditunjukkan kepada audiens (masyarakat) dan sisi yang harus disembunyikan dari audiens. 

Sedangkan Goffman menyebutnya sebagai peran di atas panggung dan peran di balik layar. Keduanya akan selalu melekat pada diri manusia dan tidak terelakkan. Oleh sebab itu, kita perlu mengenali diri sebelum terjebak dalam salah peran.

Pertama, peran diri di atas panggung atau sisi dari diri kita yang perlu ditampilkan pada audiens. Manusia tidak mungkin menunjukkan sisi buruknya di depan masyarakat, kecuali kalian memang ingin melakukannya. Dan tentu saja hal buruk yang kalian tampilkan akan menciptakan stigma kepada masyarakat.

Inilah yang oleh Goffman diringkas dalam lima fakta di atas panggung. Hal tersebut meliputi, kesenangan diri sendiri yang ditekan, kesalahan diri yang ditutupi, menyembunyikan proses atau hanya menunjukkan hasil, menyembunyikan kecurangan atau kerja kotor, dan menyembunyikan standar diri. Jelasnya, aktor akan menyembunyikan berbagai fakta pada dirinya di depan audiens.

Kedua, peran diri di balik layar atau sisi yang tidak diketahui audiens. Dari sisi ini seharusya kita bisa menjadi “benar-benar” subjek untuk diri kita. Pasalnya, inilah sisi kebenaran yang hanya diri kita yang tahu. Tidak mungkin diri kita mampu menipu diri sendiri, kecuali memang menghendaki yang demikian.

Dari sisi ini jelas sekali bahwa kita memiliki kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Tidak ada seorang pun yang tahu betul bagaimana diri ini kecuali diri kalian sendiri. Sesempurna apapun seseorang mendikte bagaimana diri kalian, mereka tidak akan pernah paham betul diri kalian.

Namun, memang banyak diantara kita yang tidak mengenal bagaimana dirinya sendiri. Ada banyak faktor yang salah satunya adalah “terlampau senang” menjadi diri “yang digemari” banya orang. Hingga mereka lupa bahwa menjadi diri sendiri adalah hal yang amat menyenagkan, sekalipun tidak banyak yang menyukai. Kesenangan diri itu adalah hak, selama tidak merugikan orang lain. Lagi pula, siapa yang peduli bagaimana kehendak audiens yang bertolak belakang dengan diri kita -seharusnya.

Sederhananya, omong kosong jika seseorang tidak tahu dirinya sendiri. Ia adalah aktor yang bebas mengekspresikan diri tanpa pusing tuntutan dari audiens. Dengan ini ia akan bertindak natural dan menjadi subjek untuk dirinya sendiri.

0 Comments: