Sang Kiai dan Kemerdekaan

ad+1

by. Zidna Nabilah

“Allah tidak akan memberi manfaat dan kemuliaan bagi umat yang tidak mau hidup berjama’ah, tidak bagi umat terdahulu dan tidak juga bagi umat yang hidup di akhir zaman”

Kemarin Indonesia telah berumur 75 tahun sejak merdeka pada 17 Agustus 1945. Hal ini tentu akan mengingatkan kita kepada para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan. Sebagaimana film yang disutradarai oleh Rako Prijanto yang dirilis pada tahun 2013 ini, yang mengisahkan sekaligus menggambarkan bagaimana para ulama juga ikut serta berjuang.

Film ini berlatar belakang masa penjajahan yang mengangkat kisah hidup ulama dari Tebu Ireng, Jombang, KH. Hasyim Asyari. Tentu banyak dari kalangan masyarakat tidak asing dengan nama ulama satu ini, pendiri organisasi terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU).

Saat pertama menonton film ini, kita akan disuguhkan pemandangan desa yang asri dimana seluruh warganya hidup sederhana dan juga damai. Begitu juga di pesantren Tebu Ireng yang selalu ramai kedatangan santri baru. Didukung dengan setting film yang dibuat antara tahun 1942-1947, menjadikan film ini berhasil membawa para penontonnya ikut merasakan situasi pada saat itu. Seperti menyaingi film garapan Hanung Bramantyo, Sang Pencerah yang menceritakan tentang biopic seorang Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.

Dengan judul yang kebetulan hampir sama, namun biopic milik pendiri Nahdlatul Ulama tersebut tak sepenuhnya fokus kepada KH. Hasyim Asyari. Karena dalam film ini juga menceritakan tentang kehidupan sekitar pesantren Tebu Ireng serta perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan.

Bagi penyuka film sejarah, film ini layak masuk ke dalam daftar film yang wajib ditonton. Karena gaya cerita yang dibuat masih pop dan enjoyable, bahkan ada sedikit unsur comedy dalam film yang tentu membuat penonton tidak bosan.

Disamping itu, film ini juga memberikan subplot cerita kepada karakter-karakter lainnya seperti Harun (salah satu santri Tebu Ireng) yang mempunyai screening time, dan subplot cerita tentang dirinya dan kehidupannya lebih banyak. Sehingga tidak melulu tentang sejarah, bahkan love story antara Harun dan Sarinah ikut menghangatkan film ini.

Konflik bermula tatkala KH Hasyim Asyari (Ikranegara) menolak untuk menandatangani kesepakatan untuk melakukan sekerei---menyembah atau sujud kepada matahari. Tanpa kehabisan akal, Jepang menangkap Ikranegara dengan memberikan tuduhan bahwa ialah yang menjadi pelopor kerusuhan di Pabrik Gula Cukir.

Penangkapan ini memicu berbagai macam reaksi dari berbagai kalangan terutama keluarga dan para santri Tebu Ireng. Tak lama kemudian, beliau dipindahkan ke Mojokerto karena para santri telah memenuhi markas Jepang atas diplomasi dari KH. Wahid Hasyim dan KH. Hasbullah dengan para petinggi Jepang. Hal ini dilakukan agar KH. Hayim Asyari dibebaskan dan kemudian membicarakan suatu kesepakatan yang menguntungkan Jepang.

Pada tanggal 7 September 1942 para petinggi Jepang selanjutnya mengumpulkan para ulama dari Jawa dan Madura, untuk membahas mengenai “latihan kiai” yang dilaksanakan pada 1 Juli 1943. Selain itu, masih banyak lagi kesepakatan yang akhirnya diambil seperti penghapusan MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia), dan pendirian MASYUMI (Majelis Syuro Muslim Indonesia).

Berikutnya, muncul konflik dimana K.H. Hasyim Asy'ari yang diangkat menjadi ketua Masyumi justru dimanfaatkan Jepang untuk memaksa para pribumi meningkatkan hasil bumi, dan menyetorkannya ke pihak mereka. Kebijakan itu berlangsung hingga dikeluarkannya Resolusi Jihad atas permintaan Presiden Soekarno pada 14 September 1945. Singkat cerita, saat Jepang memberikan penyerahan kekalahan kepada sekutu, brigadir Mallaby mendaratkan pasukannya ke Surabaya untuk mengambil alih wilayah tersebut.

Namun Bung Tomo kemudian mendatangi KH. Hasyim Asyari untuk meminta nasehat yang dijawab dengan “awali dan akhiri dengan menyebut asma Allah”. Dari sinilah Bung Tomo memberanikan diri untuk melakukan pidato atau orasi, menyulut semangat warga Surabaya dengan begitu menggelegar dan mengakhirinya dengan takbir sebanyak tiga kali.

Diiringi dengan keberangkatan para pemuda Jombang ke Surabaya undan bergabung dengan pemuda Surabaya guna menyerbu Belanda. Hingga pertempuran ini kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan pada 10 November. Film ini diakhiri dengan wafatnya KH. Hasyim Asyari yang menjadi pukulan bagi banyak kalangan, karena kondisi negara yang masih membutuhkan sosok seperti beliau. Keteguhan beliau dalam membela Islam sekaligus nasehat bijaksananya, tentu akan diingat oleh banyak orang.

“hukum membela negara dan melawan penjajahan adalah wajib bagi setiap masyarakat Indonesia. Umat Islam yang mati di medan pertempuran akan mati syahid dan mereka yang menghianati perjuangan umat Islam dengan memecah belah persatuan lalu menjadi kaki tangan penjajah wajib hukumnya dibunuh”, pesan KH. Hasyim Asyari.

Hal lain yang petut diacungi jempol atas film ini adalah berbagai detail production values yang digarap begitu apik oleh Frank X.R. Paat, membuat para penonton terpanah. Sebagaimana setting kota Jombang dan Tebu Ireng yang begitu rapi dan sesuai dengan tahun yang ingin digambarkan. Selain itu setting kota di zaman penjajahan juga terlihat detail, bahkan pemandangan-pemandangan saat perang terjadi terasa begitu nyata.

Namun, disisi lain bahasa yang digunakan oleh para pemain sering kali masih bercampur antara bahasa jawa maupun bahasa Indonesia. Terkadang penggunaan bahasa ngoko bercampur dengan krama inggil juga membuat sejumlah penonton mungkin terasa sedikit mengganjal. Meski demikian, film ini mengandung banyak sekali pesan yang disampaikan jika penonton menyadari setiap scene-nya.

Setelah membicarakan mengenai film yang mengisahkan sejarah kemerdekaan, mungkin kita akan bertanya-tanya alasan kenapa harus mempelajari sejarah. Bahkan ada kata yang sering kali dilontarkan di tengah-tengah masyarakat yaitu JASMERAH---Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Lalu, sebenarnya apa tujuan kita mempelajari sejarah dan terus memperingatinya.

Ayahanda Dr. H. Teguh M.Ag. justru pernah menyampaikan, bahwa belajar sejarah sama seperti saat kita bermain “ketapel”. Semakin jauh ke belakang kita menariknya, maka semakin kencang dan melesat pula senjata kita. Maka ini menjadi simbolisme bahwa dengan mempelajari sejarah, kita mampu memprediksi masa depan dengan lebih baik.

Sedangkan tujuan anak ketapel tersebut tentu menjadi fokus kita berikutnya, kemana dan bagaimana ia sampai ke titik tujuan. Jika membicarakan tujuan, maka yang terbersit dalam pikiran kita adalah kesuksesan. Bisa dipastikan bahwa tak ada seorang pun yang tidak ingin sukses, tetapi sukses seperti apakah yang menjadi pertanyaan. Selanjutnya beliau menyampaikan, bahwa sukses adalah ketika kita terus berkembang, menjadi bermanfaat bagi yang lain dan juga menjadi bernilai.

Berkembang saat kita terus membaik, menjadi lebih mahir, menjadi lebih rajin, mempelajari ilmu baru setiap hari, dan lain sebagainya. Sedangkan menjadi bermanfaat adalah ketika kita mengusahakan segala yang kita miliki termasuk ilmu, tenaga, harta benda bahkan doa kita bukan hanya diperuntukkan untuk diri sendiri melainkan juga untuk kemanfaatan orang lain.

Untuk yang ketiga adalah menjadi bernilai. Lalu, bagaimana kita bisa mengetahui apakah kita sudah bernilai atau belum. Maka caranya adalah dengan membandingkan keadaan saat kita ada, dan saat tidak adanya kita. Jika tidak adanya kita membuat suatu hal terasa tidak lengkap, itulah tanda bahwa diri kita sudah bernilai. Namun jangan menjadikan itu sebagai alasan kita menjadi sombong, tetapi tetap menjadi rendah hati dan sederhanalah yang terbaik.

Karena dari sejarah kemerdekaan, kita dapat memandang kilauan cahaya yang lebih terang bagi kehidupan negeri. Disamping itu, menjadi manusia yang baik adalah salah satu bentuk rasa syukur kita atas kemerdekaan negeri.

0 Comments: