Refleksi 75 Tahun Ibu Pertiwi

ad+1

by. Ziada Hilmi Hanifah

Di tengah bulan Ramadhan lalu, saya sempat melintas di sebuah gang kecil di daerah Bandar , Mojoroto, Kediri. Tersebab kala itu adalah pertama kalinya bagi saya memasuki area gang tersebut, maka saya belum mengetahui sesuatu pun yang ada di sana.

Ketika saya baru akan memasuki mulut gang, saya sudah disambut oleh sebuah mural ‘twin color’ hitam-putih yang vulgar terpampang di muka dinding gang tersebut. Nah, yang membuat saya bersedia untuk terus mengingatnya hingga sekarang adalah satu kalimat yang dicantumkan oleh sang pelukisnya di permukaan dinding tersebut. Kalimat itu adalah, “Merdeka Jiwa Dan Raga”.

Saya merasa tergelitik oleh kalimat itu. Sebuah kalimat pendek yang disampingnya terdapat lukisan siluet seorang pria yang mengangkat tinju kanannya keatas. Kalimat ini berhasil mencuatkan tanya bagi saya, ‘Sudahkah kita merdeka?’

Konteks merdeka yang tak hanya secara fisik, tapi juga secara jiwa. Jika selama ini fisik tanah air diasumsikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kebebasan dari perang, warga sipil atau rakyat, dsb. Maka jiwa tanah air adalah segala hal yang berkaitan dengan pendidikan, mindset, pendidikan, pola hidup, mentalitas masyarakat.

Serta berbagai ideologi yang berkaitan dengan landasan kenegaraan. Maka, jika kita kembali pada pertanyaan awal tadi, kita akan sedikit merenung bahwa kemerdekaan jiwa belum seutuhnya kita proklamasikan.

Jika pada 17 Agustus 75 tahun silam Ir. Soekarno berorasi tentang proklamasi kemerdekaan, maka itu adalah bentuk implementasi kemerdekaan secara fisik. Namun jika ranah pembahasan kita alihkan menjadi seputar pendidikan, mental warga negara, kepemudaan, pola hidup, dan pancasila maka akan begitu banyak PR yang perlu kita rampungkan sebagai kemerdekaan jiwa Indonesia.

Sebagai contoh kecil adalah seperti banyaknya orang yang belajar dan dididik tetapi belum mampu menunjukkan sikap seorang yang terpelajar dan terdidik dengan rendahnya moralitas mereka. Seolah-olah menciptakan kesenjangan antara keilmuan yang tinggi dengan etika yang degradasi.

Atau ideologi pancasila kita, sebagai suatu landasan yang sifatnya sudah absolut, belum banyak yang sudah mengaplikasikannya dalam kehidupan sebagai warga negara. Seperti dengan terjadinya kasus-kasus yang menginduk pada pola rasisme antar etnis. Kemudian dengan adanya perlakuan diskriminatif dari kelompok yang mayoritas terhadap yang minoritas.

Atau yang lebih dominan terjadi akhir-akhir ini adalah adanya superioritas terhadap yang inferior, seperti dalam sebuah tajuk yang menyebut bahwa hukum di Indonesia yang ‘baru’ adalah tajam ke bawah, tumpul keatas.

Yang demikianlah yang justru bertentangan dengan nilai toleransi dan keadilan yang tersemat pada sila ke-3 dan ke-5, serta Bhineka Tunggal Ika. Atau sifat-sifat korup yang tak sesuai dengan sila ke-2. Atau para wakil rakyat yang tiba-tiba melupa dari mana asal mereka setelah duduk di bangku dewan dengan bayaran yang jauh melampaui kata kurang, sehingga seolah-olah mereka sudah melucuti sila yang ke-4.

Namun jika kita mampu sadar lebih jauh lagi, maka tak hanya PR yang akan kita temukan, tapi juga potensi-potensi besar anak bangsa yang memerlukan apresiasi lebih yang nantinya berpeluang menjadi solusi prestisius atas ‘tugas-tugas’ tadi.

Mulai dari para game developer yang mulai menjamur, atau banyaknya usaha start-up di ranah industri kreatif, dan banyak prestasi-prestasi lainnya yang berpeluang besar membangun kembali dan menjadi manifestasi dari proklamasi kemerdekaan Indonesia secara jiwa.

Hingga akhirnya, kita perlu sadar juga bahwa kitalah para aktor yang akan menjadi motor utama penentu nasib kemerdekaan ibu pertiwi kita dan mempertahankan esensinya hingga umur yang entah kapan. Subjektivitas dan mentalitas positif kita dibutuhkan untuk mewujudkan Ibu Pertiwi yang gemah ripah loh jinawi.

Dirgahayu Indonesia!

0 Comments: