Kemerdekaan (Bukan) Hanya Milik "Agustus"

ad+1




Tepat di tahun 2020 Indonesia telah 75 tahun merdeka. Artinya, selama 75 tahun pula tidak ada penjajahan atau penindasan yang diderita masyarakat Indonesia. Dan selama itu pula, masyarakat telah terjamin kemerdekaannya.

Namun, benarkah pernyataan tersebut? Apakah Indonesia telah menjamin kemerdekaan setiap masyarakatnya? Apakah mereka benar-benar telah merdeka tanpa embel-embel penjajahan dan penindasan?

Well, kalau yang dimaksud merdeka hanyalah ucapan proklamasi dan tidak ada penjajahan negara lain seperti halnya 75 tahun silam, ya, Indonesia saat ini begitu. Tapi, kalau merdeka yang dimaksud telah bebas dari segala bentuk penindasan, saya kira itu belum. Pasalnya, masih ada saja orang berkecukupan yang merengek meminta belas kasihan. Ada pula mereka yang benar-benar kekurangan yang tidak lagi ditengok untuk diberikan bantuan. Mengenaskan.

Kalau begini ceritanya, apakah Indonesia yang katanya merdeka itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang berkecukupan, tidak dibungkam, apalagi tertindas dan dirampas haknya? Apa kemerdekaan hanya sebatas upacara bendera? Apa kemerdekaan hanya milik Agustus saja? Apa iya?

Duh, kalau berujar merdeka saja semangatnya sampai ke ubun-ubun. Giliran ada masyarakat yang mati kelaparan saja pura-pura buta, tuli, dan belagak prihatin. Lah, gimana merdeka bukan hanya milik golongan? Kalau, toh, kemerdekaan tidak pernah dirasakan bersamaan.

Dan apa ini, kemerdekaan hanya sebatas upacara di atas rumput lapangan. Macam mana pula ini negara? Disuruh upacara tapi bodo amat sama situasi sekitar. Yang ditanamkan hanya menghormati perjuangan pahlawan, tapi abaikan penderitaan masyarakat yang kurang berkecukupan. Ini maksudnya asal negara bahagia, masyarakat tak apa menderita gitu, ya? Sedih.

Upacara bendera dengan embel-embel menghormati perjuangan pahlawan yang telah memberikan kemerdekaan pada Indonesia -atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa-. Rasa syukurnya itu baik, asal bukan buat gegayaan biar dikira "wah" saja. Akan lebih baik lagi kalau mau peduli ke sesama masyarakat, ya, kan? Jadi rasa kebangsaannya ada, rasa kemanusiaannya berfungsi, dan akal kritisnya dipakai. Bukan belagunya yang ditonjolkan.

Mirisnya lagi, kenapa, sih, selalu di Agustus saja semangat kemerdekaannya. Dalam setahun ada dua belas bulan, lo. Apa kemerdekaan hanya milik Agustus?

Kalau kata @rahung dalam laman sosial medianya menyebut bahwa rasa kebangsaan ereksi setiap bulan Agustus. Pasalnya, rasa kemanusiaan mampus setiap harinya. Sayang banget, ya, hidup kok cuma jadi batang pinang, itu pun setahun sekali.

Sudah 75 tahun, loh, ini. Masyarakat Indonesia gak mau hidup malmur sejahtera gitu? Masyarakat gak mau hidup berdampingan dengan selimut kemerdekaan gitu? Beneran gak mau hidup dengan tanpa penindasan, nih? Beneran gak mau?

Sekali lagi, satu tahun ada dua belas bulan, loh. Yakin kemerdekaan hanya milik Agustus? Yakin gak mau merdeka setiap harinya? Yakin gak mau?

Bukan bermaksud untuk memprofokasi, tapi ayolah merdeka bersama. Jangan mau menindas atau tertindas. Jangan mau bungkam. Taukan kalau semua manusia memiliki hak yang sama? Maka dari itu ayo merdeka bersama dengan peduli dengan sesama.

Kalau kalian masih merasa sedih dan tidak terima terhadap penindasan, kalian masih manusia.
Kalau kalian masih peduli terhadap kemanusiaan, kalian humanis.
Dirgahayu untuk 75 tahun Indonesia. Semoga hanya hal-hal baik yang tak akan binasa.

0 Comments: