Zootopia

ad+1

 

by. Zidna Nabilah

“Mungkin ini terdengar mustahil bagi sebagian orang. Tapi 211 mil jauh di sana, berdiri kota besar bernama Zootopia. Di mana nenek moyang kita pertama kali hidup dalam damai. Dan menyatakan bahwa semua orang bisa menjadi siapa pun.” Kata Judy Hopps---si kelinci dengan mantap.

Siapa yang akan percaya kepada seorang anak (kelinci) yang memimpikan dirinya menjadi polisi, walau dalam kenyataan itu mustahil. Entah mereka adalah predator atau mamalia, semua memiliki satu tempat tinggal yang sama. Maka untuk menjadi seorang polisi, pasti membutuhkan ekstra energi dan kecerdikan untuk mengatur serta mengayomi masyarakat yang heterogen.

Setelah menonton pertunjukan sekolah (saat Judy berumur 9 tahun), orang tua Judy baru menyadari bahwa ternyata anak mereka memiliki impian menjadi polisi. Nyatanya sejak dulu, tak pernah ada kelinci yang memiliki cita-cita itu. Hal tersebut membuat nyonya hopps takut, khawatir anaknya akan kecewa jika itu tak dapat dicapainya.

Berbeda dengan kelinci tangguh dan tak tahu caranya berhenti itu, karena kata “polisi” sudah menjadi impian sejati bagi dirinya. Dia mempunyai harapan akan membuat dunia lebih baik, dan memberitahu dunia bahwa siapa pun berhak menjadi apa pun. Sungguh mulia bukan, yang tak semua anak akan berpikir seperti itu hingga ia tumbuh besar.

Beberapa tahun berlalu, dan akhirnya Judy sampai di Akademi Kepolisian yang ia idamkan selama ini. Di awal pelatihan, ia menyadari beberapa hal tentang kota di mana ia tinggal. Mungkin kita biasa menyebutnya kota megapolitan, dan tidak lain adalah Zootopia. Ternyata kota besar itu memiliki wilayah dengan 12 ekosistem dalam batas kota--- Tundra Town, Sahara Square, Rain Forest District, dan lainnya.

Uniknya, setiap kota memiliki musimnya masing-masing, dan penduduk yang juga beragam. Tentu film ini adalah penggambaran dari dunia hewan yang berevolusi menjadi makhluk berperadaban tinggi layaknya manusia (tak ada satu manusia pun di dunia ini). Dimana “pemangsa” dan “mangsa” dapat hidup berdampingan.

Disamping itu, Judy---si kelinci betina juga harus melewati banyak rintangan sulit yang harus ditaklukkan agar lulus dan mendapat gelar polisi. Rintangan-rintangan itu tidak lain adalah menembus badai pasir, bergelantungan di ketinggian seribu kaki, melewati tebing es, bahkan harus mampu mengalahkan penjahat besar---si kudanil dengan adu tinju.

“Mundur dan pulanglah kelinci kecil. Tak pernah ada kelinci polisi. Tak pernah ada. Tak pernah ada. Hanya ada kelinci petani wortel bodoh.” Kata pelatih---si beruang kutub dengan nada tegas dan mengejek.

Suara itu terdengar keras dan kejam, siapa pun jika mendengarnya tentu akan kecil hati jika mentalnya tak cukup kuat. Namun berbeda dengan kelinci kita satu ini, justru kata-kata itu menjadi dorongan kuat baginya untuk terus mencoba. Siang dan malam ia gunakan untuk berlatih juga belajar, menggunakan usaha sebesar dua kali lipat untuk membuktikan bahwa ia mampu dan pantas.

Finally, tak ada hasil yang menghianati usaha. Ia berhasil lulus dengan nilai terbaik, dan mendapatkan lencana yang diimpikannya. Wakil wali kota Bellwether bahkan memberikan lencana berlambang polisi itu secara langsung kepada Judy Hopps, polisi kelinci pertama Zootopia. Upacara penobatan yang menggembirakan, merupakan awal petualangan sekaligus perjuangan Judy dalam memperjuangkan kedamaian dan keadilan.

Tidak perlu menunggu lama, Zootopia express---kereta laju cepat Zootopia segera tiba di Bunny Burrows, tepat setelah Judy usai bersiap dan berpamitan kepada orang tua dan 275 saudaranya yang lain. Judy kemudian bergegas masuk dengan tujuan ke jantung kota Zootopia, dan melambaikan tangan tanda perpisahan.

Dengan ditemani lagu terkenal dari penyanyi Zootopia—Gizelle si rusa, kelinci itu pun menikmati pemandangan sekaligus segala hal yang ada di kota itu. Tidak butuh waktu lama, Judy Hopps sampai di apartemen bernama Grand Pangolin Arm kota Zootopia.

Hari pertama bekerja, Judy sangat antusias karena saat itulah ia akan menerima penugasan yang sudah lama ia nantikan. Ketika sampai di kantor, ia disambut oleh Benjamin Clawhauser---si harimau ramah yang ditugaskan di bagian resepsionis.

Sama dengan hewan-hewan lainnya, tentu Benjamin juga tak menyangka kepolisian akan menerima seekor kelinci. Namun ia justru sangat ramah dan bahkan menyebut Judy sebagai hewan yang lucu (walau Judy sedikit aneh mendengarnya). Benjamin pun memberitahukan di mana tempat ia akan menerima tugas pertamanya.

“…Terakhir, kita memiliki 14 kasus mamalia hilang. Semua Predator. Dari beruang kutub hingga berang-berang. Dan Balai Kota menugaskanku untuk menemukan mereka. Ini Prioritas utama. Penugasan…” penjelasan yang cukup panjang dari ketua Kepolisian pusat kota Zootopia.

Ucapan ketua berakhir dengan menugaskan Judy menjadi Polisi parkir, dimana ia harus menuliskan sebanyak 100 tiket (berupa sanksi bagi pengendara yang parkir sembarangan) setiap hari. Walau awalnya ia sedikit kecewa atas tugas tersebut, Judy tak kalah semangat. Ia justru meningkatkan target bagi dirinya sendiri untuk menulis minimal 200 tiket setiap hari. Salah satu sikap pantang menyerah yang tentunya bisa kita jadikan teladan.

Tanpa pikir panjang, ia langsung pergi menuju jalan raya dan melaksanakan tugasnya. Disana ia bertemu dengan seekor rubah bernama Nick Wilde. Tidak disangka, pertemuan itu justru menjadi seperti takdir yang akan mengantarkan Judy memecahkan masalah hilangnya keempat belas mamalia tersebut. Berkat bekerjasama dengan Nick---seseorang yang memiliki koneksi luas di Zootopia, satu persatu petunjuk ia dapatkan.

Walaupun pada awalnya, Judy tahu bahwa rubah memikili karakter yang bisa kita sebut cerdas tetapi mereka juga termasuk hewan yang licik dan bisa saja buas. Namun, ada benarnya kata pepatah yang mengatakan bahwa tidak seharusnya kita memandang dari casing-nya saja. Melainkan lihat apa yang ada dalam diri mereka. Maka Nike si rubah adalah salah satu predator yang menyadarkan Judy bahwa tidak seharusnya kita men-judge orang lain tanpa tahu kebenarannya.

Kasus hilangnya mamalia tersebut, akhirnya berhasil diselesaikan oleh Judy dan rekannya Nike, yang pada akhirnya ikut menjadi anggota kepolisian Zootopia. Walau pada awalnya banyak percecokan antara mereka, namun mereka berhasil menuntaskan kasus yang ternyata adalah ulah Wali kota juga Wakik Wali Kota untuk menjaga posisi mereka. Memanfaatkan naluri pemangsa untuk menjadi buas, dan menjadikan mamalia yang lebih tinggi dibanding predator.

Film ini juga menyadarkan kita semua bahwa mayoritas ataupun minoritas, kita memiliki hak yang sama untuk menjadi apapun. Disamping itu, kita berhak menjadi diri sendiri dan ikut serta membangun kota sebagaimana yang diinginkan setiap orang. Menjalin kerukunan dengan adanya perbedaan, dan tidak memaksakannya untuk sama. Karena dengan berbeda, segala sesuatu menjadi lebih indah dan utuh.

Alasan lain memilih film ini adalah, karena film garapan sutradara Byron Howard (Tangled) dan Rich Moore (Wreck-It Ralph) ini, mampu menghadirkan cerita detektif bagi anak-anak tanpa membuat para penonton dewasa jemu atau bosan. Selamat menonton.


“Everyone can be anything”-Judy Hopps.

1 comment: Leave Your Comments