Teori Kritis: Produk Neo-Marxis Jerman untuk Marxian

ad+1


Nama Karl Marx pasti sudah tidak asing lagi bagi para intelektual. Tokoh yang digadang-gadang sebagai ayah kandung komunis ini mashur dengan beberapa teorinya yang dianggap kontroversional. Namun, justru dengan pemikiran kontroversionalnya inilah Marx memiliki banyak pengikut yang kelak menamai dirinya sebagai Marxian. Jadi, tidak heran jika namanya acap kali disandingkan dengan hal-hal yang berbau "kiri".

Berbicara tentang kiri, sebenarnya bukan klaim negatif yang anti pemerintahan. Namun, kiri ini lebih condong pada sikap kritis yang tidak melulu mengikuti aturan pemerintah. Lagi pula, Marx tidak pernah menamai dirinya sebagai kiri. Itu hanyalah premis yang disandangkan oleh lawannya yang menganggap seolah-olah Marx anti terhadap pemerintahan.

Selain kesan politik yang "anti-pemerintahan", Marx juga memiliki pemikiran-pemikiran fantastis di bidang ekonomi, sosial, dan agama. Dan tentu saja pemikirannya ini dipengaruhi oleh Hegel, Feurbach, dan sahabatnya, Engels. Bahkan setelah kematiannya, pemikiran atau karya-karya Marx akan diterjemahkan oleh Engels untuk Marxian lainnya.

Namun, tidak ada seorang pun yang mampu mengerti secara detail apa yang dimalsudkan Marx. Seperti yang ditulis oleh Magnis Suseno dalam bukunya yang berjudul Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme menyatakan bahwa tidak ada yang mampu mengerti maksud pemikiran Marx, termasuk Engels. Sehingga, ada beberapa kerancuan Marxian dalam menelaah pemikiran Marx.

Premis tersebut sama dengan yang dilontarkan oleh golongan Neo-Marxis Jerman. Golongan yang menamai diri mereka sebagai Mazhab Frankfurt, Jerman ini menyebut bahwa Marxian telah mereduksi pemikiran Marx. Sehingga Marxian telah salah karah dalam mengimplementasikan pemikiran Marx. Dari interpretasi pemikiran saja sudah salah, apalagi dalam implementasinya.

Maka dari itu, Mazhab Frankfurt ini bermaksud untuk meluuskan kembali pemikiran-pemikiran Marx. Salah satu caranya adalah dengan membentuk suatu teori baru yang akrab dengan sebutan teori kritis. Seperti yang ditulis oleh George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi menyebut bahwa di dalam teori kritis memuat berbagai kritik terhadap Marxian, seperti kritik atas teori Marxian, positivismenya, sosiologinya, masyarakat modernnya, bahkan perihal kebudayaan.

Pertama, kritik atas teori Marxian. Mereka, para Neo-Marxian menyebut bahwa Marxian terlalu condong pada determinisme ekonomi. Yang mana seolah-olah hanya ekonomi yang dapat menopang segala sektor. Marxian tidak berpikir bahwa antara sektor satu dengan sektor yang lainnya saling tergantung. Menurut Neo-Marxian, seharusnya para Marxian memperhatikan sektor lain demi memperbaiki kesenjangan.

Kedua, kritik atas positivisme. Para positivis menganggap bahwa ilmu sains adalah standar ketepatan untuk seluruh disiplin ilmu, termasuk pembahasan terkait masyarakat. Jadi masyarakat dalam perspektif positivis dianggap pasif. Sehingga, peran teori kritis di sini adalah mengembalikan posisi manusia sebagai subjek yang aktif.

Ketiga, kritik terhadap sosiologi. Sosiologi dalam perspektif kritis dianggap terlalu santisme, yang mana segalanya harus serba ilmiah. Di sini, para Neo-Marxian bermaksud untuk menghindarkan masyarakat dari sesuatu yang ilmiah menjadi seauatu yang lebih fleksibel.

Keempat, terhadap masyarakat modern. Menurut Neo-Marxis, masyarakat modern terlalu memfokuskan diri untuk memperbaiki ekonomi ala Marxian. Dengan ekonomi pula, teknologi dapat dikendalikan dengan mudah. Dalam hal ini, salah satu Neo-Marxis, Marcuse, menyebut bahwa masyarakat modern yang demikian sama halnya dengan makhluk satu dimensi. Mereka telah kehilangan nalar kritisnya karena hanya memfokuskan diri pada ekonomi semata.

Terakhir, kritik terhadap kebudayaan. Para Neo-Marxian mengkhawatirkan adanya birokratis yang terlalu ikut campur perihal urusan masyarakat. Dari yang awalnya ekonomi yang dimonopoli, sekarang merambah pada budaya media massa yang dimanipulasi. Teoritisi Kritis menginginkan agar budaya yang sekarang ini tidak lepas kaitannya dengan media massa, seharusnya lebih mampu untuk menyerukan pengetahuan dari pada penyiaran tentang politik manipulatif dari birokrat.

Semua kritik yang dilontarkan Neo-Marxis kepada Marxian secara general memang menyerang determinisme ekonominya. Namun, dalam teori kritisnya, Neo-Marxis malah mengabaikan ekonomi. Mereka seolah-olah enggan menyentuh ranah ekonomi. Padahal, dalam beberapa pemikiran Marx juga memuat masalah ekonomi. Jadi, saya kira, baik Marxis maupun Neo-Marxis, mereka sama-sama telah mereduksi pemikiran Marx.

2 comments: Leave Your Comments