Teori Konflik: Wajah Baru dari Teori Fungsionalisme Strukturalisme




Setelah tokoh-tokoh sosiologi klasik, seperti Auguste Comte, Karl Marx, Emile Durkheim, Max Weber, Georg Simmel, dan lain sebagainya meninggal, bukan berarti teori-teorinya ikut mati pula. Sosiolog selanjutnya malah menjadikan teori-teori sosiolog klasik sebagai acuan dalam mengembangkan pemikirannya. Bahkan mereka mengembangkan sosiologi menjadi ilmu yang semakin kaya akan teori.

Itu dibuktikan dengan berkembang pesatnya sosiologi di Amerika. Di Chicago misalnya, telah melahirkan teori fenomenalnya, yaitu interaksionalisme simbolik. Namun, keberadaannya tidak lama karena muncul berbagai kritik terhadapnya. Kemudian disusul pula di Harvard dengan melahirkan fungsionalisme strukturalisme.

Sama halnya dengan interaksionalisme simbolik, fungsionalisme strukturalisme juga mendapatkan serangan bertubi-tubi dari berbagai teori baru. Kritik yang paling gencar terhadapnya muncul dari teori konflik. Namun, banyak anggapan bahwa teori konflik bukan mengkritik fungsionalis tetapi malah menjadi wajah baru darinya.

Ujaran ini bukan terlontar tanpa alasan. Tetapi memang ada kesamaan antara keduanya. Seperti orientasi pembahasan keduanya, yaitu sama-sama perihal struktur sosial. Namun, fungsionalis lebih menganggap struktur sebagai sesuatu yang positif dan berperan besar, sedangkan konflik menganggap sebaliknya.

Hal lainnya misal, jika fungsionalis menganggap masyarakat sebagai sesuatu yang statis, maka konflik sebaliknya, yaitu menganggap masyarakat sebagai sesuatu yang dinamis dan selalu berubah-ubah. Fungsionalis menganggap bahwa masyarakat akan melahirkan keteraturan, maka konflik menganggap masyarakat akan selalu bertentangan. Selain itu, fungsionalis selalu optimis bahwa masyarakat akan selalu stabil, namun konflik menganggap masyarakat akan melahirkan disintegrasi.

Semua pernyataan itu dipertegas oleh tokoh terkemuka dari teori konflik, yaitu Ralf Dahrendolf. Menurutnya, teori konflik adalah antitesis dari fungsionalis. Karena mengang konflik ini berakar dari teori Marxian dan Georg Simmel, yang mana lebih menekankan pada perubahan dari pada stagnan. Lebih jelasnya, kita perlu menengok pada pemikirannya, yaitu otoritas.

Dahrendolf menyebut bahwa otoritas terletak pada posisi, bukan pada diri individu. Seseorang yang memiliki posisi yang lebih tinggi bisa mengendalikan individu yang berada di posisi bawah. Dengan ini, akan muncul adanya kepentingan yang bisa memunculkan konflik.

Sebagai misal, Si A adalah ketua. Ia memiliki otoritas karena memang ia adalah ketua, bukan karena ia adalah Si A. Selain itu, ia memegang kendali terhadap semua bawahannya. Dan konflik akan muncul karena ada kepentingan di dalamnya.

Sedangkan dari perspektif fungsionalis, tentu aktor akan bekerja bersama-sama tanpa melihat kepentingan. Mereka hanya percaya bahwa semua akan baik-baik saja sesuai dengan fungsinya. Tidak ada disintegrasi, karena memang di dalam fungsionalis semuanya akan stabil dengan sendirinya.

Contohnya dalam suatu organisasi. Baik ketua maupun staf di bawahnya bekerja bersama-sama sesuai dengan fungsinya. mereka tidak berpikir tentang kepentingan individu, tetapi percaya akan fungsinya masing-masing demi sebuah keteraturan.

Lain halnya dengan Dahrendolf, sosiolog konflik ini, Randall Collins, mengutarakan bahwa stratifikasi sosiallah yang memicu konflik. Yang mana kelas dominan lebih memiliki andil dalam masyarakat dari pada kelas subordinat. Selain itu, kelompok dominan dapat dengan mudah memaksakan kehendak kepada kelompok subordinat.

Dari penjelasan di atas kiranya sangat jelas bahwa teori konflik adalah wajah baru dengan badan yang sama dari fungsionalis. Bedanya, fungsionalis lebih optimis pada keteraturan dan stabilitas. Sedangkan, konflik cenderung memandang segala hal sebagai pertentangan. Padahal, dalam masyarakat tidak melulu perihal keteraturan maupun pertentangan. Keduanya adalah hal-hal kecil dalam masyarakat.

Post a Comment

2 Comments