Mengenal Robert K. Merton dari Pemikirannya



Mahasiswa Sosiologi pastinya tidak asing lagi dengan salah satu fungsionalis strukturalis ini, Robert K. Merton. Ia adalah salah satu mahasiswa dari fungsionalis strukturalis terkemuka, sebut saja Talcott Parson. Sama halnya dengan dosennya, ia juga tertarik terhadap kajian sosial terutama fungsionalis struktural, namun lebih condong ke haluan kiri. (George Ritzer, Teori Sosiologi, h. 268)

Merton lahir dengan nama asli Meyer Robert Schkolnick dan mashur dengan nama Robert King Merton. Ia adalah sosiolog berkelahiran Philadelphia, Amerika Serikat pada 4 Juli 1910. Selama perjalanan keilmuannya, ia mendapatkan pengaruh dari berbagai sosiolog, seperti Parson, Weber, Marx, dan sosiolog modern lainnya.

Dengan ini, Merton melahirkan beberapa pemikiran kritisnya sendiri. Pertama, kritiknya terhadap tiga postulat dari antropolog, Malinowksi dan Radcliffe-Brown. Inilah mengapa Merton disebut berhaluan kiri, karena ia tidak selalu berpihak kepada fungsionalisme strukturalisme dan malah menganggap ada kejanggalan darinya. Oleh karena itu, ia mencoba untuk mengkritisi fungsi dan struktur dalam postulat yang diutarakan oleh antropolog ternama itu.

Postulat pertama adalah kesatuan fungsional masyarakat. Pada postulat ini menyatakan bahwa segala praktik sosial budaya yang dilakukan masyarakat pasti bersifat fungsional. Maksudnya, dalam praktik sosial budaya akan selalu memberikan integrasi yang kuat dalam masyarakat kecil. Karena dalam masyarakat yang sedikit orangnya ini akan memudahkan sistem untuk menjalankan fungsinya.

Namun, Merton menyangkalnya dengan menyebut bahwa pernyataan itu tidak dapat dijadikan acuan lagi. Integrasi masyarakat tidak bisa dilihat dari banya sedikitnya orang yang tergabung dalam masyarakat. Bagi Merton, kualitas dari sistem sosial lebih penting, dalam artian sistem yang tertata, dari pada kuantitas dari masyarakatnya.

Sebagai contoh adalah masyarakat kecil desa dengan masyarakat besar kota. Jika dikaji dengan postulat tersebut, jelas integrasi di desa lebih kuat dari di kota. Namun, Merton pasti akan menjawab bahwa belum tentu di desa memiliki sistem yang lebih tertata dari pada di kota, pun sebaliknya. Jadi, integrasi masyarakat, baik desa maupun kota akan terlihat kuat jika memang memiliki sistem yang tertata.

Postulat kedua adalah fungsionalisme universal. Postulat ini menyatakan bahwa segala bentuk dan struktur sosial budaya memiliki nilai positif bagi masyarakat. Tentunya Merton menyangkal postulat tersebut dengan mengatakan bahwa postulat itu sama sekali tidak relevan. Mana mungkin semua budaya dalam masyarakat bisa dinilai positif.

Seiring berjalannya waktu budaya akan bergeser dan digantikan dengan budaya baru. Dan kemungkinan akan ada budaya yang benar-benar ditinggalkan karena memang memberikan risiko bagi masyarakat. Atau budaya akan ditinggalkan karena melihat tidak begitu besar kontribusinya dalam masyarakat.

Misalnya, sebagian besar masyarakat Indonesia dulu lebih suka menggunakan kebaya bagi perempuan. Karena kebaya dinilai mencerminkan citra perempuan Indonesia yang memang ruang geraknya terbatas di domestik saja. 

Sedangkan sekarang ini, perempuan memiliki banyak aktivitas yang dapat dilakoni. Tentunya dengan mengenakan kebaya perempuan akan sulit beraktifitas yang memungkinkan untuk bergerak lincah dan kerja ekstra.

Postulat yang ketiga adalah indispensabilitas. Postulat ini menyebutkan bahwa struktur atau sistem dalam masyarakat tidak hanya baik, namun juga saling bersangkutan. Baginya, tidak ada sistem buruk yang dibentuk oleh masyarakat.

Di postulat ini, Merton tidak sepenuhnya menyangkal. Tapi, sama seperti Parson, ia menyarankan adanya alternatif pada sistem. Masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada satu sistem yang mutlak. Misalnya, apakah masyarakat akan tetap mempertahankan sistem yang parasit? Lambat laun sistem ini akan tumbang dan ada sistem pengganti yang lebih mutualis tentunya.

Kedua, analisis Merton terkait fungsi dalam sistem atau struktur yang terbagi menjadi tiga kategori, yaitu fungsi, disfungsi, dan nonfungsi. Suatu sistem dapat dikatakan fungsi jika ia mampu memberikan kontribusi atau hal-hal positif pada masyarakat. Misal dengan adanya subsidi untuk masyarakat tidak mampu dari pemerintah. Hal ini akan meminimalisir beban masyarakat.

Dan sistem yang dapat dikatakan disfungsi adalah jika ia memberikan kontribusi pada masyarakat dan komplit dengan risikonya. Dengan ini, meskipun ada subsidi yang dapat meringankan beban masyarakat tidak mampu, tetapi subsidi juga akan membuat masyarakat mengalami ketergantungan terhadapnya. Bahkan, subsidi itu dapat disalahgunakan oleh pemerintah itu sendiri.

Sedangkan nonfungsi adalah sistem yang tidak berdampak apa pun atau tidak memiliki kontribusi terhadap masyarakat, juga tidak memberikan risiko. Suatu misal, pemerintah memberikan subsidi kepada masyarakat demi meringankan bebannya.

Namun, subsidi yang diberikan salah sasaran atau diterima oleh golongan yang mampu. Di sini jelas sekali bahwa pemberian subsidi akan mengalami nonfungsi atau tidak berguna.

Terakhir, Merton menawarkan konsep fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes adalah fungsi yang dikehendaki. Sedangkan fungsi laten adalah fungsi yang tidak diharapkan atau tidak dikehendaki.

Ritzer memberikan contoh kedua fungsi ini dengan menyebut orang kulit putih yang lebih unggul dari orang kulit hitam. Kulit putih menduduki fungsi manifes yang tentunya dengan sadar dikehendaki dan akan memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri.

Sedangkan, fungsi laten diduduki oleh orang kulit hitam yang sama sekali tidak menghendaki posisinya sebagai orang yang dijajah dan dieksploitasi oleh orang kulit putih.

Jika ditelaah, kedua fungsi yang ditawarkan oleh Merton ini memiliki kesamaan dengan konsep alienasi yang diusung oleh sosiolog klasik, Karl Marx. Alienasi Marx ini sama halnya dengan fungsi laten yang dimiliki oleh proletar.

Proletar terasing dari objek yang mereka ciptakan karena adanya kesadaran palsu. Hal ini tentunya tidak dikehendaki oleh proletar, namun mereka tetap menjalaninya demi kebutuhan hidup.

Sedangkan fungsi manifes tentu ada dalam diri borjuis. Fungsi ini memang memberikan nilai positif, namun hanya untuk golongan yang beruntung saja. Dalam hal ini adalah borjuis yang dengan sadar menghendaki diri untuk meraup keuntungan maksimal dengan modal seminimal mungkin.

Dari ketiga pemikiran itu rasanya cukup untuk mengenal Merton. Ia memang bukan sosok yang fenomenal seperti dosennya, Parson. Namun pemikirannya cukup memberikan kontribusi terhadap fungsionalis strukturalis. 

Darinya, kita mendapatkan dua sisi dari fungsional struktural, yaitu baik dan buruknya. Meskipun nanti ia akan mendapat kritik dari pemikir-pemikir setelahnya.

Post a Comment

0 Comments